Nyanyi Bareng The Beatles di Kampung Halamannya

Custom Search

By Ambar • Jan 11th, 2007 • Category: Budaya / Cultural
Bookmark and Share

Letaknya berada di sisi luar Albert Dock melalui jejeran toko hingga akhirnya melewati tangga menuju bagian bawah. Hmmm….terpampang “The Beatles Story : A New Magical Experience” lengkap dengan audio tour. Saya masuk kedalam. Ruangan terasa gelap dan remang. Ekpetasi saya tentang tempat ini tadinya seperti ruang display lengkap dengan cahaya dan teks macem-macem. Nyatanya saya malah diantar ke tempat yang sumpek, kecil dan penuh manusia. Iyah walau cuaca ngg bagus para pengunjung tetep aja menjejali tempat ini. Di bagian entrance adalah meja membeli tiket, sedang tak jauh terpampang berbagai produk merchandise aneka macam.


We never did the same things once….Paul McCartney

Siang itu Liverpool terasa membosankan, langit sepert biasa tanpa warna. Tapi langkah kaki saya menuju Albert Dock, sebuah bagian dari pelabuhan yang sekarang disulap menjadi pusat kultural baru. Kaki saya melewati Tate Museum dan Maritime Museum. Saya menghabiskan beberapa saat di Tate hingga kemudian saya harus memilih. The Beatles atau Maritime Museum. Yang pertama harus bayar sedang satunya gratis. Ah jauh-jauh kesini rasanya sebuah keharusan melihat putra-putra terbaik Liverpool : John, Paul, George dan Ringo.

Letaknya berada di sisi luar Albert Dock melewati jejeran toko hingga akhirnya selewati tangga menuju bagian bawah. Hmmm….terpampang “The Beatles Story : A New Magical Experience” lengkap dengan audio tour. Saya masuk kedalam. Ruangan terasa gelap dan remang. Ekpetasi saya tentang tempat ini tadinya seperti ruang display lengkap dengan cahaya dan teks macem-macem. Nyatanya saya malah diantar ke tempat yang sumpek, kecil dan penuh manusia. Iyah walau cuaca ngg bagus para pengunjung tetep aja menjejali tempat ini. Di bagian entrance adalah meja membeli tiket, sedang tak jauh terpampang berbagai produk merchandise aneka macam.

Setelah membeli tiket 8.99 pounds saya diberi peralatan audio untuk mendengarkan guide tour. Ah ya megingatkan saya ketika mengunjungi Stonehenge. Audio tour ini dalam berbagai bahasa, dibuat untuk memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung. Kita bisa memilih program sendiri berdasarkan nomor yang tertera di display. Sejak pintu depan sudah ada peringatan untuk tidak memotret selama berada di dalam museum. Saya patuh, hanya mengambil gambar dari luar dan sebagian pintu masuk.

Awal tur adalah sebuah lorong gelap dengan dinding dilengkapi akta kelahiran keempat bocah Liverpool yang lahir dari produk perang dunia kedua. Sedang sisi lainnya adalah foto seukuran manusia formasi awal The Quarrymen–nama grup sebelum ditasbihkan menjadi the Beatles. Foto ini cukup menarik karena hanya John Lennon dan Paul McCartney sedang George Harrison hanya diundang untuk sekedar nonton.


Dari audio saya bisa mendengarkan penuturan Julia Lennon –saudarinya John yang memberikan narasi tentang bagaimana pertemuan calon anggota ini. Wah bagus juga ya…sambil jalan ndengerin penjelasan tanpa mengganggu pengunjung yang lain. Lucunya kadang saking serius terlihat beberapa bengong didepan kaca…termasuk saya juga he he he.
Lantas bergerak menuju bagian yang disebut Hamburg street. Betul kota ini mengambil peran penting dalam karir Beatles karena dari sini mereka memulai tur keluar negeri pertama. Situasi kota Hamburg digambarkan dengan pintu-pintu bar, jalanan dan suasana 60’an.

Ahya sambil masih asyik mendengarkan lewat headphone saya bergerak menuju suasana Liverpool –ibukota musik di Inggris saat itu. Ada sudut yang dibuat seperti toko kepingan hitam dan radio lokal, Merseybeat, juga dedikasi untuk psychedelic music yang menjadi dasar musik era saat itu. Sejarah singkat tentang perjuangan awal the Beatles meraih kontrak rekaman dan kesuksesan di Liverpool.

Sambil berlalu saya terus mendengarkan suara orang-orang yang terlibat langsung dalam proses menuju keterkenalan mereka seperti Brian Epstein –sang manager , George Martin -sang produser dari EMI Parlophone hingga membawa lagu-lagu hits mereka ke USA.

Dari sini masih melewati replika The Cavern Club yakni rock and roll club tempat manggung The Beatles secara live di ruangan bawah tanah yang pengap dan tertutup. Saya serasa memasuki sebuah ruangan untuk sebuah pementasan jazz ketimbang rock and roll. Panggung yang nampak seadanya, kecil dengan piano yang terpaku dengan lantai. Drum yang masih seukuran kecil, coretan tangan nama-nama grup musik yang manggung menjadi latar belakang. Atapnya yang terbuat dari batu-bata melengkung sungguh membuat kesan clausthrophic makin terasa. Sederetan kursi yang hanya menampung 20 orang, cahaya lampu yang terkesan asal-asalan.

Di ruangan ini saya diperdengarkan deretan lagu mereka. Wah terasa banget saya seperti ikut bagian konser musik live. Atmosfer-nya terasa sekali. Saya menghabiskan waktu sambil duduk manis, merasakan tiap detik disini sembari membayangkan tahun 1961. Ohya konsep pertunjukan di ruangan sempit dan semi rahasia ini menjadi trend kembali saat ini dengan kemunculan Arctic Monkeys.


Saya lantas melewati masa-masa keemasan The Beatles terutama karya-karya film dan musik mereka di US. Konsep musik dari per album digambarkan dengan menarik. Misalnya Yellow Submarine (1969) album dibuat seperti kita memasuki kapal selam. Sedang album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967) yang agak aneh dengan deretan orang dengan berbagai kostum plus karangan bunga bertuliskan the Beatles. Eksentrik bangets…

Hingga masa-masa solo karir mereka pun ditampilkan dalam session display sendiri. Misalnya White Room adalah replika kamar putih yang menjadi setting video klip lagu Imagine John Lennon bersama Yoko Ono. Section yang khusus untuk Lennon adalah menyaksikan dunia melalui kacamatanya yang unik itu. Berupa pemutaran video tentang kampanye perdamaian yang disebarkan John lewat lagu-lagunya.

Tak terasa hampir 2.5 jam saya berkutat di lorong-lorong gelap Liverpool tahun 60an. Memang saya belum lahir waktu itu tapi melalui The Beatles saya seperti terlempar kembali ke masa itu. Begitu saya menutup pintu keluar saya berada di ruangan entrance kembali. Terhenyak….ah pengalaman ngg terlupakan. Oleh-olehnya ….hm kaos Beatles bergambar photo icon favorite mereka di Abbey Road. Sambil keluar saya masih mendendangkan sebait A Hard Day’s Night :


It’s been a hard day’s night, and I’d been working like a dog

It’s been a hard day’s night, I should be sleeping like a log


But when I get home to you I find the things that you do


Will make me feel alright


Tagged as: , , , ,

Ambar is Adventures. Backpacking. Photography.
Email this author | All posts by Ambar

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.