Ngintip Green Canyon dan Pangandaran

Custom Search

By admin • May 1st, 2006 • Category: Wisata
Bookmark and Share

Hari pertama, kami ke Cagar Alam Penanjung dengan nyewa perahu.
Seharian waktu dihabiskan di sini. Mengunjungi tempat-tempat; pemandian
Dewi Rengganis, situs purbakala ‘Batu Kalde’ berbentuk ‘sapi’
peninggalan Hindu 1600 tahun lalu, keluar masuk gua-gua yang dihuni
binatang Landak, beberapa teman snorkeling di pantai pasir putih dan
makan siang ikan bakar di sini. Sorenya kami kembali ke darat untuk
lihat Sunset.


Satu tempat yang dulunya dianggap keramat oleh warga setempat, kini malahan jadi sangat populer. Saya nggak tau kenapa nama Cukang Taneuh (Jembatan Tanah), jaraknya sekitar 30an kilometer dari Pangandaran jadi lebih dikenal dengan sebutan Green Canyon; Sungai Cijulang yang airnya jernih berwarna hijau dengan pemandangan tebing-tebing dengan batuan berbentuk unik di hulu sungai. Konon, lokasi eksotis ini ditemukan oleh turis Perancis sekitar tahun 90an.

Long-weekend kali ini, saya dan Nefran jalan-jalan ke Pangandaran dan sekitarnya. Berangkat malam hari dari Depok dengan bus, keesokan paginya kami sudah berada di Pangandaran. Secara kebetulan ternyata ketemu beberapa teman di Pangandaran. Semula kami ketemu Shifa dan Salla di depan Toilet terminal. Dua cewek ini berangkat pada malam hari yang sama dari Terminal Kampung Rambutan. Kami jadi berempat, tapi masih ragu, apakah mau ke Pantai atau langsung ke Green Canyon ? Lalu Nef mengontak Dwi dan Widji yang ternyata juga sudah berada di sini sejak kemarin dan akhirnya janjian ketemu di penginapan mereka. Denni yang berangkat dari Jakarta bareng lima teman lainnya datang pada saat yang bersamaan pula. Sekarang kami jadi bertigabelas orang !

Objek wisata di kawasan Pangandaran bisa dibilang banyak. Ironisnya, akses dengan kendaraan umum sangat terbatas. Jalan aspal menuju lokasi wisata umumnya dalam kondisi rusak. Angkutan yang bisa diandalkan cuma ojeg atau carter kendaraan umum. Karena jumlah kami cukup banyak, patungan untuk sewa kendaraan adalah pilihan yang paling ekonomis. Pagi itu kami pesan mobil carteran untuk jalan-jalan besok. Tujuan utama kami sama; Green Canyon ! sedangkan objek yang lainnya cuma dianggap ‘sampingan’

Hari pertama, kami ke Cagar Alam Pananjung dengan nyewa perahu. Seharian waktu dihabiskan di sini. Mengunjungi tempat-tempat; pemandian Dewi Rengganis, situs purbakala ‘Batu Kalde’ berbentuk ‘sapi’ peninggalan Hindu 1600 tahun lalu, keluar masuk gua-gua yang dihuni binatang Landak, beberapa teman snorkeling di pantai pasir putih dan makan siang ikan bakar di sini. Sorenya kami kembali ke darat untuk lihat Sunset.

Semula saya dan Nefran memang berniat menghabiskan malam sambil ngopi dan tiduran di warung pinggir pantai. Berbekal sleeping bag dan matras; saya, Nefran, Shifa, dan Salla memilih tidur di atas pasir pantai Pangandaran. Sembilan orang teman kami lainnya menginap di penginapan. Tas Ransel beserta barang berharga dititipkan ke mereka. Kami pilih lokasi di samping perahu parkir dan agak jauh dari warung untuk menghindari keramaian. Tapi sialnya, perahu yang ada di samping kami itu beberapa kali silih berganti ditongkrongin anak-anak muda sambil main gitar hingga mengusik ketenangan. Sempat khawatir juga karena langit kelihatan mendung malam itu, tetapi nyatanya bintang-bintang bermunculan lewat tengah malam. Kami bangun subuh saat masih gelap karena pantai sudah mulai ramai pengunjung yang berolahraga.

