One Day to Ciwidey dalam Event Jalan Bareng Komunitas

Custom Search

By admin • Mar 17th, 2006 • Category: Wisata

Pemandangan Kawah Putih cukup mengagumkan dan unik, dari kejauhan terlihat seperti danau dengan air yang berwarna putih, dengan dikelilingi jajaran bukit-bukit. Cuaca cukup terik saat itu, aroma belerang cukup menyengat, tapi lama kelamaan kami terbiasa juga dengan aroma belerang tersebut. Seluruh peserta seperti terbius dengan keindahan Kawah Putih

Photo : Aris kunlun_it at yahoo.com.sg


Akhirnya, hari yang ditunggu datang juga. Sabtu 11 Maret 2006, kami anggota milis Indobackpacker mengadakan One Day Trip to Ciwidey. Sesuai jadwal yang telah disusun oleh Sonson dan Aris, semua peserta harus sudah hadir di Parkir Timur Senayan jam 5.00 wib atau paling telat jam 6.00 wib, kami bertiga (Irma, Deny dan Ine) dengan mata yang masih mengantuk berangkat menuju Parkir Timur Senayan. Kami tiba disana pukul 5.30 wib, waaahhh… ternyata udah banyak juga yang dateng dan terlihat juga 2 buah bus pariwisata “ Die 9 Bethoven Symphony”. Bagus juga bus nya.

Cuaca masih lumayan gelap saat itu, terlihat beberapa orang membentuk kumpulan sendiri-sendiri (nge gank gitu deh). Tapi dilihat secara sepintas para peserta trip ini lumayan beragam, ada yang muda, ada yang setengah tua, bahkan ada yang udah lumayan tua (salut buat ibu-ibu yang ikutan juga).

Sesuai instruksi dari Aris, bagi peserta yang sudah tiba, wajib segera melapor kepada ketua regu di masing-masing bus. Kebetulan kami dapat tempat di bus 1, jadi aku segera melakukan instruksi tersebut dengan menghubungi Aris, eehhh…ternyata Aris malah belom dateng. Ya sudah yang penting aku sudah memenuhi kewajibanku. Tidak berapa lama Aris “sang ketua regu”
dateng, dengan tersenyum dia menyalami dan mengenalkan diri kepada kami sambil berkata “maaf terlambat, udah banyak juga yang telepon saya tadi”.

Sambil menungu peserta yang lain dateng, kami melihat ada beberapa orang yang membeli sarapan pada penjaja makanan (mbok2 gitu deh), ada yang cuma ngopi atau bahkan sarapan pagi. Kami malah memanfaatkan waktu menunggu dengan berfoto ria. Ternyata ketua regu di bus 1 bukannya Aris tapi malah Sonson (salah deh gue tadi, gpp yang penting pede).

Setelah peserta sudah lumayan banyak, Sonson dan Aris memberikan komando (kayak tentara aja komando
he..he..) agar tiap-tiap peserta segera masuk ke dalam bus masing-masing. Lumayan lama juga kami menunggu peserta lainny yang belum juga menunjukkan batang hidungnya. Terlihat Sonson sibuk mendata peserta di bus 1, karena memang ada beberapa orang yang belum hadir, dan setelah mendapatkan konfirmasi bahwa peserta tersebut akan menunggu di pintu tol Jatibening, bus kami berangkat meninggalkan Parkir Timur Senayan pukul 6.07 wib, yah..sedikit ngaret dari jadwal sebelumnya. Bus melaju dengan lancar menuju pintu tol, jalanan juga cukup lengang sehingga dengan cepat kami segera tiba di pintu tol Jatibening untuk menjemput peserta lainnya, yaitu 3 orang wanita muda (he..he… Melly, Nun Q, dan Yosi). Tapi tunggu dulu masih ada sepasang suami istri yang masih harus dijemput di Starbuck (maap ngga tau namanya) Setelah menjemput sepasang suami istri itu, sejurus kemudian bus melaju menuju Bandung, tapi bus kami harus beberapa kali berhenti di pom bensin (bukan untuk mengisi bensin) tetapi karena peserta di bus 1 kebanyakan perempuan (tau kan ngapain kami berenti…?)

Singkat cerita, kami tiba di Bandung pukul 8.30 wib, cuaca di Bandung cukup cerah saat itu, ini berarti kemungkinan akan turun hujan sangat kecil. Selanjutnya kami menuju Kawah Putih melalui Soreang. Di sepanjang perjalanan ke Kawah Putih, kami dapat melihat cukup banyak delman/andong/dokar yang digunakan masyarakat sekitar sebagai sarana transportasi. Tidak jauh meleset dari jadwal sebelumnya, kami tiba di Kawah Putih sekitar pukul 10.00 wib. Sebelum kami memasuki Kawah Putih, Sonson memberikan penjelasan singkat mengenai Kawah Putih dan tarif tiket masuk yang harus dibayar, yaitu sebesar Rp. 4.000/orang. Dwi “Ary Lasso” dipercaya oleh Sonson sebagai Debt Collector.

