Koprivshtitsa: Bara Api Bulgaria

Custom Search

By Santoso • Jun 22nd, 2006 • Category: Wisata
Bookmark and Share
Tanpa polesan masa lalunya, Koprivshtitsa sudah dianugerahi inner beauty. Hawa gunung, nuansa pedesaan Slavia, harum geranium, pusaka arsitektur; ini sebuah nostalgia paripurna. Sekali lagi kita berhutang pada Chorbadzii. Adalah manusiawi bila mereka pun butuh simbol status yang gampang dikenali relasi dan kolega. Mereka melengkapi kecukupan materi dengan cita rasa seni. Tangan trampil seniman ukir Samokov diundang memperindah rumah tinggal mereka.

Tiga peristiwa terjadi simultan. Saat pamor kesultanan Turki Osmanli (Inggris: Ottoman, Arab: Usmaniah) memudar, sebuah manuskrip sejarah bertarikh 1762 karya Paisii Hilendarski mampu menggugah inspirasi dan menabur bibit renaissance. Dipupuk booming perekonomian, wangi kesadaran berbangsa merebak ke sudut-sudut negeri. Sedikit tak lazim bahwa epicentrum pergerakan Bulgaria ada di Koprivshtitsa (baca: kop-riv-shti-tsa), di jantung pebukitan Sredna Gora, bukan di Sofia.

Iklim dan tanah pasir yang kurang ramah adalah sasmita alam. Anak negeri Koprivshtitsa mengarifinya dengan lebih menekuni biakan kambing dan biri-biri. Selain susu, ada produk derivat keju dan mentega. Dari bahan mentah wool, tenun rumah tangga memasok kaos kaki, sepatu, babut, selimut, bordir hias ke pasar lokal. Tak ketinggalan opsir Osmali pun memilihnya untuk bahan seragam. Dinamika kehidupan ditulang-punggungi oleh bisnis ternak yang daging potongnya juga disantap di istana Topkapi, Istanbul. Aktivitas niaga itu melahirkan chorbadzii, klas menengah pedesaan.


pict1 Open Air Museum Koprivshtitsa

Dari kantong chorbadzii dana mengucur. Fasilitas publik seperti gereja, jembatan, kincir air, kolam umum dan air mancur, dibangun. Gilda menanggung perawatan jalan. Chorbadzii merelakan rumahnya untuk sanggar belajar hingga bangunan sekolah berdiri 1837. Guru-guru pilihan didatangkan, termasuk dari biara Rilski. Selanjutnya semangat para guru menitis pada siswa-siswa terbaik generasi pertama. 1846 sekolah resmi dibuka. Kurikulumnya gramatika, ilmu pasti, ilmu budaya, katekismus, dan sejarah. Mata ajar sejarah itu nantinya menjadi anak kunci pembuka kesadaran dan patriotisme.

Kaum terpelajar meluaskan pengajaran untuk awam. Chorbadzii mendirikan chitalishtsa, sejenis pusat budaya yang menghimpun koran, majalah, karya-karya Eropa barat, kitab religi dan pendidikan. Di situ awam pertama kali bersentuhan dengan ide-ide swapraja. Seusai misa Minggu, kuliah umum sejarah dan politik digelar. Chitalishtsa juga menyediakan ruang bagi pentas teater tradisional dan pergelaran lagu-lagu rakyat. Tahun 1850-an masyarakat Bulgaria tercatat satu diantara yang paling terdidik di Eropa!

Masyarakat yang self-learning itu memuluskan misi Vasil Levski. Duta revolusi itu dua kali singgah di Koprivshtitsa membidani sel klandestin. Tualang Levski ialah bagian dari strategi BRCK. Dibentuk di Bucharest 1870 oleh nasionalis eksil, BRCK melihat hanya kekerasan bersenjata yang bisa mengusir Osmanli. BRCK memilah Bulgaria ke dalam empat region. Setiap region menyiapkan sendiri kelompok gerilyawannya. Begitu setiap region bergolak, satu kelompok bersenjata akan bergerak lintas kota menangguk dukungan dan meluncurkan bola salju. Rencana sempat goyah lantaran hidup Levski berakhir di tiang gantungan 1873. Tak berapa lama bara yang redup terkipas. Bosnia angkat senjata musim panas 1875.


