Perjalanan ke Desa Wisata Sawarna – Banten
By Aris • Mar 8th, 2006 • Category: Ekowisata / EcoTourism, Wisata
Ketika Lampu Patromak mulai di pompa, dan Obor mulai di nyalakan,
selamat datang di kegelapan yang sangat gelap. Ternyata Gua yang sudah
berumur mungkin ratusan tahun ini memiliki stalaktit yang indah, di
dalam gua terdapat banyak sarang kelelawar. Lalay = kelelawar, saya
baru tau nama Gua di berikan karena banyaknya kelelawar di Gua Ini.
Mimpi untuk ‘Bikepacking to Sawarna’ dan Cibedug tahun lalu, masih juga belum hilang dari Ingatan saya. Walaupun belum juga terealisasi. Setidak nya perjalanan ini, membuat saya sedikit lega dengan nama indah bernama “Desa wisata Sawarna”.
Saya sudah lama tau, kalau ada Bus ukuran sedang berlabel “Rudi” jurusan Cimone – Bayah, wah asik nih, ada bus langsung ke Bayah.
Pagi-pagi sekali, sabtu 04 maret 2006 05:30 pagi, saya dan Erwin, tanpa mikir2x peralatan backpacking, kami memulai perjalanan dari Desa Marga sari Tiga Raksa-Tangerang menuju Pintu Toll Balaraja. Dari sini, Bus yang kami tunggu akan lewat, Butuh 1 jam menunggu disini dan akhirnya Bus Jurusan Cimone – Bayah nongol juga dan… Berangkatlah kami, menuju Bayah. Tariff nya Rp. 35.000.
Dalam perjalanan, bus ini lewat jalur Rangkas bitung- Malimping – Bayah.
Butuh waktu hampir 5 jam perjalanan, dari Balaraja Tangerang, menjelang tengah hari, saya dan Erwin sampai juga di Bayah. Sebuah Kota kecamatan di Ujung Selatan Propinsi Banten.
Dan hmm… Kami mulai di kerubutin tukang Ojeg, saya bilang, jangan di tanggapi. Diamkan saja dulu.
Karena kami butuh istirahat dan makan siang di sebuah warung, di pinggiran terminal Bayah. Siang ini, saya nggak tau, kenapa makan lauk sayur bambu, kok rasanya begitu enak..
Ditungguin Tukang Ojeg sambil makan, asik juga lah, apalagi si Tukang ojeg, sesekali ngajak ngobrol, dan begitu bilang mau ke Sawarna, si tukang Ojeg main tembak harga 25 ribu??? Kami diam saja, terus kami tawar 10.000, karena saya tau dari Ibu warung, Ojek dari Bayah – Sawarna Rp. 10.000,-
Deal! Dan ternyata, perjalanan ke Sawarna, lumayan jauh banget, wajar lah.. Kalau kami berikan lebih kepada tukang Ojek, butuh waktu sekitar 40 menit tanpa macet, untuk sampai di Kp. Gempol Desa Wisata Sawarna.
Di desa Sawarna, saya memilih menginap di rumah Pak K. Hudaya. Pengrajin Gitar yang lumayan terkenal di kalangan masyarakat di sana, juga pernah menjadi sesepuh desa ini.
Jelajah Gua Lalay
Hari masih siang, setelah ngobrol-ngobrol bentar dengan Pak Hudaya, lalu kami minta di cariin pemandu lokal, untuk jelajah Gua terdekat dengan desa, panas mulai terik, kami di perkenalkan dengan Pak Mustafa, masih pakai seragam Pramuka! dia siang ini baru saja pulang dari pekerjaannya sebagai Guru Honorer di SMP Sawarna.
Tanpa pikir panjang, this is traditional caving, bagaimana tidak, tidak ada peralatan standar d caving, tapi karena Gua Lalay layak untuk di kunjungi semua orang, kenapa tidak kami coba?
Butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan dari kampung Gempol menuju Pintu Gua, melewat jembatan ayun. Dan perjalanan ini kami juga di temani anak-anak desa yang baru saja pulang dari sekolah dan ternyata adalah anak murid nya Pak Mustafa.
