Keliling Kota Paris Dengan Bus Kota
By admin • Jul 4th, 2006 • Category: Wisata
Keluar dari pintu gerbang utama stasiun adalah jalan Rue de Dunkerque. Setelah melewati jalan de Denain sejauh kl.200 meter sampailah di persimpangan jalan Boulevard de Magenta. Dari persimpangan ini naik bus trayek 30 jurusan Trocadero, kawasan di mana Eiffel berada. Sesaat setelah saya duduk di dalam bus, perjalanan pun dimulai.
Setelah menempuh perjalanan dengan kereta express Eurostar selama 4 jam dari stasiun Centrum Amsterdam dan melintasi negara Belgia, akhirnya tiba juga di stasiun kereta api Gare du Nord, Paris, Perancis. Suhu saat itu sekitar 2-3 derajat celcius, suhu yang teramat dingin untuk orang yang biasa hidup di negara tropis seperti saya. Tujuan utama saya adalah obyek wisata menara Eiffel.
Waktu yang diperlukan dari Gare du Nord ke menara yang menjadi simbol kota mode ini tidak terlalu lama, hanya 20 menit menggunakan bus kota. Perjalanan ini merupakan pengalaman pertama saya mengunjungi Paris! Cantik, eksotik, indah dan amazing, itulah yang saya rasakan ketika menginjakkan kaki di sana.![]()
Keluar dari pintu gerbang utama stasiun adalah jalan Rue de Dunkerque. Setelah melewati jalan de Denain sejauh kl.200 meter sampailah di persimpangan jalan Boulevard de Magenta. Dari persimpangan ini naik bus trayek 30 jurusan Trocadero, kawasan di mana Eiffel berada. Sesaat setelah saya duduk di dalam bus, perjalanan pun dimulai. Saya memperhatikan penumpang lain yang juga menaiki bus yang sama. Beberapa halte pun dilewati dan bus beberapa kali menurunkan penumpang, namun tidak satu pun yang membayar dengan uang kontan ketika turun dari bus seperti bila kita naik bus di Jakarta atau kota-kota lainnya di Indonesia. Saya mulai bertanya-tanya dalam diri saya, “Apakah ada yang salah dengan saya ketika naik bus tadi?”.
Memang selama di perjalanan, setiap penumpang yang menaiki bus hanya memperlihatkan semacam kartu “tanda pengenal” barangkali semacam kartu berlangganan naik bus, lalu ketika turun dari bus tanpa membayar. Sebenarnya, di dalam bus ada petunjuk tentang rute dan ongkos ke setiap halte pemberhentian, namun apa daya semua yang ditulis dalam bahasa Perancis, tidak ada bahasa Inggrisnya sama sekali. Mungkin kalau ada bahasa Inggris-nya akan bisa membantu saya menghindari kebingungan. Saya sudah mencoba bertanya dengan penumpang yang ada di sebelah saya, tapi ada kesulitan di kedua belah pihak. Saya tak bisa bahasa Perancis dan penumpang yang di sebelah tidak bisa berbahasa Inggris, klop sudah, pikir saya.
Perjalanan sudah berlangsung sepuluh menit, dari dalam bus saya melihat pemandangan kota Paris yang memang betul-betul indah. Kalau melihat arsitektur bangunannya yang bergaya Ghotic, serasa berada di jaman abad pertengahan. Rute bus juga melewati jalan Champs-Elysées avenue di mana obyek wisata seperti Arc de Triomphe berada, tugu peringatan berbagai kemenangan yang diraih oleh pasukan Napoleon Bonaparte ketika menaklukkan wilayah-wilayah yang ada di Eropa di masa kekuasaannya dulu. 
Tidak lama kemudian, tibalah di kawasan Trocadero, pemberhentian terakhir trayek bus yang saya tumpangi. Di kawasan ini, selain ada Eiffel, ternyata juga ada obyek wisata lainnya seperti Palais de Challiot (istana Challiot), Trocadero Fountains (air mancur Trocadero), Musee de l’Homme (museum tentang manusia) dan Musee de la Marine (museum pelaut), Lecole Militairy (akademi militer di mana Napoleon pernah balajar), dan The Equestrian Statue of Marechal Foch (patung tentara berkuda). Oh, ya, untuk Anda yang memiliki budget terbatas, di sekitar menara Eiffel juga ada lapak-lapak yang menjual souvenir dengan harga yang sangat murah.
Semua penumpang turun dengan tertib tanpa memberikan uang se-Euro pun kepada supir bus. Saya tambah bingung dan semakin bertanya-tanya. Akhirnya, giliran saya turun dari bus. Sambil menuju pintu keluar saya memberikan uang 2 Euro kepada supir. Saya memberikan jumlah uang tersebut setelah mengira-ngira arti tulisan yang ada di petunjuk yang ditempel dalam bus. Ternyata benar dugaan saya, supir tiak mau menerima uang kontan untuk ongkos. Wah, gawat, gimana nih? dalam hati saya bergumam.
Mungkin karena kota Paris adalah kota wisata dunia dan waktu itu saya adalah satu-satunya penumpang yang berkulit sawo matang dan berbadan kecil, supir hanya tersenyum dengan sangat ramah sambil berkata dalam bahasa Perancis, yang mungkin artinya “Bawa saja uangnya, kami tidak menerima uang kontan dan selamat menikmati kota Paris”. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut, saya hanya teringat dengan beberapa kata dalam bahasa Perancis. Dengan stil yakin dan sedikit “sok tahu” saya pun membalas ucapan supir bus tadi dengan “Merci, monsieur. Au revoir!. Artinya, terima kasih, Pak. Sampai jumpa!
admin is
Email this author | All posts by admin



