North Island - New Zealand
By admin • Feb 10th, 2006 • Category: Wisata
Perjalanan pertama, Auckland- Waitomo Glow Worm Caves sekitar 3 jam
dari Auckland. Tiket masuknya NZ$30/orang dewasa dan $13/anak. Masuk ke
gua, pertama kali masih seperti gua-gua di Indonesia, isinya stalagtit
dan stalagmite, kami berjalan di trek yang sudah disediakan. Tata lampu
seperti di Gua Jatijajar, membuat suasana gua jadi indah. Di
tengah-tengah gua, ada ruangan luas layaknya hall, kata penjaga disana,
Bosen juga kalau terus-terusan di Auckland. Liburan musim panas tahun lalu (2005). kami (aku, suami dan anak) memutuskan untuk camping karena paling terjangkau dengan dompet. Nekat dengan uang cekak beasiswa, keluyuran pakai mobil (Honda shuttle tahun 1985, harganya cuma NZ$800 ato kalau di kurs 1NZ$7000 ya sekitar 5,5 jutaan rupiah lah).
Kami sudah diberi tips oleh teman kuliah dari Jerman, yang doyan jalan-jalan untuk daftar jadi member di Top10 Holiday Park dulu biar dapat diskon kalau buka tenda di sana. Jadi, member bayar NZ$20 untuk 2 tahun. Buka tenda di Holiday Park rata-rata kalau musim panas sekitar $20-30/couple dan anak sekitar $5-7, harga ini sudah termasuk fasilitas gratis Holiday Park seperti dapur plus kulkasnya, barbeque, kolam renang, dan setrika. Kami juga bisa pakai laundry tapi bayar $2 sekali nyuci. Lumayan deh daripada pegel ngucek-ngucek. Banyak juga holiday park lain di New Zealand dan mereka masih tradisional, nggak bisa pesan online, Fasilitas basic sama (dapur dll) tapi kami nggak ada bayangan seperti apa. Jadi untuk amannya, kami jadi member di Top 10 (www.topparks.co.nz) Kami juga bawa airbed yang bisa dipompa pakai listrik, hasil beli bekas, murah dan masih bagus. Jadi ya lumayan lah rada nyaman, abis kasian khan suami bakal nyetir seharian.
Perjalanan pertama, Auckland- Waitomo Glow Worm Caves sekitar 3 jam dari Auckland. Tiket masuknya NZ$30/orang dewasa dan $13/anak. Masuk ke gua, pertama kali masih seperti gua-gua di Indonesia, isinya stalagtit dan stalagmite, kami berjalan di trek yang sudah disediakan. Tata lampu seperti di Gua Jatijajar, membuat suasana gua jadi indah. Di tengah-tengah gua, ada ruangan luas layaknya hall, kata penjaga disana, itu tempatnya penyanyi Mariah Carrey dan Whitney Houston biasa nyanyi, formasi gua membuat suara mereka lebih OK. Aku sih pengen juga nyobain nyanyi, tapi takut pengunjung lain pada kabur, jadi niat ini dibatalin aja. Gua ini juga disewakan untuk acara orang-orang kaya kalo mau pesta atau punya special occasion (ini caranya pemda setempat untuk cari duit, perlu ditiru ama pemda Indonesia ya).
Sehabis melewati hall, jalan mulai turun, gelap dan terlihat sungai di bawah. Disinilah tinggal si Ulat kecil terang (glow worm). Satu persatu pengunjung diminta naik perahu, ada yang mandu, setelah semua duduk, tukang perahu mulai cerita tentang glow worm. Sejenis insect yang liurnya bercahaya dan set aturan main. Kata teman orang Sulawesi, glow worm itu di sulawesi ada, sejenis kunang-kunang belum jadi, banyak di gua-gua, tapi berhubung selama di Indonesia belum pernah tau, ya aku menikmati sekali. Mulai dari sini kami nggak boleh motret dan berisik, karena bisa mengganggu komunitas ulat ini. Setelah itu perahu mulai berjalan (udah ada tali malang melintang jadi tukang perahu tinggal ngikutin tali aja, nggak ngayuh dan nggak bersuara). Kalau mau lihat gambarnya lihat di www.waitomocaves.co.nz soalnya kami juga nggak bisa ambil foto.
