Sahara dan Oase di Tunisia
By admin • Jan 3rd, 2006 • Category: Wisata
Pertengahan Mei 2002, aku dan istriku mengadakan perjalanan selama dua
minggu ke negeri Tunisia, Afrika Utara. Kami tiba di lapangan terbang
Monastir, Tunisia, sore hari. Di lapangan terbang itu kami dijemput
pemandu, lalu diantar ke penginapan di kota Sousse. Tunisia yang
berpenduduk 10 juta jiwa . Negeri yang 99% penduduknya beragama Islam
itu
Pertengahan Mei 2002, aku dan istriku mengadakan perjalanan selama dua minggu ke negeri Tunisia, Afrika Utara. Kami tiba di lapangan terbang Monastir, Tunisia, sore hari. Di lapangan terbang itu kami dijemput pemandu, lalu diantar ke penginapan di kota Sousse. Tunisia yang berpenduduk 10 juta jiwa . Negeri yang 99% penduduknya beragama Islam itu, merupakan negeri Islam ketiga yang kami kunjungi setelah Mesir dan Turki. Hotel kami bentuknya kotak dan atapnya tidak terbuat dari genting. Di sekitar kamar kami tanahnya tandus, sedangkan di taman aku melihat banyak tanaman kaktus dan palem. Di lorong menuju ke kamar kami terdapat kandang keledai dan kambing. Ketika kami lewat, sering mereka menghadang. Dikiranya kami membawa sesuatu untuk mereka.
Paginya, udara menawarkan aroma debu. Langit biru menyapa. Kami putuskan di hari pertama itu untuk tidak jauh-jauh bepergian. Maka kami pergi ke Pasar Onta di kota Sousse yang paling terkenal dan ramai. Dalam benakku pasti akan melihat banyak binatang onta. Ternyata tak ada onta sama sekali. Melainkan hanya sekadar nama saja. Kata warga setempat, 100 tahun yang lalu, memang pasar itu untuk jual beli onta. Waktu itu onta merupakan alat transportasi yang sangat vital. Tapi dengan perkembangan industri teknologi dan makin meluasnya penggunaan sarana transportasi mobil, maka onta di kota Sousse itu tak lagi diperdagangkan, mereka tergeser oleh peradaban zaman. Kemudian ke mana onta-onta itu?
Aku melihat onta justru di pantai sedang dituntun oleh orang Tunisia berpakaian jubah warna biru. Onta itu disewakan para turis yang sedang bermanja mandi matahari di pantai pasir putih. Aku melihat beberapa turis perempuan naik onta menyusuri pantai dengan hanya berpakaian bikini.
Di Pasar Onta kami mendapatkan kesan, suasananya seperti di pasar-pasar Indonesia. Suara penjual pakaian dengan berteriak dan menggunakan pengeras suara bersaing ketat dengan pedagang lain. Pasar itu cukup besar dan menjual berbagai jenis barang dagangan. Sejak dari pakaian bekas yang didatangkan dari Eropa hingga pakaian terbaru. Dagangan lain seperti, sayuran, buah-buahan, mebel, souvenir yang kebanyakan karpet dan keramik, hingga ada barang-barang loakan berupa besi-besi rongsokan. Di tengah pasar itu kami hampir dipastikan tak bisa bergerak. Berjubel orang akan berbelanja. Masih di tengah pasar aku melihat makanan yang dijual di gerobak dorong. Ada semacam makanan manisan. Ada pula makanan sejenis martabak. Aku coba saja makanan yang mirip martabak itu. Cukup lezat juga. Hampir seluruh sudut pasar telah kami kelilingi. Akhirnya kami kembali ke hotel.
Masjid Sidi-Oqba untuk Naik Haji Orang Miskin
Suatu hari kami pergi ke kota Kairouan. Untuk menempuh perjalanan ke kota itu, kami menumpang kendaraan umum yang disebut louages (sejenis kendaraan umum semi-taksi yang tidak menaikkan penumpang di tengah jalan, namun bisa menurunkan penumpang dan maksimal penumpangnya berjumlah 6 orang). Louages ini alat transportasi yang menghubungkan dari satu kota ke kota yang lain.
Kota Kairouan yang berpenduduk sekitar 135.000 jiwa itu mempunyai kelebihan yang sulit ditandingi oleh kota-kota lain di Tunisia. Bayangkan, kota kecil itu mempunyai masjid sebanyak 250 buah. Masjid yang paling terkenal bernama Masjid Sidi-Oqba. Masjid ini dibangun pada abad ke-9 oleh Oqba ibn Nafi. Menurut cerita yang melegenda di masyarakat setempat, ketika Oqba ibn Nafi beserta pasukan orang-orang Arab sedang menaklukkan Afrika utara, tiba-tiba kuda yang dinaikinya tersandung sesuatu benda di padang pasir. Pada tempat kuda jatuh itu lah ternyata keluar air yang berlimpah. Sumber mata air itu hingga kini masih ada dan dipercaya sebagai air suci yang ada hubungannya dengan air suci Zamzam di Mekah.
Ketika aku berada di pekarangan masjid. Aku melihat banyak perempuan berjilbab sedang sembahyang dengan pakaian warna-warni. Belakangan aku ketahui dari petugas, bahwa mereka adalah Suku Berber yang miskin. Masjid itu juga dipercaya sebagai tempat naik haji bagi orang-orang yang tidak mampu untuk melaksanakan haji ke Mekah. Mihrab masjid itu khusus didatangkan dari Bagdad. Dalam catatan sejarah, di sana ada tempat duduk untuk pengkhotbah tertua di dunia. Kairouan termasuk 4 kota suci Islam di dunia setelah Mekah, Madinah dan Yerusalem. Awalnya kota Kairouan pernah sebagai ibu kota Tunisia. Kota ini dulu sekaligus sebagai pusat kebudayaan Islam setelah Irak dan sebelum Andalusia.
Aku mengamati dari dekat bangunan masjid yang berbentuk huruf T itu. Konstruksinya masih kokoh dan terdapat berbagai dekorasi serta kaligrafi berbahasa Arab. Disamping itu terdapat keramik kuno yang kondisinya masih terawat dengan baik. Beberapa turis Eropa tak diperkenankan masuk masjid. Aku pun dihalau untuk keluar. Namun begitu aku sapa penjaga masjid itu dengan ucapan Assalamualaikum, dia tampak terkejut. Dengan serta merta dia mendekatiku. Aku perkenalkan namaku dan sebutkan berasal dari Indonesia. Mimik petugas itu berbinar, sembari mempersilakanku masuk. Tak hanya masuk saja, bahkan aku diperbolehkan jalan sampai ruang terdalam mendekati mimbar. Ruangan yang besar itu memiliki lebih dari 400 tiang penyangga yang berasal dari peninggalan kerajaan Byzantini dan Romawi. Masjid berlantai tiga itu memiliki 10 pintu. Lantainya tidak memakai karpet, meskipun Kairouan sebagai pusat industri karpet. Melainkan alasnya menggunakan sejenis tikar alami warna krem. Bahan tikar itu menyerupai rotan-rotan kecil yang keras. Kemudian aku berpamitan meninggalkan ruangan. Dari altar masjid aku tengadah melihat menara. Menaranya setinggi 35 meter yang dibangun belakangan pada abad ke-11. Masjid itu tergolong masjid yang tertua di Afrika Utara.
Sehabis mengunjungi masjid, kami berjalan menyusuri gang-gang kecil di antara perumahan penduduk. Rumah penduduk rata-rata saling berhimpitan dan tak memakai atap dari genting. Tapi genting untuk apa di tempat seperti ini? Karena hujan memang sangat jarang sekali turun. Kadang dua tahun atau empat tahun tak turun hujan. Bangunan rumah kubus atau kotak itu sering di teras atau atapnya dikeringkan gulungan benang warna warni. Warna kontras dengan langit yang sering menyorot biru. Benang-benang itu akan dipakai sebagai bahan membuat karpet.
Tibalah kami di sebuah pertigaan. Di pertigaan jalan itu terdapat pasar yang agak ramai. Pada sebuah bangunan berundak, kami menyaksikan ada seekor onta yang sedang menimba air dari sumur yang dalam. Kedua mata onta itu ditutup rapat, tubuhnya dipasangi kayu dan tali yang tersambung ke sebuah ember. Mirip seekor kuda berkaca mata yang sedang menarik dokar. Bedanya onta ini berjalan mengelilingi sumur berkali-kali. Hingga embernya sampai ke atas penuh air. Menutup mata onta dimaksudkan, agar onta tersebut tak bosan dan tak melihat. Seolah-olah dia berjalan jauh. Padahal hanya berputar-putar pada tempat yang sama.
Aku dipersilakan oleh petugas di situ untuk meminum air dari sumur. Airnya sejuk dan bening. Dari arah seberang datang perempuan tua mendekat ke sumur. Sepertinya dia pejalan kaki yang kehausan di tengah jalan. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh dan jalannya pelan. Dia tahu benar tempat mendapatkan air minum gratis. Petugas dengan cekatan paham maksud kedatangan perempuan itu. Semangkuk plastik disodorkan penuh air sumur. Perempuan itu meneguknya berulang-ulang. Sebagian airnya mengguyur baju hitamnya. Sisa air itu dipakai menyeka wajahnya yang sudah diujung ketuaan. Mungkin debu, mungkin juga keringat kering, semua tersapu dengan air.
