Pentas KRLK di Sangatta
By Santoso • Jun 21st, 2006 • Category: New Article
Bisa memanggungkan Leo Kristie di Sangatta dengan formasi lengkap itu sebuah
mimpi lama yang menjadi kenyataan. Layaknya mimpi, saya dan beberapa
LKers di sini sempat cemas menjelang hari-H. Tidakkah pentas di sini
justru akan mengecewakannya? Jangankan buat si om, saya yang sudah 10
tahun mukim di Sangatta pun hanya tahu peminatnya di kitaran rekan-rekan
kerja. Itu sebabnya dari awal kami memilih tempat pentas yang tidak
kelewat besar, kira-kira seukuran ruang pameran.
Ruang ini sebuah ‘recreation hall’ camp perusahaan yang rerata penghuninya
lulusan S1. Dengan publik yang terbatas dan terseleksi, kami harapkan akan ada
apresiasi bagi pentas si om.
Proposal yang jauh hari diajukan baru di-acc hanya 2 pekan menjelang
tanggal pelaksanaan. Tepatnya, Jum’at pagi 5-Mei. Go ahead? Saya
sempat usul ke Candra (ketua panitia) kemungkinan untuk mundur barang
1-2 pekan. Belum lagi anggaran yang di-iya-kan hanya separuh dari yang
diajukan. Sempat saya mengontak Ketua Dewan Syuro Lkers (Bung Adi)
menanyakan siapa yang bisa diminta jadi penaja (sponsor). Sabtu pagi,
6-Mei saya berangkat cuti. Candra dan kawan-kawan terus mematangkan
acara. Minggu, 14-Mei, petang saat mendarat di Tg. Bara (bandara
perusahaan) nampak salah seorang panitia yang menjemput tamunya. Saya
tanyakan, “Piye rencanane?” “Terus jalan mas, tetap tanggal 20-Mei
hanya tempatnya pindah ke GOR!” Wah edan tenan!
Senin, 15-Mei, pagi setiba di kantor dan membuka email ada posting
pendek dari Candra: “Mas .. tolong diberi judul ‘Berbagi Pengalaman
Jalan ke ….’ untuk ditulis di poster”. Apa lagi ini? Semua baru
jelas setelah saya buka posting lama ketua panitia berlampiran rincian
tugas. Saya yang semula ingin ‘enak-enak’ nunggu si om pentas diberi
tugas membuat presentasi jalan-jalan. Membuat dan menyiapkan presentasi
hanya dalam 5 hari? Saya tanya ke teman sebelah meja, “Siapa jadi
pembicara safety meeting besok?” Katanya, “Sampeyan Pak .. pas safety
meeting kemarin sebenarnya mau dilompati tetapi teman-teman bilang
presentasi pak San sudah siap.” Asal tahu saja, setiap Selasa di
departemen saya ada safety meeting dengan presenter bergiliran sesuai
urutan abjad. Alias waktu untuk menyiapkan materi yang ditugaskan
panitia praktis hanya 4 hari!
Selasa, 16-Mei, sore, untuk pertama kali saya ikut meeting panitia. Di
situ pula saya baru tahu bahwa event ‘Bangkit Negeriku’ dibesarkan.
Dari sehari menjadi dua hari. Pengisi acaranya juga tambah banyak. Ada
pameran photo, pentas tari dan musik tradisional, presentasi dari Pak
Endo Suanda, pameran tektil dengan pewarna alami, dan pentas KRLK.
Selama saya cuti panitia berhasil menggaet beberapa sponsor dan pengisi
acara tambahan. Meeting selesai sekitar jam 19.00. Selang sejam ketua
panitia sudah menjemput untuk mengajak siaran di radio setempat
mempromosikan ‘gawe’ yang akan digelar. Resminya saya mewakili
‘indobackpacker’ tapi justru lebih banyak ngomong soal Leo, terutama
background lagu-lagunya.
Rabu (17/5) dan Kamis (18/5) saya ribet menyiapkan materi ‘Sumba’.
Akhirnya bahan presntasi ‘Sumba’ rampung seusai Jum’at-an. Ini mundur
setengah hari dari yang saya targetkan. Jum’at (19/5) sekitar jam 18.00
bersama rekan yang ditugaskan mendampingi personil KRLK kami menyambangi
rombongan si om di baraknya. Yang terbuka pintunya hanya kamar Sisil
dan Frida. Kamar Otte, Lilik, dan Leo tertutup. “Om Leo masih tidur,”
kata Firda. “Nanti acara (makan malam) jam berapa?” tanya Sisil.
“Sekitar 19.30, tapi fleksibel saja wong bukan acara resmi,” sahut kami.
“Pak .. mungkin saya nggak ikut karena saudara saya akan ke sini.”
(Tentang kerabat Sisil ini sudah saya singgung di posting sebelumnya ‘Si
Om Jadi Anak Manis’). Tak berapa lama kerabat Sisil datang dan ternyata
kami saling kenal. Sambil merintang waktu saya mampir ke barak teman
pendamping KRLK ini (baraknya bersebelahan dengan barak rombongan si
om), nonton TV sekalian cek-cek berita terbaru di situs chessbase.com.
Sekitar 19.30 kami kembali ke barak si om. Nampak Lilik ngobrol dengan
2 teman (yang belakangan kami ketahui teman SMA-nya di Magelang) di
teras. “Gimana pengalaman naik casa?” tanya kami seusai berkenalan.
