Menghulu Sangatta, Singgah Mentoko

Custom Search

By Santoso • Apr 12th, 2006 • Category: Petualangan

“Berapa orang yang akan pergi?”
tanya suara di seberang telepon. “Lima orang” “Harus dua ketinting pak,
karena muka air Sangatta sedang rendah.” Saya langsung ingat dalam 10
hari terakhir, sejak 14-Maret, hujan praktis tidak turun. Gerimis tipis
kadang menyiram tanah namun tak akan berpengaruh banyak di muka air
sungai. Dalam kondisi muka air rendah, kedalaman sungai rerata hanya
sekitar 1,5m.

Mentoko tidak setenar Taman Nasional Kutai. Barangkali hanya segelintir peminat kegiatan alam bebas di luar Kalimantan Timur (Kaltim) yang pernah mendengar namanya. Sebab pertamanya berpulang ke akses. Untuk mencapai TN Kutai orang cukup memakai jasa angkutan umum yang melewati ruas Bontang - Sangatta. Sangatta – Bontang berjarak 60-an km. Letak site office TN Kutai ada di kilo 22 dari Sangatta walau kantor administrasinya ada di Bontang. Sedang untuk mencapai Mentoko, calon pengunjung mesti menyewa ketinting, perahu kayu dengan penggerak motor tempel.


Ada baiknya diluruskan bahwa bagi warga sekitar TN Kutai di tepi jalan raya Sangatta – Bontang sering disebut Sangkimah. Sangkimah ini baru satu dari tiga entry point ke TN Kutai bagi umum. 2 lainnya adalah Teluk Kaba dan Mentoko. Masing-masing titik punya ciri khas. Di Sangkimah bisa dilihat pohon ulin raksasa berdiameter 2,5 meter. Usianya diperkirakan antara 5-10 abad! Sebagai pembanding, di usia 6 tahun tinggi pohon ulin sekitar 1,7m, diameternya 1-2cm. Menurut sebuah sumber, pertumbuhan maksimal diameter ulin hanya pada kisaran 0,5cm/tahun. Jika Sangkimah murni kawasan hutan hujan tropis (rainforest), maka Teluk Kaba merupakan titik temu hutan hujan tropis dan hutan bakau (mangroves). Pertemuan ini disertai berkumpulnya berbagai jenis satwa yang berhabitat di kedua jenis hutan. Hutan bakau sejatinya memberi pelajaran bagaimana sebuah makhluk hidup mesti beradaptasi di lingkungan yang luar biasa sulit. Lalu apa ciri khas Mentoko?


“Berapa orang yang akan pergi?” tanya suara di seberang telepon. “Lima orang” “Harus dua ketinting pak, karena muka air Sangatta sedang rendah.” Saya langsung ingat dalam 10 hari terakhir, sejak 14-Maret, hujan praktis tidak turun. Gerimis tipis kadang menyiram tanah namun tak akan berpengaruh banyak di muka air sungai. Dalam kondisi muka air rendah, kedalaman sungai rerata hanya sekitar 1,5m. Makin berat muatan makin dalam ’draft’ (bagian kapal di bawah muka air) ketinting. Draft ini penting mengingat ketinting selalu memilih jalur terdangkal.


Jawaban spontan nan mekanis itu sekali lagi menegaskan (dan mengingatkan) vitalnya sungai. Untuk Sangatta, di mana peran untuk sarana transportasi minim, rendahnya air sudah menyulitkan. Bagaimana di jantung Kalimantan sana tempat transportasi air masih menjadi urat nadi? Problem itu masih diperparah oleh penggundulan dan berlanjut dengan pendangkalan! Hampir semua penduduk di pesisir Borneo tergantung pada air permukaan. Mengapa bukan air tanah? Di kawasan rawa tinggi air tanah, terlebih pada saat air pasang, hanya 1-2 meter di bawah permukaan tanah. Kualitasnya sama buruknya. Jadi tak ada alasan untuk repot-repot menggali sumur.