Untuk sampai ke Kawah Putih, kami harus menggunakan angkot kecil karena jalan menuju Kawah Putih tidak terlalu lebar, tarif angkot tersebut sebesar Rp.
6.000/orang P.P. Dengan bersemangat seluruh peserta turun dari bus untuk berebutan naik angkot, tapi karena aku terlalu sibuk dengan perbekalan, aku ngga kebagian angkot, yaa…terpaksa nunggu dulu deh. Memang setiap kejadian kalo diambil positif nya pasti indah aja ya… karena punya waktu nunggu angkot aku jadi bisa nyobain batagor emang2. Harga/porsi Rp. 3.000. Sempet sibuk juga tuh emang2 karena diserbu anak2 yang kelaperan dari Jakarta he..he… lumayan enak juga batagornya mang…atau mungkin karena laper aja sehingga apapun jadi enak.

Setelah menyantap batagor, dan berbincang-bincang sejenak dengan Aris dan Sonson, angkot yang ditunggu tunggu datang juga. Kapasitas angkot dengan kondisi tempat duduk yang ada sekitar 10 orang (ini juga tergantung dari besar kecil bumper orang2 nya he..he… main fisik neh), atau bisa juga gelantungan atau naik di atas atap angkot. Supir angkotnya ngebut juga bawa angkotnya (kejar setoran mang..). Waktu yang ditempuh untuk sampai ke Kawah Putih kira2 10 menit.

Pemandangan Kawah Putih cukup mengagumkan dan unik, dari kejauhan terlihat seperti danau dengan air yang berwarna putih, dengan dikelilingi jajaran bukit-bukit. Cuaca cukup terik saat itu, aroma belerang cukup menyengat, tapi lama kelamaan kami terbiasa juga dengan aroma belerang tersebut. Seluruh peserta seperti terbius dengan keindahan Kawah Putih, hal ini terlihat dari antusias peserta yang dengan berlari lari kecil mencari tempat strategis untuk mengabadikan keindahan Kawah Putih. Tapi acara hunting photo sedikit terganggu dengan datangnya sang hujan di siang hari. Semua peserta berlarian mencari tempat berteduh dan berusaha kembali ke bus nya masing-masing.

Ooo iya yang menarik di Kawah Putih itu adalah ada seorang pengamen siter yang iramanya sangat menenangkan dan menentramkan siapa saja yang mendengarnya. Dia duduk di ujung jalan tepat dekat tangga, dengan berpakaian khas orang Sunda, sangat unik.

Setelah menghabiskan waktu di Kawah Putih sekitar 2 jam, kami melanjutkan perjalanan ke Situ Patenggang.
Tepat pukul 12.16 wib kami meninggalkan Kawah Putih dan tiba di Situ Patenggang pukul 12.29 wib. Tiket masuk ke Situ Patenggang juga sama dengan tiket masuk ke Kawah Putih yaitu cuma 4 ribu rupiah saja (dialek Bali bow…). Lagi2 si Ary Lasso beraksi…. buat ngumpulin uang tiket masuk Situ Patenggang. Acara di Situ Patenggang adalah acara bebas. Bagi yang merasa lapar, dipersilakan mencari makanan sendiri yang tersedia di warung2, bagi yang mau sholat dipersilakan untuk sholat, bagi yang mau naik perahu, dipersilakan naik perahu.

Berdasarkan info dari Sonson, tiket perahu itu sekitar Rp. 7.000 sampai Rp. 10.000 per orang. Kalau tiket perahu Rp. 7.000 berarti perahu tidak akan melipir lewat pinggiran Situ, tapi kalau harganya Rp. 10.000 berarti perahu akan melewati pinggiran Situ. Tapi harga Rp. 7.000 atau Rp. 10.000 tetap akan menyinggahi Batu Cinta. Dimana di Batu Cinta tersebut dapat dilihat cerita asal muasal terbentuknya Situ Patenggang. Mungkin cerita ini adalah mitos belaka, karena proses terbentuknya sebuah situ atau danau sebenarnya berasal dari kawah – kawah akibat letusan gunung berapi, begitulah cerita dari Kang Aris.

Harga makanan pun beragam, mulai dari Rp. 5.000 sampai Rp. 10.000. Menunya pun beragam mulai dari Indomie, Ayam Bakar, Nasi Gulai dll. Setelah puas mengunjungi Situ Patenggang, kami bersiap-siap menuju Ranca Upas yaitu tempat penangkaran rusa. Tepat pada pukul 15.16 wib kami meninggalkan Situ Patenggang menuju Ranca Upas. Tiket masuk ke Ranca Upas juga sama dengan yang lainnya yaitu Rp. 4.000/orang. Mengingat letak dari Situ Patenggang berdekatan, maka tidak banyak waktu yang dibutuhkan untuk tiba di Ranca Upas. Tepat pukul
15.34 wib kami tiba di Ranca Upas.