Tak berapa mas Otte ke luar kamar rapi. Kami berkenalan, pertanyaan
casa kami ulang, lalu larut dalm obrolan panjang. Mas Otte yang sudah
20 tahun bergabung dengan si om bisa dianggap arsip berjalan 2/3
perjalanan Konser Rakyat. Ingatannya langsung nyambung saat saya
ingatkan pentas di Gelanggang Mahasiswa UGM Juni(?) 1987. “Benar mas,
habis dari shooting di TVRI Yogyakarta yang saat itu direkturnya
Ishadi,” jelasnya. Tengah asyik ngobrol si om keluar kamar. Setelah
bersalaman kami tanyakan, “Bagaimana om siap berangkat sekarang?” Untuk
acara makan malam Sisil tak jadi absen.
“Om .. jadi ke gedung kita?” tanya kami setelah si om usai memasangkan
safety-beltnya. Saya mengingatkan karena di saat makan malam si om
sempat menyinggung ingin ke gedung pertunjukkan. “Oke,” jawabnya
pendek. Kalau mengikuti jadual rombongan si om mestinya naik casa sore
dari Balikpapan ke Tanjung Bara. Karena di penerbangan casa siang ada
banyak seat kosong, jadilah rombongan mendarat di Tg. Bara tengah hari.
Ini blessing in disguise karena rombongan tak terlalu capek menunggu di
Balikpapan dan bisa beristirahat. Siang tadi si om sudah melihat
gedung. Agaknya ia ingin memastikan lagi. Asal tahu saja, jarak dari
barak si om ke gedung sekitar 13km. Jalan 13km itu didomiasi kawasan
hutan yang sudah dijarah perambah liar. Di gedung, sembari cek-cek
sound mas Otte mendemokan 3 lagu. Si om sendiri nampak kelelahan,
bersandar di kursi ia tidur-tidur ayam.
Part 2 Kenapa Bukan Radja, Samson dan Peterpan?
Sejak publikasi resmi panitia didistribusi ke seluruh pemilik email, ada
banyak posting ‘japri’ masuk ke mailbox. Semua terkait dengan pentas om
Leo. Ada yang pesan lagu ‘Komedi Badut Pasar Malam’; ada yang
menanyakan ‘mas di mana membeli kasetnya, apa sampeyan masih punya dan
bisa dipinjam?’; ada yang membalas dengan gaya posting di milis yakni
ditutup dengan potongan syair si om. Ah betapa menyenangkannya.
Ternyata di lingkungan kantor yang kenal (lagu) om Leo ada barang 10-an!
Memang di antara 10 orang itu tidak ada yang ABG, tapi pengakuan
implisit lewat ‘japri’ itu sungguh kabar baik.
Di sisi lain, bung Candra justru kebagian pertanyaan elementer. Mengapa
om Leo diundang? Mengapa bukan Radja, Samson atau Peterpan? Yang
bertanya umumnya ibu-ibu. Bung Candra memforwardkan ke saya disertai
pesan, “Bisa disiapkan jawaban untuk FAQ ini?” Saya balas spontan,
“Kalau Radja bukan pentas, tapi hanya karaoke! Begitu musik memainkan
intro Ian Kasela tinggal menyodorkan mike ke penonton yang otomatis
menyanyi. Samson? Ah .. dia kelewat kuat. Sedang Peter Pan anak-anak
abadi, sementara acaranya untuk yang sudah akil baliq-:).”
Sabtu (20/5) pagi ‘Bangkitlah Negeriku’ dibuka molor 30 menit dari
jadual. Di halaman parkir ada banyak sepeda motor milik anak-anak SMUN
Sangatta. Saya berharap, moga-moga nanti malam pas pentas om Leo jumlah
motor yang diparkir akan bertambah. Junlah penonton yang membawa motor
itu ternyata tak sebanding besarnya gedung. Saat tari Dayak dimainkan,
disusul musikalisasi puisi oleh teater SMUN Sangatta, penonton hanya
pada kisaran seratus. Di deret belakang, beberapa personil panitia
mulai risau. “Aku tak peduli tak ada yang nonton pagi, tapi kalau si om
manggung di depan orang seperti ini ya kasihan,” kata salah dari mereka.
“Ya .. sambutan penonton sangat mempengaruhi mood penyanyi di atas
pentas,” ingat yang lainnya. Yang lain malah mau langsung mengambil
action, “Mumpung masih ada sisa waktu, siapa yang bisa diminta
mengerahkan massa?” Wah kok jadi kaya kampanye pilkada!
Dari awal panitia sadar bahwa ‘Bangkitlah Negeriku’ bakal kurang
menyedot penonton. Masyarakat Sangatta itu konsumtifnya luar biasa.
Jangan heran jika melihat timpangnya kondisi jalan dengan mobil-mobil
yang melintas! Jangan pula terkesima melihat tingkah orang-orang
Sangatta saat ‘tersesat’ di mal-mal Balikpapan atau Samarinda.
Ujung-ujungnya bisa diduga, acara yang melibatkan ‘rasa’ dan ‘pikiran’
kurang mendapat tempat. Pameran rock art National Geographic Indonesia
akhir Januari lalu, sebagai misal, hanya dihadiri publik terbatas.
