Trekking Gunung Fuji
By admin • Jun 21st, 2006 • Category: Trekking
Di Kawaguchi, keluar dari stasiun lalu masuk ke ruangan di samping kanan stasiun yang menjual tiket bis ke tujuan berikutnya yaitu Fuji 5th Step (kalau di Gede, semacam kawasan Cibodas) atau titik awal pendakian gunung Fuji. Harga tiket bis 1500 Yen sekali jalan, atau 2000 Yen untuk pulang pergi. Sy pilih yg pulang-pergi, selain lebihmurah, tiketnya berlaku untuk dua hari. Cocok buat yg mau naik gunung dan menginap di sana. Bis ke Fuji warnanya coklat dan parkirnya di depan stasiun Kawaguchi, di jalur nomor 1.
Part 1 : Jumat 9 juni 2006
Pagi hari, saat teman lain pulang ke Jakarta usai mengikuti acara Sony di Tokyo, saya bergegas pergi dari hotel di kawasan Shibuya menuju stasiun Shibuya. Dari stasiun ini, naik kereta Yamanote Line ke stasiun Shinjuku yang jaraknya sekitar 5 menit. Di Shinjuku turun lalu beli tiket menuju kota Otsuki. Tiketnya 2180 Yen per orang, sedangkan keretanya disebut Azusa Express dan kebetulan pagi itu udah ada di peron nomor 9.
Azusa Express sendiri sebetulnya menuju ke kota Matsumoto, tapi akan berhenti di Otsuki yang merupakan pemberhentian ke empat. Model keretanya cukup bagus, mirip kereta cepat yang disebut Shinkansen, dengan cat putih dan ungu. Sy pilih di gerbong yang tanpa nomor duduk (non-reserved) biar lebih leluasa memilih kursi. Lama perjalanan menuju Otsuki sekitar 1 jam.

Menjelang Otsuki, ada pengumuman dari pengeras suara kereta sehingga kita bisa siap-siap turun. Setelah sampai, turun lalu keluar stasiun. Di sini ada papan pengumuman yang menunjukkan arah pembelian tiket menuju tujuan berikutnya, yaitu ke kota Kawaguchi. Tinggal jalan ke kanan lalu masuk peron menuju Kawaguchi. Di sini beli tiket 1180 Yen dan keretanya kebetulan juga sudah ada. Modelnya kayak kereta KRL dengan warna biru dan putih. Tak lama duduk, kereta berangkat. Perjalanan berlangsung sekitar 1 jam. Setiba di satu stasiun besar yaitu Fujiyoshida, kereta berhenti lalu mundur dan ganti jalur menuju Kawaguchi.
Di Kawaguchi, keluar dari stasiun lalu masuk ke ruangan di samping kanan stasiun yang menjual tiket bis ke tujuan berikutnya yaitu Fuji 5th Step (kalau di Gede, semacam kawasan Cibodas) atau titik awal pendakian gunung Fuji. Harga tiket bis 1500 Yen sekali jalan, atau 2000 Yen untuk pulang pergi. Sy pilih yg pulang-pergi, selain lebih murah, tiketnya berlaku untuk dua hari. Cocok buat yg mau naik gunung dan menginap di sana. Bis ke Fuji warnanya coklat dan parkirnya di depan stasiun Kawaguchi, di jalur nomor 1.
Tak lama bis berangkat. Isinya kosong, cuma ada 5 penumpang termasuk saya. Enak juga bisa istirahat. Jalurnya dari Kawaguchi akan melalui jalan khusus yang disebut Fuji Subaru Line yang menembus hutan.
Sepanjang jalan hanya ada hutan pinus melulu, tanpa ada 1 rumah pun. Sekitar 1 jam kemudian, sampailah di Fuji 5th Step. Kawasan ini dihuni beberapa toko suvenir dan restoran. Namun Jumat siang itu keadaannya sepi sekali.
Cuaca tidak begitu baik karena angin cukup kencang. Dari sini, puncak Fuji sudah kelihatan. Waswas juga waktu melihat salju ternyata masih menutupi kawasan puncaknya. Ah sudahlah, perut mulai keroncongan. Jadi bergegas ke Gogoen Rest House, naik ke lantai 2 lalu memesan nasi di restorannya. Yang pasti harganya lebih mahal daripada di Tokyo. Usai makan, lalu mulai membereskan peralatan. Barang-barang yang gak perlu sy simpan di loker yang tersedia di depan toko suvenir, biayanya per loker 400 Yen untuk 24 jam.

