Menelusuri Jejak Wedus Gembel Merapi

Custom Search

By Adi Susanto • Jul 2nd, 2006 • Category: Petualangan
Bookmark and Share

Warning: htmlspecialchars_decode() expects parameter 1 to be string, NULL given in /hsphere/local/home/odesya/indobackpacker.com/wp-includes/compat.php on line 113

Setelah sampai di lokasi bencana Kaliadem, bungker yang kemarin sudah digali dengan alat berat ternyata masih belum sepenuhnya bersih dari abu merapi panas. Saya segera bergegas membantu tim SAR yang sudah kenal saya diantaranya. Suhu pasir dan abu panas masih sangat panas, dan terpaksa saya berjalan dengan menggunakan papan dari bekas puing puing rumah yang semuanya terkubur dengan abu merapi dan lahar panas.

Wedus Gembel Merapi Turun Hingga 7km

Sekitar jam 15.00, Tanggal 14 Juni ’06, Merapi mulai mengeluarkan ancamannya dan memberikan peringatan kepada warga Jogjakarta. Awan panas tersebut turun kebawah menggelegar sampai 7 km jauhnya. Desa Balerante yang berada di wilayah Sleman dan hanya berjarak 5 km saja dari Puncak Merapi terkena hujan awan panas, abu dan kerikil berterbangan disekitar itu. Desa ini hanya berjarak sekitar 1 km saja dari desa Kinahrejo, tempat Mbah Marijan berada, dan sampai tempat Mbah Marijan masih aman dan belum terserang wedus gembel secara langsung , hanya terkena hujan abu vulkanik. Namun sebagian besar penduduk di desa Kinahrejo telah mengungsi kebawah ketempat yang diperkirakan aman. Selain itu wilayah kabupaten Magelang dan kecamatan Muntilan adalah tempat yang terkena hujan abu paling parah, karena hampir setiap hari, mengakibatkan wajah kota dan taman-taman di Magelang berdebu dan kotor.

pic 1 wedus gembel datangHari itu seperti biasa setiap pulang kantor jam 5, saya selalu sempatkan ke desa Kinahrejo, untuk melihat dan mendekati wedus gembel dari situ yang saya perkirakan aman. Bahkan saya kadang sampai mendekat ke hulu kali gendol 3 km dari puncak, ditempat awan panas tertahan oleh bukit pengging dan Gunung ijo di atas Kaliadem. Biasanya saya mendaki dari Kaliadem sekitar satu jam dan menunggu wedus gembel yang meluncur deras kearah tenggara, dan hanya berjarak 400 m sebelah kanan, dari puncak bukit Pengging dimana saya merekam kejadian ini. Dari tempat ini, saya bisa melihat luncuran lava pijar terakhir dari dekat sekali, dan menabrak bukit Gunung ijo, sehingga membuat hutan di kawasan ini memutih dan mengering terkena efek hawa abu awan panas. Setelah sampai dipertigaan balai desa Cangkringan, ternyata di blokade dan dilarang masuk ke wilayah desa Kinahrejo, karena kejadian itu, dan di sekitar daerah itu juga sudah terkena hujan abu. Akhirnya saya memutuskan pulang, dan akan kembali nanti malam saja ke desa Kinahrejo.

Akibat kejadian ini, diberitakan beberapa orang petugas pengamat Merapi terjebak didalam bunker, dan belum ada kabar selanjutnya apakan masih hidup atau tidak. Untuk itu saya akan mencoba mencari informasi langsung, dan mengecek sendiri ke lokasi bagaimana keadaan beberapa orang yang lari dan bersembunyi didalam bunker tersebut. Memang penuh resiko untuk melakukan ini, karena semua orang dan bahkan para jurnalis juga dilarang masuk, kecuali mereka yang mengetahui jalan tikus atau jalan lewat kampung dan hutan untuk tembus kesana, walaupun kadang saya harus jalan kaki agak jauh mendaki. Tapi rasa penasaran untuk memberikan informasi yang sebenarnya dan ingin mendokumentasikan kejadian langka ini, terus mendorong saya untuk selalu datang dan bersahabat dengan fenomena merapi ini yang merupakan gunung paling aktif di dunia. Karena ini saya lakukan adalah bukan aktifitas untuk sekedar mencari sensasi atau pamer, tetapi saya menikmati petualangan saya, sambil untuk mengkaji dan belajar dari sisi fenomena alam, ilmu pengetahuan ilmiah dan non ilmiahnya, yang masih jarang dilakukan oleh orang Indonesia. Sedangkan di Eropa kegiatan seperti ini adalah terorganisasi dengan baik dan sudah biasa dilakukan untuk dokumentasi ilmu pengetahuan, bahkan komersial film.

