Semalam di Malaysia
By Puguh • Feb 20th, 2006 • Category: Wisata
Photo oleh : Ambar Briastuti
Saat meluruskan kaki, lonceng gereja dikejauhan berdentang empat kali. Saya menuang tetes terakhir Heineken kedalam gelas. Titik air hujan mulai jatuh membasahi promenade dan membentuk lingkaran bersusulan dipermukaan air sungai. Tapi kok hujan begini justru ‘sumuk’ ya…
Ya jelas aja, karena saya berada di pinggir Sungai Melaka yang sangat dekat dengan equator.
Bantaran Muara Sungai Melaca
Berbeda dengan tahun 2002, saat itu river front Sungai Melaka masih berupa tumpukan Lumpur dengan ekskavator yang sedang bekerja. Sekarang pinggiran Sungai Melaka ini sudah siap ‘dijual’ kepada pengunjung, mencoba menyamai Clark Quay atau Kuching Waterfront dalam skala yang jauh lebih kecil. Rumah di seberang sungai yang membelakangi sungai sengaja dipasangi lampu sorot, sehingga saat malam terlihat cantik. Bisa dibilang, promenade di Melaca ini memanfaatkan bantaran sungai antara rumah yang membelakangi sungai dengan sungai itu sendiri.
Pagi tadi, agak impulsif, saya memutuskan untuk naik KTM Commuter dari Subang Jaya di pinggiran KL menuju stasiun KL Sentral untuk berganti LRT Putra menuju Stasium Pasar Seni. Kemudian berjalan kaki melintas China Town untuk menuju Terminal Bus ‘Pudu Raya’. Saya sempatkan mampir sebentar di pasar loak di China Town, tapi tampaknya barang2 yang ditawarkan kurang lebih sama dengan pasar loak Mester di jatinegara.
Menjelang Terminal Bus Pudu, kelihatan bus yang ngetem di luar terminal. Orang yang menunggui bis sibuk berteriak ‘JB! JB!’ (johor baru, maksudnya). Begitu saya mendekat, dia langsung tanya,”Mau kemana Bang?” hmmm sodara sebangsa dan setanah air neh!
Dengan RM9,4 atau sekitar Rp 25ribu rupiah, kita dapat naik bis dari KL ke Melaca. Bis Metro Ekspress menempuh 3 jam melalui Lebuh Raya (jalan tol) semenanjung Malaysia dengan mampir di Alur Gajah.
Sesampainya di Melaka Central, saya bertukar dengan Bus Domestik Rute #17 yang melalui Bandar Hilir agar bisa sampai di Stathuys. Informasi ini saya dapat dari seorang ibu, yang setelah saya berusaha keras berbicara dengan dialek melayu, ternyata beliau asli Tulungagung tapi sudah jadi WN Malaysia. “Mboten kangenan pecel, Bu?”.
Terminal Bus Melaka Central, baru beberapa tahun ini beroperasi, dengan 4 pintu; kedatangan domestic, kedatangan antarkota, keberangkatan antar kota, dan keberangkatan domestic. Sekilas seperti sebuah airport. Apalagi di terminal keberangkatan domestic dan antarkota terdapat hutan buatan yang meniru hutan buatan di tengah KLIA.
Stadhuys yang merupakan bangunan pusat pemerintahan colonial sekarang menjadi museum, dimana salah satu bagiannya didedikasikan untuk Admiral Cheng Ho. Saya senang memperhatikan bagaimana sebuah Malaysia membangun rasa nasionalismenya. Didalam museum terdapat patung repelika pasukan Portugis, Belanda, dan Jepang yang pernah bercokol di Melaka. Penjajahan dilihat sebagai fakta sejarah, tanpa harus mememelihara dendam. Di Museum ini pula kita harus berbagi Pahlawan, karena Hang Tuah dkk, juga dianggap sebagai tokoh perlawanan terhadap penjajah.
Bangunan tua di Melaka sama persis dengan apa yang kita punya di Tanjung Pura, satu jam dari Medan menuju Banda Aceh, ato di Kuala Simpang, kota kecamatan pertama yang kita temui selepas perbatasan Propinsi NAD. Hanya saja nasib keduanya berakhir berbeda.
