Kawah Ijen
By Santoso • Oct 7th, 2006 • Category: Gunung / Mountain
Setelah menunggu
bertahun-tahun, sampai juga langkah saya ke Kawah Ijen (18-Sep-06).
Terima kasih pada teman-teman di sini (milis Indobackpacker) atas bekal
informasinya. Ada saran untuk lewat Bondowoso dengan catatan angkutan
umum ke Sempol dan Belawan sangat jarang. Ada pula yang punya
pengalaman dari Banyuwangi terhadang jalan buruk dan menyarankan naik
ojek ke Paltuding
</p> <p>
<![CDATA[undefined]]>
Setelah menunggu bertahun-tahun, sampai juga langkah saya ke Kawah Ijen (18-Sep-06). Terima kasih pada teman-teman di sini (milis Indobackpacker) atas bekal informasinya. Ada saran untuk lewat Bondowoso dengan catatan angkutan umum ke Sempol dan Belawan sangat jarang. Ada pula yang punya pengalaman dari Banyuwangi terhadang jalan buruk dan menyarankan naik ojek ke Paltuding.
Mengingat waktu yang terbatas saya memilih lewat Banyuwangi. Jarak Ijen ke Banyuwangi di kisaran 30-an kilo, lebih dekat dibanding dari Bondowoso yang sekitar 70-an kilo. Namun karena ‘balung tuwo’ (he .. he) saya tak hendak memaksa diri dengan sampai di Banyuwangi pagi, jalan ke kawah, turun lagi ke Paltuding, lalu cabut ke Malang. Saya perlu menginap agar badan cukup rehat setelah 7-8 jam di atas bis, baru paginya jalan.
Berikut beberapa data yang sempat saya catat.
Hotel (di Banyuwangi):
Hotel Kumala, Jln. Monginsidi 6, (0333) 423287, tarif Rp. 61-125 ribu.
Hotel Baru, Jln. M. T. Haryono 82-84, (0333) 421369, tarif Rp 30-60 ribu.
Angkutan:
Dari terminal Sasak Perot ada angkutan umum ke Licin. Untuk ke Sasak Perot seseorang mungkin harus sekali berganti angkutan, tergantung dari mana ybs naik. Sekali naik ongkos resminya Rp. 2.250,-. Pada prakteknya angka itu dibulatkan ke atas (Rp. 2.500,-) atau ke bawah (Rp. 2.000,-) tergantung pada jarak tempuh penumpang ke tujuan. Banyuwangi punya banyak terminal kecil baik untuk menaik-turunkan penumpang bis antar-kota maupun antar-kecamatan. Penumpang bis dari arah Jember, misalnya, turun di terminal Blambangan; sementara bis yang ke Surabaya via pantura berangkat dari terminal Sri Tanjung (?) di utara Ketapang.
Bagi yang ke Banyuwangi dengan kereta api bisa turun di stasiun Karang Asem, perhentian terakhir sebelum stasiun tujuan (Ketapang). Dari Karang Asem untuk ke Sasak Perot tinggal jalan kaki. Ke luar dari stasiun belok ke kiri mengikuti jalan aspal, jaraknya tak sampai 1km.
Cari angkutan terpagi. Terpagi di sini bisa jadi baru berangkat menjelang jam 07.00 mengingat keberangkatannya ditentukan jumlah penumpang! Biasanya angkutan terpagi ngetem di luar terminal. Sambil menunggu penumpang lain, orang bisa mencari sarapan di warung-warung di dekat terminal. Di pagi hari, saat aktivitas terminal belum ramai dan polusi belum terakumulasi, standar kebersihan warung masih bisa dipertanggung-jawabkan. Tanya ke sopir apa sampai (atau mau mengantar ke) Taman Sari. Ongkos Sasak Perot ke Taman Sari 7 ribu. Kalau angkutan hanya sampai Licin, mau tak mau harus cari ojek ke Taman Sari. Licin – Taman Sari sekitar 2-3 kilo. Dari Taman Sari itulah ada truk para penambang ke Paltuding, berangkatnya dari kantor koperasi. Dalam sehari 2-3 truk naik-turun. Ongkos naik truk (untuk para penambang) 2 ribu. Kemarin saya memberi 3 ribu.