Mausoleum Presiden Bourguiba
Dari kota Kairouan kami melanjutkan perjalanan dengan menumpang kereta api ke kota Monastir. Begitulah, bila perjalanan dilakukan hanya berduaan. Bisa sesuka hati cara kami menikmati, tak terbatasi oleh waktu dan acara. Di kota Monastir kami mengunjungi mausoleum (makam mewah) untuk keluarga Presiden Habib Bourguiba. Bangunan makam mewah ini mempunyai taman yang luas. Ruangan dalam gedung didominasi oleh warna kuning keemasan. Beberapa keluarga presiden disemayamkan di situ. Aku teringat makam Bung Karno di Blitar. Makam Presiden Bourguiba ini jauh lebih mewah dan tertutup serta dijaga ketat. Presiden Bourguiba adalah bekas pengacara berpendidikan Perancis. Dia menjadi Presiden Tunisia sejak tahun 1956. Presiden ini terkenal sebagai presiden yang berani merombak tradisi Islam dogmatis menuju nilai-nilai kebebasan yang modern. Salah satu kebijakannya hingga kini yang masih dirasakan adalah hak kebebasan kaum muslimin sendiri untuk atau tidak berjilbab. Dia menggambarkan jilbab bagaikan sebuah gombal yang menjemukan.
"Hampir separuh rakyatku tertutup wajahnya. Sepertinya mereka mempunyai rasa malu," komentar Bourguiba.
Wasila Bourguiba adalah istri keduanya yang dibiarkan tak memakai jilbab. "Tampak rambutnya tersisir rapi dan anggun," Bourguiba memuji.
Sementara istri pertama Bourguiba sendiri adalah perempuan Perancis. Di kalangan orang Arab istrinya dijuluki sebagai Jackie Kennedy. Menurut buku referensi yang sedang aku baca, Presiden ini dicintai rakyatnya. Sebab itu dia berkuasa lebih dari 30 tahun. Tapi pengalamanku hidup di Indonesia yang pernah diperintah Presiden Soeharto lebih dari 32 tahun membuatku cukup sangsi. Apakah Presiden Bourguiba benar-benar dicintai rakyatnya dengan tulus? Mengingat presiden yang berkuasa terlalu lama mempunyai kecenderungan yang sangat tinggi untuk menjadi seorang diktator. Dan setiap diktator pasti menjalankan politik dengan cara yang sangat represif untuk memperpanjang kursi kepresidenan. Sebab itu seorang presiden yang sekaligus seorang diktator tidak akan dicintai rakyatnya.
Pada tanggal 7 November 1987, Bourguiba diganti oleh Zine el-Abidine Ben Ali. Di bawah Presiden Ben Ali pun Tunisia mengalami perombakan besar-besaran terutama pada sistem politik dan demokrasi. Ben Ali mencanangkan, bahwa tanggal 7 November sebagai tanggal yang punya nilai historis. Sebab itu di jalan banyak ditemui tulisan 7 November.
Hampir sehari penuh kami mengelilingi kedua kota yakni Kairouan dan Monastir. Kelelahan telah menghadang kami. Dengan transportasi yang sama kami kembali ke hotel lagi.
Kota Tunis, Hammamet, Sidi Bou Said dan Karthago
Suatu hari kami ikut rombongan bus ke kota Tunis. Tunis adalah ibu kota Tunisia. Dalam perjalanan, bus berhenti di beberapa tempat lain seperti, kota Hammamet, Sidi Bou Said, dan Karthago. Ketika kami tiba di kota Tunis, disambut dengan beberapa bendera warna merah darah. Bendera yang di tengahnya ada gambar bintang dan bulan sabit di dalam lingkaran putih itu, berkibar sepanjang jalan. Kota Tunis cukup tertata rapi. Ibu kota berpenduduk 1,9 juta jiwa itu mempunyai berbagai gedung peninggalan baik dari zaman Kerajaan Romawi maupun zaman kolonial Perancis.
Di Tunis terdapat juga kota lama yang biasa disebut Medina. Nama Medina bukanlah nama asing di telinga orang Indonesia. Orang akan selalu mengaitkan dengan kota Mekah-Medinah di Arab Saudi. Tapi di Tunisia, Medina adalah sebutan untuk kota tua. Seperti pada umumnya kota tua yang menyisakan nuansa masa lampau, maka berderet-deret gedung kuno ada di kota itu. Panorama romantis bertaburan. Kenangan lama seperti dibiarkan menyelinap di lekuk-lekuk arsitektur bangunan. Aku seperti dibawa ke masa lampau. Masa kejayaan sekaligus sebagai masa penindasan kolonial.
Sepanjang jalan juga ada kios-kios cendera mata menjual berbagai kerajinan khas negeri itu. Aku menemukan sepatu kulit, lampu hias, pakaian khas Alladin, dan pakaian jubah laki-laki khas Arab atau untuk wanita yang disebut Gandorra. Di tengah kios-kios itu ada penjual jeruk peras warna kuning. Aku mampir ke situ dan mencoba segelas. Rasanya sungguh manis dan segar. Tak jauh dari penjual jeruk terdapat penjual buah kurma. Beberapa penjual menyapaku dengan bahasa Jepang, "Konnichiwa."
Mungkin aku ini dikira orang Jepang. Ini bisa dimaklumi, karena selama aku keliling Tunisia, jarang sekali bertemu wajah-wajah dari Asia. Mungkin terlalu jauh jaraknya dengan Asia. Sehingga sulit bagi orang Tunisia membedakan bangsa-bangsa di Asia.
Kemudian rombongan kami dipandu oleh seorang laki-laki menuju salah satu museum yang paling terkenal yaitu Museum Mosaik Bardo. Dulunya kompleks ini merupakan sebuah istana Bey yang dibangun pada abad ke-19. Museum Bardo ini masih menyimpan berbagai motif mosaik dari abad ke-3 pada zaman pendudukan Kerajaan Romawi. Sisa-sisa mosaik dari Kerajaan Romawi di seluruh negeri Tunisia dikumpulkan di sini. Coraknya yang naturalis terdiri dari berbagai tema: tentang kehidupan sehari-hari di kota maupun di desa, masa panen, berburu, flora, dan fauna. Khusus motif ikan ada 23 jenis. Mosaik bermotif binatang seperti, gajah, singa, dan harimau masih terawat dengan baik. Penataan kembali mosaik tersebut pada lantai, dinding, dan atap, membuat benda keramik itu makin hidup.
Dari sini rombongan melanjutkan perjalanan ke kota Hammamet. Bus kami hanya singgah sebentar di kota kecil Hammamet yang dulunya sebagai desa nelayan itu. Masih tersisa bangkai perahu kuno terdampar rusak di gundukan pasir. Hammamet tergolong kota tua yang setiap tahunnya aktif mengadakan festival seni internasional. Dalam festival itu dimeriahkan dengan forum sastra, teater serta musik yang biasanya antara bulan Juli hingga pertengahan Agustus.
Dari Hammamet bus melaju ke desa Sidi Bou Said. Sebuah desa di perbukitan dengan panorama pantai sangat indah. Desa ini masih mempertahankan rumah-rumah asli berarsitektur kuno dengan ciri khas terasnya dari ukiran kayu menjorok dan menggantung ke depan. Daun-daun pintunya berbentuk melengkung yang didominasi warna putih dan biru laut. Sebagai orang tropis yang sering berbenturan dengan warna hijau pepohonan tentu aku mempunyai pengalaman yang agak asing. Tapi aku segera menyadari bahwa aku sedang berada di Tunisia, sebuah negeri yang jarang turun hujan. Tanahnya kering berwarna krem. Langit biru sama dengan warna birunya air laut. Sebab itu warna biru laut di desa Sidi Bou Said ini sangat merajai.
Terakhir kami mengunjungi peninggalan arkeologi Karthago yang terletak di pinggir pantai Laut tengah. Karthago dulunya sebagai ibu kota kerajaan. Kota ini dikenal sebagai kota dagang yang terpenting di pantai Afrika Utara. Kerajaan Karthago didirikan pada abad ke-9 SM oleh Suku Phöniker dari Tyrus. Nasib selanjutnya Karthago sebagai jajahan kerajaan Romawi dan Bangsa Arab. Apa yang bisa aku saksikan di Karthago sekarang ini tak lain hanyalah puing-puing peninggalan bangunan Romawi. Beberapa tiang beton besar masih berdiri tegak. Beberapa ruangan terbuat dari batu sebagai tempat pemandian yang dilengkapi dengan ruangan sauna. Semua menyisakan kenangan zaman kerajaan Romawi.
Gustav Flaubert sastrawan Perancis yang terkenal dengan novelnya Madame Bovary juga menulis novel tentang kehancuran kerajaan Karthago. Novel itu diberi judul Salammbo. Penyair Perancis Charles Baudelaire menyebut Salammbo sebagai sebuah novel yang berhasil. Dalam dua hari saja buku itu sudah habis terjual. Pada halaman akhir novel tersebut memuat jawaban dari Flaubert atas dua kritikus novelnya. Pertama dari arkeolog keturunan Jerman bernama Guillaume Froehner. Arkeolog pengumpul benda kebudayaan antik di museum Louvre Paris itu mengatakan, Flaubert selama enam tahun menulis novelnya, tapi tidak cukup menguasai bahan sejarah purba. Kedua dari paus kritikus sastra di Paris Sainte-Beuve yang mengatakan teks Flaubert terlalu panjang. Tampaknya Flaubert tetap tegar menjawab dua kritikus dengan perkataan, “Tertawalah sebanyak mungkin Anda mau. Aku akan pertahankan pendapatku satu per satu.“ Saat itu, termasuk masih jarang ada kritik dan jawaban yang dimuat sekaligus dalam novel.