Dengan 2 ketinting kami mesti mencari tambahan personil. Dalam tempo kurang dari sejam 2 teman lain bergabung. Jadilah kami bertujuh, 2 di antaranya cewek. Meski acara santai bukan berarti keselamatan boleh di-nomor-duakan. Life vest yang ada baru 4 dan 3 sisanya kami pinjam dari klub diving. Sewa ketinting kini 300 ribu per hari. Harga ini melejit 3x lipat dibanding 10 tahun silam. Krismon, inflasi, naiknya harga BBM berulang kali, dan tingginya biaya hidup di Kaltim menjadi sutradara di balik peristiwa itu.


*****


Sabtu, 25-Maret-2006, pagi, kami telah siap di Papa Charlie. Meski hanya dermaga lokal nama Papa Charlie (PC) tertera di dalam panduan rough guide! Dalam keadaan bermuatan, ketinting dari dermaga Sangatta Lama perlu waktu 2 jam untuk sampai di PC. Tanpa penumpang mestinya lebih cepat. Harga sewa di depan adalah jika dihitung dari Sangatta Lama. Kami menunggu di PC demi menyingkat perjalanan. Sekitar 08.10 WITA, suara mesin diesel lamat-lamat terdengar dari kelokan sungai sebelah hilir. 2 ketinting nampak mendekat dan akhirnya merapat. Kami tidak langsung berangkat. ”Tunggu sesaat pak biar mesinnya agak dingin,” kata salah satu sopir ketinting.


Selang 10 menit kami telah meluncur menghulu. Di tebing kiri kanan jelas terekam jejak tegas muka air sungai tertinggi. Dengan kondisi saat itu ada selisih 2-3 meter. Walau tidak terlalu dalam, bukan berarti bahaya sirna. Di bawah muka air yang kecoklatan itu bersembunyi buaya keluarga salt water crocodile. Dalam 10 tahun terakhir, di Sangatta tercatat 2 orang tewas dimakan buaya. Salah satunya bahkan terjadi di tepi sungai yang besarnya tak sampai separuh sungai Sangatta. Panjang buaya predator lebih dari 4 meter. Lewat jasa pawang, buaya itu ditangkap, perutnya dibedah, mutilasi tubuh manusia diambil untuk dimakamkan selayaknya, lalu diawetkan. Si monster Sangatta itu kini dipajang di museum Tenggarong.


Mendung yang sejak subuh bergayut bersalin rupa dalam gerimis. Setiap kali titik air dari langit menyentuh permukaan sungai, riak kecil tercipta. Riak itu langsung terurai terbelah lunas ketinting. Di tebing kiri beberapa ekor biawak pulas di gosong pasir. Binatang yang biasanya peka suara itu seakan tak terusing bising diesel di ekor ketinting. Di tebing kanan seekor burung berayun ritmis ranting ke ranting. Sekitar 50 meter burung itu menyebelahi kami sebelum menghilang di balik pepohonan.


”San .. which one the national park, left side or right side?” tanya rekan ekspat yang duduk tepat di belakang saya. “On the left side … Sangatta river is north border of the national park.” Setelah sekira sejam di atas ketinting ia pun berkomentar, “I think the national park is practically lost.” Saya menyahut, “Yes .. correct, mainly because of illegal logging.” Dibanding kali pertama menghulu sungai Sangatta 1996 lalu, di kiri-kanan sungai terlihat perubahan menyolok. Pohon-pohon bernilai ekonomi tak lagi tegak. Rusak-binasanya ekosistem pun kian telanjang. Tidak terhitung lagi pohon-pohon di tebing roboh. Tanah tempat akarnya tertanam tak lagi kuat menahan beban lantaran digerus air. Di kala air tinggi, pohon-pohon itu tersapu ke tengah alur. Itu sebabnya, selain batu cadas alami dan singkapan seam batubara, di banyak tempat dari bawah air mencongak batang-batang pohon mati. Tentunya batang-batang itu menahan sebagian material endapan yang terbawa air. Proses ini berlanjut dan pendangkalan pun tak terhindarkan.


