Situs Muara Jambi, Jejak Peradaban di Tepi Batanghari
By Feri Latif • Nov 1st, 2006 • Category: Indonesia, Petualangan, Tempat Bersejarah
Satu jam berperahu ketek dari kota Jambi menyusuri sungai Batanghari
kita akan sampai Situs Muara Jambi. Situs ini merupakan peninggalan
peradaban masyarakat Jambi kuno di abad IX hingga XIV.
Posisinya
secara topograpis cukup unik, situs ini terletak di tanggul alam kuno
(natural leeve) yang membentang sepanjang 12 km di tepian sungai
Batanghari. Karena terletak di atas tanggul alam kuno maka ketika
Batanghari meluap situs itu tidak pernah kebanjiran. Sebuah pelajaran
kearifan memperlakukan alam telah diperagakan nenek moyang kita.
Di situs itu ditemukan sedikitnya 80 titik yang di duga candi. Untuk menguhubungkan satu candi dengan candi yang lainnya dibuatlah kanal-kanal yang bisa dilalui perahu. Semasa aktifnya mungkin kanal-kanal Situs Muara Jambi menyerupai Vinesia, di mana sistem transportasi utama penduduknya menggunakan perahu.
Semua candi di Situs Muara Jambi terbuat dari bata merah. Dari delapan puluh candi itu baru tujuh candi yang selesai di eskavasi, yaitu candi Kedaton, Gedong 1 dan 2, Tinggi, Gumpung, Kembar Batu, Astano dan sebuah kolam pemandian, Talago Rajo. Yang lainnya masih terkubur di belantara hutan dan perkebunan penduduk. Penduduk setempat menyebutnya sebagai Menapo, yang artinya gundukan tanah yang mengandung struktur bata di dalamnya. Bisa dibayangkan bagaimana besarnya situs itu jika ke delapan puluh kompleks candi yang ditemukan berhasil di ekskavasi.
Mantan Kepala Balai Arkeologi Jambi, Junus Satrio Atmojo, menyebutkan bahwa situs ini merupakan “harta karun” yang tak ternilai harganya bagi dunia arkeologi Indonesia. Sampai saat ini masih ditemukan sisa keramik, arca dan benda logam oleh penduduk setempat.
Bagaimana mengembangkan situs itu agar dapat memberikan sumbangan pengetahuan tentang perjalanan sejarah bangsa Indonesia? Salah satunya membuat rencana kerja agar Situs Muara Jambi ini bisa diterima oleh PBB menjadi World Heritage. Dan itu bukannya tidak mungkin. Karena untuk diusulkan menjadi warisan dunia Situs Muara Jambi tidak punya saingannya di Sumatera. Sedangkan untuk tingkat nasional saingannya hanya situs Trowulan. Dan inilah saatnya sebuah situs di Sumatera bisa menjadi warisan dunia bukan hanya di Jawa. Mengapa tidak?
Bagaimana Menuju Kesana?
Ada tiga rute yang bisa ditempuh untuk mencapai Situs Muara Jambi:
1. Rute menggunakan Perahu Ketek. Dari kota Jambi (Bandara Sultan Taha) naik angkot jurusan terminal. Dari terminal langsung jalan kaki atau naik ojeg menuju ANCOL. Ancol ini berada di tepi sungai Batanghari, tempat nongkrong muda-mudi kota Jambi. Di sana terdapat Mall yang baru dibangun dan juga warung-warung sepanjang tepi Batanghari. Jangan kaget kalau selepas maghrib ke sana banyak pasangan remaja yang sedang indehoi…Dari Ancol ini kita bisa menyewa perahu ketek sampai ke desa Muara jambi. Tarifnya bisa diomongin, sekitar Rp. 100-150ribu/perahu yang bisa didinaiki 10 orang lebih. Alternatif lain jika ingin naik perahu ketek bsia lewat Dermaga Angsa Duo di dekat pasar Angsa Duo. Lama perjalanan sekitar 1 jam.2. Rute menggunakan ojeg motor. Dari bandara Sultan Taha bisa menggunakan ojeg melewati pelabuhan Talang Duku. Jangan kaget ya kalau jalannya rusak berat! Maklum kendaraan yang lewat biasanya truk- truk pengangkut CPO kelapa sawit dari perkebunan dan pabrik sekitarnya.

Ojeg akan berhenti di pangkalan ojeg di tepi sungai Batanghari yang seberangnyaadalah desa Muara Jambi. Tarif ojegnya sekitar Rp.20.000-25.000. Nah, dari pangkalan ojeg itu tinggal menyebrangi sungai dengan perahu ketek, tarifnya Rp.2000/orang. Lama perjalanan sekitar 30-45 menit. Tergantung tukang ojegnya siapa sih, kalau Valentino Rossi 15 menit juga nyampe….he…he….
3. Rute Naik Mobil. Bisa mencarter angkot atau mobil omprengan yang lewat. Rute ini akan melewati Jembatan Batanghari I, masyarakat sekitar menyebutnya Jembatan Aurduri. Mobil akan melewati desa Setiris, desa Jambi Kecil dan terakhir desa Muara Jambi. Sewa mobilnya sekitar Rp.100.000-200.000. Lama perjalanan sekitar 1 jam lebih.
