Perjalanan Menuju Ifugao – Philippines
By Erwin • Dec 3rd, 2006 • Category: Warisan Dunia / World Heritage, Wisata
Provinsi Ifugao terletak di Pegunungan Cordillera, Filipina bagian utara. Suku Ifugao yang berarti Orang Bukit sebagai salah satu suku asli di sini, dengan keterampilan dan kepintarannya telah membangun teras sawah sejak 2000 tahun yang lalu. Dimulai dari bagian paling dasar sampai ketinggian ribuan kaki dengan peralatan yang masih primitif. Sementara dinding-dinding pematang sawahnya dibuat dari susunan bebatuan. Aliran air yang ada di pegunungan dibendung untuk pengairan dan mengalir ke bawah melalui teras sawah. Teras sawah bagaikan “Stairway to Heaven” ini karena keunikannya dijadikan sebagai UNESCO’s World Heritage Site.
Stasiun LRT Blumentritt Manila, selepas matahari terbenam. Dua orang petugas keamanan stasiun tidak mampu memberikan jawaban di mana letak Jalan Espana Blvd. Kalau melihat peta Metro Manila yang saya pegang, saya yakin letak jalan itu jaraknya sudah dekat dengan stasiun. Petugas itu malah menanyakan kepada seorang bapak yang sedang berdiri dekat pintu keluar stasiun. Sambil melihat peta, saya tunjukkan nama jalan dan nama lokasi areanya yang saya tanyakan. Menurut bapak itu, saya harus naik Jeepney karena lokasinya cukup jauh dari stasiun.
Bapak itu akhirnya mengantarkan saya ke terminal Jeepney yang hanya ratusan meter dari stasiun. Saya jadi merasa merepotkan karena melihat beliau berjalan terpincang-pincang menggunakan tongkat. Ia bercerita bahwa akibat kakinya yang sakit membuatnya harus pensiun dari pekerjaannya. Bapak yang umurnya sekitar 50an tahun itu kelihatannya pernah terkena stroke. Beberapa kali saya harus merangkul bahunya untuk menghindar dari kendaraan yang lewat disampingnya. Suasana jalan di dekat stasiun LRT itu sangat ramai. Selain toko-toko di kiri dan kanan jalan, juga dipenuhi pedagang kaki lima aneka macam kebutuhan rumah tangga. Semrawutnya mirip kawasan terminal Pasar Minggu Jakarta. Lapak-lapak yang digelar pedagang sebagian memenuhi badan jalan. Pejalan kaki, Tricycle, gerobak, dan Jeepney berusaha mencari celah untuk bisa bergerak.
Metro Manila tidak memiliki terminal bus terpadu karena masing-masing perusahaan bus memiliki terminal sendiri. Tujuan saya kali ini adalah Banaue, ‘ibu kota’ Provinsi Ifugao, dan satu-satunya perusahaan bus yang melayani trayek Manila-Banaue adalah Autobus yang berpangkalan di Jalan Espana Blvd, Distrik Sampaloc.
Pukul 7 pagi, bus telah tiba di Banaue setelah 9 jam perjalanan dari Manila. Para penarik tricycle (becak bermotor seperti di Medan) berebut menawarkan jasa angkutan ke penginapan dan trekking guide kepada turis-turis sewaktu baru turun dari bus yang pangkalannya agak jauh dari pusat kota. Banaue sebenarnya hanyalah sebuah kota kecil yang memiliki pusat keramaian di sebuah pasar dekat sebuah balai kota dan terdapat beberapa penginapan kelas backpacker di sekitar pasar. Seorang penarik tricycle yang mendekati saya menawarkan jasa untuk mengantar ke penginapan tanpa biaya. Saya memang belum menetapkan tempat menginap, tetapi setelah mengetahui harga dan fasilitas yang ditawarkan cukup memadai dan terjangkau, saya langsung menyetujui tawaran itu.
Green View Lodge dibangun dua lantai di atas permukaan tanah dan satu lantai di bawah tanah. Restoran dan dek di bagian belakangnya menghadap langsung ke sebuah lembah dan pemukiman penduduk. Bagian belakang penginapan ini menganga sebuah jurang yang dibawahnya terdapat sungai. Saya hanya berharap tidak terjadi tanah longsor yang bisa membahayakan penghuni penginapan, apalagi letak kamar saya ada di bawah tanah.