Dari Karthago rombongan kembali ke hotel masing-masing.
Madame Tunisia
Dari pagi sampai sore, aku sering menghabiskan waktu bersama istriku di pantai belakang hotel. Aku gelar sarung tipis dari Bali di pasir yang hangat. Demikian pula istriku menggelar sarung batik warna merah kebiruan. Suatu saat, istriku membaca koran yang dibawa dari Swiss, sedang aku membaca buku biografi kritikus Sastra Jerman Marcel Reich-Ranicki (selanjutnya kutulis MRR). Mein Leben judul buku setebal 556 halaman itu sudah aku baca berhari-hari, namun masih belum juga selesai. Pada halaman pertama kritikus sastra Jerman kelas wahid itu memberi judul Was sind Sie eigentlich? MRR menceritakan pengalaman pertamanya bertemu dengan Günter Grass di Jerman. Sebagai orang Yahudi kelahiran Polandia, MRR ditanya oleh Grass, “Siapakah Anda sebenarnya? Seorang Polandia, seorang Jerman atau siapa?“
MRR merasa tersinggung dengan pertanyaan “atau siapa?“, seolah-olah ada alternatif ketiga. Dia langsung menjawab, “Aku separuh Polandia, separuh Jerman dan seluruhnya Yahudi.“
Seketika itu Grass terdiam.
Selebihnya buku Mein Leben bercerita tentang masa pahit MRR pada zaman Hitler di Polandia dan masa awal menjalani hidup di Jerman sebagai kritikus sastra. Sore itu aku terkekeh-kekeh dalam hati, merasa lega begitu membalik halaman terakhir. Ibarat santri yang khatam membaca Alquran.
Di sebelahku tiduran sepasang orang Jerman yang sudah tua. Mereka juga sedang membaca buku. Akan tetapi ketika perempuan Jerman itu melihat buku yang aku bawa, dia mengatakan bahwa buku yang aku baca itu bukan buku yang cocok untuk liburan. Aku terpana sejenak. Tiba-tiba aku teringat tayangan TV Jerman tentang seorang pelancong Jerman yang sedang liburan di pantai Malorca. Pelancong tersebut mampu menghabiskan bacaan novel ribuan halaman dalam seminggu. Aku mulai sadar tiap buku punya kadar berat atau ringan, serius atau hiburan dan sebagainya. Tapi itu semua balik lagi ke masing-masing orang. Bisa jadi buku yang dianggap berat bagi seseorang, merupakan hiburan bagi orang yang lain. Tapi menurutku, sebuah buku, apapun fungsinya, pasti sangat berguna untuk dibaca.
Ketika matahari menancap dengan tidak sempurna di balik guratan awan, aku dan istriku mengundurkan diri menuju ke kamar mandi. Sehabis mandi terlihat kulitku makin matang bekas sengatan matahari. Benar, sebentar saja di bawah matahari, kulitku cepat kembali ke aslinya kecokelatan. Sebelumnya sempat terkubur salju dan udara dingin di Swiss. Niscaya warna kulit cokelatku makin pudar. Sebaliknya kulit isteriku masih saja bergeming. Tapi lamat terlihat mulai lebih redup dibanding rata-rata orang bule.
Lekas kami bergegas ke ruang makan. Makanan orang Tunisia kebanyakan memakai minyak zaitun. Mungkin karena di sini banyak tumbuh pohon zaitun. Seperti biasa sehabis makan malam, kami jalan-jalan ke luar hotel. Menghirup udara malam. Sering kali kami melihat satpam hotel memeriksa setiap taksi warna kuning yang masuk halaman hotel. Satpam itu menuturkan, bahwa dia bertugas untuk memeriksa setiap taksi yang masuk hotel dengan membawa Madame Tunisia.
"Kenapa Madame Tunisia harus diperiksa?" tanyaku penuh ragu.
Dia menjelaskan, bahwa banyak Madame Tunisia yang ingin minum bir di hotel, karena di toko dan restoran lokal dilarang pemerintah menjual minuman beralkohol.
Namun ketika beberapa taksi membawa laki-laki Tunisia ke hotel dan mereka akan minum bir, satpam itu tidak menegurnya. Ketika perlakuan diskriminasi itu aku tanyakan, satpam itu hanya tersenyum simpul. Bisa dimengerti dia hanya seorang satpam yang bertugas melaksanakan perintah atasannya. Aku menyadari, dia bukan pemberi keputusan, tapi sekadar petugas, dan tak lebih dari itu.
Bila kutengok ulang sejarah negeri ini, kaum muslimah (perempuan) seharusnya banyak berterima kasih pada Presiden Bourguiba yang telah membuat undang-undang perkawinan Code du Statut Personal yang berbunyi:
1. Menghilangkan sistem poligami.
2. Dalam perkawinan, perempuan punya hak mutlak untuk menentukan pilihannya, bukan dari orang tua.
3. Perceraian bukan dari keputusan sepihak suami saja, melainkan dari keputusan bersama.
Menurut hukum syariat Islam yang banyak dipercaya di negeri itu, jika seorang muslimah harus kawin dengan laki-laki non-muslim, laki-laki tersebut harus masuk agama Islam, sebab anak mereka nanti ikut agama si ayah. Sebaliknya bila seorang muslim kawin dengan non-muslimin, perempuan tersebut tidak harus berganti agama, karena toh nanti anaknya ikut ajaran Islam dari ayahnya. Menurut statistik, pendidikan bagi kaum muslimah juga sangat menonjol. Ini terbukti dari 70.000 mahasiswa di enam universitas, 40%-nya adalah kaum muslimah. Bahkan setiap lima tenaga kerja Tunisia, selalu terdapat seorang pekerja perempuan.
Tak jauh dari hotel kami menginap ada bangunan megah bertuliskan Casa del Gelato (kedai es krim). Aku dan istriku mencoba untuk membaur dengan penduduk setempat sambil menikmati pertunjukan musik yang menyuguhkan irama lagu-lagu padang pasir. Ruangan yang besar itu cukup pengap, karena asap rokok yang dihisap oleh para tamu lokal dari sebuah alat bernama chicha (sebuah tabung dari bahan gelas dan sejenis alumunium setinggi setengah meter yang atasnya ada arang di tungku pembakar dan dihubungkan dengan satu atau dua pipa sebagai alat mengisap rokok). Tradisi merokok dengan alat chicha ini juga kami lihat di warung-warung kopi di Mesir dan Turki.
Di kedai es krim itu, kami mengamati dari dekat para tamu lokal yang sedang merokok chicha atau sedang menyantap es krim atau hanya sekadar minum teh. Mereka rata-rata anak muda dan sebagian besar laki-laki, hanya sedikit saja perempuannya. Pakaian yang mereka kenakan tampak rapi berjas hitam, dan bersepatu. Model rambut laki-laki rata-rata dipotong pendek. Pemandangan kontras antara tradisi lama dan modern saling berhimpitan. Namun kedai ini hanya menyediakan makanan hamburger yang halal serta sejenisnya, tanpa minuman beralkohol.
Malam makin pekat dan musik piano terus menyulut dalam gelap. Pemain piano itulah sekaligus penyanyinya. Iramanya keras menghentak, mirip dengan temperamen dinamis orang Tunisia. Alunan lagu bergaung di gedung tertutup itu melahirkan nuansa keceriaan. Tangan, kaki atau kepala serta alis para tamu lokal bergerak-gerak di tempat duduknya. Mereka lebur dalam penghayatan musik. Tak satu pun yang berani maju ke depan menari. Ada perempuan cukup seksi serta bermake up tebal duduk di samping kananku. Perempuan seksi itu memangku bocah yang mirip wajahnya. Di samping bocah itu duduk pula perempuan lain yang lebih tua. Aku hanya ingin mengintip sejauh mana ruang modernitas diterobos tradisi atau sejauh mana tradisi lama bisa menemukan ruang di dunia serba gemerlap ini. Perempuan seksi tadi rok hitamnya dijahit ketat. Batas sobekan kainnya sampai paha atas. Tak sampai di situ saja. Ketika perempuan itu duduk agak rubuh ke meja, saat itu pula tali celana dalamnya warna merah terlihat dari belakang. Sungguh modern pakaian perempuan itu. Hampir sama peradaban pakaiannya dengan di Eropa. Sisa malam tinggal separuh, kami pun kembali ke hotel.
Safari ke Sahara dan Oase
“Guten Morgen,“ sapa pemandu berkulit gelap.
“Guten Morgen,“ jawab aku dan istri hampir bersamaan.
Saat itu jam tangan menunjukkan pukul enam lebih sedikit. Jeep putih itu tancap gas memecah udara pagi kota Sousse. Sebagai orang baru di situ, sebenarnya kami memerlukan informasi awal. Siapa lagi yang akan ikut dalam safari? Atau tempat mana saja yang akan dikunjungi? Meskipun kami sudah mempunyai jadual acara safari, namun siapa tahu ada perubahan atau informasi terbaru. Tak sepatah kata pun keluar dari pemandu itu. Dia meringkuk di kursi dekat sopir, dan membaca koran. Lembaran demi lembaran dibolak-balik, sekiranya koran itu sudah dibaca menyeluruh, dia tertidur. Kami yang duduk hanya beberapa sentimeter di belakang punggungnya dengan mudah membaca gerak-gerik pemandu yang punya postur seperti Mahatma Gandhi itu. Batin kami, sungguh pelit ucapan pemandu itu, hanya sekali menyapa “Guten Morgen“ dan langsung tertekuk di kursi. Barangkali dia bekerja lembur sebelumnya atau sangat capai. Rasa penasaran terus berkecamuk, bagaimana nanti seandainya sampai di Sahara dan kami tak dapat cerita apa-apa?