Dari Waitomo, perjalanan dilanjutkan ke Danau Taupo, danau terbesar di NZ, bekas kawah gunung meletus. Airnya jerniiiiiih banget, sampai kedalaman 10 meter, kami bisa lihat ke dasar lho. Kaget juga, kirain nggak dalam, ternyata dalam. Di belakang Danau Taupo itu tempat ski, Gunung Ruapehu, sekitar 30 menit perjalanan dari Taupo. Meskipun summer, masih tersisa salju di pucuk gunung dan air danau tetap aja dingin.
Berhubung anakku Andin, udah nyemplung mau nggak mau deh emaknya ikut nyemplung meskipun brrrrr…..kedinginan dan kami berenang bareng angsa-angsa liar. Nggak ganggu sih mereka, cuma aneh juga rasanya renang dekat-dekat angsa. Oh ya, karena Taupo itu tempat wisata terkenal di NZ, banyak restoran fast food, seperti KFC, Mc D, dan Chinese take away. Jadi nggak kuatir deh soal perut. Hati-hati kalau jalan-jalan di NZ, nggak semua tempat wisata ada tempat makan lho, maklum penduduk senegara cuma 3 juta, jadi tempat makan pun nggak selalu buka/ada. Seperti di Waitomo, yang ada cuma cafetaria, yang kalo ukuran perut melayu seperti kami nggak kenyang deh, itu sih snack doang. Bagusnya, harga makanan di tempat wisata sama dengan di tempat non wisata, jadi nggak usah kuatir kecekek. Setelah makan, kami naik kapal untuk ngeliat ukiran orang Maori di tengah danau, tiketnya sekitar NZ$50/keluarga. Ukiran itu dibuat sebagai kepercayaan orang Maori dengan dewa airnya. Sepanjang perjalanan, sopir perahu menunjukkan rumah-rumah di pinggir danau, rumahnya orang-orang terkenal disini yang harganya sekian million, juga sejarah Taupo dan cerita kalau air danau dipakai untuk pembangkit listrik separuh North Island. Pukul 7an, kami ke tempat farm stay yang telah kami booking sebelumnya untuk nginep disini, karena harganya murah. Nginep di rumah farmer dekat danau, $30/keluarga, kalau termasuk makan malam harus nambah $15/keluarga.
Tracey dan Barry plus si kecil telah menyambut kami. Mereka sangat ramah. Makan malam sudah siap dengan menu ayam panggang, kentang, salad, cheese cake, dan teh hangat. Kami ngobrol sampai malam, baru tau kalau mereka punya bisnis diving instructor, tapi bisnis ini jalan kalau ada pesanan dan mereka tentukan jadwal seminggu sekali. Pemerintah daerah sangat membantu promosi industri seperti ini di leaflet-leaflet local information centre.
Paginya kami ajak Andin jalan-jalan menyaksikan biri-biri, ayam, dan babi. Pukul 10 kami check out dan meneruskan perjalanan ke Wellington. Taupo-Wellington lewat desert road. Jalan ini jalur utama North Island lewat tengah, Kalau winter bisa ditutup karena salju bisa longsor sewaktu-waktu dan jalan berliku bisa selip. Kalau summer, berbatu dan berdebu seperti desert. Sorenya, sampailah kami di Wellington, ibukota New Zealand. Kami langsung ke holiday park, karena harus bantuin suami masang tenda. Oh ya tenda kami ukuran 3 orang, se-holiday park tenda kami paling kecil. Orang di sini kalau camping bisa nginep berhari-hari, camping itu sudah menjadi budaya, jadi bawaanya caravan atau tenda yang gede banget seperti rumah, bawa kulkas sendiri, tv sendiri, termasuk meja kursi, padahal holiday park punya fasilitas semacam ini, ngapain bawa ya?. Waktu mereka melihat kami sebagai satu-satunya keluarga asia yang camping, mereka tampak keheranan dan mereka ngundang kami untuk mampir ke tenda mereka. Aku sih senang-senang aja, tinggal di camping ground ibarat tinggal di kampung.
