Perjalanan ke Fatehpur Sikri
By Aity Meivers • Jan 11th, 2006 • Category: Budaya / Cultural, Wisata
Semua
bangunan ini membuat saya membayangkan betapa mewahnya kehidupan Semua bangunan ini membuat saya membayangkan betapa mewahnya kehidupan Sultan di masa lampau. Semua bangunan tersebut terpisahkan dengan jarak yang jauh satu sama lain, terutama bangunan untuk para istri sultan yang konon jumlahnya sampai 500 orang.
Salah satu tempat di India yang membuat saya takjub adalah Fatehpur Sikri. Kota yang terletak tidak jauh dari Agra ini adalah ibukota kuno Rajashthan sebelum akhirnya Sang Sultan pindah ke Agra. Alkisah kota ini ditinggalkan karena kekurangan supply air.
Setelah kurang lebih satu jam menggunakan taksi dari Agra, saya melihat beberapa bangunan berwarna merah dengan banyak menara yang mirip bawang bombay. Itulah gerbang dari Fatehpur Sikri. Di kompleks terdapat banyak bangunan yang semuanya terbuat dari batu merah. Bentuk bangunannya bermacam-macam, begitupula dengan kegunaannya. Sayangnya saya tidak bisa mengingat semua nama istana tersebut satu persatu. Semua bangunan ini membuat saya membayangkan betapa mewahnya kehidupan Sultan di masa lampau. Semua bangunan tersebut terpisahkan dengan jarak yang jauh satu sama lain, terutama bangunan untuk para istri sultan yang konon jumlahnya sampai 500 orang. Semua istri ini tinggal dalam satu bangunan besar, kecuali satu istri kesayangan sultan yang diberi istana khusus. Uniknya, menurut sejarah sang Sultan beragama islam dan istri kesayangannya ini beragama Kristen. Saya sempat berpikir „apa tidak jadi bahan keributan ya? „
Ada salah satu bangunan bertingkat-tingkat, semakin ke atas semakin mengecil, yang digunakan oleh sang Sultan untuk memandangi indahnya bulan purnama, sambil melihat kerumunan para istri di halamannya. Dari bangunan ini juga terdapat jembatan panjang menuju ke istana para istri Sultan, sehingga memudahkan istri yang diinginkan oleh Sulatn untuk datang ke puncak bangunan
ini.
Di tengah-tengah komplek ini juga terdapat singgasana luas dengan kolam yang sangat besar dengan jembatan di tengahnya. Konon kabarnya di tempat inilah sang Sultan menerima para tamunya. Setelah saya perhatikan, hampir semua istana dan bangunan disana memiliki air mancur, kolam atau sekedar selokan kecil yang membuat orang yang tinggal disana akan selalu mendengarkan percikan air. Mungkin karena itulah saat sumber airnya habis, istana ini tidak lagi layak untuk ditinggali.
Di sebelah kompleks istana juga terdapat kompleks lain yang berisi masjid. Sayangnya saya kurang merasa nyaman di kompleks ini dikarenakan saya selalu dikejar-kejar oleh para pedagang kartupos yang benar-benar memaksa saya untuk membeli kartu yang mereka jual. Pada saat saya mulai ‚melarikan diri’ ke gerbang, saya malah dikerumuni oleh orang-orang miskin yang minta sedekah. Duh, serba salah deh…
Bangunan masjid yang saya maksud juga terbuat dari batu merah dengan ukiran ayat suci Al-Qur’an. Kondisinya masih bagus walaupun usianya sudah ratusan tahun, dan masih digunakan untuk shalat. Bangunan lain yang lebih kecil di sebelah mesjid besar ini terbuat dari batu marmer, dan berisi makam seseorang (maaf lho, saya tidak tanya makam siapa ya itu…) yang tampaknya cukup terkenal
karena banyak orang berziarah kesana.
Secara keseluruhan saya menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam hanya untuk mengelilingi Fatehpur Sikri. Dan kompleks ini menjadi salah satu bangunan favorit saya setelah Taj Mahal di India.






