Trekking di Jalan Aspal Taman Nasional Alas Purwo
By Aris • Jun 14th, 2006 • Category: Ekowisata / EcoTourism, Trekking
karena kami di larang untuk bermalam di Plengkung, kami putuskan untuk trekking santai ke plengkung yang berjarak sekitar 9 km dari pancur, alamak trekking di jalan Aspal lagi nih, butuh waktu 3 jam perjalanan, dalam perjalanan kami bertemu dengan biawak, burung merak, ayam hutan… Siang yang panas, saya putuskan untuk berenang di pantai yang indah dan exotic ini, sementara untuk melihat para surfer yang beraksi di Plengkung, terlalu jauh..
Rencana untuk menjelajah taman nasional alas purwo di memory tercepat computer tetap di miliki manusia,masih juga masih tersimpan baik di otak kecil saya. Ya, mimpi ini setelah melihat jadwal libur yang panjang, membulatkan tekad untuk datang dan mengenal lebih dekat tentang Taman Nasional Alas Purwo yang lebih dikenal dengan Alas Purwo saja.
Dalam perjalanan pulang dari kawasan pegunungan Ijen yang memiliki pemandangan yang menakjubkan, juga membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana cara bertahan hidup, begitu melihat aktifitas penambangan belerang yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam.
Kami bermalam di Hostel Anda di jember, dan pagi hari saya dan chipi pisahan dengan kawan-kawan menuju terminal bus jember untuk jurusan Banyuwangi. Tarif nya lumayan Rp. 20.000 sekali jalan, lewat lintas selatan, membelah pegunungan meru betiri, dalam perjalanan lintas hutan meru, banyak penduduk yang meminta-minta uang di setiap tikungan tajam, butuh waktu 3-4 jam perjalanan dari jember untuk sampai di banyuwangi. Benculuk, ini jalur tercepat untuk sampai di Taman Nasional Alas Purwo, tapi karena saya ada janjian dengan teman asal Bandung, Nia namanya, dan belum pernah saya kenal sebelumnya.
Kami janjian ketemuan di kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo di Jl. Ahmad Yani 196 Banyuwangi, saya sekalian membutuhkan sedikit informasi tentang keberadaan Taman Nasional yang berada di Ujung Timur pulau jawa ini.
Taman Nasional alas purwo, alas purwo = hutan pertama, di percaya sebagai cikal bakal hutan di pulau jawa, Taman Nasional ini di tetapkan sebagai Kawasan Konservasi Alam yang merupakan sumber daya alam hayati juga untuk menjaga kelangsungan ekosistemnya, punya luas 43.420 ha masuk dalam dua wilayah kecamatan Tegal Dlimo dan kec Purwoharjo Kab. Banyuwangi.
Dalam penantian lama menunggu bus jurusan Banyuwangi-kali Pait, kami di tawari untuk carter mobil tua, seharga 150.000,- diantar sampai ke RowoBendo, pos penjagaan untuk masuk kawasan Taman Nasional ini, tampa pikir panjang oke sajalah.
Dalam perjalanan, pak sopir yang asli suku Osing, mampir ke Pom bensin membeli 5 liter bensin, lalu mampir ke Toko kelontong membeli 4 liter minyak Tanah! Buat apa pak? Untuk oplosan, wah.. Apakah mobil bisa jalan, katanya bisa.
Dan dalam perjalanan, seorang pria tua, tidak bisa melihat (buta) memberikan sehelai kain yang saya agak sulit membacanya. Katanya untuk jaga-jaga di Hutan Alas purwo, untuk menghormatinya, ya saya terima dengan baik.
Dibutuhkan waktu perjalanan hampir 4 jam lamanya, tentu goyangan mobil tua merk Daihatsu ini, geredek2x, dan ternyata Pak Sopir belum pernah ke rowo bendo, hutan alas Puwo.
Menjelang Malam, minggu 28 may kami akhirnya sampe juga di Pos rowo bendo dan setelah membeli tiket masuk Taman Nasional, Pak Suharto, kepala resort rowo menawari kami bermalam di pos nya. kami memutuskan bermalam semalam di Pos ini. Menjelang malam, sambutan Babi dan beberapa ekor monyet, begitu dekat dengan kami.
Tidak banyak yang bisa di nikmati di Pos ini, ada warung yang menyediakan makan.
Pagi hari senin 29 mei 2006, burung-burung terlihat banyak sekali di sekitar pos, kami trekking pendek ke sadengan, tempat berkumpulnya kawanan banteng jawa, rusa, babi, burung merak,ayam hutan dan burung pemakan bangkai..butuh waktu sekitar 1 jam dari rowobendo, berjarak sekitar 5 km. ketika kami tiba di sadengan yang luas padang savana ini lebih dari 20 ha, tidak banyak terlhat banteng, mungkin kami datangnya siang hari. Pada pagi hari katanya hewan liar yang ada disini lumayan banyak..
Lalu perjalanan trekking di lanjutkan menempuh rute jalan setapak yang di kenal dengan jalur burung berkicau, dalam perjalanan santai ini, kicauan burung-burung terdengar di atas pohon-pohon tinggi, trekking ini menempuh sekitar 5-6 km hingga ke bibir pantai laut selatan lalu susur pantai sunglon Ombo, sampai ke pantai Triunggulasi, tempat tersedianya akomodasi bagi wisatawan yang bermalam dengan akomodasi, disini kami menemukan sekumpulan monyet dan beberapa ekor rusa yang sedang merumput di pinggiran pantai.