Padahal itulah acara ilmiah-populer pertama yang pernah digelar di sini!
Siswa-siswa sekolah yang wajib mencari tambahan pengetahuan pun hanya
segelintir yang memanfaatkannya. Sebaliknya acara musik di lapangan
terbuka selalu banjir penonton. Masalahnya adalah bila bukan
‘oang-orang aneh’ yang mau capek-capek membuat acara cukup serius
seperti ini lalu siapa yang akan memulai?
Saya hanya mengikuti acara pembukaan 30-an menit lalu minta diri. Bahan
untuk presentasi ‘Timor’ baru rampung 1/3. Sisa waktu mesti
dimanfaatkan untuk mengerjakannya di rumah. Jarak rumah dengan gedung
hanya 10 menit bermobil/bersepeda motor. Waktu KRLK melakukan check
sound sekaligus gladi resik saya masih terpaku di depan komputer.
Kira-kira 5 menit seusai mandi ada teman dari Bontang menghubungi. Di
balik telepon ia menanyakan apakah saya sudah membaca catatan jalannya
(ia 3 pekan berselang ke Mesir). Bukankah teman ini juga pecinta LK?
Langsung saya todong, “Mau nonton om Leo lengkap manggung di sini jam
20.00? Kalau berangkat sekarang dari Bontang masih cukup waktu, nanti
bisa bermalam di rumah.” Teman ini balik bercerita, “2003 lalu aku
mengundangnya pentas di PKT. Latihannya di rumah. Ia ditemani
orang-orang lokal setelah berlatih 4-5 kali.” “Gimana ceritanya kok
bisa ‘nanggap’?” “Yang menghubungkan Taufiz Rahzen .. dia bilang ‘coba
hubungi om Leo yang (saat itu) sedang di Tenggarong’”. Teman ini dengan
Taufik Rahzen sesama menginduk di TK UGM, hanya beda angkatan barang 1-2
tahun. Ceritanya klop dengan cerita si om saat ditanya panitia kapan
terakhir kali ke Kalimantan menjawab ‘Erau 2003′. Karena tak bisa
nonton teman ini hanya titip salam buat om Leo. Yang menggembirakan
dari ceritanya, di Bontang ternyata ada komunitas penggemar LK meski
tidak formal dan (sepertinya) belum terekrut dalam milis.
Selewat maghrib, suara ‘tes .. tes .. 1-2-3′ dari speaker kian sering
terdengar dari rumah. Tak selang lama menyusul suara bising dari
panggung ‘live’ mendendangkan lagu-lagu Iwan Fals. Saya hapal sekali,
pasti itu dari pengamen yang sekilas suaranya mirip Iwan. Kedua sumber
suara seolah bersaing tak mau kalah keras. ‘Tes .. tes’ kemudian
beralih pemberitahuan dari penyelenggara turnamen volley untuk seluruh
peserta pertandingan. Sedang yang lagu-lagu Iwan merupakan ajang
promosi Telkomsel. Saya langsung nglokro (lemas). Belum kekhawatiran
jumlah penonton konser om Leo teratasi ada 2 rival yang punya magnet
lebih kuat untuk menarik massa!
Part 3 Mengalirnya Lagu, Mengalirnya Kisah
Sekitar 19.30 saya berangkat ke gedung ditemani istri dan anak. Cemas
saya mereda melihat jumlah motor-mobil yang diparkir. Ah lumayan, batin
saya melihat ada cukup orang di dalam gedung. Sementara istri dan anak
keliling melihat-lihat photo dan tekstil yang dipamerkan, saya ngobrol
ringan dengan sesama panitia. Sesekali saya mendekat ke panggung, yang
saat itu diisi 2 pemusik tingkilan, untuk mengambil gambar.
Rombongan si om datang jam 20.00 lewat 10-an menit. Om Leo masuk paling
depan memakai kaos-celana serba hitam bersarung kain tenun Sumbawa(?).
Di belakangnya berturut-turut Frida, Sisil, Lilik, dan mas Otte. Telat
10 menit bagi KRLK bisa dihitung ‘on time’. Ini kejutan pertama. Saya
ikut masuk ke ruang tunggu menemani mereka. Karena ruangan ber-AC
buru-buru om Leo mengeluarkan gitarnya. Sekilas saya perhatikan:
pakaian seluruh pemain terlihat rapi! Lagi-lagi surprise. Firda sibuk
menata teks urutan lagu-lagu yang akan dinyanyikan ke dalam folder lalu
menuliskan judulnya besar-besar dengan spidol. Sisil ke luar ruang
tunggu, ke ruang pameran/pentas menemui kerabatnya. Sementara mas Otte
dan om Leo bergantian meneguk penambah energi. Jika mas Otte memegak
botol dengan tangan telanjang, si om mengambil kain untuk membungkus
botol yang dingin. “Takut mati rasanya nanti belum hilang,” kata Firda.
Di ruang pameran/pentas penonton bertambah banyak. Bos yang pecinta si
om hadir sekeluarga. “Nanti Leo mau nyanyi berapa lagu?” tanyanya.
“Menurut bocoran dari Candra ada sekitar 20-an,” sahut saya. Panggung
telah kosong lantaran pemusik tingkilan sudah menyelesaikan tugas.
