Catper Peucang dalam kenangan

Custom Search

By admin • Jul 6th, 2006 • Category: Wisata
Bookmark and Share

Therapy Gigitan Nyamuk – Catper P. Peucang
Aku pendatang baru di dunia www. backpaker.com ini. Ceritanya tgl 19-21 Mei 2006, Jum’at-Minggu backpaker kembali mengadakan jalan bareng, tujuannya P.Peucang, Cidaun, Cimayang…

Therapy ala Mas Andi

Pemrakasa siapa lagi kalo bukan Mas Aris…
Peserta ada 16 orang termasuk Mas Aris, aku, Noni, Rini Ade dan Mas Joko janjian ketemu di Komdak, amazing sekali pas ketemu chemistry nya udah pas aja, ngomong dan bercanda nyambung. jadilah kami ber-5 kami bertaxi ria ke meeting point di Kalideres. Jam 21.00 kurang kami sudah sampai, ternyata disana segerombolan sudah lumayan kumpul. Tanpa dikomandoi kami saling bersalaman berkenalan satu dengan yang lainnya, Aris, Ray, Andi, Yan, Arif, Nona. Lalu bus keluar terminal, kami masih menunggu lagi peserta lain yg tetap berteleponan ria dengan Aris sang Koordinator, datanglah wajah lelah, Renny dan Fitri. Tunggu punya tunggu jadilah rombongan kami berangkat dengan Bus Murni menuju Labuan kira2 jam 21:40, Di Tangerang kami menjemput satu peserta lagi Risda namanya…(salah gak ya…?). Akhirnya peserta sudah 15 orang.

Bus yg lumayan berumur ini dan tanpa AC disopiri oleh sopir yang raganya gak keliatan dari arah rombongan kami yg duduk di belakang, sehingga jadilah bahan candaan kami bahwa bus ini berjalan sendiri. Aku didaulat jadi tukang tagih ongkos, jadilah aku wakil kenek meng-kolek 25ribu perkepala….Kenek cuma mesem2 saat aku bilang, kasih dong tips tagih…

Sang sopir lumayan mahir, kemudi yang pastinya sudah diakrabi sehari-hari sehari meliuk2 membawa badan kami yang lumayan letih karena kerja seharian tadi. Kantuk menyerang rombongan, sepertinya goncangan bus tak bisa menghilangkan keinginan untuk tertidur barang sejenak diantara benturan2. Aku sendiri sudah tak tahu diri lagi, mengawang2 antara kantuk dan goncangan, berbagai posisi sudah aku coba agar PEWE (posisi wenaak) bisa kudapat. Uggghh gak juga… Jadilah aku terbangun karena terdengar beberapa orang berbincang2 dan tertawa ria. Ada Andi yang bercerita mengenai Merapi dan Mbah Marijannya, seru juga…
Well, sang sopir yang mahir tapi terkesan sedikit ugal2an ini dipuji2 oleh teman2, karena membawa kami lebih cepat sampai Labuan. Padahal uugghhh buat aku rasanya uueeddaan tenan…maklum jiwa lelaki yang macho dan siap tantangan lain dong dengan aku yang feminin …hehehe.

Di Labuan, sampailah kami di warung bubur kacang ijo, indomie dll.. Tanpa ba bu..beberapa teman langsung pesan indomie telor, kacang ijo dll. Oh ya ada satu teman juga yg menunggu disana : Ryan.. Di warung ini terjadilah penunjukan bendahara oleh Mas Aris… cilakanya kok aku ya…dasar nasib gak jauh2 dimana2 jadi bendahara atawa sekretaris…
Dari Labuan kami dibawa ke arah Tm Jaya dengan elf kapasitas 15 org yg disulap jadi 19org. elf membawa kami dengan gaya yg pastinya hampir mirip2lah dengan elf2 lain pada umumnya… kecuali elf Travel agent kali ya.. Ke arah Ujung Kulon elf bergerak, sebelum Tanjung Lesung, elf belok kiri ke arah desa sumur. Dari sini mulailah kami berjuang melawan benturan kepala dan goncangan yang cukup membawa badan rasanya ringsek semua, karena jalan yg kami lalui persis seperti kubangan kerbau, sepertinya Pemerintah yang lama dan baru tidak lagi punya empati atau sibuk memperkaya diri…?

Jam 4 pagi hampir subuh tibalah kami di rumah Pak Komar yg anggota DPRD Tmn Jaya ini, rumahnya cukup mewah untuk ukuran wilayah Tmn Jaya, beliau ramah sekali..Kami ditawarkan untuk sejenak merebahkan diri sebelum terik pagi hari menjulang tinggi.
Jam 7 pagi kami sudah bersiap-siap dan sarapan pagi nasi uduk sudah membuat perut kami yang menari2 samba menjadi cha cha cha. nasi uduk diserbu, entah bagaimana hitungan telur dan nasi uduk ada selisih..hahahaha..tapi sisanya gak disia2kan Mas Joko untuk dimasukan ke kantong plastik sebagai bekalan perjalanan.

Selesai makan pagi, dari arah rmh Pak Komar kami berjalan 5 menit ke arah dermaga, tak lama kami sudah dibawa perahu kecil nelayan ke arah kapal kecil yg sandar agak jauh dari dermaga yg sudah rusak, kasian, perahu kecil harus bolak balik mengangkut kami.
Saat yg ditunggu datang juga, 16 orang berlayar menujun Peucang. Beberapa mengambil tempat di depan, aku diatas berbaring tidur karena matahari malu2 menampakan dirinya sehingga rasanya aku gak perlu khawatir terlentang dibawah langit.