Sekitar jam 2 siang, mulai jalan melewati gerbang dari kayu dengan tulisan Jepang yang sy gak mengerti. Pokoknya ikuti jalur pasir hingga sampai ke satu papan pengumuman yang bertuliskan ‘climbing route’. Hanya sy sendiri yang mendaki, jadi jalurnya sepi sekali. Jalurnya sendiri disebut Kawaguchiko Route, karena Fuji memang memiliki beberapa jalur pendakian. Dari papan tadi, ada jalan kecil menanjak ke kanan. Ini yang saya ikuti, melalui hutan dengan pohon seperti pinus. Tapi gak berapa lama dah ketemu jalur pasir lagi, lalu lewat sebuah terowongan beton dan ketemu pondok Safety Guidance center. Karena bukan musim pendakian, pondok ini tutup.
Hujan mulai turun agak deras. Sambil memakai raincoat, saya teruskan perjalanan. Karena terburu-buru, sy gak melihat kalau sesudah pondok tadi ada persimpangan. Jalur pendakian seharusnya ke kanan dan
menanjak. Tapi sy malahan terus, mengikuti jalur pasir. Belakangan baru saya ketahui, ternyata jalur yang sy ikuti itu adalah jalur untuk yang turun dari puncak. Tak heran kalau jalurnya zigzag, menanjak dan berpasir. Ada mungkin 1 jam mengikuti jalur tersebut.
Akhirnya kedua jalur tadi bertemu di dekat sebuah pondokan. Karena memakai tulisan Jepang, sy jadi gak tahu nama pondokan tersebut. Dari sini jalurnya semakin menanjak, berbatu-batu tanpa ada naungan satu pohon pun. Angin semakin kencang, sementara tiap pondokan yang dilewati semua tertutup rapat dan jendela-jendelanya ditutupi triplek yang dipaku rapat-rapat. Untunglah di kawasan 7th Step, samar-samar di
atas sana kayak ada orang di pondokan. Eh ternyata benar, pas sampai di ToyoKan Hut, ketemu dengan 2 orang Jepang. Rupanya mereka pekerja yang sedang menyiapkan pondok untuk musim pendakian Juli nanti. Dengan bahasa Tarzan yaitu campuran Inggris dan sedikit Jepang, sy coba menanyakan apakah bisa menginap di situ. Kebetulan boleh, hanya saja biaya inapnya sedikit lebih mahal yaitu 5250 Yen. Yah daripada risiko gak ketemu pondokan lagi, sy putuskan menginap di ToyoKan.

Bentuk pondokannya terbagi atas 3 kamar; kamar depan untuk kedua orang tadi lalu ada 2 kamar lagi yang masing-masing bisa menampung puluhan pendaki. Di kamar ada tempat tidur bersusun dua dengan kasur ala jepang yang digelar di lantai. Sempat merinding juga, tidur sendirian di kamar seluas itu yang gelap. Tapi karena sudah capek, akhirnya tetap bisa istirahat tanpa mikir macem-macem lagi. Karena lapar, minta
tolong beli makanan ke si penjaga dan dibuatkan mi rebus yang harganya ampe 500 yen.
Malam itu dengan berbalutkan selimut beberapa lapis saking dinginnya, sy coba tidur. Di luar, angin begitu kencang, menderu-deru kayak bunyi kereta api. Tak berapa lama udah ketiduran saking capeknya …
Part 2 : Sabtu 10 juni 2006
Jam 1 pagi lewat, si penjaga pondok membangunkan sy. Sudah waktunya meneruskan perjalanan. Bergegas membereskan peralatan lalu makan sedikit cemilan dan minum lalu keluar pondok. Di luar, langit malam itu cukup cerah tapi angin masih agak kencang. Suhu juga masih cukup dingin meski sudah pakai jaket. Dengan bermodal cahaya headlamp, sy mulai mendaki tanjakan terjal berbatu menuju puncak Fuji yang tingginya 3776 meter itu.
Perlahan-lahan meniti tanjakan terjal yang zigzag. Terkadang harus meniti mencari jalur yang aman. Karena mendaki sendirian, perlu ekstra waspada dalam melangkah, soalnya gak ada yg bakal nolong. Semakin mendekati puncak, salju makin tebal menutupi tanjakan. Untunglah di sepanjang jalur masih ada rantai dari besi sebagai pengaman jalur yang bisa dipakai sebagai pegangan. Menjelang matahari terbit, sudah melewati pondokan di 8th step. Berhenti sebentar untuk foto-foto kawasan Kawaguchi dan danaunya di bawah sana.

