Pulau Pramuka Taman Nasional Laut Kep Seribu

Jam 8 tepat, tinggal 2 orang yang belum datang. Lalu mas Aris memutuskan berangkat saja. Rupanya, salah satu orang didaftar yg belum datang tsb bernama Tari. (lha Mas, tadi kita kan udah ngobrol2……..Yah, maklum deh, 40 orang asing tak dikenal salaman barengan pagi itu……..)

Photo oleh : Aris  kunlun_it at yahoo.com.sg

Tgl 1 April 2006, pagi jam 6 tepat di angkot, hand phone berdering. Sari sudah menunggu di depan pom bensin. Aku telat 5 menit nih!
pramuka/nanem-mangrove.JPG
Muara angke, pangkalan ojek kapal 7.30 pagi. Ya ampun, becek banget! Beceknya pangkalan ikan yang baunya alaihim dan beceknya warna hitam. Jadi kebayang kan…….
’Scanning’ keadaan. Nah….disana ada segerombolan anak muda bergaya kota, tapi bertampang jutek setengah mengantuk. Tas2 dan ransel2 disamping mereka. Melihat kondisi pelabuhan yang seperti ini, anak-anak muda itu seperti agak salah kostum…….Aah, pastilah ini komunitas Indobackpacker………! Dugaanku tepat. Aku menyalami seseorang yang mirip pak guru berkacamata. Ooh…..rupanya ini tho Mas Aris, dedengkot gerombolan ini…….

Jam 8 tepat, tinggal 2 orang yang belum datang. Lalu mas Aris memutuskan berangkat saja. Rupanya, salah satu orang didaftar yg belum datang tsb bernama Tari. (lha Mas, tadi kita kan udah ngobrol2……..Yah, maklum deh, 40 orang asing tak dikenal salaman barengan pagi itu……..)

Kapal Mitra yang kita tumpangi seperti kapal pengungsi vietnam, ada atapnya, semua orang masuk kedalam lambung kapal dan duduk menggelosor di lantai kapal (soalnya nggak ada tempat duduknya). Dinding lambung kiri dan kanan terbuka lebar untuk jendela tanpa kaca, “jendela” ini kemudian harus ditutup terpal plastik saat di tengah laut untuk menghadang air yang masuk. Penumpang membayar Rp25rb sekali jalan langsung didalam kapal, jadi nggak ada sistem tiket. Ojek kapal ini berangkat jam 7 pagi dan 2 siang. Karena kapal ini dicarter Indobackpacker, jadi kita nggak bayar lagi dan bisa berangkat jam 8. *Wah, ini dia yang dicari……selama jalan2, saya nggak pernah bisa dapat info akses ke transportasi rakyat seperti ini. Biasanya di brosur2 pariwisata pemerintah maupun swasta, pasti info buat traveller adalah kapal besar yang boat atau jet. Asyik nih…….*

Perjalanan menuju P.Pramuka memakan waktu 2,5 jam. Awalnya cuaca cerah dan ombak tenang. Tidak lama kemudian, hujan turun dan angin kencang. Ombak mulai besar dan masuk ke kapal bersama air hujan. Rasanya seperti naik kora-kora, tapi yang ini goyangannya tidak ada polanya, karena selain naik turun, kapal juga oleng kanan kiri dan terbanting beberapa kali. ABK yang duduk diatas atap mulai masuk semua ke dalam kapal dan pintu ditutup.

Laut berkabut, di horizon tidak kelihatan apa-apa. Mereka mulai ambil kompas dari rak dibawah lantai kapal. Wah, it’s show time…..! Laut lagi bener-bener nih, jarang2 nakhoda pake kompas di Kepulauan Seribu……. Mabuk laut, temen2 mulai ijo mukanya. Secara naluriah saya langsung berdiri di samping nakhoda karena isi perut mulai pingin keluar. Rupanya dengan berdiri menghadapi ombak laut seperti ini membuat kita tidak pusing atau pingin muntah. Teman2 yang tadi bergegas menuju pintu disamping nakhoda buat muntah diluar, juga mulai berdiri bersama2 saya disamping nakhoda. Saya pernah baca, mabuk laut itu disebabkan karena cairan gendang telinga yang permukaannya selalu horizontal itu (walaupun posisi kepala kita sedang miring) tidak bisa mengantisipasi kondisi ini, sehingga permukaan cairan tsb nggak selalu horizontal. Permukaan cairan telinga yang nggak rata ini di ‘record’ oleh syaraf ke otak, sehingga bikin kepala pusing. Dengan melihat ke kejauhan, di jalanan atau di laut, mata mengantisipasi pergerakan yang akan datang dan informasi ini dikirim ke syaraf telinga, sehingga cairan telinga siap untuk pergerakan berikutnya untuk menjaga permukaannya tetap horizontal, sehingga kita nggak pusing…….