Saat Long weekend, kawasan wisata Pangandaran kebanjiran wisatawan. Semua penginapan tampak penuh. Tempat parkir lokasi wisata umumnya dipadati bis-bis besar yang mengangkut rombongan turis. Untuk dapat giliran naik perahu di Green Canyon, kami memegang nomer antrian yang ke-200an. Satu perahu berisi maksimal 6 orang. Harga 70ribu per perahu rasanya terlalu mahal untuk menikmati Green Canyon dalam waktu yang dibatasi cuma sampai 45 menit. Mula-mula kami menyusuri sungai dengan pemandangan yang biasa saja. Pemandangan yang menakjubkan baru terasa saat perahu mulai memasuki gua besar dengan panorama stalaktit dan stalakmit yang spektakuler. Perahu berhenti di dalam gua dan nggak mungkin masuk lebih dalam lagi karena terhalang batu besar dan lorongnya semakin menyempit. Nah, umumnya pengunjung hanya sampai di sini. Mau yang lebih menantang ? Kami sepakat untuk perpanjang waktu dengan menambah biaya 50ribu per perahu. Untuk masuk lebih ke dalam satu-satunya jalan hanya dengan cara berenang menyusuri lorong-lorong bebatuan berbentuk unik. Batu-batuan itu memercikan air seperti shower. Semakin masuk ke dalam, pemandangannya semakin indah. Beberapa tahun sebelumnya saya pernah ke sini, tapi waktu itu airnya berwarna cokelat karena habis hujan dan untuk menghindari air bah, pengunjung gak diijinkan berenang di dalam lorong tebing. Namun, kali ini saya beruntung karena airnya hijau bening dan boleh menjelajah ke dalam lorong.

Masih ada waktu sebelum masa carter angkot berakhir. Kami sempat mengunjungi Pantai Batu Karas, tempat para pehobi selancar dan Cagar Alam Sungai Citumang (dalam Lonely Planet disebut Green Canyon II), sebelum kembali ke Jakarta dengan cara masing-masing.


Pulangnya kami tinggal berempat (saya, Nef, Shifa, dan Salla) menunggu bis di terminal Banjar. Sudah hampir tengah malam, kami belum dapat bis ke Jakarta. Demi menghindari keributan dengan calo-calo terminal dan para tukang tipu, lebih baik kami naik bis ke Bandung dulu, dan sampai di sana pukul 2 dini hari. Sambil menunggu pagi, kami istirahat di ruang tunggu di depan ATM BCA seberang terminal bis Leuwipanjang. Atas ijin Satpam, kesempatan istirahat kami gunakan untuk tidur dengan syarat harus bangun sebelum matahari terbit atau disiram Satpam.



Travel Tips per April 2006;

* Bis Ekonomi Depok/Jakarta ke Pangandaran Rp 40,000 (8 jam) atau pakai rute Jakarta-Tasik/Banjar-Pangandaran
* Sewa Perahu di Pangandaran Rp 200,000/perahu kapasitas 10 orang
* Carter Angkot (Elf) seharian penuh Rp 300,000 kapasitas 17 orang (pastikan waktu pemakaian dan rute-rutenya supaya gak ada charge tambahan)
* Sewa Perahu Green Canyon Rp 70,000 kapasitas 5 orang untuk 45 menit
* Hindari musim liburan demi kenyamanan perjalanan

admin is
Email this author | All posts by admin

Bookmark and Share

One Response »

  1. [...] “Ngintip Green Canyon dan Pangandaran,” artikel diunduh pada tanggal 24 Oktober dari: http://www.indobackpacker.com. [...]

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.