Setelah hampir 3 jam kami di kapal yang cukup nyaman ini, tibalah kami di P. Peucang, ada 1 kapal sedang bersandar, terlihat beberapa bule sedang berenang2 dan bermalas-malasan di kapal. Mas Aris langsung mengajak aku untuk mengurus administrasi bayar membayar. Kemudian kami langsung diajak berenang dan bersnorkling ria dengan didahului pilih2 tempat, Rini yang membawa tenda terpaksa gotong sana gotong sini…Tapi sayang terumbu karang dan ikan rupanya sudah habis diganyang…sehingga tampaknya tak ada lagi yg bisa kami nikmati. Mas Aris memutuskan untuk pindah ke tempat lainnya ke arah Cidaun untuk melihat hewan & satwa liar lainnya spt: banteng liar.

Di Cidaun kami hanya sesaat, Mas Andi, Arif berburu foto banteng2 liar tsb, kami hanya mengawasi dari arah menara dengan sedikit berbisik karena takut sang banteng terusik. Tapi apa daya dengan kedatangan Mas Andi & Arif mereka tunggang langgan juga, padahal mereka sudah cukup mengendap2 …

Dari Cidaun kami kembali ke P. Peucang untuk makan siang. Nasi, telur, ikan, sambel dan mie Duuh rasanya nikmat sekali, dengan ditingkahi ocehan2 teman2 yang lucu2, sepoi-sepoi angin dan birunya laut dihadapan kami rasanya kenikmatan tak tertandingi.
Setelah puas berenang, snorkling di area dermaga, kami memutuskan untuk langsung ke Cimayang tempat kami bermalam nanti. Kurang lebih 1,5 jam kami merapat di Cimayang, sesungguhnya tidak ada tempat / dermaga untuk bersandar kapal, jadilah kami harus berenang kurang lebih 300meter dengan ombak yang lumayan besar. Noni dan Rini mengaku bahwa inilah kali pertama mereka berenang2 di laut denga disupport oleh teman2 jadilah kami beriringan berenang ke pantai cimayang. Di Cimayang kami temukan sungai dengan air yang sangat jernih dan segar…sehingga tak tahan lagi kami untuk bercuci2 dan mandi. Gelap mulai menyergap cimayang, padahal waktu baru saja menunjukkan angka lima, rupanya awan tebal menyelimuti langit sekitar kami. Aku berharap agar hujan tak tiba, karena tenda yang kami bawa hanyalah dua, aku dan Rini, itupun tenda ukuran mini :)

Porter sigap menyalakan tungku api setelah beberapa kayu dan ranting dirangkai dijadikan bahan bara api. Aku dan beberapa teman mulai memasang tenda, tidak terlalu susah untuk jaman sekarang, tenda sudah dibuat sedemikian rupa.

Benar saja tak lama hujan rintik2 mulai membasahi kami. Duuh…tidaakkk Oh Tuhan..tolong kami Ya Allah..lindungi kami..plleaassee… kasihan teman2 yang sudah mandi dan wangi.
Benar saja tak lama hujan rintik2 mulai membasahi kami. Duuh…tidaakkk Oh Tuhan..tolong kami Ya Allah..lindungi kami..plleaassee… kasihan teman2 yang sudah mandi dan wangi. Tak tahu lagi berapa lama sehabis makan, aku terlelap di tenda yg sempit ini. Suasana hujan sangat tidak bersahabat untuk kami yang ingin menikmati deburan ombak di pinggir pantai.
Tengah malah aku terjaga rasanya kaki kena sengatan sesuatu, karena badan lelah aku hanya mengusap2 satu kaki yang gatal tersebut dengan kaki yang lain, begitupun sebaliknya. Rasanya tak henti2 gatal menghinggapi kakiku, tapi karena lelah dan kantuk yang amat sangat, aku tak mampu untuk bangun.

Jam 5 pagi aku sudah benar2 terjaga dari tidur, aku nyalakan senter dan ternyata beribu2 nyamuk ada di dalam tenda kami, rupanya pintu tidak ter-resleting/tertutup, Mas Joko mengaku bahwa dialah yang membukanya, karena udara didalam terasa panas. Terllihat bercak darah ada di beberapa tempat di kakiku, kaki Ade dan Mas Joko. Aku rasanya gak bisa bertoleransi dengan nyamuk, karena si penghisap darah ini cukup berbahaya. Beberapa dapat kubunuh dengan sekali tepokan, karena gendutnya mereka kekenyangan menghisap darah kami bertiga yang ada di tenda.

Aku bangun langsung mencari lokasi nyaman untuk buang hajat yg tak tertahan. Lalu aku bergabung dengan beberapa teman: Andi, Renny, Fitri dll yang sudah mengerumuni tungku dan mereka mulai minum minuman hangat yg disediakan. Aku lihat Andi melakukan sesuatu pada kakinya, dia melumuri kakinya dengan debu panas dari tungku. Ternyata diapun tak luput dari serangan nyamuk waktu tertidur tadi malam. Cukup parah keliatannya, karena bentol2 merah (bukan bintik2 lagi) muncul disana sini, baik tangan maupun kaki. Andi mengklaim bahwa hal itu untuk mengurangi rasa gatal dan diharap merah2 akan segera hilang. Lalu Andi menngnjurkan agar akupun mau ditherapi seperti dia…hahaha….bak burung pelatuk, aku turut saja perintahnya, ajaib memang rasa gatal hilang dan aku yg biasanya alergi terhadap gigitan nyamuk tiba2 kok bintik2 merah tidak muncul di permukaan kulitku…..
*bersambung*

Tagged as: , ,

admin is
Email this author | All posts by admin

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.