Mabuk laut bisa diakali, tapi pingin pipis….? Yang ini kacau banget, nggak ada WC…….Setiap goncangan ombak bikin makin pingin pipis….Walhasil sekitar 2 jam lebih saya terpaksa berdiri di samping nakhoda supaya nggak mabok laut sambil menahan pipis yang makin–makin…….
Sampai di P. Pramuka, dan setelah mampir numpang pipis di suatu warung Padang, saya tiba di wisma Taman Nasional Kepulauan Seribu. Tempat peserta menginap adalah suatu ruang kosong besar menghadap pantai. Ruang ini berdinding plywood, ber AC, dengan jajaran puluhan kasur tergeletak dilantai. Ada 1 kamar mandi berkakus di ruang dapur, dan 4 kamar mandi berjajar di luar. Dua diantaranya berkakus. Semuanya air bersihnya melimpah. Penginapan yang nyaman untuk backpacker-an..….Harga 1 ruang ini sekitar Rp250 per malam, bisa ditempati 20 orang lebih.

Suasana di P. Pramuka relatif sepi, tidak ada pemuda2 pengangguran yang nongkrong2. Secara umum, bangunan2 rumah disana sudah permanen, tampaknya kesejahteraan disini cukup baik. Menurut seorang penduduk, P. Pramuka baru ramai sekitar 2 tahun ini sejak Kepulauan Seribu menjadi kabupaten. Pada tahun 1975 baru ada sekitar 5 rumah. Penduduk P.Pramuka mayoritas adalah keturunan Bugis dan Banten. Sekarang, orang-orang di pulau sekitar mulai pindah ke P. Pramuka.. Setelah Kepulauan Seribu menjadi kabupaten, di P. Pramuka dibangun RSUD yang cukup besar. Selain sekolah-sekolah, disini bahkan ada UT (universitas terbuka). Ada boat puskesmas yang bagus yang berkeliling ke pulau2, dan ada juga kapal cepat (saya lupa, boat atau jet) yang keren banget, yang mengantar jemput orang sakit di pulau-pulau. Tidak ada sampah bertebaran di P. Pramuka. Hampir tidak ada kejahatan. Kondisi ini mengingatkan saya pada daerah2 di Malaysia, syukurlah ada juga tempat seperti ini di tanah air sendiri…….. Menurut petugas TNKS, secara umum kesejahteraan orang pulau (sebutan buat penduduk kepulauan seribu) memang lebih baik dari nelayan2 di Jakarta, karena ikan lebih melimpah sehingga hasil tangkapannya cukup buat dijual yang mencukupi konsumsi keluarganya.

Saya perhatikan, banyak sekali kucing berkeliaran disini……semua belang-belang, semua warnanya kuning atau abu-abu. Kucingnya jinak-jinak dan kenyang. Saat makan bersama, kucing-kucing berdatangan tapi mereka hanya melihat, tidak minta daging/ikan. Di kamar mandi, ada kucing lewat yang terus memandang bak air. Saya sodorkan segayung air, dan dia minum dengan nikmat. Rupanya kucing-kucing disini lebih memilih air putih daripada ikan!
Setelah makan siang yang diantar dengan gerobak dorong persembahan “Irfan Catring” yang tulisannya di gerobak bener2 tanpa huruf “e”, kita siap2 snorkeling. Ada dua tempat penyewaan peralatan snorkeling. Satu di dalam wisma TNKS, dan lainnya di luarnya. Harga masker dan pelampung Rp 25rb, sedangkan masker dan fin Rp 350rb. Masker + Fin + pelampung = Rp 50rb. (Pertanyaan : berapakah harga tiap alat?)

Saya dan beberapa peserta ketinggalan rombongan, karena penyewaan alat di TNKS sibuk melayani tamu dari PT. Surveyor Indonesia yang sudah antri lebih dulu. Akhirnya kita mesti naik ojeg kapal ke tengah laut tempat latihan snorkeling bersama yang udah duluan. Harga ojeg kapal Rp 2000 perorang (ada info, ada yang bilang hanya Rp 1000,- lho…..apa emang harganya udah naik, apa karena kita orang asing lalu dimahalin, ya?)