Ketika Lampu Patromak mulai di pompa, dan Obor mulai di nyalakan, selamat datang di kegelapan yang sangat Gelap. Ternyata Gua yang sudah berumur mungkin ratusan tahun ini memiliki stalaktit yang indah, di dalam gua terdapat banyak sarang kelelawar. Lalay = kelelawar, saya baru tau nama Gua di berikan karena banyaknya kelelawar di Gua Ini.
Punya kedalaman hampir 800 M, dan memiliki sungai, Gua ini berpasir dan berlumpur, belum ada yang pernah menembus gua ini, karena berakhir dengan Lubang air. Dibutuhkan waktu sekitar 1-2 jam, untuk menjelajah lorong gua.
Didalam gua,sulit rasanya menbedakan kapan siang dan malam, begitu perjalanan pulang untuk mencapai pintu keluar Gua, ternyata hari masih siang dan perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Ciantir.
Pantai Ciantir.
Hari masih belum terlalu Sore, habis caving di Gua Lalay, dan mandi di sungai di tepian desa yang damai, kami lanjutkan perjalanan menuju Pantai Ciantir, pengen Motret Sunset ! Belum juga nyampe pantai, saya melihat anak-anak membawa kelapa, dan Minta di panjatkan Kelapa.. Lumayan! Ada 3 kelapa muda Gratis sore ini,
Pantainya lumayan bagus, dan kira-kira sepanjang 2-3 km, diperlukan alat ukur untuk menentukan Panjang pantai ini, Ombaknya yang lumayan bagus untuk surfing lebih di kenal dengan nama sawarna surf , membuat banyak orang asing pehoby surfing yang sering di sebut surfer sering datang kesini. Umumnya mereka datang antara bulan April-September, disaat cuaca dan Ombak lumayan baik untuk aktifitas Surfing.
Karena mendung, sunset sore ini tdak terlalu bagus, walaupun saya senang dengan pancaran sang Mata Dewa yang terlihat Bulat dan merah sore in.
Lalu kami kembali ke rumah Pak Hudaya untuk bermalam, walaupun awalnya kami memilih tidur di tepian pantai, saya pikir, kenapa tidak bermalam di desa saja.
Desa sawarna, penduduknya +/- 5000 KK, berada di paling Ujung Propinsi banten, masuk wilayah kecamatan Bayah Kabupaten Lebak. Di samping memiliki alam yang indah, juga terdapat beberapa kerajinan masyarakat dan penghasil batu bara hasil dari tambang batubara yang di kelola secara tradisional.
Malam Ini, ada kawan lain yang juga bermalam di Rumah Pak Hudaya. Obrolan malam, ternyata teman2x dari PA PHRI, biasalah… Obrolan malam bercerita tentang misteri hotel bintang lima. Saya mah, nggak suka bermalam di hotel bintang lima, sukanya nginep di Hotel bintang enam atau minimal bisa menatap banyak bintang.
Cape ngobrol dan ketawa2x, tentu..tidur pulas..dong! ,Hujan deras mulai turun malam ini.
Tanjung Layar dan Gua Lauk
Pagi sekali, saya sudah terbangun, penduduk desa sudah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Perjalanan pagi ini, saya lanjutkan menuju Tanjung Layar, banyak orang menyebutnya dengan Batu yang berbentuk berlian. Kawasan ini tercipta mungkin di sebabkan aktifitas Vulcano, sehingga terdapat hamparan batu yang lumayan luas untuk di jajaki.
Kalau main-main di sini, bisa lupa jam dan lupa untuk pulang, karena keindahan nya. Tapi
Saya janji dengan pak Mustafa, untuk mengantarkan kami ke Gua lauk, katanya butuh waktu sekitar 2-3 jam jalan kaki dari rumah Pak Hudaya.
Jam mulai lewat 8 pagi, Pak Mustafa ternyata sudah siap menunggu kami, untuk perjalanan ke Gua Lauk, melewati jalan aspal dan lintas masuk kampung, memberikan kesan tersendiri, walaupun mulai bikin saya bete, ketika harus back to aspal lagi, mana banyak juga sepeda motor yang lewat.