Bekal pengetahuan tentang vulkanologi dan mengenal medan dengan baik ( mapping of dangerous zone), sangatlah penting bagi seorang “ Lava Hunter “ untuk bisa mendekat dan merekam kejadian dari dekat. Persiapan phisik, mental dan peralatan yang professional juga diutamakan sebelum melakukan kegiatan ini. Mengumpulkan data, informasi dan memantau frekwensi dan gelombang kegempaan dari orang orang yang bertugas di pos observatory MVO: http://www.vsi.esdm.go.id/mvo/mvotourism.html. Frekwensi ini harus terus dipantau lewat radio HT, yang terkoneksi dengan semua saluran tim SAR yang ada.


Alat penghitung suhu heatmeter

Saya sedikit bertukar pengalaman, waktu mengantar enam Lava Hunter asing dari Jerman , kordinator namanya Christopper Webber, tgl 13 Mei bulan lalu, dimana mereka bahkan mempunyai club Lava Hunter namanya VEI: Vulkan Expeditionen International (dalam bahasa Jerman) yang isinya orang orang sehobbi dan mempunyai interest yang sama untuk mempelajari Gunung aktif dan mau meletus: www.vei.co.id. Dari sinilah saya banyak belajar lagi dari mereka, tentang pengetahuan vulkanologi dan teknik yang baru, serta pengetahuan gunung api dari negara lainnya, karena mereka sudah mengejar dan mendatangi ke banyak gunung aktif di dunia, sedangkan saya baru mengejar gunung aktif yang mau meletus di Indonesia saja.

Saya mencoba upload rekaman video wedus gembel besar dari jarak 400 m di multiply saya, mudah-mudahan ini bisa menjadikan wawasan dan media saling belajar untuk lebih membuka wacana “ Volcano Tourism” dan menciptakan orang – orang baru yang lebih maju dalam memperkenalkan kekayaan dunia Volcano di Indonesia.

Proses evakuasi korban awan panas Merapi

Tanggal 16 juni 2006, akhirnya proses evakuasi terhadap dua orang yang terjebak di dalam bungker di Kaliadem sudah berhasil diangkat oleh gabungan tim SAR provinsi DIY, TNI AD, dan relawan lain pagi tadi dari jam 07.00 – 09.00 WIB. Mereka adalah relawan Peduli Merapi yang bernama Sudaryanto alias panggilannya Kenteng ,asal dari Kulonprogo, dan satu penduduk lokal pak Mardiyono.

Karena tadi malam saya tidak berhasil masuk dari blokade militer dan Satpol PP Sleman, maka saya putuskan berangkat lagi ke Kaliadem pada waktu subuh hari ini. Saya berhasil lolos karena di pagi hari kebanyakan petugas penjagaan sudah agak lengang dan petugas harus kembali ke barak untuk digantikan lainnya. Waktu itu saya melihat ada petugas SAR yang masuk kawasan terlarang untuk evakuasi pengangkatan korban dengan membawa mobil offroad yang hanya berjumlah 10 orang, dan langsung saya mengekor dibelakangnya untuk bergabung walaupun saya sempat dimarahi sebentar kenapa masuk kedaerah ini sendiri, tapi tidak apa buat saya yang penting bisa masuk. Dan selama proses evakuasi, anggota TNI memblokir sementara jalan masuk ke bungker, dan beberapa wartawan yang berani masuk ke area itu, diperintahkan untuk menunggu sampai mayatnya ditemukan terlebih dulu.