Di luar truk, tidak ada angkutan umum ke Paltuding. Kebanyakan pengunjung ke Paltuding datang berombongan membawa mobil sendiri. Untuk perjalanan kembali ke Licin yang paling murah ya menunggu truk kembali, pulang bersama para penambang. Kalau tak sabar menunggu, bisa minta tolong tukang ojek untuk menjemput di Paluding pada jam yang disepakati. Bagi pengunjung cekak-waktu, naik ojek bisa dipertimbangkan. Kemarin ada tukang ojek menawari Sasak Perot – Licin 10 ribu. Di depan kantor koperasi di Taman Sari (pangkalan truk) ada lagi pengojek menawari ke Paltidng, nunggu, lalu balik ke Banyuwangi 60 ribu. Licin – Paltuding sekali jalan dengan ojek ongkosnya sekitar 25 ribu.
Di Paltuding:
Di Paltuding (ketinggian +1800-an) ada 2 wisma milik Departemen Kehutanan. Saat saya naik keduanya dipakai mahasiswa Kehutanan UGM yang sedang kuliah lapangan. Paltuding merupakan camping ground sehingga pengunjung diijinkan mendirikan tenda. Paltuding punya 2 warung yang biasanya tutup selewat tengah hari. Ada lagi 1 warung yang ada di pusat pengumpulan belerang, letaknya barang 50m dari Paltuding. Warung ini sebenarnya untuk melayani para penambang namun kadangkala pengunjung pun makan di sana.
Beberapa tambahan/tip praktis:
Selain peralatan untuk trekking ringan dan bekal air minum, jangan lupa membawa masker! Tanpa masker, di sekitar lokasi penambangan orang akan selalu dipaksa memunggungi kawah.
Idealnya pendakian dilakukan pagi (sebelum jam
saat asap belerang belum naik. Jika mendaki di atas jam 10, kecil kemungkinan bisa melihat kawah secara utuh. Barang sebentar asap membekap sebelum akhirnya terusir angin dan sebagian kawah tersingkap. Begitu hal tersebut berulang terjadi.
Taatilah rambu-rambu demi keselamatan pribadi, terutama untuk tidak turun ke pinggiran kawah!
Dipotret atau diambil gambarnya (shooting) bagi penambang adalah biasa. Meski begitu kode etik memotret hendaknya diikuti. Jangan mengarahkan kamera langsung ke wajah. Kalau pun ingin mengambil close up, lakukan dari jarak jauh dengan lensa tele. Kepada yang terlihat ‘rajin’ memotret kadang penambang menanyakan “Mas bawa rokok?” atau “Mas punya permen?” Jawaban ‘tidak’ (seperti yang selalu saya katakan) pun diterima apa adanya. Namun tak ada salahnya pengunjung membawa kembang gula untuk media pergaulan.
Menunggu datangnya truk untuk kembali ke Taman Sari bisa dipakai untuk tahu lebih jauh kehidupan para penambang. Meski hidup terasa berat dan keras, mereka tetap ramah, guyon, dan akan memberi jawaban atas setiap keingin-tahuan kita. Dalam sehari mereka hanya dibolehkan 2x naik-turun (penambang sendiri mengaku hanya kuat naik-turun 2x). Sekali naik, turunnya mereka memikul lebih dari 50kg bongkahan sulfur. Kata seorang penambang, ada yang kuat membawa 100kg sekali angkut. Per kilonya dihargai Rp 400! Harga sulfur, aku penambang yang lain, memang disesuaikan harga pasar namun kenaikannya hanya pada kisaran Rp. 20/tahun!
Di pos pengumpulan belerang kita bisa tahu dan merasakan ritual harian penambang. Beberapa dari mereka rehat di keteduhan meregang otot, beberapa yang punya karung mengemas bongkah-bongkah hasil tambangannya. Truk terakhir datang membawa serta pengurus (bos) koperasi. Pengurus mengabsen penambang satu per satu, yang dipanggil maju mengangkat pikulannya ke atas penimbang. Angka yang ditunjuk oleh penimbang lalu diubah ke dalam Rupiah yang dibayar sore itu juga. Di atas truk salah satu pengurus bilang, belerang-belerang ini nantinya secara berkala diambil pembelinya dari Surabaya.
Banyuwangi, 18-September-2006
Sangatta, 25-September-2006