Pict2 Suasana pedesaan Balkan

Minim dukungan, pemberontakan kandas. Provokasi memancing intervensi Rusia dan Serbia juga sia-sia. Hanya di region keempat, yaitu di Koprivshtitsa, bunyi letusan bergema panjang. Mencium usaha pengkhianatan, mereka bergerak mendahului rencana. Picu senapan ditarik menjelang penangkapan Todor Kableshkov, sang aktor utama, oleh komandan Nedjib Aga. Selama 10 hari Koprivshtitsa menghirup udara merdeka sebelum arus balik menghempas 1-Mei-1876. Kota jadi abu, ternak dirompak, 29.000 nyawa melayang. Kebiadaban itu menjadi cassus beli bagi Rusia guna membantu saudara Slav-nya. Kebiadaban itu juga membuat sekutu Osmanli, Inggris dan Perancis, berpaling. April 1877 Tsar Alexander II memaklumkan perang. Selang setahun, tepat 3 Maret 1878, Bulgaria melepas kayu kuk pengungkungnya. Alexander II beroleh julukan pembebas, Tsar Osvoboditel (Slavia: svoboda = merdeka).

*****

Tanpa polesan masa lalunya, Koprivshtitsa sudah dianugerahi inner beauty. Hawa gunung, nuansa pedesaan Slavia, harum geranium, pusaka arsitektur; ini sebuah nostalgia paripurna. Sekali lagi kita berhutang pada Chorbadzii. Adalah manusiawi bila mereka pun butuh simbol status yang gampang dikenali relasi dan kolega. Mereka melengkapi kecukupan materi dengan cita rasa seni. Tangan trampil seniman ukir Samokov diundang memperindah rumah tinggal mereka. Terobosan dan kreativitas itu mewariskan mutiara arsitektur abad XIX. Warisan dari paruh awal abad XIX cenderung polos dan sederhana. Sementara dari paruh akhir memiliki ornamen meriah dan berdenah simetris. Lazimnya rumah-rumah itu terlindung pagar batu. Setiap pagar memiliki pintu terpisah untuk orang dan gerobag. Sebuah dekrit pemerintah 1952 merubah status kota sebagai open-air-museum. Selanjutnya dekrit 1971 menjadikannya suaka sejarah dan arsitektur.

rumah Staikov
pict3 Rumah Staikov

Kami awali nostagia dari rumah Oslekov. Nincho Oslekov adalah pemungut pajak kaya yang mencintai travelling. Pilar-pilar rumahnya dari pohon cypress Lebanon. Ambang atap teras depannya dihias lanskap kota yang pernah ia kunjungi: Constantinople (Istanbul), Cairo, Alexandria. Rumah Oslekov terhitung terindah diantara keseluruhan 350-an rumah di sini. Rumah itu akan semakin indah bila impian Oslekov terealisasi. Sayang Oslekov gagal men-simetriskan rumahnya. Sang tetangga enggan melego tanah.

Di lorong yang sama, rumah Staikov tak lagi untuk museum dan hanya bisa dinikmati tampak luarnya. Rumah itu berhadapan dengan tembok batu yang memagari pemakaman umum. Nisan penyair Debelyanov nampak aneh diantara nisan Orthodoks berdekorasi ala batu kubur Romawi. Makam itu dikawal ‘bunda tercinta’ yang menanti kepulangannya dari kancah perang di perbatasan Yunani. Kompleks makam itu berbagi halaman dengan gereja Sveta Bogoroditsa. Sang pendeta, dalam busana serba hitam, tengah bertegur sapa dengan sejumlah peziarah dan jemaat. Pintu di sudut pagar mengantar kami ke rumah Kableshkov.


pict 4 Rumah Museum Kableshkov

Pernik-pernik Kebangkitan April 1876 terdokumentasi di lantai atas rumah Kableshkov. Senjata tajam, senjata api, bagan gerakan bawah tanah, photo-photo tokoh, surat rahasia; semua terpajang dalam etalase kaca. Di dinding belakang tertera kutipan heroik dalam Cyrillic disertai segel moncong kanon. Beberapa langkah dari rumah, berdiri patung Kableshkov dalam aroma sosialis yang kental. Bermantel panjang dengan sepucuk pistol di tangan kanan, patung itu berjaga di ambang jembatan tempat revolusi berawal.