Pelan-pelan aku melirik jarum speedometer di depan sopir. Jeep berjalan dengan kecepatan sekitar 100 km/jam menyusuri jalan-jalan lurus beraspal. Pemandangan di sekitar sudah bukan kota lagi. Aku menyaksikan berbagai desa dengan rumah-rumah penduduk yang sederhana. Rumah-rumah itu terbuat dari tanah berwarna krem serta beratap hanya dari daun-daun pohon kurma kering. Sebuah pemandangan di pagi hari yang mengingatkan suasana pedesaan di tanah air. Aku menyaksikan beberapa anak desa naik keledai sambil menggembalakan beberapa kambing, serta ada beberapa orang laki-laki tua naik onta. Setelah Jeep menempuh jarak sekitar 150 km, pemandu itu bangun. Dia turun dari jeep, seperti kucing bangun tidur, tubuhnya dibelokkan ke kiri sekali dan ke kanan sekali. Otot-otot telah pulih kembali. Sekarang dengan senyum mekar pemandu itu mengajak kami berjalan menuju ke jeep yang lain. Rupanya kami tidak sendirian, aku hitung semuanya ada tiga Jeep dengan sopir masing-masing. Semua ada 9 pelancong. Tiga orang berasal dari Belanda, seorang dari Swiss, dua orang dari Austria, dua orang dari Jerman, dan aku dari Indonesia.
“Herzlich Willkommen, ich heisse Kamel,“ kata pemandu itu mengucapkan selamat datang dan memperkenalkan namanya Kamel. Harus kami akui bahasa Jermannya sangat bagus. Tak kedengaran logat lokalnya. Kemudian dia menerangkan acara perjalanan serta tatacara yang harus dilakukan. Pertama, rombongan kecil ini akan mengunjungi El-Djem (sebuah bangunan Amfiteater dari Zaman Romawi). Kedua, akan berhenti di desa Matmata ( yang terdapat banyak rumah di bawah tanah dari Suku Berber). Ketiga, akan menginap di kota Douz (termasuk acara naik onta untuk menyaksikan matahari terbenam dari tengah sahara). Keempat, menginap lagi di kota tua Tozeur (dengan mengunjungi tiga oase).
Tempat kami berdiri itu sudah di El-Djem. Maka rombongan kecil tinggal mengikuti jejak Kamel menuju bangunan kuno Amfiteater. Tampak bongkahan batu berdebu berserakan di antara bangunan kolosal. Amfiteater ini didirikan pada tahun 230 M dari kerajaan Romawi. Bangunan imperial Romawi ini separuhnya sudah hancur. Gedung pertunjukan terbuka ini terdiri atas beberapa tingkat menjulang ke atas yang dulunya bisa menampung sekitar 30.000 penonton. Ada juga ruangan-ruangan kecil di bawah tanah untuk kandang singa. Karena salah satu atraksi paling populer zaman itu adalah adu kekuatan atau perkelahian antara singa buas dengan gladiator. Bangunan Koloseum sebagai simbol kejayaan Kerajaan Romawi di Afrika Utara ini termasuk nomor tiga terbesar di dunia setelah Koloseum di Roma dan Napoli. Penyusuran sudut-sudut reruntuhan bangunan ini hampir merata. Sembilan orang berpencar mengikuti naluri alamnya sendiri. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan lagi.
Ternyata tidak setiap jeep diisi tiga orang. Karena jeep kami lebih besar, maka dua orang asal Austria itu naik di dalam jeep kami. Dua muda-mudi ini seperti masih pacaran atau sedang bulan madu. Terasa hubungan keduanya akrab serta saling berpengertian. Basa-basi pun terjadi di antara kami. Jeep meluncur menembus perbukitan gundul kadang terlihat juga banyak tanaman buah zaitun. Tanaman setinggi pohon kopi itu memiliki buah berwarna hijau lumut dan ada juga yang berwarna hitam. Tunisia adalah eksportir terbesar nomor dua di dunia. Ekspor itu berupa masih buah atau pun sudah menjadi minyak. Masyarakat Eropa sangat suka mengonsumsi buah dan minyak zaitun ini.
Jeep memasuki pedesaan. Setiap kali jeep melewati orang-orang desa di pinggir jalan, segera mereka membalikkan tubuh sambil menutupi wajahnya rapat-rapat dengan kain yang dikenakannya. Jeep itu memang menghempaskan angin dan debu-debu berterbangan.
Siang harinya, rombongan sampai di desa Matmata. Desa ini terkenal dengan penduduk Suku Berber-nya yang merupakan salah satu penghuni asli kawasan Sahara, sebelum bangsa Arab datang. Yang paling unik adalah rumah-rumah mereka yang berupa gua-gua dari tanah alami.
Rombongan kami masuk sebuah rumah Suku Berber. Di depan pintu masuk sebelah kiri terdapat sebuah tempayan penyimpan air. Pintu masuknya bundar seperti terowongan. Seorang ibu tua keluar dan berdiri di antara kami. Dia melempar senyum, wajahnya mirip Suku Indian. Di bagian dahinya dan di bawah mulutnya ada tato warna biru tua. Menurut Kamel, tato itu dimaksudkan untuk membedakan antara sesama sukunya dengan bangsa Arab. Ibu itu memakai rok dan baju tipis, serta beberapa gelang dan anting-anting warna perak.
Kami masuk rumah gua itu untuk melihat kehidupan mereka dari dekat. Di dalam rumah itu ada ruangan yang bundar dan terang, karena atap dari tanah terbuka menganga. Dari ruangan bundar yang terang itu, kita bisa melihat kamar-kamarnya satu per satu berderet membentuk lingkaran. Ada tiga kamar tidur, sebuah kamar dapur, dan bagian atas ada ruangan kecil untuk kandang burung merpati. Ketika aku masuk salah satu kamar tidur, ada anak laki-laki muda bertanya aku, "Where are you from?"
Aku segera menjawab, "Indonesia".
Anak muda yang tampak ramah itu kembali berkata, "Jakarta?"
Aku mengangguk sekaligus heran, hampir tak percaya, bila anak muda yang hidup di dalam gua dan di desa yang jauh dari keramaian bisa tahu bahwa Jakarta itu identik dengan Indonesia. Mungkin saja nama Jakarta menjadi lebih dikenal di luar negeri, setelah aksi demonstrasi berbulan-bulan menjelang turunnya Presiden Soeharto. Aku tidak menemukan ada televisi di rumah gua itu. Memang televisi tidak ada, namun listrik sudah masuk.
Di kamar yang lain ada perempuan muda duduk terdiam sendirian. Di tengah pintu masuk ada ibu agak muda tampak sedang menumbuk sejenis jamu tradisional. Kamel menjelaskan, bahwa pada musim dingin udara di dalam rumah gua tak terlalu dingin, sebaliknya pada musim panas, juga tak begitu panas. Sehingga terasa nyaman dan sejuk hidup di rumah gua itu. Seperti kita ketahui, Tunisia juga mempunyai empat musim seperti di Eropa, namun yang membedakan, di musim dingin tak pernah turun salju.
Lalu Kamel mengajak rombongan keluar rumah. Tampak bahwa rumah itu hanya punya satu pintu masuk dan keluar saja. Ketinggian rumah rata dengan ketinggian tanah di sekitarnya yang mirip tebing kecil. Dari rumah gua itu rombongan hanya berjalan sedikit ke rumah gua yang lain untuk makan siang. Di pinggir jalan ada anak muda membawa anak keledai yang masih diminumi susu dengan botol dot. Anak muda itu mengacungkan botol dot ke kami, maksudnya agar salah seorang dari kami ikut mencoba menyusui anak keledai itu. Tentu kami tidak tahu menahu apa maksudnya? Namun Kamel memberitahu, agar kami tak melayani permintaan anak muda itu. Sebab dia menjual jasa foto sembari menyusui anak keledai dengan botol dot. Menurut Kamel, kasihan anak keledai itu harus dipisahkan dari induknya. Padahal induknya masih punya persediaan susu.
Tak berapa lama kemudian, rombongan masuk ke rumah keluarga suku Berber yang lebih besar lagi, yang tidak begitu jauh dari tempat kami semula. Sajian makan siang sudah disedikan di atas meja pendek. Menunya khas Tunisia yaitu couscous (seperti nasi jagung yang disajikan dengan kuah panas mirip kare berwarna kuning kecokelatan juga terdiri dari sayur wortel, ketimun serta kacang-kacangan). Rasanya lezat dan cepat kenyang.
Sehabis makan, aku dan istriku buru-buru menyusup ke lorong-lorong untuk melihat suasana kamar yang lain. Rumah itu terdiri atas beberapa ruangan. Dari ruangan induk ada lorong yang menghubungkan ke ruangan induk yang lebih kecil. Di situ berderet kamar keluarga dengan bentuk melingkar. Tiap ruangan induk yang beratap tanah selalu terbuka. Atap tanah terbuka itulah sebenarnya yang menjadi sumber cahaya di gua. Tapi orang tidak boleh masuk atau keluar lewat atap terbuka itu selain tentu saja tak ada tangga menuju ke atap itu. Karena bentuknya unik, istriku cepat-cepat lari ke luar gua sambil membawa kamera, dia berada di atas atap tanah. Sementara aku masih di dalam gua. Rupanya dia mengintaiku dari atas ingin memotret. Memang indah jadinya potret itu. Lubang atap itu mirip pigura bundar yang melingkari wajahku.
