‘Rock Art’ di Sangatta
By Santoso • Feb 10th, 2006 • Category: Budaya / Cultural
Tahun 2001 (cerita mas Puguh) ada bule-bule Perancis meminjam
helikopter (Yunani: helix=spiral, pteron=sayap) sebuah company. Hasil
eksplorasi tim itu baru muncul di National Geographic (internasional)
Agustus 2005. Rock Art, begitu hasil eksplorasi diberi judul, lalu
dipamerkan dan di-workshop-kan keliling. Dari Jakarta, Balikpapan,
kemudian ke Sangatta,
Tahun 2001 (cerita mas Puguh) ada bule-bule Perancis meminjam helikopter (Yunani: helix=spiral, pteron=sayap) sebuah company. Hasil eksplorasi tim itu baru muncul di National Geographic (internasional) Agustus 2005. Rock Art, begitu hasil eksplorasi diberi judul, lalu dipamerkan dan di-workshop-kan keliling. Dari Jakarta, Balikpapan, kemudian ke Sangatta, tempat yang tak sampai 100km dari lokasi penemuan. Alangkah panjang dan tak liniernya perjalanan cap tangan manusia purba itu.
Dalam 10 tahun terakhir, inilah acara ‘bergizi’ pertama di kota kecil yang hingga kini tak memiliki gedung bioskop! Pembukaan mesti molor satu jam dari jadual. Seremonial di awal acara pun agak bertele-tele. Toh semua itu bisa ditenggang melihat bobot dan isi acara. Yang punya gawe adalah divisi External, KPC. Mesti begitu unsur lain, utamanya ‘klik club’ wadah penggemar fotografi, disertakan. Sebagai penggiat ‘klik club’ di masa kelahirannya saya sebenarnya ditodong untuk ikut berkeringat. “Pak masih ada seat ke Balikpapan, total 25, baru isi 24,” begitu panitia menelpon. 2 hari (28-29 Januari) untuk Sangatta - Balikpapan pp, membantu panitia, ikut workshop, ditambah hunting photo di wana riset tentu exhausted. Makanya saya memilih menunggu di kandang.
Tiga pembicara bergantian membeberkan kajian. Sesuai kapling, Pak Gunadi membedah ‘rock art’ dari sisi arkeologi. Pak Pindi, dosen Seni Rupa ITB, mengupasnya atas dasar analisis gambar/tanda. Pak Ahmad Sopandi, pembicara terakhir, mencoba menguak rahasia pewarna alami purba. Tengah presentasi berlangsung seorang panitia di sebelah saya bisik-bisik. “Mas, tolong nanti nanya biar hidup acaranya,” pesannya.
Kekhawatiran itu terlampau jauh dari kenyataan. Saat sesi tanya-jawab dibuka, seorang peserta mengangkat jari. Dia menanyakan soal pematokan usia ‘rock art’ pada tarikh 10.000 tahun yang lalu. Bagaimana kaitannya dengan zaman pleistosen? Mengapa (menyitir ceramah Pak Gun) manusia purba itu belum kenal transportasi air? Usai jawaban disampaikan yang antusias meninggikan telunjuk ada 3 orang. Yang diberi kesempatan, kebetulan dari Bengalon atau sekecamatan dengan lokasi temuan, menujukan ingin tahunya ke Pak Pindi. Apa maksud manusia purba membuat gambar? Lalu mengapa mereka membuatnya di lokasi yang susah dijangkau?
Dua tanya-jawab itu makan waktu cukup lama. Makanya sesi ini disudahi agar bisa masuk ke acara workshop. Di sini Pak Sopandi mendemonstrasikan apa saja bahan-bahan pewarna alami. Ia menunjukkan sejenis ‘rambutan’ berkulit merah. “Apa nama buah ini?” Seseorang dari Bengalon menyahut tapi saya tak bisa mendengarnya dengan jelas. “Orang berbahasa Inggris menyebutnya lipstick tree,” jelasnya. Memang itulah bahan pembuat lipstik, karenanya ia menawarkan pada ibu Martha Tilaar. “Di Yogya sekilo sekitar 70 ribu. Bapak-bapak ini tentunya peluang usaha.”
Workshop tidak saya ikuti lantaran ingin ngobrol dengan Pak Gunadi. Uneg-uneg yang dari tadi tersimpan saya muntahkan. Dengan tarikh 10.000 TYL, bagaimana memosisikan temuan itu pada peta migrasi Proto Melayu dan Deutero Melayu? Di sini saya singgung juga temuan gajah mini di Kalimantan Utara. Lantas bagaimana menjelaskannya dengan teori baru tentang asal-usul penutur bahasa Austronesia (di luar “out of Taiwan” Peter Belwood)? Mana yang lebih tua dibanding ‘gambar’ sejenis yang pernah saya lihat di Leang-leang, Maros? Penjelasan atas pertanyaan ini bisa disalin ke puluhan halaman!
Di dekat photo-photo yang dipamerkan nampak Pak Tantyo Bangun jeprat-jepret. Saya tanyakan padanya apakah untuk temuan ‘hobbit’ di Liang Bua, Flores, juga ada pameran dan presentasi serupa. Katanya, presentasi hanya di Jakarta. Saat ini, tambahnya, NGI tengah merayu Newmont Nusa Tenggara (company tambang emas) untuk membuat museum di Flores. Dengan museum itu nantinya akan ada zonasi untuk membedakan peneliti dan pengunjung biasa. Singkat saja tanya-jawab itu. Saya bisa membaca ketergesaannya.
Dalam obrolan lanjut dengan Pak Gun perlunya zonasi juga disinggung. Dia melempar ide membuat miniatur goa itu di Sangatta. Selain untuk pengajaran sekolah, yang sekadar ingin tahu pun tak usah repot ke sana. Mendadak dua orang mendekat. Dengan Pak Gun mereka berjabat tangan lalu berpelukan. Setelah jual-beli kata mengalir tahulah saya bahwa kedua orang asli Tepian Langsat itu yang memandu tim peneliti. Ini kesempatan bagus mengorek info. “Kalau dengan ketinting dari jembatan Bengalon perlu berapa lama?” “Tergantung cuaca pak, bisa satu hari,” papar salah satu yang lebih muda. “Terus naiknya ke goa?” “Jalan kaki, kalau saya bisa 2 hari! Lebih dekat dari Muara Wahau, tinggal disambung ketinting paling lama 3 jam.”
Sayang saya tak bisa berlama-lama. Ada pekerjaan rumah yang mesti segera diselesaikan. Terpaksalah satu rasa penasaran belum terkanalkan. Dalam presentasi Pak Pindi terselip gambar wayang. Tak urung pertanyaan lama pun disegarkan. Benarkah Karagoz (wayang Turki) dan Karagosis (wayang Yunani) itu pengaruh wayang yang dibawa ibn Batubah dari Pasai?
Di luar kecukupan ‘gizi’ yang saya nikmati ada 2 hal yang perlu dicatat. Pertama, obral back issues NGI edisi April-September yang dihargai 150 ribu ternyata ludes! Ini sangat mengejutkan untuk ukuran Sangatta yang sangat rendah minat baanya. Kedua, pengakuan jujur Pak Gun. Katanya perjalanannya ke goa Marang adalah satu-satunya penelitian arkeologi yang ‘dicarterkan’ helikopter!
Salam dari Sangatta
Santoso is
Email this author | All posts by Santoso