Tim penyelamat dengan baju anti panas

Setelah sampai di lokasi bencana Kaliadem, bungker yang kemarin sudah digali dengan alat berat ternyata masih belum sepenuhnya bersih dari abu merapi panas. Saya segera bergegas membantu tim SAR yang sudah kenal saya diantaranya. Suhu pasir dan abu panas masih sangat panas, dan terpaksa saya berjalan dengan menggunakan papan dari bekas puing puing rumah yang semuanya terkubur dengan abu merapi dan lahar panas. Ada salah satu petugas yang mengukur suhu panas dengan menggunakan alat sebelum masuk ke bungker, dan tertulis 216 derajat, padahal sudah 2 har,i dan itu baru diluar bungker. Kemudian saya membantu masuk ke depan bungker bersama petugas untuk mengukur suhu didalam bungker, ternyata suhu didalam bungker masih 400 derajat.

Petugas grup kedua dari tim pemadam kebakaran Sleman, akhirnya datang dengan mengenakan pakaian khusus tahan api. Mereka kemudian segera masuk kedalam bungker, dan terus dua kali keluar masuk, karena mengeluhkan kondisi hawa panas didalam dan sepatunya yang juga tembus terhadap panas dari bekas guguran awan panas. Sampai akhirnya mereka juga berjalan kedalam bungker dengan alas papan kayu, untuk mengurangi panas. Sempat beberapa kali pekerjaan ditunda, dan kita diperintah mundur karena datang awas panas terus menerus dan semakin membesar kearah kita, yang sedang terus menggali dengan sekop dan cangkul untuk membongkar timbunan debu panas dari pintu bungker.

Mayat pertama dapat diketemukan dalam keadaan hangus dan mengeluarkan bau seperti daging terbakar. Setelah dibungkus dengan plastik bag, kemudian segera diangkut keluar dengan cepat dan menuju ambulan. Pencarian korban kedua sedikit lebih lama karena, korban ternyata berada di kamar mandi didalam bungker. Air di dalam bungker dipastikan habis dan menguap karena suhu sangat panas pasca tertimbun awan panas. Dan diperkirakan tabung oksigen, juga meledak karena tidak kuat menahan tekanan udara sangat panas didalam bungker. Ini bisa dilihat dari adanya cairan hitam seperti lumpur yang ada didalam bunker dan sangat panas ketika dicoba untuk mengangkat korban yang pertama.


Kondisi Kali Adem

Korban kedua, akhirnya berhasil ditemukan juga, dan mengalami luka bakar di kulitnya tetapi tidak sampai hitam hangus. Setelah diidentifikasi sebentar, korban segera diangkat dan saya membantu membawa korban sampai kedalam mobil ambulans, bersama anggota TNI dan tim SAR. Setelah diketemukannya dua mayat ini, maka semua tim pencari dan SAR segera kembali ke posko di desa Kinahrejo secepatnya, karena berkali kali awan panas terus turun dengan volume sangat besar dan selalu mengarah kelokasi kami.

Kaliadem yang kini tinggal kenangan, tertutup abu panas setebal 3 – 4 meter, betul –betul akan menjadi kenangan pedih dari amukan awan panas ini. Pendopo yang dulunya indah, gardu pandang dan lokasi camping yang cantik, sungguh sekarang ini tidak tersisa sedikitpun, dan akan membutuhkan waktu lama untuk membersihkan dan merekontruksinya, mengingat kawasan ini sekarang sangat bahaya dan menjadi area paling berbahaya dikawasan daerah bencana Merapi saat ini. (*)

Untuk lengkapnya lihat photo2 di http://andiazimuth.multiply.com/photos/album/12
Tagged as: , , , , ,

Adi Susanto is
Email this author | All posts by Adi Susanto

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.