Jalan-jalan ke Bukittinggi Sumbar
By admin • Jul 5th, 2006 • Category: Wisata
Perjalanan ke BT selama 2 jam sungguh menyenangkan. Banyak hamparan sawah dan rumah yang mampu melupakan dari hiruk pikuk Jakarta. Kebetulan saya duduk dekat supir, .. duh duh .. jangan ditanya gimana deg2annya saya melihat cara mereka menyetir. Ngebut dan jago nyalip, tapi kelihatannya semua supir di sana seperti itu mengingat jalannya yang mulus dan sepi. Kami singgah sebentar di Air mancur Lembah Anai untuk melihat2 dan membeli makanan di ruko2 setempat
Padang sering saya dengar sebagai daerah yang “wajib dikunjungi”. Jadi pergi ke Padang rasa2nya harus saya lakukan suatu hari nanti. Tanpa dinyana dan diduga, kesempatan itu datang juga .. akhirnya saya, anak dan ibu sepakat akan menghabiskan 6 hari 5 malam disana. Lama juga ya.. yah namanya liburan.
Pergi ke Padang dilakoni menggunakan AirAsia. Utk akhir Januari 2006, kami mendapat tiket Rp 466,400/orang/pp Lumayan murah dibanding Garuda yang berharga Rp 446,000/orang/one way (harga di loket penjualan Garuda di Bandara Minangkabau).
Pesawat AirAsia yg kami tumpangi lumayan tepat waktu. Menyenangkan juga, asal jangan melihat dari sisi penampilannya saja. Rasanya lucu juga waktu rebutan mencari kursi. He he he … serasa di biskota.

Kami masuk dari terminal I, dan saat menunggu keberangkatan sempat mencari makan di sebuah cafe. Lupa nama cafe-nya, tapi yang jelas dekat dengan eskalator untuk ke lantai 2. Makanannya ya.. so so banget deh, padahal penampilan cafe-nya kelihatannya cukup bagus. Perjalanan ke Bandara International Minangkabau (BIM) dari Cengkareng sekitar 1 jam 40 menit. Sesampai disana.. saya langsung ke Counter Taxi resmi Bandara dan mencari taxi untuk ke Bukittinggi(BT).
Dari BIM ke BT sebenarnay bisa naik Damri ke Padang lalu sambung naik kendaraan lain lagi. Atau menumpang travel dengan membayar hanya Rp 25,000/orang. Saat itu kami memilih naik taxi untuk kemudahan. Rate resmi dari bandara adalah Rp 185,000. Sebelum perjalanan dimulai, sang supir sudah minta uang bensin sebesar Rp 100,000.
Perjalanan ke BT selama 2 jam sungguh menyenangkan. Banyak hamparan sawah dan rumah yang mampu melupakan dari hiruk pikuk Jakarta. Kebetulan saya duduk dekat supir, .. duh duh .. jangan ditanya gimana deg2annya saya melihat cara mereka menyetir. Ngebut dan jago nyalip, tapi kelihatannya semua supir di sana seperti itu mengingat jalannya yang mulus dan sepi. Kami singgah sebentar di Air mancur Lembah Anai untuk melihat2 dan membeli makanan di ruko2 setempat. Karena cuma sebentar, bayar parkir hanya Rp 1,000. Kalau lebih lama, katanya bisa lebih mahal lagi.
Sesampai di BT sudah lewat mahgrib, kami segera mencari hotel. Saya memilih Hotel Gallery di dekat Hotel Novotel. Sang supir taxi dengan setia mengantarkan dan wanti-wanti agar saya melihat kondisi kamarnya dulu. Setelah OK, baru dia pergi setelah saya membayar sisa ongkos taxinya.

