Istana Potala - Lhasa Tibet

Custom Search

By admin • May 4th, 2006 • Category: Wisata

Istana
Potala ini merupakan istana musim dingin, istana musim panasnya yang juga ada
di kota Lhasa
, dinamakan Norbulingka - yang juga masuk dalam rencana tempat yang akan kami
kunjungi.

Memasuki
komplek Potala itu, rupanya turis asing mendapat perlakuan

istimewa, kalau wisatawan lokal harus berjalan kaki mulai dari arah depan
istana, yaitu dari bagian benteng yang paling bawah


Istana
Potala bentuknya anggun, seakan sebuah benteng diatas bukit,

bagian bawahnya berwarna putih dipadu warna merah - coklat di

bagian atasnya. Bagian istana yang berwarna putih itu bukan bagian religius
dari istana, tetapi merupakan bagian pendukung istana dimana ada dapur,
perumahan dan lain-lain. Sedangkan bangunan bagian atas istana yang berwarna
coklat adalah bagian suci istana dimana terdapat ruangan-ruangan tempat
patung dewa-dewa dan

kitab suci disimpan - termasuk ruangan audiensi dimana ada singgasana Dalai
Lama yang terkenal itu, dan tentunya tempat tinggal Dalai Lama sendiri.



Istana
Potala ini merupakan istana musim dingin, istana musim panasnya yang juga ada
di kota Lhasa
, dinamakan Norbulingka - yang juga masuk dalam rencana tempat yang akan kami
kunjungi.

Memasuki
komplek Potala itu, rupanya turis asing mendapat perlakuan

istimewa, kalau wisatawan lokal harus berjalan kaki mulai dari arah depan
istana, yaitu dari bagian benteng yang paling bawah kemudian harus naik tangga
mendaki bagian-bagian istana yang lumayan tinggi bertingkat-tingkat itu,
sedangkan kami boleh naik bus yang mendaki bagian samping kanan istana sampai
dipertengahan tinggi benteng itu.

Disitu kami harus turun dari bus, diteruskan berjalan kaki mendaki jalan yang
ada dibagian luar benteng menuju kebagian belakang istana - dimana ada
sebuah pintu, yang rupanya pintu belakang istana.

Sebelum
memasuki istana kami dipesan untuk mempersiapkan diri dulu antara lain agar
mentaati berbagai larangan misalnya memotret, apalagi shooting video. Melanggar
larangan itu akan dikenai denda besar : 90 yuan kalau ketahuan mengambil foto
dibagian istana yang terlarang dan untuk video dendanya sampai sebesar 900
yuan,

dan tentu saja fotonya disita.

Juga
kami dianjurkan ke Toilet dulu karena didalam istana tidak ada.

Maka kami memasuki Toilet yang rupanya seperti kebanyakan WC umum di Cina
: tidak tersedia air. Hebatnya melalui lubang toiletnya kita bisa melihat
dasar jurang nun jauh dibawah - maklum saja WC itu dibuat menjorok
di tebing bukit curam yang lumayan juga tingginya.

Lubang WC itu hanya berupa lubang yang dibuat dilantai semen, dengan ukuran
lebarnya sejengkal dan panjangnya 50 cm .

Jadi apa yang kita buang melalui lubang WC itu akan langsung terjun bebas
menuju kaki bentengan ini; tapi tentu aman-aman saja karena lokasi WC itu tidak
dibagian depan benteng yang banyak orang lalu-lalang .

Kami
mulai memasuki pintu belakang yang sempit, dan mulailah perjalanan sepanjang
lorong sempit yang sedikit penerangan, belok kiri-kanan dan terus
mendaki, masuk keluar berbagai ruangan dari bagian istana yang dari luar
terlihat berwarna coklat. Ruangan-ruangan itu juga tidak terlalu luas,
didominasi warna merah-coklat-kuning,



Di
beberapa tempat kami harus agak berdesakan karena banyak pengunjung yang
kelihatannya penduduk setempat yang datang untuk bersembahyang.

Dalam
ruangan-ruangan itu banyak terdapat bermacam-macam patung Budha, Kwan Im,
berbagai Dalai Lama ( kecuali yang terakhir/yang hidup di pengasingan ), dan
banyak sekali kitab suci yang kelihatan sudah kuno/lusuh sekali.