Di Melaka, ruko-ruko tua ini sekarang menjadi atraksi turis selain Stadhuys dan Gereja buatan Portugis dan Belanda. Toko yang menjual souvenir dan makan-minum semakin banyak termasuk Masakan Nyonya. Apalagi karena hari ini seminggu menuju tahun baru kalender Cina. Kemeriahan terasa dimana-mana.
Tidak semua ruas jalan menjadi touristy. Beberapa ruas tetap berfungsi seperti aslinya dengan toko yang menjual bahan bangunan, atau barang modal lainnya. Jadi kalo suatu hari anda kesini dan mencari makanan murah, jangan berhenti di daerah touristy, tapi jalan terus ke daerah dimana warga menjalankan aktivitas sehari-harinya.
Karena bentuk bangunan yang sama dengan beberapa kota di pesisir Sumatera Utara, maka saya iseng untuk memesan minuman yang sering ditemui di daerah pecinan di Sumatera Utara. ‘One Liang teh please!’, dan minuman yang tiba dimeja benar adanya.
Di daerah kota lama ini saya menemukan dua ‘rumah tumpangan’ (guest house) di jalan Tukang Emas. Jalan ini cukup menarik, karena di jalan ini juga terdapat Kuil Tamil dan Mesjid Orang Kling.
Kalau berangkat pagi dari KL, rasanya hampir semua situs menarik di Melaka bisa di cakup dalam 1 hari. Sore harinya saya kembali naik ke bus dari Mutiara Shopping complex menuju ke Melaca Sentral untuk kemudian menuju Kuala Lumpur.
Lantai 1 dan 4 KLCC
Seorang teman merangkum alasan pembangunan fisik dan non fisik dalam 3 pertanyaan;
Why Malaysia built a LRT (sejenis subway train) ? Because Singapore has one
Why Malaysia built a Monorail? Because Singapore hasn’t had one.
How to make Malaysian queuing up? Tell them that Singaporean do so.
Walaupun sama-sama Negara Persemakmuran, persaingan antara Malaysia dan Singapore tidak dapat ditutup-tutupi. Tapi karena berupa persaingan yang sehat, maka membawa hal yang positif bagi keduabelah pihak.
Hari kedua diisi dengan kunjungan ke KLCC. Galeri Petronas di lantai 4 adalah yang pertama saya tuju karena biasanya disana diadakan pameran lukisan secara periodik. Katanya money cannot buy the taste. So, biar Negara miskin yang penting selera lukisan mesti bagus, terbukti dengan harga lelang lukisan Indonesia di Christie’s gallery….
Ternyata kali ini di Galeri Petronas diisi dengan pameran foto-foto dari Petronas Adventure Team yang tahun lalu mengadakan perjalanan darat menggunakan sekitar sepuluh unit SUV Land Cruiser dan Ford. Start di Menara Kembar Petronas dan berakhir di… Basecamp pendakian ke Everest. Lebih dari 60 hari dan 15,000 km, mereka melintasi Thailand, Laos, China, dan akhirnya Tibet. Di satu bagian pameran, dipajang foto hitam-putih wajah anggota ekspedisi dengan background rekaman suara percakapan antar mereka di radio komunikasi selama perjalanan. Pinter banget yang bikin set- up ruangnya. Dibagian ini membuat perasaan ‘kenal’ dengan para anggota ekspedisi. Juga diputarkan rekaman video selama di perjalanan.
Di buku komentar untuk tamu pameran, saya menulis singkat,”I envy you!” (entah iri sebagai individu atau sirik sebagai bangsa)
Walaupun tidak berhubungan langsung, ekpedisi KL-basecamp Everest ini dipercaya sebagai bagian dari kampanye “Malaysia Boleh!” yang salah satunya adalah proyek pendakian ke Mount Everest beberapa tahun yang lalu.
Pendakian ke Everest berakhir cukup menyedihkah. Saat itu Malaysia menyiapkan beberapa anggota pendakian yang terdiri dari perwakilan etnis di Malaysia. Dari sekian banyak pendaki, hanya dua yang berhasil mencapai puncak dan kebetulan keduanya berasal dari etnis India. Pendaki lain ada yang gagal mencapai puncak bahkan dikabarkan meninggal dunia dalam usaha pencapaian puncak everest. Dua orang penggapai puncak kemudian masuk menjadi anggota tentara dan salah satunya mengalami kecelakaan ketika berlatih yang berakhir dengan kelumpuhan. Tak lama kemudian, dia meninggal dunia. Dan ketika hendak dikebumikan, ia ditemukan dokumen yang menyatakan bahwa dia telah melakukan konversi kepercayaan, tanpa diketahui istri dan keluarganya. Hal ini akhirnya dibawa ke majelis syariah, yang memutuskan bahwa si pendaki telah sah menjadi seorang muslim, dan karena itu harus dikebumikan secara Islam. Keluarga tentu tidak sepenuhnya dapat menerima. Dan hal ini menyebabkan beberapa menteri non-Muslim di kabinet Badawi menulis petisi, menggugat keputusan Majelis Syariah. Runtutan kejadian yang tidak berkaitan langsung satu sama lain, tetapi cukup menggambarkan situasi Malaysia saat ini.