Selang sesaat Candra memberi aba-aba, “Mas .. tolong dimulai duduk
lesehan di depan panggung agar penonton lain mengikuti.” Bukan saya
yang memulai tapi malahan bos. Bos sekeluarga maju, langsung mengambil
tempat duduk. Segera saja hal serupa diikuti oleh seluruh penonton.
Ada rasa haru menyusup melihat kepatuhan itu. Ternyata orang kita bisa
juga diatur dengan cukup diberi teladan tanpa perlu dicambuk!
Lampu ruang pameran dipadamkan. Kini tinggal sepasang lampu sorot
mengarah ke panggung. Panitia yang kebagian tugas urusan pementasan
berlari untuk menyusupkan mike ke bawah tong. Dari ruang tunggu, om Leo
dan Sisil jalan beriringan menaiki panggung. Kaki kanan om Leo naik ke
tong untuk menyangga gitar. Kontan para mat kodak, baik perorangan
maupun yang tergabung dalam wadah penggemar foto perusahaan, mencari
sudut bidik yang nyaman. Demikian halnya 3-4 orang yang hendak merekam
secara audio-visual. Agak aneh bahwa yang pernah disinggung di
pementasan di World Bank Maret lalu tidak terjadi. ‘Manajemen’ si om
membiarkan saja dan tidak memberikan ‘teguran’.
Lebih dari 4x tes baru muncul tanda bahwa strom di mike bekerja.
“Permisi, selamat malam Sangatta,” sapa si om pada semua hadirin.
Konser dibuka oleh intro petikan gitar. Tangan kiri om Leo yang
mengelus dawai menyentuh fret terakhir, fret di pinggiran lubang gitar,
kemudian ritmis bergerak ‘turun’. ‘Tembang Lestari’ mengalun lewat
jalinan suara om Leo yang menggelegar dan lengkingan suara Sisil. Lagu
romantis ini rasanya memang lebih cocok bila dibawakan duet ketimbang
solo.
Dengan pengantar, “Saya ajak Anda ke daerah pantai utara Jawa Timur,
melewati Bondowoso” si om membuka lagu dengan siulan. Selanjutnya ‘lay
di lay suara bedug di langgar …” Mengalirlah ‘Umi Muda Serambi Tua’.
Tentu saja lagu ini bisa menjadi arsip sejarah. Bondowoso(?) yang
dipotret om Leo pasti sudah banyak berubah dalam tempo 3 dasawarsa.
Lagu ke-3 dan ke-4, Nyanyian Kaum Pemukiman dan Bulan Separuh Bayang
dilagukan secara medley. Di antara kedua lagu itu saya memutar panggung
dari sisi kiri kemudian ke kanan sambil mengintip di balik jendela
bidik. Seorang teman kantor yang juga penggiat seni bilang ke saya,
“San .. sayang ya kamera kok kurang bisa menangkap dan mengabadikan
suasana.” Saya merasa ini ucapan jujur dan tulus dari seseorang yang
bukan menggemar om Leo.
Selanjutnya saya ke belakang, mencoba mengamati panggung dengan
mengambil jarak. Saya lihat bung ketua panitia penuh semangat selalu
mengikuti lagu yang dinyanyikan di panggung! Sementara nyaris sejajar
dengan saya pendiri wadah peminat photo di sini senang menyiapkan
‘pusakanya’. Tripod dipasang untuk menopang lensa tele. Lagu ke-4
berakhir, mas Otte naik panggung. Lagi-lagi surprise, om Leo dan mas
Otte tidak perlu bisik-bisik. Harmonika mas Otte sudah memberi komando
agar ‘Hitam Putih’ segera dimainkan. Lagu pendek yang berkisah bahwa
patriotisme itu bisa tertanam di setiap dada anak bangsa ini disambung
lagu ‘wajib’ om Leo. Om Leo memberi pembuka, “Berikut kehidupan di
sepanjang rel, kisah pak guru tua yang membuka kedai kopi.”
Saya lirik jam di dinding. Ah … sudah beberapa menit lewat dari pukul
21.00. Jadual tidur anak saya sudah tiba. Saya lihat ia masih betah
melek, walau sudah nampak tanda-tanda mengantuk, mungkin karena beberapa
sebayanya masih lari-lari. Saya pamit dulu mengantar istri dan anak
pulang. Ketika tiba di tempat parkir, dari dalam gedung terdengar suara
om Leo menirukan dengus lokomotif kelelahan ketika memasuki emplasemen.
Part 4 Hitam Hijau Keperakan Sangatta
Ada barang 10-an menit saya meninggalkan gedung. Sampai di tempat
parkir lagi, kereta KRLK yang tadi lokonya mendengus kelelahan tengah
membelah perkampungan Kiara Condong. Sayup-sayup terdengar bagian
refrainnya, ” … oh oh bilakah mereka lambaikan buku dan pena di sana
…” Begitu menginjak gedung, interludenya sedang dimainkan lewat biola
Liliek. Seumur-umur baru sekali ini saya mendengar konser KRLK
dilengkapi biola. Terasa lebih segar (dalam penggarapan) dan lebih
menyayat (dalam suasana).