Matahari Terbenam di Douz
Sehabis makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke kota Douz. Di jalan kami hanya melihat pasir dan pasir, yang berbukit-bukit dan gersang. Sesekali jeep memotong pedesaan yang rumah-rumahnya kebanyakan dicat putih. Dalam perjalanan ini, Kamel tak bicara sama sekali dengan kami. Tapi kadang dia bicara dengan sopir. Sebenarnya kami ingin tahu banyak tentang kehidupan di Sahara. Apakah misalnya, Sahara itu dimiliki penduduk atau negara? Apakah Sahara itu juga di dalamnya menyimpan kekayaan bumi, seperti minyak? Dua pelancong Austria dan kami berdua kecewa terhadap Kamel. Kami berempat bicara pelan, kenapa tabiat pemandu ini agak cuek.
Pada kesempatan memotret pemandangan di tengah lautan pasir, ketiga jeep berhenti, istriku memulai bertanya, “Maaf, Anda sejak tadi diam saja. Sebenarnya kami ingin mendengarkan cerita Anda?“
Kamel merasa tersinggung. Matanya yang merah tambah terbelalak, “Apa Kamu bilang?“
“Aku hanya ingin Anda bercerita sesuatu, bukan diam saja,“ tambah istriku.
“Aku melaksanakan tugas sesuai standar. Aku tak mau menjadi buruhmu, ini menginjak-injak martabat sebuah bangsa“ jawab Kamel bersungut-sungut sembari menghampiri sopir di samping spion mobil.
Dua pelancong Austria berunding sejenak dengan kami. Kami berempat berniat komplain pada biro perjalanan yang mengurus perjalanan ini. Kemudian perjalanan diteruskan lagi. Ketika jeep berjalan beberapa meter, Kamel tidak sedikit pun gentar. Sebaliknya dia tambah berang, “Kalian tahu nggak? Aku ini doktor lulusan universitas di Jerman. Pekerjaan ini hanyalah sambilan. Aku punya pekerjaan tetap sebagai dosen pada sebuah universitas. Aku juga wartawan politik dan kebudayaan. Mau lihat? Ini majalah yang memuat tulisanku!“ Kamel memuncak amarahnya sambil menunjukkan majalah warna merah.
Majalah itu aku pegang dan aku baca nama asli dia serta tema yang dia tulis. Sekarang giliran pelancong Austria yang angkat bicara, “Maaf, kami jauh-jauh dari Austria membayar mahal hanya untuk melihat keunikan Sahara. Tapi Anda tidak bercerita apapun selama dalam perjalanan. Kami tidak mau tahu, apakah Anda doktor atau tidak. Tapi kami membayar mahal agar dapat pelayanan sesuai yang ditawarkan dalam acara.“
“Hm,…rupanya kalian berempat bersekongkol akan mengeroyok aku sendirian, ya?“ bantah Kamel,“Ini tidak fair. Aku sendirian di sini, aku kalah. “
“Bukan begitu maksud kami,“ jawab cewek Austria.
“Dulu aku juga bekas pemandu wisata, dan tahu apa yang harus aku lakukan,“ tambahku.
“Aku sudah tiga kali ini liburan ke Tunisia. Kesanku selalu menarik. Tapi bukan kali ini. Apakah besok kita akan melihat-lihat Pasar Onta di dekat kota Douz? Bukankah kita besok masih banyak waktu?“ kata istriku.
Kamel menjawab, “Kamu ini akan menyusun acara sendiri. Madame, dalam acara tidak ada kunjungan ke Pasar Onta.“
“Ya, mungkin benar. Tapi sayang, bila kita besok berangkat pukul 10.00, apa yang akan dilakukan di hotel? Lebih baik ke Pasar Onta. Pada peta ini antara hotel ke Pasar Onta tak jauh. Kalau kamu tak mau, adakah taksi di hotel? Kami akan ke sana,“ kata istriku ngotot.
Kamel tidak sabar, dia membuka-buka lagi lembaran acara dari kantornya. Kemudian dia membalikkan kepala sembari berucap, “Madame, baca baik-baik acara ini. Tidak ada kunjungan ke Pasar Onta.“
“Acaranya yang jelek,“ kata istriku.
“Ini handphone-ku, kau telpon sendiri kantorku. Aku kasih nomor telponnya,“ kata Kamel emosi sambil menyodorkan handphone berwarna hitam dari tangannya.
Salah satu anak muda dari Austria mencoba menengahi, “Daripada mobilnya tak terpakai dan berangkatnya pukul 10.00, lebih baik besok kita berangkatnya maju dan mampir ke Pasar Onta.“
Kamel terlihat capai dan hanya geleng-geleng kepala. Dia tampak berbicara dengan sopir, mungkin tentang masalah ini.
Tak terasa ketiga jeep saling berdekatan dan memasuki jalan menuju bangunan besar. Ternyata itu hotel kami. Hotel di Douz itu letaknya di pinggir lautan pasir. Setelah tiba di hotel, tampak Kamel segera memesan beberapa onta untuk rombongan kami melihat matahari terbenam. Sementara itu aku dan istri memanfaatkan waktu yang sempit itu keluar hotel jalan-jalan menuju sebuah hamparan pasir yang indah tersapu angin. Di situ aku mencoba menaiki gundukan panjang pasir sahara yang kemilau kuning kecokelatan. Pasir yang aku injak halus sekali, seperti bubuk kopi. Kakiku terbenam hingga sampai lutut. Di paling ujung gundukan pasir memanjang yang bertingkat-tingkat itu ada anak muda melambai-lambaikan tangan, seperti memanggil-manggil kami. Tak begitu lama, datang anak muda lain dari ujung desa yang berbeda, yang kepalanya dibalut kain biru tua. Hanya matanya yang bisa dikenali. Ganteng sekali anak muda itu. Sepasang matanya tajam dan hitam, serta bulu-bulu alisnya tebal. Namun ketika kain birunya yang membungkus kepala lepas tertiup angin, anak muda itu tersenyum sambil menampakkan kalau gigi tengah bagian atasnya ompong. Dia menggendong seekor anak rubah yang lehernya diikat seutas tali. Rupanya dia menawarkan jasa untuk berfoto dengan pose bersama rubah di Sahara.
Di sekitar situ aku mengamati banyak onta diikat dengan tali. Onta itu kalau didekati baunya seperti bau kuda. Ada pula borok-borok di tubuh mereka. Kemudian kami kembali ke hotel untuk bergabung dengan rombongan.
Sore harinya, rombongan sudah berkumpul di depan hotel. Kamel mukanya bersahaja dan menampakkan tanda gembira. Perubahan raut muka yang berbeda dari sebelumnya. Tiba-tiba dia ramah dan merangkul pundakku sembari bertanya, “Sudah pernah naik onta?“
“Sudah,“ jawabku pendek.
Kemudian rombongan berjalan menuju gerombolan onta yang sudah menunggu bersama pemiliknya. Setiap onta dinaiki oleh satu orang. Aku dapat onta yang berkulit cokelat. Ketika aku mau naik, onta itu disuruh duduk oleh pemiliknya. Onta itu pun menurut membungkukkan tubuhnya lalu benar-benar duduk lesehan. Saat itulah aku baru bisa naik. Setelah aku duduk di punggungnya sambil berpegangan kuat-kuat, onta itu mulai berdiri. Aku terasa seperti dilempar ke pohon kelapa. Benar-benar menjadi lebih tinggi dari yang aku bayangkan sebelumnya. Onta berjalan satu per satu dengan dituntun pemiliknya. Rombongan bak kafilah menyusuri padang pasir dengan naik onta. Melewati bentangan pasir itu kurasakan seolah-olah seperti air yang bergelombang atau persawahan yang berundak-undak. Beberapa onta membelot arah dan berhenti, lalu memakan daun-daun pohon kurma yang masih segar di atas pohon. Leher onta itu menengadah ke atas pohon mirip leher jerapah yang panjang.
Setelah kami agak jauh berjalan, aku tidak bisa lagi membedakan barat dan timur. Tidak ada lagi desa yang bisa kulihat, kami benar-benar berada di tengah lautan pasir. Yang ada hanya pasir dan gerombolan pohon kurma. Maka kami tinggal menunggu turunnya matahari. Semua orang duduk-duduk di pasir sambil mengagumi keindahan alam.
Tak lama kemudian ada penunggang kuda mendekatiku. Rupanya dia menawarkan jasa naik kuda. Aku katakan, tak berani. Tapi penunggang kuda itu ngotot dan menarikku naik kuda. Akhirnya aku berkeliling di sekitar bukit pasir dengan kuda yang dikendalikan pemiliknya. Aku hanya membonceng di belakang penunggang kuda.
Udara panas sudah makin berkurang, juga langit sudah mulai redup. Perlahan-lahan matahari membenamkan diri. Sebuah pemandangan yang fantastik. Kuning matahari tertumbuk kuningnya pasir. Mengingatkan kita pada panorama sunset yang indah di Tanah Lot, Bali. Sayang ada sedikit deretan awan yang menghalangi bulatnya matahari warna kuning kemerahan. Setelah matahari benar-benar hilang, kami kembali ke hotel dengan onta lagi.
