Preman Angkutan Umum
By admin • Feb 16th, 2006 • Category: New Article
Bagi
yang terbiasa menggunakan angkutan baik jenis elf atau angkutan kota/angkot
(terutama di kota-kota besar di Jawa seperti
atau
tentu tidak asing lagi dengan keberadaan calo-calo angkutan. Hampir di semua
tempat naik turunnya penumpang yang lokasinya cukup ramai,
Bagi
yang terbiasa menggunakan angkutan baik jenis elf atau angkutan kota/angkot
(terutama di kota-kota besar di Jawa seperti
atau
tentu tidak asing lagi dengan keberadaan calo-calo angkutan. Hampir di semua
tempat naik turunnya penumpang yang lokasinya cukup ramai, mereka selalu ada.
‘cukup baik’ karena dikasih tip berapapun sama sopir mereka terima; bahkan ada
beberapa yang komunikasinya dengan para sopir cukup akrab. Namun tak jarang pula ada beberapa yang menyebalkan, karena main paksa
ketika minta tip-nya. Tingkah lakunyapun kadang mirip preman, main paksa dan
mengancam. Hal ini kadang membuat kita yang melihatnya ikut merasa kesal;
seperti beberapa kejadian yang pernah kualami ketika menggunakan elf atau
angkot tersebut :
- Angkot
jurusan Cileunyi-Majalaya (Bandung)
Di depan pintu Stasiun Rancaekek angkot tersebut berhenti
menurunkan penumpang, dan dari situ kebetulan juga tidak ada calon penumpang
yang naik. Seseorang calo yang biasa mangkal di pangkalan ojek tiba-tiba saja
menghampiri sopir sambil berkata :"A’…..da abdi mah sanes nyalo, ngan
hoyong rokok ungkul!". (Mas……. saya sih bukan nyalo, cuman pingin
rokok saja!”), ujarnya sambil matanya menatap tajam ke arah sopir angkot tersebut.
Jika melihat sekilas bahasanya sih halus, tapi bernada ancaman. Si sopir
akhirnya memberi uang, tapi ketika angkot berjalan terdengar umpatan
kekesalannya.
- Angkot
di Sukabumi (saat hendak dicarter ke Balai Taman Nasional Gunung Halimun)
Ketika kami serombongan naik ke angkot tersebut, seorang
calo langsung menghampiri sopirnya meminta uang. Padahal waktu itu kami
langsung bernegosiasi ke sopirnya tanpa melalui calo tersebut. Ketika sopir
memberikan uang Rp 2.000, langsung ditolak mentah-mentah sama si calo. Ketika
ditambah lagi Rp 1.000 menjadi Rp 3.000 dan ditambah dengan perdebatan yang
cukup alot antara sopir dengan calo, calo tersebut akhirnya menerima uang Rp
3.000, tapi disertai cacian dan omelan panjang lebar kepada sopir. Aku kasihan melihat
sopir yang kelihatan kesal sekali, namun tak kuasa untuk menolaknya.
- Elf jurusan
Bandung-Tasikmalaya
Aku
naik elf tersebut di dekat pintu tol Moh. Toha, tempat elf tersebut ngetem
menunggu penumpang penuh. Ketika itu sopir memberi uang
Rp 2.500 kepada calo, tapi ditolak sambil berkata :"Ini masih kurang, uang
makannya kan beda lagi!". Padahal sebenarnya tanpa adanya calo juga tidak
menjadi masalah, karena elf tersebut juga ada kernetnya. Sementara calo dan
sopir saling berargumentasi, dalam hati aku tersenyum getir dan membatin
:"Ooooo……. jadi calo angkutan jaman sekarang ini tip-nya masih
ditambah uang makan segala!".
Bagi yang jarang atau tidak pernah menggunakan angkutan
umum, mungkin tidak pernah mengalami hal-hal yang mirip kondisi cerita di atas.
Tapi inilah realita yang ada di negeri yang kita cintai ini. Belum lagi yang
sering ditulis di koran; preman-preman yang berada di terminal atau di jalur
Pantura (Pantai Utara P. Jawa) yang lalu lintas antar kotanya sangat padat.
Mereka mengambil secara paksa ‘uang jalan’ bagi beberapa kendaraan truk dan bus
antar kota yang lewat. Tindakan langsung terhadap preman angkutan tersebut
memang tidak bisa kita lakukan. Tapi tidak
ada salahnya jika kita mendoakan agar mereka mendapatkan setitik hidayah
dari-Nya. Dan juga agar negeri ini menjadi tenteram dan damai. Semoga….!
Wassalam,
Endah RH
admin is
Email this author | All posts by admin