Dari triunggulasi, perjalanan di lanjutkan untuk melihat lebih dekat keberadaan Pura Giri selaka, yang di percaya oleh kalangan umat hindu sebagai tempat bersembahyang. Hampir setiap minggu ada yang datang ke pura ini, untuk melakukan kunjungan sembahyang di pura ini, umumnya berasal dari pulau Bali.
Setelah puas memotret di sekitar pura, menjelang siang kami kembali ke rowo bendo.
Setelah Makan siang di warung di pos rowobendo, kami packing dan siap melakukan perjalanan trekking di Jalan aspal menuju Pancur, saya lihat jaraknya 5 km dari pos rowobendo. Perjalanan trekking di jalan aspal, bikin bete, apalagi sesekali ada sepeda motor yang melintas, sepanjang perjalanan, kami menjumpai kawanan monyet dan kadang ada babi yang melintas, menakjubkan untuk saya yang kebetulan menyukai wildlife adventure, walaupun saya tidak suka dengan model trekking di jalan Aspal, 2,5 jam ternyata waktu yang kami tempuh.
Dan, malam ini kami putuskan bermalam lagi di Pos Pancur, pos ini terlihat ramai, apalagi pancur di kenal dengan pos terakhir tempat para pencari wangsit atau untuk bersemedi di Gua padepokan atau di gua istana.
Sore nya saya menunggu sunset di pantai pancur, hmm..hmm.. Ngok-ngok, suara babi yang ternyata banyak sekali di sekitar pos ini.
Malam nya, kami di ajak Gufron, mahasiswa IPB yang sedang melakukan penelitian Macan Jawa untuk safari malam mencari macam di sekitar Batu lawang, malam itu kami sempat bertemu sepintas dengan Anak Macan, agak susah untuk bertemu macan yang lebih cenderung menghindari keberadaan manusia, lalu tengah malam kami bersantai di tepian pantai batulawang, deburan ombak menjadikan suara alam yang indah di gelapnya malam. Menjelang tengah malam, kami kembali ke Pos Pancur, setelah menunggu lama, ternyata tak ada satupun macan yang datang malam ini.
Selasa pagi, 30 mei 2006. karena kami di larang untuk bermalam di Plengkung, kami putuskan untuk trekking santai ke plengkung yang berjarak sekitar 9 km dari pancur, alamak trekking di jalan Aspal lagi nih, butuh waktu 3 jam perjalanan, dalam perjalanan kami bertemu dengan biawak, burung merak, ayam hutan… Siang yang panas, saya putuskan untuk berenang di pantai yang indah dan exotic ini, sementara untuk melihat para surfer yang beraksi di Plengkung, terlalu jauh.. Karena memang ombaknya jauh sekali dari bibir pantai.
Karena sore, dan cape juga trekking di jalan aspal,akhirnya kami bernego untuk minta di antarkan ke pancur dengan sepeda motor milik nelayan yang mencari ikan di sepanjang pantai plengkung.
Saya tidak melihat yang istimewa dari perjalanan ini, karena memang trekking nya di jalan aspal, mau lewat pantai, pasir gotri nya biki sakit di kaki, walapun masih ada lokasi lain seperti Ngagelan, tempat penetasan telur penyu semi alami dan tempat pemeliharaan tukik, tak sempat kami kunjungi, begitu juga beberapa gua di utara pos pancur juga tak sempat kami kunjungi, perjalanan ke alas purwo, selalu menyimpan kenangan tersendiri.
Pagi Harinya, Rabu 31 mei 2006 kami sudah siap packing, dan memutuskan untuk cari tumpangan Mobil Bak milik pengelola Resort surfing jungle camp. Beruntung sekali pagi ini ternyata ada yang lewat dan bersedia memberikan tumpangan kepada kami, sampai di Dam buntung- kali pait.
Dari kali pait, perjalanan kami lanjutkan dengan angkot menuju benculuk tariff nya Rp. 8000,- tampa pikir panjang, kami langsung naik,walaupun awalnya kami kepengen naik truk gerandong, truk asli made in indonesia. Dari Benculuk, sudah banyak Bus Umum jurusan banyuwangi - jember, lalu.., hmm..hmm. Siang hari kami sampai di di jember lagi, dan di lanjutkan dengan Naik Bus Patas ke Surabaya. Di surabaya, saya pisahan dengan Nia dan Chipi, mereka menuju stasiun Gubeng, saya memutuskan bermalam di Rumah yuda di surabaya.
Saya masih penasaran dengan Alas purwo, tapi rasanya akan asik kalau di jajal dengan bikepacking.
Travel tips:
transport
Surabaya - Jember Rp. 40.000
Jember - Benculuk Rp. 15.000
Bus AC Rp. 20.000
Benculuk - kali Pait Rp. 8.000
Kali Pait - Pasar anyar Rp. 30.000 (ojeg)
Pasar Anyar - Rowobendo Rp. 20.000 (ojeg)
Pasar Anyar-rowo bendo, bisa numpang losbak/truk kalau ada yang lewat
Perijinan / org Rp. 4.500,-
Akomodasi
-di pos rowobendo Rp. 100.000 / malam
-Surfing Jungle camp USD 30
Food
- Ada warung Makan di Pos Rowo Bendo dan Pos Pancur
Local guides
Jagawana Guides Rp. 75.000 - Rp. 150.000,- / days
More picture visit :http://odesya.multiply.com/photos/album/33
More information for detail, please contact kunlun_it at yahoo.com.sg
Aris is
Email this author | All posts by Aris




manfatt bro..
lengkap banget fr nya