Di hotel terasa panas sekali, walaupun malam sudah tiba. Pada saat makan malam rombongan kecil kami duduk di satu meja panjang. Mereka membicarakan kisah perjalanan yang baru saja dilalui. Tak terhindarkan membicarakan tingkah Kamel yang emosional. Para pelancong pada dua jeep lain juga merasa dianaktirikan, sebab Kamel selalu duduk di jeep kami. Sebaiknya, agar informasi merata, Kamel seharusnya bergantian sekali-kali naik pada jeep yang lain. Dari obrolan sambil makan itu diputuskan, akan meminta Kamel untuk mengunjungi Pasar Onta.
Di dalam ruang makan tersebut, tampak Kamel juga makan di ujung dekat pintu. Kadang dia menoleh ke meja kami. Mungkin dia merasa akan mendapat tekanan. Bagaimanapun cara Kamel berargumen tidak menampakkan persahabatan. Ketika santap malam hampir usai, Kamel mendatangi meja kami dengan berbasa-basi menanyakan, apakah makanannya enak, cocok, dan lain-lain. Akhirnya Kamel dengan mulut manis bilang, besok pagi akan mampir ke Pasar Onta. Kontan semua orang di meja itu kegirangan dan berterima kasih. Senyuman bermekaran. Begitu cepat perubahan pikiran Kamel. Dia mengambil jalan pintas yang menyenangkan banyak orang. Tapi Kamel berpesan, bisa jadi besok jadual pulang ke hotel agak terlambat. Semua pelancong merasa tak keberatan.
“Gute Nacht!“ pekik Kamel meninggalkan ruangan.
Bukan Onta, tapi Dromedar
Esok harinya, wajah matahari masih sama seperti kemarin, bersinar tajam. Tiga jeep berlaga di jalanan. Jeep kami ada di barisan paling depan. Mungkin karena Kamel ada di jeep itu sebagai penunjuk jalan. Desa-desa sudah mulai ada kehidupan. Pada perjalanan menuju Tozeur, Kamel membawa rombongan ke sebuah arena di Douz yang biasa untuk memeriahkan Festival Sahara. Ada tiga tempat untuk Festival Sahara, di Douz dan Matmata, serta Festival Oase di Tozeur. Festival Sahara di Douz jatuh pada bulan November sehabis panen kurma. Kamel menunjukkan arena lomba karapan onta, pacuan kuda, lomba menangkap kelinci yang dilakukan oleh anjing-anjing Sahara, serta berbagai tarian rakyat. Festival tersebut berlangsung selama empat hari.
Dari arena Festival Sahara, rombongan pergi menuju ke Pasar Onta. Pasar Onta ini dibuka tiap hari Kamis. Beruntunglah, karena hari itu hari kamis. Untuk memasuki Pasar Onta, kami harus melewati pasar umum yang menjual kebutuhan hidup sehari-hari. Tampak orang-orang menjual barang dagangannya. Mereka mencoba mengajak bicara dengan kami memakai bahasa isyarat. Suasananya mirip pasar di Indonesia yang ramai dan ramah. Banyak perempuan berjilbab dengan tekun menunggui dagangan mereka.
Setelah masuk di Pasar Onta, aku menyaksikan banyak laki-laki berjubah warna putih semua. Binatang yang dijual mulai dari kelinci, kambing, sapi, kuda, keledai, dan onta. Aku tak melihat ada kerbau. Tapi binatang ternak seperti ayam, kalkun dan bebek ada, bahkan merpati dijual pula. Aku dan istriku mendekati dan mengelus tubuh seekor onta berwarna cokelat. Onta itu mulutnya mengeluarkan lendir yang berjatuhan di tanah. Ada onta yang kulitnya warna putih, cokelat, dan merah tua. Hampir semua onta memiliki lutut yang menebal kulitnya, karena harus berdiri dan duduk setiap saat. Itu sekaligus sebagai pertanda onta yang sudah agak tua, sebab aku juga melihat pada onta yang masih muda, lututnya belum banyak menebal.
Menurut buku tentang Tunisia yang aku bawa, usia onta maksimal bisa sampai 25 tahun. Sebenarnya tidak ada onta di Tunisia, yang ada adalah jenis dromedar. Bedanya antara onta dengan dromedar terletak pada punggung yang menjulang. Onta memiliki punggung yang menjulang sebanyak dua buah, sebaliknya punggung dromedar yang menjulang cuma satu buah. Punggung yang menjulang itu bukan berisi air, melainkan lemak. Bila dromedar atau onta tak dapat cukup makanan selama dua minggu atau lebih, maka punggung yang menjulang itu akan kena sinar matahari sehingga mengempes dan mengerut sampai separuh. Tapi bila mereka makan kenyang maka punggungnya akan berdiri lagi. Punggung yang menjulang itu sebenarnya sebagai kantong persediaan sari makanan. Antara onta dan dromedar itu jenisnya mirip, sehingga banyak orang salah kaprah dan menyebut semua adalah onta. Onta dan dromedar minum air antara 20-50 liter per hari, dan mereka bisa bertahan selama dua minggu tidak minum. Tapi bila sudah dua minggu tidak minum, dan sekali minum mereka bisa menghabiskan 200 liter dalam tempo 10 menit. Kedua binatang ini meskipun minumnya boros, tapi kencingnya tergolong irit, antara 1-2 liter per hari.
Di Pasar Onta itu, kami bisa leluasa berjalan ke kios-kios di sepanjang jalan. Ada dua orang berdiri di pinggir jalan mengenakan pakaian muslimin. Seorang memakai kain warna biru muda, yang lain memakai warna jambon. Paduan warna itu sangat kontras dan kedua orang itu hanya tampak di bagian mata mereka. Aku bingung, apa kedua orang ini laki-laki atau perempuan. Bila perempuan tak tampak gelang atau cincinnya. Tapi mereka mengajak foto bersama. Dan aku berpose di tengah kedua orang itu. Ramah sekali orang-orang di pasar itu.
Kamel sudah berada di pinggir jalan. Kedua tangannya bertepuk ke arah kami. Tanda dia mengajak berangkat. Menjelang akan berangkat, Kamel menghitung lagi seluruh anggota rombongan. Ternyata masih ada satu perempuan dari Belanda yang belum datang. Kamel dengan sabar menghilang di kerumunan massa. Dari arah jalan datang perempuan Belanda yang dia cari. Perempuan Belanda itu merasa dirinya terlambat, maka dengan sedikit berlari ke arah jeep, ia mengucapkan kata, “sorry, sorry…“
Sekarang giliran Kamel yang belum datang. Sopir jeep kami meloncat dari setirnya mencari Kamel. Selang lima menit, kedua orang itu bergandengan tangan sambil membawa bungkusan plastik masuk jeep kami. Mungkin mereka membeli makanan kecil.
“Puas? Senang semua?“ tanya Kamel pada kami.
“Puas… senang… terima kasih,“ kata-kata berhamburan ketika mesin jeep sudah mulai bergetar.
Oase di Tozeur
Dari Pasar Onta itu, Jeep berjalan secara konvoi satu per satu, kemudian keluar dari jalan beraspal dan masuk ke jalan pasir keras yang sangat luas. Yang menarik, begitu ketiga jeep itu masuk jalan berpasir padat, maka ketiga jeep tersebut berjalan bukan konvoi lagi depan-belakang, melainkan ketiga jeep melebar berjalan sama cepatnya ke samping kiri dan kanan. Hal ini yang tak mungkin terjadi di jalan beraspal sempit yang hanya bisa dilalui dua jalur. Bagiku hal seperti ini termasuk pengalaman pertama. Jalan pasir ini sangat luas tak kelihatan batasnya. Justru tak memungkinkan untuk berjalan secara konvoi, karena debunya bisa menutupi jeep yang dibelakangnya. Puluhan kilometer samudra pasir telah kami lewati. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan sopir kami yang tancap gas menaiki bukit pasir. Pasir lembut, tapi bisa menjadi tanjakan. Sehingga posisi duduk kami miring. Mungkin jeep itu sudah terbiasa, tanpa selip rodanya, kami tiba di atas bukit berpasir.
Fata Morgana
Dari bukit itu kami bisa melihat panorama indah di sekitarnya yang lebih rendah. Tampak ada petani yang membawa rumput di gerobak yang ditarik seekor keledai. Juga terlihat banyak fata morgana (Istilah ini berasal dari sebuah legenda di Italia yakni seorang penyihir yang bernama Morgan le Fay. Morgan adalah saudara perempuan sekaligus musuh Raja Arthur yang dipercaya menyebabkan ilusi optis di Selat Messina Italia). Fata morgana tersebut tampak seperti air tergenang di mana-mana. Jangan kaget, itu hanya tipuan mata kita sendiri. Hal yang sebenarnya adalah suhu panas yang menguap sehingga tampak kilatannya seperti air yang tergenang. Fata morgana ini sering mencelakakan manusia yang berpergian dalam rombongan karavan. Karena seolah-olah ada air, tetapi bila didekati makin menjauh dan tak ada apa-apa. Mata manusia bisa tertipu, tapi binatang seperti onta, burung, rubah, tahu persis, bila itu tipuan belaka. Mungkin mereka punya insting yang lebih tajam.