Provinsi Ifugao terletak di Pegunungan Cordillera, Filipina bagian utara. Suku Ifugao yang berarti Orang Bukit sebagai salah satu suku asli di sini, dengan keterampilan dan kepintarannya telah membangun teras sawah sejak 2000 tahun yang lalu. Dimulai dari bagian paling dasar sampai ketinggian ribuan kaki dengan peralatan yang masih primitif. Sementara dinding-dinding pematang sawahnya dibuat dari susunan bebatuan. Aliran air yang ada di pegunungan dibendung untuk pengairan dan mengalir ke bawah melalui teras sawah. Teras sawah bagaikan “Stairway to Heaven” ini karena keunikannya dijadikan sebagai UNESCO’s World Heritage Site.
Peta yang saya peroleh dari penarik tricycle berisi tentang rute trekking dan deskripsi lokasi yang menarik untuk dijelajahi. Kelihatannya, dari Peta itu saja sudah cukup jelas untuk menjelajahi kawasan ini, tetapi ternyata cukup sulit untuk mencari jalan ketika berada di tengah-tengah ribuan pematang sawah. Tawaran penduduk lokal untuk menjadi guide telah saya tolak karena harganya cukup mahal, kecuali saya mendapatkan partner untuk cost-sharing. Padahal, ia memberikan tawaran untuk mempertemukan saya kepada penduduk lokal di Desa Batad yang masih bertato dan sehari-harinya masih menggunakan G-string (cawat).
Menurutnya lagi, di beberapa rumah penduduk juga masih tersimpan alat-alat pertanian dan alat berburu yang masih primitif. Kalau melihat foto-foto dari literatur tentang penampilan suku Ifugao, kaum tua baik pria maupun wanitanya, penampilan mereka mirip dengan suku Dayak Kalimantan yang juga bertato. Desa Batad sendiri menyuguhkan pemandagan teras sawah berbentuk Amphitheater yang sangat mengesankan. Kalau berdiri ditengah-tengah desa yang terletak di dasar lembah, 360 derajat disekeliling kita adalah teras sawah yang menjulang ke atas sampai ribuan kaki. Sementara desa Hapao, sekitar 16 km dari Banaue juga menyuguhkan pemandangan teras sawah yang menarik karena dinding pematang sawah semuanya terbuat dari susunan bebatuan dan terlihat rapi. Konon di beberapa rumah penduduk desa ini juga masih ada yang menyimpan mumi (mayat yang diawetkan). Menurut seorang penarik tricycle, di Banaue sendiri masih ada keluarga yang memiliki tradisi penguburan mayat dengan cara menggantung peti mati di dinding tebing atau menyimpannya di dalam goa (mirip kebudayaan di Tana Toraja), tetapi sayangnya keluarga itu tidak menginginkan adanya publikasi apalagi dilihat oleh turis.
Suku Ifugao memiliki kepercayaan terhadap dewa yang ada di puncak gunung dan mempercayai reinkarnasi, Seperti kata penarik tricycle yang mengangkut saya, menurutnya, ia adalah reinkarnasi dari kakeknya yang telah lama meninggal. Tetapi banyak juga diantara mereka melepas kepercayaannya dan beralih menjadi pemeluk agama katolik.
Dalam suatu obrolan santai di depan penginapan dengan para pemuda yang sebagian besar berprofesi sebagai penarik tricycle dan trekking guide, saya menemukan beberapa kosa kata yang sama artinya, baik ejaan maupun bunyi antara dialek Ilocano (Bahasa sehari-hari suku Ifugao) dan Tagalog dengan bahasa Indonesia. Sementara pengguna bahasa Ilocano mengerti dialek Tagalog (Bahasa persatuan Filipina) tetapi sebaliknya, pengguna bahasa Tagalog kurang memahami dialek Ilocano. Saya pikir, adanya beberapa kesamaan bahasa ini karena bahasanya masih serumpun dengan dialek Melayu-Polynesia.
Dengan adanya lahan pertanian yang luas bukan berarti membuat pemuda setempat akan mengikuti jejak orang tua mereka untuk menjadi petani. Ternyata karena alasan mendapatkan uang lebih cepat, mereka lebih memilih pekerjaan selain petani atau mencari pekerjaan di kota besar seperti Manila. Menurut buku Rough Guide, teras sawah yang digarap saat ini hanya sekitar 35 persen dari keseluruhan sawah yang konon, kalau dibentangkan secara mendatar panjang keseluruhan sawah itu menjadi 20,000 km.