Disatu
ruangan tampak kitab-kitab suci ditaruh berderet disepanjang dinding bagian
atas, kita bisa berjalan dibawahnya, katanya siapa yang berjalan sambil
agak merunduk dibawahnya akan mendapat Hokkie. Beberapa teman termasuk teman Surabaya itu terlihat
sangat khusuk bersembahyang diberbagai ruangan itu dengan menggunakan hio
ukuran besar.

Kami
dipesan untuk tidak lepas dari rombongan karena istana luas sekali,
banyak sekali lorong-lorong dan ruangan, yang memang membingungkan karena
terlalu banyak arahnya apalagi saat itu cukup banyak pengunjung.

Akhirnya
kami memasuki satu ruangan agak luas, tapi penerangannya tetap kurang terang,
disitu terlihat banyak tempat duduk berupa deretan bangku pendek yang dilapisi
kain warna kemerahan.

Dan didepan deretan bangku itulah terletak singgasana Dalai Lama !!

Walaupun
niat kami berfoto didepan singgasana begitu menggebu, tapi tidak mungkin kami
berani curi-curi ambil foto.

Selain banyak CCTV (closed circuit TV) yang memonitor setiap
ruangan, juga banyak Lama yang bertugas mengawasi setiap pengunjung.
Tiba-tiba saya lihat teman Surabaya
kami, mengeluarkan dari tasnya berbagai macam barang antara lain Sabun - Sikat
Gigi, ( rupanya diambilnya dari kamar hotel) dan beberapa buah celana pendek
putih yang masih baru.

Sempat
saya keheranan - mau diapain barang-barang itu, ternyata diberikannya kepada
beberapa orang Lama yang bertugas menjaga di ruangan itu. Mereka terlihat
girang sekali, dan surprise !! - mendadak kami diperbolehkannya berfoto disana,
dengan satu syarat :

memakai satu buah kamera saja. Tanpa pikir panjang lagi segera kami mejeng
bergantian berpose didepan singgasana Dalai Lama itu, kesempatan langka ini
sayang kalau dilewatkan.

Sampai
sekarang saya masih bingung, koq bisa-bisanya teman Surabaya ini mempunyai kiat yang begitu jitu
- pantas saja dagangnya maju.

Setelah
ruangan audiensi itu, barulah kami keluar dari ruangan2 yang gelap dan mencapai
bagian puncak istana Potala.

.

Bagian atap dari puncak istana itu lantainya terbuat dari semacam tanah
liat putih yang dipadatkan dengan cara ditumbuk-tumbuk memakai semacam batu
bulat tipis yang diberi tangkai sebuah tongkat panjang.



Asyik
juga menyaksikan wanita-wanita Tibet
yang sedang bekerja menumbuk-numbuk lantai sambil bernyanyi bersama -
semua itu boleh kami rekam dengan foto/video camera karena atap istana itu
bukan daerah yang suci.

Pemandangan
dari atap istana ke seluruh kota Lhasa lapang sekali

karena hanya lokasi istana inilah yang berupa bukit. Sejauh mata memandang
sampai kekaki pegunungan yang cukup jauh hanyalah dataran saja - terasa aneh
ditempat begini tinggi ada plateau yang begitu luas dan panjangnya sampai
puluhan kilometer .

Saya
sempat mengira bisa melihat Mt.Everest dari lokasi itu , tapi ternyata puncak
tertinggi didunia tersebut masih berjarak 600 kilometer dari Lhasa.

Setelah puas berfoto dipuncak istana, mulailah jalan
lagi mengarah keluar istana, perjalanan santai karena berjalan menurun,
dan tidak lagi keluar - masuk ruangan-ruangan yang agak gelap tadi, tapi
melalui ruangan besar-besar yang dari luar terlihat berwarna putih yang digunakan
untuk tempat tinggal para Lama , dapur dan lain-lain.

Akhirnya keluar dari komplek istana, menuruni tangga luas menuju bus kami yang
sudah menunggu dikaki istana Potala.

admin is
Email this author | All posts by admin

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.