Hampir satu jam, sudah lewat tujuan ternyata masih jauh, lalu ketika mulai masuk kampung lagi dan mulai melihat sawah dan sungai kami makin cepat melangkah. Dan ternyata benar, di butuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan untuk sampai ke Mulut Gua Lauk.
Seekor Biawak lari masuk kedalam Gua, ketika melihat kedatangan kami. Tanpa pikir panjang, kami siapkan Obor yang kami buat dari bambu dan siap untuk explorasi Gua Lauk.
Gua ini di berinama Gua Lauk, karena dulu banyak sekali di jumpai Ikan didalam gua ini, terdapat beberapa sarang burung walet, juga stalaktit dan stalakmit nya yang masih Bagus, dan Gua ini menurut saya lumayan sangat lebar. Dan sudah tentu pasti sangat gelap.
Kami melewati sungai didalam Gua yang hampir sepinggang, dibawahnya penuh lumpur yang menjebloskan kaki hampir sampai dengkul, membuat harus extra keras untuk menjelajah Gua Ini. Dan tanpa alas kaki agar mudah bergerak. Menelusuri sungai di dalam Gua punya keasikan tersendiri, walaupun untuk pemotretan, seperti nya di butuhkan teknik khusus.
Hampir 2 jam kami di dalam Gua, dan setelah puas, kami putuskan untuk Kembali ke desa. Butuh 2 jam lagi nih jalan kaki, tapi kami mampir dulu di sebuah kebun milik kawan Pak Mustafa untuk Minum Kelapa Muda.
Sore mulai tiba, kami pikir masih ada Angkutan umum ke kota serang. Karena penduduk bilang jam 4 sore masih ada. Setelah pamitan dan say thanks for all, kami naik ojek ke Bayah!
Alamak!, tidak ada angkutan umum lagi ke Serang atau Rangkas Bitung. Yang ada hanya ke Sukabumi, dan inipun kebetulan Mobilnya muter2x sampe ke Bayah! Saya dan Erwin putuskan naik elf ini, bayarnya Rp. 25.000,- utk sampai Sukabumi lewat Cisolok-Pelabuhan Ratu – Sukabumi. Hampir menjelang jam 8 malam, kami baru sampai di terminal Sukabumi.
Karena beda jurusan, saya pisahan sama Erwin di Sukabumi, Erwin naik Jurusan Depok, saya harus ke Ciawi untuk Lanjut naik Bus Bandung -merak, yang lewat rumah saya di pinggiran Tangerang!
Travel tips:
Rute termudah ke Desa Sawarna sebaiknya lewat
- Cimone-Bayah hanya 1 Bus berangkat jam 6 pagi, tariff nya Rp. 35.000 – Rp. 40.000
- Jkt – Serang, Serang Naik Elf ke Bayah/ Malimping
- Jkt – Rangkas Bitung, Rangkas Bitung naik Elf ke Bayah.
Lalu sambung ojek Bayah-Sawarna Rp. 10.000 – Rp. 15.000,-
- Jakarta Sukabumi- pelabuhan Ratu, dari pelabuhan Ratu Naik Elf Jurusan Bayah Rp. 18.000,-
Naik Ojek Ciawi – Sawarna. Hanya ada 1 elf yang langsung ke Sawarna, tapi harus sudah tiba di Pelabuhan Ratu sebelum Jam 12 -siang, Tariff nya Rp. 18.000,-
Akomodasi:
Semua rumah penduduk di Desa Sawarna bisa dipakai untuk numpang bermalam plus minta di sediakan makanan. Kontak Pak Mustafa, atau pak Hudaya di Kp. Gempol, Desa Sawarna.
For Foreign Rp. 80.000 incl Meal 3x /person.
Aktifitas:
Sawarna Surfing – canoing – caving -photo hunting – culture community.
Photo lainya : http://gallery.indobackpacker.com/index.php?TopicID=sawarna
Additional Info, please contact admin website or contributed this article




mas… boleh tau dong, ada kontak person orang yg d sawarna nggk yg bisa dhub…
ada rencana mau ke sana pertengahan mei…
atau saya bisa hub mas dimana.. klo boleh tanya2…
bisa kirim ke email saya : rupie_chemeng@yahoo.com
Salam,
Rupie