Namun tanjakan bersalju membuat pendakian semakin susah. Sy gak membawa crampon, kapak es dan tali sehingga harus memilih jalur yang masih berbatu dan bisa diinjak sepatu trekking biasa. Menjelang puncak, akhirnya harus menyerah. Di depan sebuah tanjakan terjal menanti dengan lapisan salju tebal menutupi rantai besi di pinggir kirinya. Tak ada yang bisa dipakai untuk pegangan. Saljunya juga sudah berubah menjadi lapisan es yang keras dan licin.
Setelah sempat mencoba beberapa kali naik, akhirnya sy putuskan untuk turun. Risiko terpeleset ke jurang di sebelah kiri sy terlalu besar kalau diteruskan. Dengan hati-hati, sy balik lagi, turun meniti salju. Baru beberapa meter, sudah terpeleset oleh licinnya turunan. Untung masih sempat berpegangan ke batu-batu sehingga tidak terus tergelincir. Tapi sempat sport jantung juga. Setelah itu bangun, jalan lagi dan baru bisa bernafas lega waktu mulai mencapai kawasan yang ada batu-batunya lagi.
Dari sini perjalanan turun semakin cepat. Menjelang satu pondokan, saya mulai mencari jalur buldozer yang biasa dipakai untuk turun. Ada beberapa persimpangan, tapi karena pengumumannya dalam bahasa jepang, sy gak mengerti dan memilih turun lewat jalur naik sampai akhirnya bertemu persimpangan jalur yg sudah sy pakai sebelumnya. Di sini, kalau salah jalan, bisa nyasar turun ke kota lain. Karena hari sabtu, mulai ada pendaki yg naik. Di sepanjang jalan, beberapa kali bertemu pendaki lain. Semuanya orang jepang dan terus terang sy kembali gak mengerti apa yang mereka tanyakan sehingga cuma bisa balas mengangguk, senyum lalu buru-buru terus jalan. Ada juga pendaki yang sudah begitu siap, karena membawa kapak es di ransel. Mungkin mereka juga akan berganti memakai crampon menjelang tanjakan
salju nanti.

Sekitar 3 jam kemudian, sy sudah sampai lagi di Fuji 5th step Kawaguchi. Bergegas ambil barang di loker, ganti pakaian dan menunggu bis ke Kawaguchi. Jam 12 siang bisnya datang dan langsung naik. Waktu itu penumpangnya cuma saya sendirian saja sampai ke Kawaguchi. Di Kawaguchi stasiun, pergi ke loket dan kebetulan kalau sabtu-minggu ada bis ekspress ke Shinjuku. Ongkosnya per orang 1700 Yen, lumayan menghemat duit. Bisnya kemudian datang di jalur nomor 5 dan bersama penumpang lain sy ikut naik menuju Tokyo. Usai sudah pendakian ke Fuji. Meski gak ke puncak, sy bersyukur sudah sempat menikmati
pengalaman mendaki di gunung tertinggi di negara matahari terbit itu…(*)
Tambahan info
- Musim pendakian resmi ke gunung fuji dimulai 1 juli sampai 31 Agustus setiap tahun. Saat itu sudah musim panas sehingga saljunya sedikit.
- Di luar musim pendakian resmi, kebanyakan pondok tutup, sementara kita juga tidak boleh berkemah di sana. Biasanya orang jepang mengakalinya dengan naik dari kawaguchi 5th step pagi-pagi sekali supaya sampai di puncak masih siang dan bisa segera turun tanpa perlu menginap di pondok
- Foto selengkapnya di http://bdarma.multiply.com/photos/album/32