Kami juga bermain-main dengan pasir Sahara yang hangat dan sangat lembut itu. Setelah istirahat sejenak di bukit pasir itu, jeep menuruni lereng berpasir dan membuat hati agak gemetar. Bagaimana tidak, roda jeep tak bergerak sama sekali, hanya terasa seluruh tubuh jeep hanyut terbawa gumpalan pasir. Rasanya seperti hanyut di sungai yang banjir. Akhirnya jeep kembali ke jalan beraspal lagi. Jeep berjalan memotong sebuah danau besar bernama Chott el – Djerid, yaitu danau berair asin. Tampak di sepanjang jalan, ratusan kilometer genangan air garam yang kering berwarna putih. Menurut sejarahnya, ribuan tahun silam air Laut Tengah meluap hingga ke daratan Afrika Utara. Setelah air laut surut kembali, tertinggallah air garam tersebut hingga kini. Oleh pemerintah dimanfaatkan untuk membuat garam. Ketika kami berhenti untuk memotret hamparan danau garam, sekaligus untuk kencing, aku melihat papan di pinggir jalan bertuliskan: 150 km ke Algeria. Berarti negeri Algeria sudah tak jauh lagi.
Sebelum memasuki kota tua Tozeur, rombongan berhenti di pertigaan jalan desa. Dari sini rombongan berganti naik dokar di jalan tanah lewat pedesaan untuk melihat sebuah oase. Beberapa anak kecil keluar ke jalan dan melambaikan tangan ke arah kami. Tibalah kami pada sebuah kebun yang luas. Segera saja rombongan diantar masuk ke tengah, di antara rindangnya pohon-pohon kurma dan berbagai jenis palem lain. Anak muda berpostur gendut kulit hitam menerangkan dengan bahasa Inggris, bahwa kita sudah sampai pada oase. Dia menunjukkan sebuah sumur bergaris tengah tiga meter dengan kedalaman 75 meter. Air sumur itu dipompa hingga airnya ke atas dan disimpan pada bak penampungan air. Air tersebut dialirkan ke kebun dua kali seminggu. Lokasi kebun dengan sistem pengairan buatan itulah yang disebut oase. Oase itu ada dua jenis: oase buatan dan oase alami. Lha, yang kami saksikan ini adalah oase buatan. Hanya orang kaya yang mampu membuatnya, sebab biayanya mahal.
Aku agak heran sebab di situ tumbuh juga pohon petai cina (Bahasa Jawa: metir atau mlandingan) persis yang ada di Indonesia. Juga beberapa sayuran seperti: ketimun, kol, bawang merah dan putih, tomat, dan wortel. Aku tertarik membeli dua bungkus buah kurma dari kebun itu. Dengan santai aku makan kurma itu satu persatu. Rasanya manis dan alami. Menjelang buah kurma itu habis, baru aku sadari pada beberapa buah kurma terakhir terdapat ulat kecil warna cokelat. Waduh,…sudah terlanjur sebungkus habis aku makan. Aku pikir-pikir justru buah kurma impor kwalitasnya lebih baik daripada membeli langsung di tempatnya, sebab yang kualami ternyata ada ulatnya.
Dari oase buatan ini kami menuju ke hotel di tengah kota. Bangunan kota Tozeur sangat artistik, hampir semua bangunan kota itu terbuat dari bata mentah warna cokelat tanah alami. Setiap gedung, berlainan corak seninya.
Tak lama kemudian, kami tiba di hotel. Udara terasa panas sekali, mungkin sekitar 40 derajat Celsius. Kami segera ke kolam renang, dan berendam air. Walaupun tubuh sudah basah kuyup, namun tetap saja udara terasa kering. Tak ada sedikit pun rasa lembab di udara. Susah dibayangkan, bila kita terbiasa hidup di udara tropis yang kaya akan kelembapan udara, dan tiba-tiba harus hidup di tempat seperti ini.
Sore harinya, rombongan mengunjungi sebuah museum porselen di tengah kota. Sisa sore itu, aku dan istriku berinisiatif sendiri keluar dari hotel naik dokar keliling ke desa. Kusir dokar kami sangat baik hati. Dia menerangkan dengan Bahasa Perancis tentang desanya. Kemampuan bahasanya cukup lancar. Rata-rata orang Tunisia bisa bicara Bahasa Perancis dengan bagus. Bahasa Perancis di Tunisia memang merupakan bahasa nasional kedua setelah bahasa Arab, sebab memang merupakan bahasa warisan kolonial.
Kusir muda yang selalu mengenakan jubah biru itu bilang, berkat seorang penyair dari Maroko, desanya menjadi hijau dan banyak air. Kusir itu lupa nama penyair tersebut, yang telah membelikan peralatan pompa air untuk mengairi kebun di desa, sehingga warga desa bisa menanam sayuran dan buah-buahan. Desa itu tampak sepi nan damai. Sekeliling desa itu adalah sahara yang luas. Di pinggir jalan lebih banyak laki-laki tua nongkrong, ketimbang anak mudanya. Apalagi perempuan muda hampir tak pernah aku lihat. Di tempat ini aku teringat buku Alkemis dari Paulo Coelho yang menjadi best seller dalam waktu yang lama sekali.
Kusir muda yang berkumis lebat namun sangat sopan itu mempersilakan istriku duduk di depan bersamanya. Sungguh menarik, pada masyarakat yang tradisinya ketat terhadap kaum perempuan, namun pelancong asing perempuan berkeliling desa dengan kusir dokar tak menjadi persoalan. Mungkin mereka menyadari, kusir itu toh mencari rezeki. Setelah desa kami kelilingi, kusir dokar itu mengantar kami pulang ke hotel. Sebelum berpisah kami membuat janji dengan kusir dokar lagi, agar nanti malam bisa minum kopi bersama di kedai lokal.
Malam tiba, kami bertemu lagi dengan kusir muda di ujung jalan. Hanya berjalan beberapa langkah saja, sampailah di sebuah warung kopi yang penuh orang lokal. Malam itu kami tak hanya ingin merasakan suasana hidup warga setempat, namun juga ingin mendengarkan cerita kusir dokar yang barangkali belum ditulis di buku. Dia mengisahkan, bahwa sistem perkawinan di desa dulunya menggunakan mas kawin onta. Onta itu ibarat sebagai jaminan hidup istrinya. Siapa tahu terjadi perceraian di belakang hari dan istrinya dikembalikan ke orang tuanya, maka istrinya bisa mempergunakan onta itu untuk menyambung hidupnya. Aku tertegun sejenak atas ceritanya. Dia akui, bahwa pengantin perempuan harus masih gadis, sebab dalam upacara perkawinan di desa, pengantin itu harus memperlihatkan seprai warna putih dengan bekas darah hubungan yang pertama kali. Seprai itu ditunjukkan pada kerabat dekat dan tetangga. Namun tradisi ini sudah mulai ditinggalkan. Dia menuturkan, anak laki-laki disunat di desa mulai usia satu hingga dua tahun. Di Tunisia, anak perempuan tidak disunat, namun di beberapa negeri Arab atau Afrika lain masih ada tradisi sunatan untuk perempuan.
Di warung kopi itu aku perhatikan hanya ada laki-laki saja. Mereka kalau bertemu kawannya bersalaman kemudian saling mencium pipi. Kemudian aku tanyakan pada kusir dokar itu, "Mengapa warung kopi itu hanya ada orang laki-laki saja yang datang?"
Dia menjawab, “Sebab bila ada perempuan yang datang, bisa dianggap anak nakal.“
Kontan aku dan istri tercengung. Tak mengerti tradisi seperti itu. Malam makin larut, kami berpisah dengan kusir dokar yang polos dan baik hati itu. Sepotong kertas berisi nama dan alamat kusir itu aku bawa pulang.
Oase Alami di Chebika dan Tamerza
Pagi harinya, rombongan meninggalkan kota Tozeur. Hari terakhir perjalanan ke Sahara ini masih akan singgah di dua oase alami di Chebika dan di Tamerza. Chebika letaknya di pegunungan pasir. Di daerah ini pada tahun 1.900 ditemukan sebuah sumber Fosfat oleh orang Perancis bernama Philippe Thomas. Fosfat hingga kini merupakan salah satu andalan ekspor Tunisia selain minyak zaitun, karpet, dan anggur.
Tiga jeep beriringan memasuki jalan lapang. Kemudian setibanya di sebuah gundukan pasir, jeep-jeep itu berhenti. Kamel menerangkan, bila sudah tiba di Oase Chebika. Dia memberitahukan pula, bila dirinya tak bisa mengantar ke dalam oase, tapi ada pemandu lokal yang akan menggantikannya. Seorang memandu lokal dari Suku Berber yang sangat ramah membawa kami menyusuri Oase Chebika. Orang itu mempunyai tubuh yang sedang, mirip orang Indonesia.
Aku melihat ada beberapa selokan di sepanjang jalan tanah dengan air mengalir yang bersih. Setelah jalan berundak-undak aku melihat sebuah air terjun di tengah oase. Di situ banyak dijual batu-batu alami yang berlapis kaca. Oase di Chebika ini sangat indah, rimbun dengan tanaman palem dan airnya mengalir setiap saat. Di tengah oase ini, seolah-olah kita berada di kebun tropis yang mini di tengah padang pasir yang membentang. Sekitar satu jam kami menikmati gemericiknya air dan udara basah yang lembap. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan ke Tamerza.