Besoknya, kami menuju Parliament Building. Gedung parlemen ini diberi nama Beehive yang artinya; sarang lebah, karena tawon itu binatang yang termasuk menghasilkan devisa Negara ke NZ. Dalam tour gratis yang diadakan setiap jam, kami ditunjukan aturan main jadi anggota parlemen, ditunjukan tempat duduk oposan, rakyat jelata, dsb. Bagimana cara mengemukakan pendapat, dan juga diperbolehkan mencoba duduk di tempat anggota-anggota parlemen, tapi nggak boleh menyentuh laci mereka yang terbuka meskipun kertas-kertas kelihatan berserakan. Tampaknya ini perlu jadi pertimbangan untuk dilihat kalau berkunjung ke New Zealand.
Kami juga tour ke gedung bawah tanah. Gedung ini didesain khusus dilengkapi semacam shock absorbernya, sehingga tahan gempa, maklum Wellington rawan gempa dan anginnya minta ampun deh. Dari sini ke pusat kota, dan ke Museum. Bagus juga museumnya. Tiap lantai temanya berbeda-beda, paling seneng sih di tempat anak-anak, soalnya isinya mainan dan sekaligus pendidikan. Kalau mau lihat virtual tournya di www.tepapa.govt.nz Dari sini kami keluar dan naik kereta gantung, lihat Wellington dari puncak bukit. Gedung Kedutaan Besar Indonesia cuma berjarak beberapa ratus meter dari sini. Setelah itu kami balik lagi, makan sore di kota, dan siap kembali ke holiday park. Anakku udah gak tahan pengen mainan sama krucil-krucil lain di play ground.
Rencana awal kami nginep di Wellington 3 hari, tapi semalaman angin benar-benar nggak bisa diajak kompromi. Tenda kami nyaris terbang. Akhirnya suamiku memutuskan untuk pindah kota.
Perjalanan diteruskan ke Napier, kota pantai di bagian timur North Island. Andin, anakku, paling senang holiday park disini karena kolam renangnya besar dan ada seluncurannya. Napier itu kota art deco. Kota ini hancur tahun 60-an kena gempa bumi 9 skala Richter dan dibangun kembali jadi kota yang bernuansa seni. Hari itu kami jalan-jalan saja di kota. Besoknya, kami ke Sea Horse Farm. Tempatnya biasa saja, seperti gudang/storage room, didalamnya terdapat bak-bak tempat pembenihan kuda laut. Tahukah Anda kalau Kuda Laut adalah satu-satunya binatang di dunia yang jantannya bisa hamil ? Jadi kalau lihat perut kuda laut genduuuut banget, itu pasti kuda laut jantan. Jangan salah! Aku mendengar cerita bahwa industri ini didirikan karena hanya ada dua pembenihan kuda laut di dunia, selain China. Satu lagi di Taiwan. Semua produknya dikeringkan, dikirim ke China untuk dijadikan obat. Omzetnya milyaran dollar. Mereka juga punya pembenihan kepiting untuk pasar lokal. Kami beli kepiting, nangkep sendiri dari kolam. Malam itu kami makan malam dengan kepiting rebus dan nasi dimasak di microwave. Sangat lezat karena kepiting segar. Manis banget !
Besoknya kami ke Cape Kidnapper. Tempat Gannet Colony terbesar di NZ. Burung gannet tinggal di Australia dan New Zealand. Di musim dingin, burung-burung Gannet dari New Zealand terbang ke Australia dan setahun sekali mereka kembali ke sarang yang sama, untuk ketemu pasangannya dan punya anak. Burungnya bagus banget, matanya berwarna biru dan kami bisa ngeliat induk gannet sedang ngajarin anaknya terbang. Untuk bisa mencapai tempat ini, ada dua alternative; Jalan kaki sekitar 11 km nyusuri pantai, atau naik truk sampai di bawah bukit tempat gannet bersarang dan naik ke puncak bukit jalan kaki. Ada pula jalan mobil, tapi ekslusif untuk penjaga taman wisata, nggak boleh untuk umum. Karena bawa anak, kami putuskan naik truk setelah parkir mobil. Truknya model terbuka, tempat duduk sudah dimodifikasi, jadi penumpangnya duduk di tengah dan menghadap ke luar. Perjalanan nyusuri pantai ini juga asik, karena kaki bisa kena cipratan air dari roda truk dan bisa melihat profil bukit-bukit yang pernah kena gempa. Truk berhenti sebentar-sebentar dan sopirnya menjelaskan tentang dahsyatnya kekuatan alam ini.
