Bali: Pariwisata Budaya, Budaya Pariwisata Disisi Picard
By Puguh • Jan 22nd, 2007 • Category: Book Review
Buku ini membahas sekelumit sejarah berakhirnya Majapahit dan eksodus golongan bangsawan, pendeta, seniman, dan sastrawan ke keratin GelgelPulau Bali. Pertemuan Bali dengan peradaban Barat. Kemudian perlakuan Pemerintah Hindia Belanda terhadap Bali yang berusaha menjadikan Bali sebagai Museum Hidup. Orang-orang asing yang pertama menetap di Bali travel agent pertama yang operasi di Bali Dan ternyata Singaraja adalah daerah yang lebih dulu terbuka oleh kedatangan para pelancong.

Judul Buku : Bali: Pariwisata Budaya, Budaya Pariwisata
Pengarang: Michel Picard
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Forum Jakarta-Paris, Acole Franciaise d’xtreme-Orient, 2006
Harga: Rp. 40,000.-
Sebenernya buku ini lebih mirip seperti laporan penelitan sosiologi. Tapi tetep menarik dibaca apalagi sambil membayangkan apa yang kita temui ketika berkunjung ke Bali. Cukup banyak Oooo moment waktu baca buku ini.
Buku ini membahas sekelumit sejarah berakhirnya Majapahit dan eksodus golongan bangsawan, pendeta, seniman, dan sastrawan ke keratin Gelgel Pulau Bali. Pertemuan Bali dengan peradaban Barat. Kemudian perlakuan Pemerintah Hindia Belanda terhadap Bali yang berusaha menjadikan Bali sebagai Museum Hidup. Orang-orang asing yang pertama menetap di Bali travel agent pertama yang operasi di Bali Dan ternyata Singaraja adalah daerah yang lebih dulu terbuka oleh kedatangan para pelancong.
Kemudian masuknya era kemerdekaan dan kebijakan pariwisata dimasa ordebaru yang menghasilkan enclave Nusa Dua. Dan sisa masalah yang mendasar saat ini, yaitu kepemilikan tanah pinggir pantai yang umumnya dimiliki orang luar Bali. Pembangunan GWK dan resort dekat Tanah Lot.
Rupanya warga dulunya warga asli Bali tidak memilih tinggal di pinggir pantai karena dalam stuktur kosmik orang Bali, kelod, yang dekat laut adalah tempat tinggal Buta Kala dan hal yang buruk. Dan struktur ini terlihat pada masa kini dengan membandingkan Ubud dan Kuta.
Dengan masuknya wisatawan, produk budaya bali yang paling terpengaruh adalah tarian. Banyak tarian bali yang kita kenal sekarang adalah tarian kreasi baru. Karena tarian aslinya bersifat sakral dan dilarang dipertunjukkan diluar konteks. Buku ini membahas cukup dalam tentang jenis tari Bali dan perkembangannya dalam kaitan industri pariwisata.
Tidak ada istilah seni atau seniman dalam bahasa bali. Seperti halnya tidak terdapat istilah yang menyampaikan kandungan arti dari istilah tari atau penari. Karena hal tersebut tersebut adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan merupakan persembahan mereka kepada Sang Hyang Widhi. Mungkin orang Bali berprinsip: Jangan lakukan kalau tidak indah!
Dihalaman 100, cerita tentang masuknya backpacker ke bali di awal tahun 70-an,. Para hippies backpacker dianggap sebagai wisatawan gaya baru dan digambarkan sebagai pangsa pasar yang muda, terdidik, beranggaran terbatas, dan lebih mengutamakan pengalaman eksotik dan pergaulan dengan penduduk setempat daripada keyamanan dan kemewahan. Dan seperti biasa, kebijakan resmi pariwisata tidak menganggap golongan wisatawan ini potensial karena devisa yang dihasilkan lebih sedikit.
Buku ini berusaha menjawab pertanyaan; akankah Bali bertahan ditengah gencarnya industri pariwisata? Jawabnya: Iya, jika pariwisata Bali benar-benar menjual ke-Bali-an Bali. Bukan lapangan golf atau resort mewah. Sehingga tidak menjadikan orang Bali sebagai obyek tontonan wisatawan.
Puguh is
Email this author | All posts by Puguh