Setelah ‘Kiara Condong’ lagu demi lagu mengalir lancar, lagi-lagi tanpa
bisik-bisik di antara personil. Di atas pentas sempat muncul problem
dari sound system yang memang kelas Sangatta-:). Untungnya seluruh
personil KRLK bisa memaklumi dan tidak hilang mood. Seluruh lagu yang
dipentaskan saya ingat sayang tidak demikian urut-urutannya. Mungkin
saja lantaran keasyikan mencoba kamera baru-:). Kendati fokus ke uji
kamera (sudah ada yang dijatah tugas merekam dengan video), sesekali
mulut ini komat-kamit menirukan tembang yang dilantunkan.
Dari album perdana om Leo memberi tambahan 2 lagu, Lengganglenggung dan
Nyanyian Fajar. Dari album kedua dipilih Nyanyian Malam, Jerami,
Memorial Sudirman (dalam aransemen baru versi album ‘Di Dereta Rel-rel’)
dan Nyanyian Pantai. Yang terakhir ini benar-benar syahdu. Interlude
panjang tiupan flute diganti gesekan biola yang lebih situasional.
Dalam obrolan saat makan malam di rumah bos sempat saya lontarkan
pengaruh KRLK di akhir 70-an. Saat itu di tiap kelurahan, terlebih
ketika menyambut 17-an, selalu digelar lomba (istilah waktu itu) folk
song. Dalam ajang semacam ‘Nyanyian Malam’ selalu dijadikan lagu wajib.
Kata mas Otte, lagu wajib yang lain ‘Nyanyian Pantai’. ‘Nyanyian
Pantai’ memang kontekstual dengan masyarakat Sulawesi yang sebagian
berbudaya laut.
Dengan sisipan suara biola, 2 lagu lain dari album ‘Tambur Jalan’
terdengar agak aneh. ‘Komedi Badut Pasar Malam’ menjadi lebih menonjol
irama doger monyetnya, tapi intro ‘Sayur Asam Kacang Panjang’ nyaris
saya tidak kenali. Dari ‘Tanah Mereka’, album KRLK paling kondang dan
berulang kali direkam ulang, om Leo mencomot ‘Kereta Laju’ dan
‘Gulagalugu’. Agak mengherankan bahwa trade mark konser-konser
belakangan, seperti ‘Pohon Tua Ranting Kering’ dan ‘Kaki Langit’, justru
tidak muncul. Pada Gulagalugu, potongan lagu nelayan Madura ‘Tonduk
Majang’ menjadi jatah biola Liliek. Penggantian syair ‘gulagalugu suara
nelayan’ dengan ‘tanah airku Indonesia’ agaknya sudah dibakukan oleh si
Om dan naga-naganya lagu ini akan dijadikan ‘lagu penutup’ setiap
konser. Kalau tengara ini benar, bisalah ini bisa dianggap langkah
maju. Tiap penyanyi atau kelompok musik seyogyanya punya lagu wajib
untuk mengawali dan mengakhiri konser yang diambil dari albumnya
sendiri. Soneta, sebagai misal, (dulu) selalu membuka show dengan ‘La
illaha ilallah’ dan menutupnya lewat “Insya Allah’.
Saat ‘Nyanyian Fajar’ berkumandang, saya mencoba mangambil gambar om Leo
dari samping kanan. Di sana ada teman yang sehari sebelumnya booking
lagu ‘Tambur Jalan’. “Nonton dari awal?” saya ingin tahu. “Ya .. tapi
sempat terputus ngantar istri minta pulang.” Selang sesaat keluar
komentarnya, “Gara-gara Sisil telat mlebu (terlambat masuk) langsung
dilirik om Leo,” katanya. Teman ini ternyata mengikuti gerak-gerik di
panggung dengan sangat teliti. Meski bukan publik om Leo, sportivitas
penonton tetap terjaga. Aplaus selalu pecah di setiap akhir lagu dan
ada lebih dari 150-an orang bertahan hingga lagu terakhir. Semua duduk
takzim, sopan, dan tak terdengar komentar tak semestinya seperti
lazimnya di pertunjukkan dangdut. Nampak seorang ibu tekun menyimak
hingga lagu terakhir sementara 2 putrinya tidur di pangkuan. Belum lagi
6-7 anak yang duduk manis di kaki panggung di 3-4 lagu terakhir yang
tentu menyemangati om Leo.
‘Gulagalugu’ batal jadi lagu penutup. Didaulat penonton, mereka pun
naik pentas lagi. Tiupan flute mas Otte yang iramanya sangat dikenal
itu mampu menciptakan koor dari penonton di barisan depan, “ku ku ku ku
ku ku ku ku ku ku”. Penggal canon ‘Burung Hantu’ ini mengawali ‘Selaksa
Bunga Rumput’. Lagu usai, KRLK turun panggung, lagi-lagi penonton minta
tambah. Penonton separuh baya yang sejak awal khusyuk mengikuti dari
sudut kanan panggung nyeletuk, “‘Salam Dari Desa’ belum ya belum mau
bubar.” Walau tak mendengar celetukan itu, KRLK pun memainkan lagu yang
(kemudian) temanya didekati oleh ‘Siti Zulaika’ milik Franky & Jane itu.
Penonton puas? Tentu saja belum! Ada sekelompok penonton berteriak,
“Silmon Blues.” Tak mau mengecewakan om Leo naik pentas sendirian.
Katanya, “Sebuah kisah tentang seseorang yang hilang di ibukota.”