Rusanya mana ya…? Yaah…dikit banget…masih lebih banyak di Istana Bogor, mungkin rusanya lagi pada istirahat kali. Makanya tidak banyak obyek foto yang bisa diabadikan disana. Kami lebih memilih foto rame2.
Disitulah aku baru tahu ternyata mudah sekali mengumpulkan para peserta, tinggal teriak aja “ foto foto….” Langsung deh pada ngumpul. Dan semua peserta adalah penganut aliran narsisme (he..he… pada mau di depan semua kalo difoto).

Hanya kira-kira ½ jam kami berada di Ranca Upas, untuk selanjutnya kami melanjutkan perjalanan untuk acara petik strawberry. Waahh…peserta di bus 2 pada hilang…Kang Aris kebingungan tuh… Tiba di tempat pemetikan strawberry, kami sudah bersiap-siap memanen strawberry. Sebelum acara memetik strawberry dimulai, Sonson melakukan negosiasi dengan pemilik kebun tentang harga/kg strawberry. Akhirnya setelah tarik ulur harga, disepakati harga/kg strawberry Rp. 30.000.

Setelah mendapatkan keranjang dan stryrofoam, kami dengan bersemangat memanen strawberry sambil sesekali berfoto ria, tetap dengan aliran narsisme. Karena di Jakarta ngga ada kebun strawberry, makanya kita semua jadi kalap. Tetapi karena supply dan demand nya tidak seimbang, makanya kami hanya mendapatkan sedikit strawberry, karena harus berkompetisi dengan peserta lainnya. Beruntunglah masih ada yang jual strawberry di luar areal kebun, jadi kami bisa membawa pulang strawberry lebih banyak. Acara petik memetik strawberry selesai juga, dan kami langsung menuju Ciwok pada pukul 17.21 wib.

Bandung lumayan macet malam itu, maklumlah karena malam itu adalah malam minggu. Dengan perut kelaparan, akhirnya kami tiba di Ciwok, jam berapa ya… (lupa tuh). Tanpa basa basi lagi aku mulai hunting tempat makan karena perut ini sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Rumah makan Ampera menjadi pilihan terakhir kami, bersama Sonson, Santos dan Eva, Deny Dotten, Dwi “Ary Lasso” dan Alif kami melahap makanan dalam waktu singkat. Dan akhirnya…bye bye..Bandung, we have to go back to Jakarta pada pukul 20.30. Tiba di Parkir Timur Senayan sekitar jam 23.00 wib (lupa ngga nyatet jam nya).

Pokoknya seru dan asyik deh ke Ciwidey, jadi pengen ikutan next trip nya Indobackpacker lagi nih… Pulau Pramuka… I’m coming….


Salam,

Irma

Photo :http://gallery.indobackpacker.com/index.php?TopicID=ciwidey

catatan Admin:
A. Jakarta - Bandung by bus
1. Ekonomi Rp. 25.000 (seat 2-3)
2. Ekonomi AC Rp. 35.000 (seat 2-3)
3. AC biasa RP. 40.000 (seat 2-2/non toliet) 4. AC eksekutif Rp. 45.000 (seat 2-2/TV/toliet)

Keberangkatan bisa dari Kampung Rambutan (no.1,2,3,4) Keberangkatan bisa dari Lebak Bulus (no. 4)Harga diatas bulan Januari 2006 (semoga belum berubah)
B. Bandung (terminal Leuwi panjang) - Soreang Angkot Rp. 3000,-
C. Soreang - Situ Kawah Putih
Angkot Rp. 3000,-
Biaya masuk ke kawah putih Rp. 4000

D. Pintu masuk Kawah Putih - Kawah Putih Angkutan setempat Rp. 6000 PP
E. Kawah Putih - Situ Patengan
Angkot Rp. 2000,-
Biaya masuk ke Situ Patengan Rp. 4000

F. Situ Patengan - Ranca Upas Angkot Rp. 2000,-

Tips dan segala kemungkinan…

Kalau one day trip ciwidey PP ngga akan ke uber semua tempat, karena Angkot disana (Soreang-Situ) jarang sekali angkutannya, sekalinya ada suka ngetem menunggu penuh penumpang, berlaku juga dari kawah putih sampai puncak, kalau ngga ada penumpang yah ngga jalan menunggu sampai penuh… uihhh buang2 waktu…nanti lama di jalan…

Kemungkiannya paling enak emang pergi rame2… biaya selain lebih murah , nyaman dan semua tempat dapat dikunjungi….

Semoga membantu…. kalo kurang jelas silahkan tanya
lagi

sonson artson at yahoo.com

admin is
Email this author | All posts by admin

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.