Anjungan di tengah laut dengan baliho “Taman Laut Kepulauan Seribu” itu adalah tempat latihan snorkeling, sekaligus pusat penelitan terumbu karang. Pemula diajarkan snorkeling di tempat dangkal, dan diajak ke tempat agak dalam dimana kita bisa melihat terumbu karang yang diatur diatas kawat dan masing2 diberi papan nama, seperti papan nama pohon-pohon di Kebon Raya Bogor. Petugas TNKS dengan sangat sabar dan ramah mengajari peserta snorkeling hingga bisa. Snorkeling itu susah-susah gampang ya, yang paling susah adalah menenangkan diri supaya nggak panik dan bernafas tenang lewat hidung. Rambut nggak boleh masuk mask, karena air akan menyusup masuk. Dan kalo air laut sampe masuk dan terhirup hidung, rasanya saluran pernafasan seperti terbakar. Mesti yakin masker udah enak baru jalan, jangan coba2 lepas masker di tengah laut karena biasanya susah buat masang yang bener, terutama buat cewek yang rambutnya panjangnya sedang, susah buat diikat tapi rambutnya kemana-mana . Disini Ivan kakinya bersentuhan lembut dengan Bulu Babi, tapi efeknya sama sekali nggak lembut karena kakinya mesti di pukul2 buat menghancurkan duri yang ketinggalan di dalam. Hal ini bikin yang lain jadi takut ber-snorkeling. Tapi rasa penasaran dan nggak mau rugi pinjem alat lebih besar dari rasa takut, jadi ya nyebur lagi deh……
left
Setelah snorkeling, semua lalu balik ke P. Pramuka untuk penanaman pohon bakau, kecuali saya berlima yang tadi ketinggalan kapal. Harga per bibit Rp3000,- dan masing2 anggota rata2 menanam 2 bibit pohon. Pulang snorkeling, saya dan Bonar menyempatkan diri menanam pohon. Pohon bakau ini rupanya bertahun2 baru bisa besar yang akarnya mampu menahan abrasi gelombang. Mengingat kecepatan penghancuran hutan bakau alam akibat reklamasi pantai di sepanjang pantai indonesia, sedih sekali rasanya, sanggupkah kecepatan pertumbuhannya ini bisa menyaingi kecepatan pemusnahannya? Tidak jauh dari tempat penanaman hutan bakau, ada bedeng2 tempat penangkaran penyu sisik, khas penyu kepulauan seribu. Saya intip di dalamnya, ada susu kaleng kecil. Lho koq ada yang segitu cintanya sama penyu2 kecil ini sampe pingin ngasih susu kaleng? Pasti bukan dari peserta Indobackpacker…….

Setelah makan malam, acara perkenalan, duduk melingkar. Ada pencerahaan dari Mas Aris tentang apa dan bagaimana Indobackpacker. Maklum, karena pesertanya jauh dari jaim dan cepat akrab, ajang ini berubah jadi ajang komentar. Disini Ivan yang kena Bulu Babi diberi julukan oleh Imel, bisa dipanggil “Ivan Bulu” atau bisa juga “Ivan Ba……”. Begitu tahu ada beberapa peserta yang Pegawai Negeri, langsung digodain abis, apalagi ada yang dari Dirjen Pajak dan DepKeu. Bonar dari Dirjen Pajak dengan tenang membela diri, “….tapi saya bukan koruptor lho……”.

Setelah acara perkenalan, acara dilanjutkan bersama pihak TNKS. Petugas TNKS memberi sambutan dan memutarkan CD edukasi seluk beluk TNKS. Setelah itu, TNKS juga memutarkan CD perusakan besar2an habitat TNKS oleh perusahaan minyak asing, dengan membuang berton-ton minyak mentah muda ke laut secara ilegal. Pencemaran ini sejak th 2000 terus berlangsung hingga sekarang dan pembuangan minyak berlangsung 4-8 kali setahunnya, pada tiap bulan September-Desember. Tidak ada yang bisa menyeret pelakunya. Bisa dibilang, seluruh pulau di kepulauan seribu (100 dari 107 pulau di kep. Seribu) di selimuti minyak mentah yang menghancurkan terumbu karang, ikan2 dan hutan2 bakau hasil penghijaun (berarti yang saya tanam tadi juga bulan desember nanti akan mati….hiks…..). Seluruh menteri telah dihubungi, datang ke kepulaun Seribu, turut prihatin, lalu ya begitu saja………pembuangan minyak ilegal tetap berlangsung. Politik tingkat tinggi membuat pelakunya tetap bebas.

Setelah acara edukasi dari pihak TNKS, peserta Barbeque-an bersama petugas TNKS dengan menu sotong (cumi besar) bakar yang enak, dagingnya tebal, tapi alotnya kayak sandal jepit, berikut ikan-ikan bakar lainnya yang udah nggak ada yang sanggup ngabisin. Perut kenyang, maka lalu para peserta coba belajar poco-poco dari petugas TNKS diiringi organ. Poco-poco rupanya membuka klep nekad, peserta mulai menari-nari dengan tangan keatas dan nyanyi-nyanyi dangdut acak adul nggak ada yang hapal. Kasihan kucing-kucing yang nggak sengaja beberapa kali terinjak peserta …..dan kasihan bapak-bapak PT. Surveyor di wisma di depan kita ………. hehehehe….Untung tepat jam 12 malam semua sudah kembali insyaf, masuk ke wisma buat tidur. (Tapi sebelumnya nonton american idol dulu……).