Selewat ‘Silmon Blues’ masih ada yang meminta ‘Mina-minkum’. Mungkin
gara-gara kemarin malam di-demo-kan mas Otte. Ketimbang nanti
bolak-balik naik lantaran rengekan penonotn, om Leo punya cara jitu
untuk mengakhiri konser. Berduet dengan Sisil ia mainkan ‘Catatan Jalan
Surabaya’. Dengan nama tempat sesudah ‘tidur melipat kaki’ yang bisa
diubah-ubah, lagu ini menjadi sarana om Leo mengakrabkan diri dengan
penonton. Di sini ‘Kranggan dan Gubeng’ berubah menjadi ‘mess Tanjung
Bara’. Lagu ini padanannya lagu yang digunakan penyanyi (barat) untuk
memperkenalkan seluruh musisi pengiringnya. ‘Catatan Jalan’ langsung
disambung ‘Sayang Disayang Oh Jakarta’. Oleh si om syair awal diubah
‘Hijau hitam keperakan oh Sangatta’. Kena juga ungkapan itu! Hijau
untuk hutan, hitam mewakili batubara, keperakan itu gedung baru hasil
pemekaran kabupaten baru.
Part 5 Presentasi Perjalanan Ke Sumba
Akhirnya pentas rampung sekitar 22.30. Sebagian besar penonton bubar,
sebagian kecil tetap tinggal. Yang tinggal, sudah bisa diduga, ada yang
ingin ngajak pementas bertukar barang 1-2 patah kalimat atau sekadar
photo bersama. Untuk kota sekecil Sangatta (pemukimnya sekitar 10.000
orang) kedatangan artis ibukota bisa ditamsilkan seperigi air jernih di
kepungan air rawa kecoklatan. Artis ibukota hanya datang jika penanggap
ada maunya, semisal pilkada atau ritual 17-an! Usai menanggapi para
fans dadakannya Sisil ngumpul dengan keluarganya, sementara Liliek dan
mas Otte ngobrol dengan beberapa panitia. Om Leo sendiri belum sempat
turun pentas. Ia dikerubut 3-4 orang. Ada Pak Endo Suanda, ada 2
wartawan harian lokal (propinsi) dan satu orang lagi yang tak saya kenal
tetapi terus-menerus mengarahkan handy cam-nya.
Usai urusan dengan tamunya barulah bos sempat menyalami om Leo.
“Selamat, pak Leo” “Matur nuwun,” kata om Leo dalam bahasa Jawa dengan
suara pelan. Bos dan om lalu larut dalam bincang-bincang santai,
sementara panitia seksi pementasan ribet membongkar sound system. “Om
.. Agustus mau main di mana? Dulu kalau ingin nonton KRLK kan tinggal
ke TIM setiap Agustus,” tanya seseorang. “Mungkin di Surabaya(?) tapi
juga belum pasti.” “Pak Leo kita undang lagi saja tahun depan,” kata
bos kepada beberapa panitia yang bergerombol di sana. “Acara seperti
ini akan kita rutinkan, coba saya cek dulu 20-Mei-2007.” Bos memeriksa
dulu di hp-nya lalu sambungnya, “Wah kok Minggu .. ya malam Minggunya
saja seperti malam ini.” Om Leo menjawab sembari ‘mesam-mesem’ melepas
sarung Sumbawa yang dipakai membebat celana panjangnya. “Pak Leo suka
ya? Kita hadiahkan saja … ini hasil dari para perajin binaan
perusahaan.”
Di tengah hangatnya obrolan, om Leo mengalihkan pandang ke pintu.
“Monggo Pak Juned, matur nuwun” katanya sambil melambaikan tangan.
Rupanya ayah Sisil memang spesial datang dari Balikpapan dan kini ia
sekeluarga pamit minta diri. Sekarang tiba giliran panitia untuk
potret-memotret-;). “Mas nanti bisa dikirimkan copy-nya ke kami untuk
dokumentasi?” pinta mas Otte ke panitia yang ditugasi merekam
pementasan. “Oke .. kalau lupa tolong ditagih saja lewat SMS.” “Kita
berempat photo ah .. untuk laporan ke Adi dan Lkers Jakarta, biar
laporannya sampeyan (saya) yang nulis” ajak bung Candra. “Om Leo mau
makan malam?” tanya yang ditugasi menemani. Tanpa dijawabpun semua
sudah tahu arahnya-:) Pertanyaan tadi juga berjasa besar menyudahi
potret-memotret. Tidak mahasiswa, tidak juga karyawan, di antara
panitia selalu terselip yang hobby bergaya di depan kamera-:).
Sangatta tak bisa dibandingkan Solo, kota yang tak pernah tidur.
Selewat jam 23.00 Sangatta sudah masuk ke peraduan. Lelap sih belum
tapi sudah tidur-tidur ayam. Om Leo dan Firda yang semobil dengan kami
membuktikan sendiri pembekalan dari bung Adi cs di Jakarta. Sambil
mengorek sejarah om bermusik di masa muda, tatkala ia bergabung dengan
Harry Darsono dan Karim, mata kami awas ke balik jendela menyigi warung
yang masih buka. Warung yang dianggap memadai hanya kedai makanan laut.
Ber-12 kami mengitari 2 meja. Lantaran perut sudah penuh, bersama 2
rekan cewek, kami bertiga cukup menikmati kelapa muda. Usai makam
malam, rombongan KRLK dan yang menemani kembali ke Tanjung Bara. “Tadi
ada beberapa lagunya yang langsung bisa dinikmati,” aku teman panitia
yang selalu kebagian ngurusi panggung dalam perjalanan kembali ke rumah.