Untuk urusan semacam ini, pemerintah memang punya hak untuk campur tangan. Campurtangan pemerintah dalam hal yang tidak langsung berhubungan dengan penyelenggaraan negara dan langsung saya rasakan adalah ketika bus yang saya tumpangi menyetel Bohemian Raphsody-nya Queen, dan bagian kata “Bismillah”-nya dihapus. Buku-buku karya Salman Rushdie juga tidak bisa ditemukan di toko sekelas Kinokuniya.
Dewan Philharmonic Orchestra
Sore ini, juga masih di menara kembar Petronas, digelar konser musik klasik oleh Dewan Philharmoic Orchestra. Boleh juga nih nonton acara yang agak snobbish begini. Ruangannya kira-kira seukuran GKJ dengan konduktor seorang wanita keturunan cina, bergelar “Datuk”. Pemain orkestranya kebanyakan adalah orang kaukasian. Hmm…seru juga… Pastoral-nya Bethoven, Marriage of Figaro-nya Mozart. Selama tiga jam saya ditarik keluar dari Asia.
Malaysia saya perhatikan punya cara menarik dalam mengelola perbedaan etnis. Cara yang mungkin tidak bisa disebut demokratis. Di Malaysia, kalangan bumiputra diberi kemudahan untuk mendapatkan property dengan potongan harga khusus. Namun hal ini tidak menjadi memarginalkan etnis lain. Yang etnis cina merasa nyaman dengan ‘kecina-an’ mereka, demikian yang Tamil dengan identitas Indianya. Rasa tidak puas tentu ada pada derajat tertentu.
Terkadang saya jadi bertanya sendiri, apakah betul demokrasi yang dibutuhkan untuk mencapai kesejahteraan?
Karena tahun depan adalah tahun anjing menurut penanggalan cina, maka salah satu koran menggelar lomba menggambar untuk anak-anak dengan tema tahun anjing. Dan kalau diperhatikan dari nama anak-anak pengirim gambar ternyata pengirimnya berlatar belakang berbagai etnis di Malaysia.
Beberapakali saya menggunakan taksi, beberapa kali juga saya menemui Pengemudi Taksi yang menyediakan kartu nama dengan nomor telepon bimbit (mobile phone, tapi kita tidak bisa bilang seseorang bimbit, untuk menggambarkan orang yang mobile). Mungkin ini yang disebut semangat wiraswasta. Alih-alih mendapat uang banyak dengan sekali mengerjai pelanggan, mereka memilih untuk membina hubungan dengan pelanggan.
Saya memutuskan untuk berlangganan taksi dengan “Rashid” seorang peranakan Malaysia-Pakistan karena taksinya yang bersih diantara taksi-taksi lain dan gaya bicaranya yang ekspresif. Rashid bercerita bahwa dia sering di ‘book’ oleh bisnisman singapore, yang datang untuk meeting. Mulai dari jemput airport, antar meeting, dan antar balik ke airport.
Ia mengemudikan taksi miliknya sendiri, sementara adik-iparnya mengemudikan taksi miliknya yang kedua. Tiap minggu dia memasang nomer Toto Sport, dan ia selalu memasang empat angka nomer registrasi kedua mobil taksinya. “if you wanna go round-round, just ring me, if I busy-busy my brother or my friend will drive you! Good taxy driver! No drink, no ganja!”(sambil melepas kedua tangan dari kemudi dan membuat gerakan melinting)
Saya berpikir, kalo supir taksi di Jakarta banyak yang berpikiran seperti ini, mungkin perusahaan taksi banyak yang tutup, karena pengemudi taksi bisa memiliki sistim reservasi dan basis pelanggan sendiri-sendiri.