Masih ada lagi musuh lingkungan yang sama bahayanya: tambang liar. Sejarak 20-an meter dari tebing kanan, sebuah bukit tegak tanpa daya dengan luka menganga. Kepalanya masih dirimbuni belukar, tapi ’mudstone’ di perut dan kakinya yang telah dicabik-cabik excavator. Penambangan mudstone ini tak lagi mengindahkan keselamatan. Pada penambangan terencana, untuk tinggi jenjang 10m kemiringan tunggal maksimum yang diijinkan adalah 70 derajad. Bila jenjang berurutan kemiringan totalnya 35 derajad. Tinggi bukit yang sudah koyak dikupas itu tak kurang dari 40m. Jangankan dibuat berjenjang per 10 meter, malah kemiringannya pun sudah minus alias menjorok ke dalam! Keruntuhan itu serasa tinggal menunggu waktu.


Di arah depan telah muncul gugusan batu-batu besar. Tak salah lagi itulah keiham (katarak) pertama. Berapa kali saya menghulu sungai Sangatta tak sekalipun pernah lolos darinya. Ketinggian air di keiham tak sampai selutut tapi arus deras meliar. ”Bisa lewat dari sini?” penasaran saya sampaikan. Jawabannya tertelan deru mesin. Si pengemudi memosisikan ketinting melintang. Anjungannya nyaris menempel batu-batu besar di pinggir, buritan menghalau arus deras. Mesin meraung keras, saya sempat kuatir ketinting terbalik. Perlahan anjungan bergeser ke tengah, menghadang arus dan akhirnya keiham terlewat. Ini buah dari sekian kali upaya. Ketinting lain, meski penumpangnya hanya 3, ternyata tak lolos. Penumpang jalan kaki menyeberang keiham, ketinting lewat dengan hanya berpenumpang pengemudinya.


Selewat keiham pertama semak di kiri-kanan tambah rapat meski pokok-pokok besar tetap langka. Gerimis telah berhenti mengucur. Langit mulai cerah meski matahari belum sudi menampakkan wajah. Sekilas kian hulu baik kedalaman maupun lebar sungai nyaris tidak berbeda. Setengah jam dari keiham pertama tibalah kami di keiham kedua. Keiham ini lebih panjang. “Bisa lewat dari sini kalau airnya 3 meter, pak,” kata pengemudi sambil menepikan ketinting. 3 meter di sini berarti banjir besar di hilir sana! 30-an meter antara perhentian ketinting hingga ke keiham kedua mesti naik-turun meniti tebing licin. 3 rekan kami, yang mana menghulu Sangatta ini pengalaman pertama mereka, terlihat sangat bersemangat. 2 rekan cewek memilih mendarat tanpa susah payah ke keiham, memuaskan hobby memotretnya.


******


Sekira sejam kemudian kami telah balik kanan menghilir. Menghilir selalu lebih cepat karena mengikuti arus. Itu masih dilengkapi waktu psikologis di dalam tubuh yang merasa perjalanan pulang selalu lebih cepat dibanding berangkatnya. Potongan kayu tempat penambatan ketinting di Mentoko nampak menggantung. Ada 3 ketinting lain bersandar. Di langit, awan menyingkir dan giliran terik matahari khatulistiwa menyapa.


Begitu tebing sungai terdaki, di belakang kayu tambatan terhampar board walk, titian dari kayu ulin. Titian ini bercabang 2 (lihat peta). Ke kiri menuju pondok pusat informasi (PI), terus ke arah pondok stasiun penelitian (SP). Di sekitar pertigaan dipasang papan penunjuk bahwa sejak 2002/2203 lokasi itu berstatus kawasan rehabilitasi hutan bekas terbakar. Proyek kerjasama WWF dan Balai TN Kutai ini meliputi areal 200 ha. Memang berkali-kali TN Kutai terbakar (atau dibakar (?)), namun adanya proyek rehabilitasi adalah informasi baru. Selama ini saya tahu sebatas Mentoko sebagai tempat penelitian orangutan oleh pakar Jepang Akira Suzuki. Tentang aktivitas Prof. Suzuki saya temukan artikel pendek di nomor lama buletin internal.