Ini satu lagi komentar jujur dari bukan penggemar om Leo.
Ada satu seksi di perusahaan yang tugasnya menemani tamu. Untuk Minggu,
21-Mei-2006, sudah menjadi tugasnya menjamu om Leo. Menurut jadual om
Leo dan rombongan akan diajak Mining Tour. Kata teman, si om lebih
memilih ke Bontang. Sampai jam 10.00 saya masih berkutat dengan materi
untuk presentasi sorenya. Meski mepet saya optimis selesai karena
idenya sudah ada dan tinggal realisasinya ke power point. Harapan saya
listrik di rumah tak mati terkabul! (Perlu diketahui, bahwa listrik di
sini padam di Sabtu dan Minggu siang sudah sangat biasa). Sekitar jam
11.00 saya ke gedung, mengintip presentasi Pak Endo Suanda. Selain
materinya menarik, slide yang disajikan Pak Endo sangat atraktif. Lewat
paparan ini yang tertata rapi di benak pengunjung seperti mesti ditata
ulang. Bahwa tari itu tidak mesti berupa gerakan, bahwa yang kita
persepsikan musik tradisional di tempatnya justru disebut modern.
Candra sempat bisik-bisik, “Ini juga satu jawaban mengapa kita
mengundang KRLK.” Sayang sekali materi yang gurih itu hanya saya cicipi
kurang dari 30 menit. Saya mesti siap-siap setelah Pak Endo.
Sekitar 14.10 saya kembali ke gedung. Pak Endo sudah merampungkan
tugas. Kini di layar diputar film dokumenter pencarian Sharbat Gula,
gadis pengungsi Afghanistan yang muncul di sampul National Geographic
1984. “Siap sekarang?”, tanya seorang panitia. Waktu untuk saya
dijatah antara jam 15-17. Kalau bisa maju selesainya akan lebih awal
sehingga panitia tidak kemalam untuk bongkar-bongkar.
Presentasi ‘Perjalanan ke Sumba’ saya awali sekitar 14.35. Total ada 49
slide. Perkirakan saya selesai dalam 20 menit ternyata molor. Di acara
tanya-jawab santai Pak Pindi, dosen Seni Rupa ITB, berkomentar, “Mas ..
presentasi jalan-jalan kok mirip membuat skripsi.” Bukan maksudnya
ng-ilmiah, saya hanya mencantumkan kutipan beserta sumber. Sumbernya
sendiri ada yang dari Kompas terbitan Oktober 1980! Di kesempatan ini
Pak Endo pun tertarik membagi pengalamannya bermotor dari Cirebon(?) ke
Bali. Ketika tanya jawab masih hangat jam sudah menunjuk 16.15.
“Bagaimana dilanjut yang Timor?”, tanya moderator pelan. “Lain kali
saja mesti bahannya sudah siap.” Presentasi saya ditutup sekitar 16.30.
Bongkar-bongkar dimulai dan selesai sebelum maghrib. Acara 2 hari
berjalan mulus. Malam itu, setelah begadang bermalam-malam, seluruh
panitia bisa melunasi hutang tidurnya.
Part 6 Sangatta Mining Tour
Mengapa bos membooking KRLK untuk setahun ke depan? Jawabanya baru
jelas Senin, 22-Mei, ketika membuka email. Ada posting berisi ucapan
terima kasih kepada seluruh panitia disertai pemberitahuan acara semacam
akan dijadikan ‘calendar event’ perusahaan. Ini sungguh kabar
menyenangkan, acara yang mengedepankan rasa dan pikiran diberi wadah.
Saya jadi ingat sambutan wakil kontraktor pendukung acara ini yang
antara lain mengungkap langkanya acara budaya digelar di sini.
“Mas sudah pulang belum?”, tanya teman di seberang meja. Saya jawab
atas dasar info dari Candra bahwa 4 yang lain sudah berangkat pagi ini
dan tinggal om Leo yang tinggal. Si om tinggal karena memang ditawari
bos bila ingin lebih lama. “Mana photo-photo hasil test kamera?”, tanya
teman yang lain. Teman-teman pun merubung monitor komputer di meja saya
dan komentar mereka pun berloncatan. “Aku nonton dari samping ..
ternyata enak juga lagu-lagunya. Sayangnya sound system kurang
mendukung kalau pas musik digebrak,” aku seseorang. “Pak Leo berapa
umurnya Pak?” tanya yang lain. Setelah saya jawab serta merta keluar
penilaiannya, “Semangatnya nyanyi dan ng-gitar masih 40-an, malah
30-an.” Pujian itu berasaal dari dua teman yang bukan fans Leo walau
nonton sampai usai menemani putra-putrinya yang sudah pulas di
gendongan.
Menjelang istirahat ada undangan dari seksi penjamu tamu untuk menemani
makan siang om Leo. Waktunya, jam 15.00. Ketua panitia yang
memforwardkan pesan itu memberi imbuhan: mohon dimaklumi! Mengapa?