Lorong kecil di seberang jembatan berujung di rumah Lyutov. Rumah ini bercat putih, sedikit menyimpang dari seumumnya yang biru Persia atau merah bata. Atap terasnya mengadopsi bentuk kuk (Jawa: keluh Sapi). Di ambangnya terlukis dua singa simbol aspirasi kemerdekaan. Lantai bawah rumah menjadi show room aneka karpet dan babut. Handycraft itu buah karya seabad lampau nampak dari warnanya yang monoton dan kurang variasi. Menutup nostalgia kami menyisir jalan setapak hutan pinus pinggiran kota. Sesekali keheningan pecah oleh genta yang melilit leher anjing penggembala.


Pict5 Dapur keluarga di rumah museum Lyutov

Koprivshtitsa memiliki enam rumah-museum. Menyambangi separuh darinya dalam sehari kunjungan rasanya memadai. Apalagi baik museum arsitektur maupun museum perjuangan telah terliput. Meski demikian, sehari tentu teramat singkat untuk mengapresiasi pusaka sebuah era. Rumah Oslekov, rumah Kableshkov, rumah Lyutov; sama-sama unik sekaligus artistik. Masing-masing menyimpan ornamen dan dekorasi yang variatif.

Di luar ragam detail yang saling memperkaya itu ada sejumlah patokan yang bisa dijadikan panduan. Gudang penyimpan perkakas dan bahan pangan berada di lantai bawah. Ruang tamu di lantai atas diperindah langit-langit kayu berukir motif matahari, jendela kaca besar mendominasi sisi depannya. Seluruh dinding yang menghadap ruang tamu ibarat kanvas besar. Lukisan warna-warni berpesta meriah di
permukaannya. Seluruh pintu kamar disekat dengan kaca. Di seberangnya pengunjung diajak mengecak cita rasa kehidupan abad XIX. Ada kamar wanita, kamar untuk tamu, kamar kerja. Yang paling berkesan bagi kami adalah dapur dan perapiannya. Sendok, ketel, teko, belanga, tempayan, periuk, nyiru; berjajar rapi. Sebagian di atas meja kayu, sebagian di rak kayu.

Apa buah tangan dari Koprivshtitsa? Saya cemburu dengan upaya Bulgaria merawat masa lalunya. Di tiap rumah-museum selalu terlihat keseriusan. Ibu-ibu tua menepis debu di sofa dengan kemoceng. Di museum lain mereka menghalau gurat-gurat di kaca. Dedikasi terbaca dari raut mukanya. Sejarah ternyata bisa dikenali lewat perabot rumah tangga sederhana, bukan melulu perihal pahlawan. Seabad lampau itu cuma sejarak beberapa depa.

Masa lalu bisa begitu romantis bila berakar di sanubari orang biasa, jika disadari milik bersama. Koprivshtitsa terletak menyimpang 20km dari jalan arteri Sofia – Laut Hitam. Tak jauh dari pertigaan itu
sebuah billboard tumbang. Tiang besinya diremuk karat. Billboard itu bukan sembarangan. Berturutan terlukis tampak samping wajah Lenin, Stalin, Krushchev, Brezhnev. Pasca revolusi mereka bukan lagi dewa. Masa lalu Bulgaria bersama mereka adalah masa represi. Masa-masa itu hendak diusir dari memori.

Koprivshtitsa, akhir Mei 2001
Sangatta, 23-April-2002

Tagged as: , , , , ,

Santoso is
Email this author | All posts by Santoso

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.