Hari-hari di BT kami isi dengan menyambangi Taman Panorama berikut Gua Jepangnya, Benteng Fort de Kock, Tourist Information Center (buka setelah jam 9 pagi) dan jalan2 keluar kota. Kota BT memang kecil sehingga rasanya akan jemu bila tinggal terlalu lama tinggal disana tanpa keluar kota.
Harga tiket masuk untuk ke semua tempat lumayan murah (antara Rp 1,500 – 2,000/orang). Banyak tersedia local guide disana dan mereka rata2 tidak terlalu agresif menawarkan jasanya. Saya sendiri ngga pernah menggunakan jasa mereka. Yang lebih agresif justru saya lihat dari penjaga tiket dan tukang parkir. Seperti saat saya mengunjungi Danau Singkarak, saya singgah di sebuah taman yg tidak terawat. Ee.. saat parkir mobil, langsung saja ada yang menghampiri dan wanti2 bahwa kami harus bayar sekian ribu. Kami saat itu mau saja membayar dengan meminta bukti karcisnya. Duuh.. itu karcis sampai kumal dipegang terus, kira2 sudah berapa lama ya taman itu tertelantarkan ?
Berjalan-jalan di sore hari atau malam hari di BT cukup menyenangkan. Penjualnya tidak ada yang marah saat ibu saya menawar barang. Ibu saya memang kalau menawar suka “tega”.. wah, kalau di Jakarta, bisa disumpahin orang nih. Ada pertunjukan tarian daerah di sebuah sanggar yang lokasinya tidak jauh dari jam gadang. Beberapa sanggar tari mengadakan pertunjukan disitu pada hari2 yg berbeda. Harga tiketnya Rp 40,000/orang.. dan cukup menyenangkan menonton disitu selama 1,5 jam meski sempat telat selama 10 menit. Tapi siap2 saja sesudah pertunjukan penarinya akan langsung mendekati penonton untuk berjualan souvenir dari mereka.
Berhubung saat itu masih hari raya Imlek, jadi banyak resto Chinese yang tutup. Apa daya.. menu masakan berbau santan dan pedas menjadi tak terhindarkan lagi. Pilihan lain paling2 makanan standar seperti “Nasi goreng, Mie goreng, Mie rebus, Juice..”, dan herannya hampir disetiap resto ada menu ini. Hanya ada 1-2 resto yang menyajikan steak atau seafood. Hari ke-5, sayapun tak kuat lagi menyantap hidangan yg seperti itu terus dan akhirnya beralih ke KFC.. he he he Harga makanan bervariasi sekitar Rp 5,000 – 10,000 untuk kedai tenda. Dan makan di resto Padang sekitar Rp 35,000 – 50,000 untuk ber-4.
Untuk mengunjungi daerah2 di luar kota, disediakan berbagai macam tour. Yaitu Tour Minangkabau (mengunjungi Selatan BT), Tour Maninjau (mengunjungi bagian barat BT), dan Tour yang mengunjungi bagian Timur BT. Harga rata2 tour adalah Rp 100,000 – 125,000/orang. Kalau tour dengan menyewa mobil bisanya kena sekitar Rp 450,000 – 500,000 (termasuk bensin, supir, dan tiket masuk). Saat itu saya sewa mobil dengan harga Rp 450,000 dan saya menggabungkan kunjungan ke Selatan dan Barat BT. Berangkat jam 9:30 dan kembali ke BT jam 6 sore. Uh.. melelahkan juga…

Rata2 yang disajikan adalah pemandangan alam berupa pegunungan(Tabek Patah, Sungai Landia) dan danau (Maninjau dan Singkarak). Yang paling berkesan bagi saya adalah saat mengunjungi Istana Pagaruyung dan rumah yang berusia lebih dari 350 tahun. Di danau Singkarak, saya mampir makan di sebuah taman yang tak terurus, sampai2 WC-nya pun tak terurus. Makan ikan bilis yang di pangek disana.. duh sedapnya. Ditambah air putihnya yang terasa lezat. Pulangnya kami langsung membungkus sekantung ikan bilis goreng. Harga makanan disana Rp 5,000/porsi. Ohya taman ini letaknya agak tersembunyi dan tampak sepi. Menurut penjaga warung disitu, sejak BBM naik pengunjung makin berkurang.
Belanja oleh2 saya dilakukan di Pasar Atas. Tersedia toko Grosir di tengah2 pasar yang memberikan harga Rp 1,500 – 3,000 lebih murah dari harga di kios2 pinggir jalan. Membeli makanan disana juga dilakukan tapi hanya untuk makanan seperti enting kacang atau ikan2an. Untuk Sanjai dan aneka keripik, saya beli di Toko NITTA karena sanjainya lebih fresh dan rapuh(istilah orang sana).
Setelah menghabiskan 5 malam disana, kami pulang kembali dengan AirAsia. Pesawat telat sekitar 15 menit. Sesampai di bandara Cengkareng, saya ditawari mobil dengan harga Rp 200,000 ke Depok. Saya coba tawar sampai Rp 175,000 .. dia tidak mau. AKhirnya saya menggunakan taxi saja. Aduuh.. macetnya Jakarta di hari Jum’at malam. Total argo akhirnya harus dibayar sebesar Rp 190,000 … lah kok sama aja ya dengan mobil yang ditawari tadi ya.