Sudah jadi kebiasaan orang bahwa makan siang itu antara jam 12.00 hingga
13.00. Santap siang dengan om Leo mengambil tempat di warung ikan
bakar. Para pecinta kuliner Sangatta akur bahwa di warung inilah bisa
ditemukan ikan bakar paling enak. Meski kondang, si empunya tetap tidak
‘ngoyo’. Ia bekerja sak madyo khas orang Jawa dan tak buka malam hari!
Yang ikut makan siang hanya 6 orang. Dari acara inilah muncul cerita
bahwa kemarin rombongan si om di Bontang Kuala hingga 18.30. Rombongan
sempat mampir Sangatta Lama membeli daging payau (sejenis rusa) lengkap
dengan tanduknya.
Usai makan siang ada permintaan mendadak dari penjamu tamu, “Om Leo
ingin Mining Tour, siapa yang bisa ngantar?” Dari 5 orang di situ hanya
Candra yang punya akses ke pit. Alhasil jadilah kami berdua memandu om
Leo. Untuk ke tambang si om mau tak mau mesti ‘ikut prosedur’, pakai
safety boot, helm, safety glass, dan safety vest. Peralatan standar
semacam memang dipinjamkan ke tamu yang akan ke tambang. Saat si om
sudah siap layaknya penambang, Candra memberi aba-aba, “Sebentar om
diphoto dulu.” Kata yang diphoto bersama si om, “Wah .. kita ini
dikerjain om.”
Kami mengantar om Leo putar-putar tambang hingga hampir maghrib.
Keinginan om Leo berhenti di dekat truk raksasa terpenuhi setelah ada 2
truk besar rehat karena ad problem dengan shovel. Berkali-kali si om
diphoto di dekat ban-ban berukuran raksasa. Saya ceritakan bahwa 1 ban
harganya USD30,000! Dulu sebanding dengan harga Kijang baru. Kebetulan
sekali saya mengenal si operator truk sehingga si om pun sempat tanya
ini-itu. Dari tambang kami ajak om Leo ke Aquatic, tempat kumpul para
pecinta olahraga laut dan para pengail memasang umpan. Sayang kedai di
sana tutup setiap Senin malam. Akhirnya kami ke mess hall, ruang makan,
tak jauh dari barak om Leo. Kami mengawani karena yang ditugasi
menemani si om lagi ada kumpul-kumpul sesama alumni Unpad. Sekitar jam
9 malam kedua teman kembali. Ber-5 kami ngobrol sejenak, serah terima,
dan pamit pulang. Teman itu pula yang esok paginya mengantar om Leo ke
bandara dan menemani hingga Balikpapan.
Bagaimana dengan CD yang saya pesan? Bung Adi pun menanyakan hal serupa
saat saya telpon Minggu (21/5) pagi, “Piye CD-mu, wis diwenehke durung?”
Di acara makan malam (19/5) di rumah bos Firda bilang, “Pak CD-nya sudah
saya siapkan.” Di gedung, malamnya, ia cerita lagi, “Sewaktu di Jakarta
laku beberapa buah, sekarang tinggal 4, salah satunya untuk bapak.
Kalau nggak cepat diambil nanti kedahuluan orang.” Terus terang, saya
kaget mendengar keterangan ini. Kewajiban sudah ditunaikan, tinggal
menunggu hak pun masih harus rebutan! Saya baru ketemu Firda lagi di
saat pementasan (20/5). Meminta CD saat dia sedang ribet tentu tidak
etis, apalagi ia menyiapkan segala hal yang terkait dengan om Leo.
Minggu (21/5) Firda baru kembali ke barak malam. Untuk ke Tg. Bara
malam hari, alias pulang-pergi 26km memintas hutan, fisik saya hari itu
sudah terkuras. Jadilah saya titip pesan ke bung Candra yang akan
mengantar esok harinya. Sudah adat di sini bahwa titipan selalu sampai
di tangan yang berhak. Si pembawa titipan tak mungkin meng-usil-i
barang yang dipercayakan padanya, itu sudah kode etik yang mendarah
daging! Untuk memperkuat pesan, saya kirim SMS ke Firda agar CD
dititipkan ke yang mengantar.
Berhasilkan Candra? Senin (22/5) Candra memberitahu lewat email, “..
Firda tidak mau memberikan CD, kecuali langsung ke sampeyan. Aneh.
Mewakilkan pun perlu mendengar suara delegasi dari sampeyan dulu.
Sampai tadi pagi juga. Akhirnya itu CD dia berikan ke Om dan sampeyan
disuruh ambil ke dia ..” Menuruti saran itu, seusai makan siang, saat
beberapa detik berdua dengan si om saya tanyakan, “Om .. ada titipan CD
dari Firda untuk saya?” Si om tanpa pikir panjang membalas, “Nggak
itu.” Malamnya, sebelum yang mestinya menemani si om datang, saat
Candra mencari rokok, saya singgung lagi soal CD. Si om menjawab, “Kan
ada pembagian untuk tiap daerah dijatah sekitar 5 buah.” Bertanya 2
kali tanpa hasil, saya segan mengulanginya. Mungkin memang belum
rejekinya-:). Bung Abing yang menerima CD terlambat 6 bulan mengaku
merasa kehilangan ‘greget’. Bagaimana saya yang ‘mungkin’ baru akan
menerima setelah lebih dari 6 bulan? (tamat)
Salam dari Sangatta
29-Mei-2006
Santoso is
Email this author | All posts by Santoso