Sampai di tempat Gannet, kami naik bukit, untuk lihat gannet dari dekat. Nggak boleh dipegang-pegang apalagi dikasih makanan. Oh ya, di tempat gannet ini nggak ada orang jual makanan, jadi kalau yang mau kesini, jangan lupa bawa perbekalan secukupnya. Bolak-balik perjalanan selama 4 jam, cukup melelahkan karena terus dibawah terik matahari.
Dari Napier, kami rencana terus nyusuri pantai timur ke Gisborne. Di tengah jalan, aku membaca penunjuk jalan bertuliskan ‘Hot Spring’. Akhirnya kami berbelok dan waktu beli tiket masuk, si penjaga tanya: “Are you sure? This is hot weather and the water is hot. No one come here since last week”. Kasian juga ya, Aku bilang, ya udah lewat sini sekalian deh. Aku masuk dan kami melewati jalan setapak di hutan kecil, lalu sampailah di tempat kolam air panas, ada tempat ganti baju, sehabis ganti langsung nyebur, “ya ampuuuuunnnn panas banget !”. Eh ternyata di sebelahnya ada kolam air dingin, nyemplung deh kesini, “ya ampuuun dingin banget !”
Dari hot spring kami ke Pantai Mahia. Cuma, kalau kami kelamaan disini bakal terlambat sampai di Gisborne. Jadi diteruskanlah perjalanan ke Gisborne. Ternyata Gisborne adalah kota kecil yang sepi. Tampaknya nggak bakalan kesasar deh orang disini. Kami teruskan perjalanan biar bisa nginap di Tolaga Bay, tempat Captain Cook pertama kali berlabuh di NZ dan juga tempat anjungan terpanjang di NZ (sampai lebih dari 100 meter). Sampai di sana pas maghrib, sekitar pukul 8-9 malam. Nggak ada top10 holiday park disini, tapi untungnya kami dapat holiday park tepat di pinggir pantai dan langsung dirikan tenda dan istirahat.
Suara debur ombak bersahut-sahutan di pagi hari. Setelah sarapan, Andin, anakku sudah siap dengan boogie boardnya dan kami mainan di pantai. Ada jalur wisata lain dari sini, jalan nyusuri tebing, konon pemandangannya indah, ada hole in the rock, sampai di tepi hutan dan di situ pasirnya putih, tempat yang sebenarnya dimana captain Cook berlabuh. Tetapi, karena bawa anak, kami harus balik hari itu. Akhirnya kami menikmati pantai dan siang meneruskan perjalanan ke pantai paling timur NZ, East Cape, tempat ini juga kota paling timur di dunia, berada di titik 0 derajat. Ada mercu suar disini, tangganya berjumlah 750. Aku tanya anakku, “sanggup nggak kamu naik ?”. “Mama dan Bapak nggak kuat gendong lho. Mama kasih kamu ice cream ntar kalo turun ” Anakku mengiyakan. Jadilah kami naik. Setiap anakku capek, aku janji tambah ice cream. Akhirnya sampai juga, bila ditotal, jatah Andin jadi 5 ice cream. Nggak apa-apalah daripada nggendong, bisa patah pinggang.
Sepi nggak ada apa-apa disini, nggak ada penginapan juga, kami turun setelah melepas lelah dan sampai di kota terdekat dan mencari ice cream untuk Andin. Kami meneruskan perjalanan ke Ohope beach, tempatnya para selancar dan kami menginap selama 2 malam untuk istirahat.
admin is
Email this author | All posts by admin