Subuh setelah sholat, sebagian nongkrong di pantai melihat sunrise, sebagian nerusin tidur. Setelah makan pagi, tidak ada yang mandi karena langsung snorkeling lagi. Mau naik kapal sempat tertunda berkali-kali buat photo keluarga, untung semua sadar bisa-bisa nggak snorkeling-an kita…..Semua naik 2 kapal, satu ojek kapal dan satu lagi kapal TNKS. Route pertama adalah P. Semak Daun. Laut agak nakal. Kapal mulai seperti kora-kora lagi, tapi yang ini tidak ada yang mabuk laut karena kita semua bisa melihat laut lepas. Sampai di P. Semak Daun semua peserta harus bersnorkeling ke pulau yang berpasir putih disana. Begitu mendarat di pulau, 40 orang basah kuyup lengkap dengan peralaran snorkeling sekali lagi ber – family photo session bareng2……dan untungnya cepat tersadar berhenti foto2. Snorkeling disini tidak bisa jauh2 karena khawatir ada ikan2 beracun yang datang saat laut sedang surut.

Setelah semua dianggap cukup siap snorkeling “beneran”, semua naik ke kapal lagi dan kita menuju PPL (Pusat Penangkaran Laut) di P. Gosong. Langit mulai agak mendung dan ombak lebih nakal dari yang tadi, bahkan sekarang pecahan ombak sempat beberapa kali menyemprot kapal. Menurut nakhkoda, saat ini sedang angin barat daya. Harusnya bulan ini sudah tenang, tapi saat ini sudah tidak ada yg bisa memprediksi laut. Komentar ini saya dengar juga dari nakhkoda kapal Mitra. Menurutnya sejak tahun 2000 laut tidak bisa terbaca lagi oleh pelaut. Mungkin inilah akibat pemanasan global. Pemanasan global tidak saja menyebabkan perubahan iklim dan cuaca sehingga tidak terbaca lagi, tapi juga menyebabkan es meleleh sehingga tinggi permukaan air laut meningkat. Akibatnya negara kepulauan seperti Bahama berteriak-teriak karena beberapa pulaunya tenggelam.
bottom
Kapal membuang sauh di laut lepas dekat terumbu karang. Kebanyakan peserta merasa khawatir untuk snorkeling ‘beneran’, karena jarak terumbu karang ke kapal cukup jauh seandainya ada trouble. Sekali lagi, rasa penasaran dan nggak mau rugi udah jauh-jauh kesini dan sewa alat menutupi kekhawatiran yang ada. Dua peserta yang lain bahkan sempat mencoba scuba diving. Semua yang sempat melihat terumbu karang di tengah laut merasa puas, bagus sekali. Ada kuda laut, ada bintang laut dan terumbu karang berwarna-warni. Mas Aris harus mengusir para peserta untuk berhenti snorkeling dan segera naik ke kapal, karena sudah lewat jadwal untuk pulang.
Kembali ke wisma TNKS, setelah mandi dan makan siang, peserta segera ke dermaga. Pulang ke Jakarta naik Mitra lagi. Dua petugas TNKS yang kebetulan tiba waktunya libur ikut kapal kita pulang ke Jakarta. Melewati tikungan di P.Pari, ombak kembali besar. Kapal doyong ke kiri, maka semua orang di kiri disuruh bergeser ke kanan. Seorang peserta laki-laki di belakang mengeluarkan seluruh isi makan siangnya dari perut. Kali ini, waktu perjalanan lebih singkat setengah jam karena saat ini kapal didorong arus, dan bukan melawan arus seperti saat kapal menuju P. Pramuka. Maka siksaan ini jadi lebih singkat.
Jam 16.30 WIB, saya kembali menginjakkan kaki di Pelabuhan Muara Angke. Aahhhh, akhirnya……Belum sempat menarik nafas, seorang peserta berseru, “ Yuk ke Ujung Kulon yuk…..minggu-minggu depan……” dan sebagian peserta mulai berkumpul lagi menyambut ide tersebut dengan antusias.
Emang top banget deh!

“Terima kasih banyak Mas Aris,Mbak Nita dan teman-teman yang turut membantu terselenggaranya acara ini. Acaranya keren banget dan memuaskan!”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>