Dalam perjalanan kami berhenti beberapa kali untuk sekadar memotret. Kamel menunjukkan beberapa rumah Suku Berber dan Beduin yang hidup secara nomaden. Rumah-rumah itu hanya terlihat samar. Menurut Kamel, sekarang banyak polisi yang mulai mengatur tempat tinggal suku-suku nomaden, karena mereka dianggap hidup secara liar dan terpencar-pencar. Rumah-rumah nomaden itu tak mudah dikenali dari jarak jauh, karena sangat sederhana di tengah gundukan tanah dan pohon-pohon zaitun. Suku Berber dan Beduin inilah sebenarnya penghuni asli Sahara. Setelah itu datang Bangsa Romawi pada abad ke-5-6 M. Kemudian disusul Bangsa Byzantini di tahun 533. Dilanjutkan datangnya Bangsa Arab antara tahun 665-698. Diteruskan kemudian Bangsa Turki pada tahun 1574. Terakhir datanglah Bangsa Perancis dari tahun 1881 hingga kemerdekaan Tunisia di tahun 1956.
Perjalanan dengan jeep terus merangkak membelah debu-debu tipis. Warna jeep yang putih sudah seperti terbalut debu Sahara. Di sebuah jalan sempit, ketiga jeep berhenti. Di situlah letak oase kecil Tamerza. Boleh dikata hanya berupa sebuah air terjun saja. Air terjun itu mengaliri selokan-selokan di sekitarnya. Batu-batu besar yang berserakan di dekat air terjun menjadi sebuah pemandangan indah yang dipadukan dengan bentangan alam datar berpasir-pasir. Sebenarnya air terjun sekecil itu banyak terdapat di hutan-hutan Indonesia. Akan tetapi sebuah air terjun kecil di tengah-tengah Sahara, tentu sangat berarti. Aku jadi ingat guru agama di sekolah dasar dulu. Dia menerangkan, bila oase itu seperti bendungan yang melimpah airnya. Mendengar kata bendungan, langsung membayangkan bendungan air di Jawa yang besar hingga menenggelamkan desa-desa sekitar. Tak tahunya hanya air terjun kecil.
Dari Tamerza, rombongan melanjutkan perjalanan pulang ke kota Sousse lagi. Dalam perjalanan, di tengah hamparan pasir itu, tak disangka ternyata ada beberapa pagar dari batang pohon palem, sebagai pagar kaplingan milik pribadi di tengah sahara. Kamel menambahkan, bahwa di Sahara itu tak ada apa-apa, hanya pasir, onta, dan kurma, serta tidak ada minyak. Kriminalitas nol alias tidak ada. Karena setiap orang kenal dengan orang yang lainnya. Di Sahara tak kenal sistem sewa, semua sistemnya gotong royong atau kebersamaan. Setelah Kamel berdiam beberapa saat, ketiga jeep saling memacu kecepatan. Tidak hanya kami yang sudah lelah, namun sopir dan Kamel juga tampak sudah kepayahan. Memasuki kota Sousse, ketiga jeep berpencar ke arah yang berbeda.
Jeep berhenti di depan taman hotel dan pintu kami buka. Kamel turun mengucapkan salam perpisahan sekaligus minta maaf pada kami atas sikapnya yang kasar tempo hari. Kamel bilang, “Maaf, atas sikapku yang kasar dahulu. Aku malu sekali pada kalian, ternyata kalian orang-orang sopan yang tidak aku bayangkan.“
Istriku menjawab, “Tidak apa-apa, Kamel. Semua sudah berlalu, dan kami tidak akan komplain. Kami menikmati petualangan itu, terima kasih banyak.“
Melihat adegan tersebut, aku menunduk terharu. Kami menyalami Kamel untuk berpisah yang terakhir kali. Tak kubayangkan, Kamel yang punya temperamen tinggi itu, hatinya bisa luluh. Kemudian kami berpisah di keremangan taman. Laut di belakang hotel telah menanti, tapi sudah tak menampakkan parasnya lagi. Hanya deburan ombak masih bisa dikenali sekali-kali. Baru saja kami melihat samudra pasir, dan kini tiba-tiba berada di dekat samudra air.
Tiga hari lagi kami harus sudah angkat kaki dari sini. Seperti biasa, menjelang pulang ada petugas dari biro perjalanan yang datang ke hotel menyerahkan tiket pesawat yang sudah dikonfirmasi. Sambil lalu petugas yang lancar berbahasa Jerman itu berbasa-basi menanyakan petualangan kami di Sahara. Kami mengatakan bahwa kami sangat terkesan. Aku dan istriku sudah sepakat tidak akan memperpanjang masalah tentang sikap Kamel yang kasar di perjalanan. Apalagi Kamel sudah minta maaf dan menyesali sikapnya. Namun rupanya petugas muda kelahiran Tunisia itu cerdik. Dia terus memburu sekiranya ada yang kurang cocok di perjalanan. Dan istriku termasuk orang jujur, di antara orang-orang yang aku kenal. Dia menceritakan tabiat Kamel, dengan catatan sekadar cerita, bukan bermaksud mengadu sama sekali. Petugas berambut hitam legam itu manggut-manggut, seolah-olah menempatkan diri sebagai pendengar setia. Ketika cerita istriku selesai, petugas itu tiba-tiba menawari kami sebuah tour ekstra dan gratis ke pabrik pembuat minuman anggur. Tour ini baru dalam tahap tour percobaan, dan akan dimulai dua hari lagi. Kami tidak tertarik untuk jenis kunjungan seperti itu. Namun dia pandai merayu, bahkan dia katakan itu semua untuk kompensasi. Kami buru-buru menolak istilah kompensasi, sebab itu berarti kami tidak puas. Entah bagaimana akhirnya pembicaraan itu, dua tiket kunjungan ke pabrik minuman anggur sudah di tangan kami.
Dua hari berlalu, dan kami duduk-duduk di depan hotel menunggu bus. Aku menghitung ranting bunga yang rimbun di taman, sementara istriku sibuk menaruh krim anti-sengatan panas matahari di lengan dan wajahnya. Lalu aku iseng meluncurkan pertanyaan, “Bagaimana seandainya nanti yang memandu Kamel?“
“Ah, tidak mungkin. Dia kan masih capai, dan butuh istirahat. Pasti ada pemandu yang lain,“ jawab istriku tanpa memandangku.
“Tapi tahukah nanti Kamel, bila kami mengambil program ini sebagai konpensasi atas perbuatannya?“
“Ah, tak usah bicara yang tak pasti,“ jawab istriku, “aku sudah tegaskan pada petugasnya bahwa kita tidak komplain. Kita ikut acara ini karena memang gratis dan kita tak ada acara lain.“
Sejenak suasana tenang, hanya ada kucing hitam di ujung taman bermain lompat-lompatan. Dari arah depan moncong bus warna biru memasuki pekarangan.
“Guten Morgen,“ sapa pemandu perempuan ramah sembari turun dari bus.
Kami membalas salam paginya dan merasa plong, karena bukan Kamel yang datang memandu. Bila Kamel yang datang akan ditaruh di mana muka kami? Di dekat pintu bus masih ada dua kursi yang kosong, di situlah kami duduk.
“Apa kataku? Bukan Kamel yang memandu, kan?“ sergah istriku mengawali.
Sepintas aku menyetujui perkataan istriku. Namun ketika pandanganku berkeliling melihat kepala-kepala lain yang berada di dalam bus. Aku terkejut, “Wah, mati aku!“ ujarku dalam hati. Bukankah itu kepala yang botak dan sedikit beruban itu adalah kepala Kamel?
“Kamu yakin, bila Kamel tidak ikut?“ pancingku pada istriku.
“Apa kamu melihatnya?“ tanya istriku mulai ragu.
“Menurutku, kepala di sebelah kiri sopir itu milik siapa?“ jawabku sedikit ketus.
“Apa itu kepala Kamel?“ Istriku menggeser-geser posisi duduknya, agar dia bisa melihat kepala Kamel dengan lebih jelas. Maklum di dalam bus itu penuh pelancong dari Jerman dan Swiss. Tak berapa lama istriku melihat sendiri, Kamel sedang berbicara dengan kawan-kawannya sesama pemandu di kursi depan. Ada tiga atau empat pemandu di bus itu.
“Celaka!“ gerutu istriku.
Satu jam lebih sedikit, bus memasuki pabrik anggur. Meskipun Pemerintah Tunisia melarang menjual minuman beralkohol, namun memproduksi minuman anggur tidak dilarang. Produksi minuman anggur Tunisia kebanyakan diekspor ke luar negeri. Segera kami turun. Saat kami melewati pintu bus bagian depan, secara tak sengaja istriku bertatapan muka dengan Kamel. Istriku mendahului menyapa, namun Kamel tidak menjawab. Bisa ditebak, Kamel pasti merasa sakit hati. Kamel mengira, kami tetap komplain, karena mengambil acara kompensasi itu. Dan menurut perkiraanku mengapa Kamel berada di situ, karena biasanya acara yang baru dibuka, harus diperkenalkan pada setiap pemandu, karena pada suatu saat mereka pasti akan mendapat giliran memandu acara tersebut. Begitulah pengalamanku bertahun-tahun sebagai pemandu wisata di Pulau Bali. Tengah hari, bus membawa kami ke hotel lagi. Dan esoknya, kami berkemas kembali ke Swiss dengan 1001 kenangan.
***
Daftar Pustaka:
1. Carter, Rawlinson, 2001, Tunesien, Polyglott APA GUIDE, Berlin und Munchen: Langenscheidt KG.
2.Hassani, Nadia, 1997, Tunesien für Frauen, Baden-Baden und Zürich: Elster Verlag.
3.Pernat, Maria, 2000, Tunesien, Polyglott ReiseBuch, Munchen: Polyglott Verlag GmbH.