…….


”Tugas utama kami adalah mengamati gerak-gerik sekitar 50 orangutan yang ada di sekitar Mentoko,” kata Encah, salah satu asisten yang baru 16 hari bersama Prof. Suzuki. Dari pengamatan para asistennya di lapangan inilah Prof. Suzuki dan rekannya di Jepang menyusun karya tulis.


Dari sekitar 50 orangutan yang hidup di wilayah Mentoko, hanya 5 yang terus menerus mereka ikuti dan menjadi obyek penelitian mereka. Kelima orangutan itu adalah Dekong, Wiwik, Anna, Ida, dan Bill. ”Kami mengamati kehidupan kelima orangutan ini dari saat mereka bangun hingga tidur,” tutur Encah ketika ditemui di tempat Dekong berada, sekitar setengah jam berjalan kaki dari PI.


……. (Kabara, buletin internal perusahaan, Desember 1997, hal. 13)


Berjam-jam di atas ketinting adalah melelahkan. Punggung tak bisa sandar, sementara kaki tak bisa diluruskan. Sampai di pondok PI rombongan segera meredakan nyeri di punggung dan kaki. Pondok PI buatan 1994 ini dibangun 2 lantai. Kata yang berjaga, bisa menampung 10 penginap. ”Kapan penelitinya datang ke sini, Pak?” saya coba mengorek keterangan. ”Paling banter 6 bulan sekali. Mereka mengambil rekaman dan membayar gaji kami.” ”Sering orang luar nginap?” ”Sesekali saja pak, biasanya dari Balikpapan.”


Meluruskan kaki tentu tak lengkap tanpa mencoba rute ’Kancil’ mengitari prevab. Kancil ini istilah resmi TN Kutai untuk menyingkat Pendidikan Cinta Lingkungan. Walau tak selebat hutan primer beberapa jamur aneh tumbuh di kiri-kanan jalan setapak. Begitu juga serangga berhidung panjang yang tak kami ketahui nama lokal apalagi nama ilmiahnya. Bagaimana dengan saudara tua yang hidup di atas pohon? Mengutip keterangan penjaga, untuk bertemu makhluk yang 97% gennya serupa manusia ini perlu ’blasakan’ 1-2 jam menusuk jantung hutan. Yang ditemui di rute ’Kancil’ hanya bekas tempat bermalam orangutan. Seperti Yasser Arafat atau Xanana Gusmao bergerilya, orangutan tak pernah tidur di ranjang yang sama! Kendati hanya sekitar 1,5km rute ’Kancil’ cukup menghibur; ada jalan tanah, jalan memintas semak, jembatan kayu, jembatan gantung kabel, dan titian dari balok utuh. Titian yang lumayan lebar ini ditumbuhi jamur. Untuk menghindari tergelincir kami melewatinya dengan jalan sembari jongkok.


Di luar tujuannya yang serba positif, kawasan prevab Mentoko juga memberi bukti sulitnya hal-hal negatif dihindari. Perambahan, pembalakan, perburuan satwa liar terus berlangsung dan rasanya muskil dihentikan. Bahkan brosur dari TN Kutai mencium kemungkinan kasus pencurian genetis. Di buletin internal edisi awal 1997 pernah terlontar keraguan atas eksistensi TN Kutai dalam 10 tahun mendatang. 9 tahun kemudian keraguan itu tertepis meski luas hutan alami TN Kutai mengalami penyusutan drastis. Jika pertanyaan serupa kita lontarkan, adakah TN Kutai bisa dinikmati 10 tahun ke depan saat lagu-lagu Peterpan menjadi tembang nostalgia?


Sangatta, 4-April-2006

Tagged as: , , , ,

Santoso is
Email this author | All posts by Santoso

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.