Desa Wodong – Wairterang
By admin • Oct 18th, 2006 • Category: Wisata
dalam perjalanan, ternyata sopir bus hapal betul rute yang di laluinya,
ketika kami bilang, kami mau turun di wodong, dia langsung bilang ” oh,
saya tau desa itu”, nanti kami turunkan disana. saya nggak tau ada
berapa ratus kelokan perjalanan larantuka – wodong, rutenya kadang di
utara kadang ke selatan, dan tengah malam. kami sampai juga di wodong.
kami di antar oleh sopir bus sampai ke pintu masuk wodong beach
bungalow.
Setelah menyinggahi desa lamalera -di pulau lembata. dalam perjalanan,
planning untuk mampir di wodong, sudah ada di rencana perjalanan kami.
setelah berusaha cari info tempat ini, tak banyak yang bisa kami
dapatkan. tujuannya sih pengen nya mendaki gunung egon, yang tahun
2004 lalu sempat beberapa kali batuk-batuk.
desa waiterang, banyak orang tidak terlalu tahu tentang desa wisata
ini, dalam obrolan santai di Kapal motor penyebrangan Lembata -
waywerang – Larantuka, beberapa kali bertanya dimana wodong atau
wairterang.
ah, sudahlah, kami pikir ini desa kecil. tidak banyak orang tau. yang
kami tahu dari desa ini, sudah dekat untuk mencapai Mount Egon.
setelah menunggu lebih dari 3 jam di dermaga dan ternyata perjalanan
menyeberang Lembata-Larantuka butuh waktu hampir 4 jam, sore hari kami
tiba di Larantuka – Flores Timur, dan ada 1 bus yang sudah menunggu
penumpang jurusan Maumere. Larantuka, kota yang boleh saya katakan
mirip dengan kota Rio, dengan patung jesus nya tidak terlalu besar, di
tepi laut dan di kaki gunung. hanya ada 2 jalan besar di kota ini.
karena penumpangnya sepi, kami sudah 4 kali di ajak keliling gratis
alias free city tour kota kecil ini, baru menjelang malam. bus jurusan
Larantuka -maumere berangkat juga, duh hampir 3 jam kita di bus ini.
dalam perjalanan, ternyata sopir bus hapal betul rute yang di laluinya,
ketika kami bilang, kami mau turun di wodong, dia langsung bilang ” oh,
saya tau desa itu”, nanti kami turunkan disana. saya nggak tau ada
berapa ratus kelokan perjalanan larantuka – wodong, rutenya kadang di
utara kadang ke selatan, dan tengah malam. kami sampai juga di wodong.
kami di antar oleh sopir bus sampai ke pintu masuk wodong beach
bungalow.
Gelap, tak lama kemudian datang penjaga bungalow dengan petromaks nya,
tak ada listrik disini, setelah ngobrol – ngobrol ringan di temani teh
hangat, di wodong semua bungalow di buat dengan gaya alam. sunyi
dan…hening, tiupan angin malam dan bentuk akomodasi nya yang serba
alami, begitu mengesankan.
pagi-pagi saya di ajak snorkeling di depan bungalow, dan ternyata
terumbunya lumayan masih bagus. setelah puas dengan snorkel, kami
meluangkan waktu dengan istirahat, relaxing dan ketenangan ini yang di
tawarkan di sini.
Wodong, berasal dari nama burung yang pernah di jumpai di hutan di kaki
gunung egon, katanya telurnya besar dan butuh keburuntungan untuk bisa
bertemu dengan burung ini. sama dengan snorkelan ketemu kumpulan
ular-ular laut yang berwarna warni, lagi-lagi butuh keberuntungan.
sebelum tsunami menghancurkan pantai di sepanjang desa wairterang yang
terjadi ketika gempat Flores 1992 yang di tetaokan sebagai bencana
nasional waktu itu, pantai di sepanjang wodong, sangat bagus. kini,
biasanya para turis yang umumnya turis asing yang mampir ke wodong,
lebih memilih tempat ini sebagai relaxing – tempat beristirahat setelah
explore pulau flores. biasanya dari mereka backpacking dari labuan bajo
to Alor atau Timor, dan selalu mampir di wodong atau ingin mendaki
Egon, umumnya perjalanan di mulai dari desa ini atau melihat belahan
tanah yang ada di pulau babi, sekitar 40 menit dari wodong, tentu harus
dengan mencarter perahu.
Kami 2 malam di desa ini, desa yang berjarak sekitar 20 km dari kota
maumera berada di kaki gunung egon dan merupakan desa lintasan trans
flores penduduknya mayoritas beragama old catholic sangat tenang dan
hening.
pemilik wodong beach bungalow, sedikit terheran ketika ada orang
indonesia singgah di bungalownya, di buku tamunya tidak ada tamu orang
indonesia, umumnya backpacker asal eropa seperti francis, jerman,
inggris dan negara eropa lainnya.
alamak, ternyata… kami butuh waktu 3 jam lamanya menunggu bus untuk
melajutkan perjalanan ke desa Moni – Ende, tujuan kami berikutnya
Taman Nasional Kelimutu yang terkenal itu.
photo:
http://photogallery.indobackpacker.com/main.php?g2_itemId=74
http://odesya.multiply.com
travel tips:
desa wodong lebih dikenal dengan nama Wairterang, berada sekitar 20 km arah timur Maumere – Larantuka.
akomodasi: terdapat 2-3 akomodasi dengan design bungalow yang bersahabat dengan alam, dan tampa alat listrik.
wodong beach bungalow – Angker mie – flores Froogie rata-rata Rp. 50.000,- incl 3 times Meal
aktiftas: snorkel di sepanjang pantai, Diving di pulau babi, atau
seighseeing desa wairterang. kalau senang dengan vulcano trekking
jangan lewatkan untuk mendaki gunung Egon – active Vulcano.
atau.. males kemana-mana, rileks aja, seminggu kayaknya betah deh.
tranport:
Larantuka – Maumere by bus Rp. 35.000,-
Maumere – Wodong by Bemo Rp. 3000,-
Salam
ARIS