Kalau tiba di Desa Muara Jambi langsung saja berjalan sekitar 500an meter menuju situsnya. Di sana cari pak Bujang/Asriel. Dia penjaga museum dan kantor dinas purbakala. Kalau ingin menginap di sana koordinasi saja dengan beliau. Menginapnya nanti di kantor/ruangnya beliau. Sederhana memang, cukup pakai tikar dan bantal. Kecuali pak
Bujang memberikan kamar tidurnya tang ada dipan berlapis kasur tipis. Di sana tidak ada penginapan kecuali di rumah-rumah penduduk. Kalau menginap di kantor purbakala nanti pak Bujang yang melayaninya, dari makan pagi, siang sampai malam. Menunya sederhanalah, Indomie, telor ceplok, ikan-ikan sungai, sayur-sayuran, tempe, tahu dan yang terpenting sambel buatan istrinya enak booo!
Waktu saya nginap di sana sama anak-anak Off Stream, itulah muda-mudi tukang bikin film independen, “membayar” pelayanan Pak Bujang Rp.50.000-75.000/perhari perkepala. Untuk mandi dan buang hajat ada kamar mandi yang rajin dibersihkan Pak Bujang atau di sumur di belakang kantor yang airnya bening dan seger banget. Saya memilih mandi di sumur, tempatnya
terbuka..biar menyatu dengan alam gitu lho…hiii…hii…pake celana pendek kok sekalian bisa nyuci baju.
Untuk urusan antar mengantar bisa kontak Pak Zubaidi alias Bidid. Dia ini satpam sana, dengan senang hati dia akan mencarikan motor untuk kita pakai keliling-keliling Situs Muara Jambi. Sewanya Rp.50.000 seharian, bensinnya kita yang isi sendiri. Pak Bidid bisa dikontak jauh hari dia punya HP yang selalu dibangga-banggakan, ini nonya: 081366788520. Kita juga janjian dengan beliau untuk minta dijemput di bandara dengan ojeg misalnya, atau dijemput di Ancol atau Angsa Duo dengan perahu ketek. Pak Bidid yang mencarikan ojeg dan perahu ketek ini.
Oh ya, kalau sampai di desa Muara Jambi cuma ada satu-satunya warung nasi dengan menu nasi padang. Yang punya namanya Ibu Asmara. Juga ada Mie Ayam, yang punya warung pemuda asal Purworejo bernama Udin. Karena mereka satu-satunya yang buka “restoran” di sana maka makanan merekalah yang terenak di sana.
Ada apa saja sih di Situs Muara Jambi? Selain situsnya sendiri kita bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakatnya yang bergantung pada kehidupan sungai. Masyarakatnya sendiri equal. Tingkat kesejahteraanya lumayan. Penghasilan masyarakat dari pertanian dan perkebunan. Kalau musim duren dan duku mereka menjadi orang kaya baru. Syukur-syukur kalau ke sana pas ada pesta perkawinan, pasti meriah! Karena setiap ada perkawinan pasti ada upacara adat serta tarian adatnya. Kalau kita ada di sana pasti di undang, masyarakatnya ramah-ramah. Tapi jangan lupa kasih amplop untuk tuan rumah, berapa aja seikhlasnya. Menurut tradisi di sana ngasih amplop kepada yang punya hajatan itu penghormatan kepada tuan rumah (kayaknya bukan di sana aja ya…)

Dan juga di sana ada pasar sehari, maksudnya pasar yang buka hanya satu hari. Mungkin karena topografis dan letak antar desanya yang berjauhan maka di sana pasar diadakan sepekan sekali. Misalnya hari Kamis di desa Jambi Kecil, hari Senin di Sengeti, hari Jumat di Simpang Giri, hari Minggu di desa sarang Burung. Pasar-pasar sehari terbentuk karena biasanya setiap desa itu hari panennya beda-beda. Misalnya pasar kamis di Jambi Kecil, karena dulunya masyarakat panen karet setiap hari kamis dan hari itu dijadikan hari transaksi. Lama kelamaan terbentuklah pasar Kamis, Selasa, rabu dan lainnya. Para pedagangnya pun ikut berkeliling mengikuti pasar sehari itu. Kalau hari kamis berdagang di Jambi Kecil hari jumatnya di Simpang Giri.
Oke, sampai di sini dulu, kalau kurang jelasa tanya lewat email. Untuk menambahkan informasi saya beri link “Portrait Masyarakat Muara Jambi” :
http://ferifotografi.multiply.com/photos/album/7
PS.
Usahakan ke Situs Muara Jambi pas musim hujan ketika air melimpah di mana-mana. Waktu terakhir saya ke sana awal oktober lalu agak kerontang euuiii…Tapi jangan lupa bawa Autan atau Saripuspa dan sebagainya…karena bukan hanya nyamuk yang berpesta kalau kita ke sana, ada Agas dan Pacet yang kalau menggigit bisa berdarah-darah!
Feri Latif is
Email this author | All posts by Feri Latif



