HOYAK TABUIK PARIAMAN 2007-Oyak Oyak
By Kuntarini • Feb 10th, 2007 • Category: Budaya / Cultural, Wisata
Tabuik sendiri berasal dari bahasa Arab yang diartikan sebagai keranda atau peti mati. Tabuik terdiri dari dua bagian. Bagian atas mewakili keranda, berbentuk menara yang dihiasi bunga dan kain beludru berwarna-warni, sedangkan bagian bawah mewakili burung Bouraq, yang di percaya membawa Imam Hosein ke langit menghadap yang kuasa. Bagian bawah ini berbentuk tubuh kuda, bersayap dan berbuntut burung dan memiliki kepala wanita memakai jilbab yang diambil dari manequin. Jika kedua bagian itu disatukan, tinggi Tabuik mencapai 12m. Dari tahun ke tahun, tinggi Tabuik terus turun karena kondisi perekonomian rakyat yang makin sulit.
Ada undangan dari www.west-sumatra.com untuk hunting foto Tabuik di Pariaman! Yippeee…….! Sudah bertahun-tahun saya berharap bisa menyaksikan Tabuik tapi kelewatan terus, undangan ini terasa bagai durian runtuh buat saya.
Tapi berkah ini segera membuat saya gundah. Acara yang selalu dilangsungkan pada tanggal 1-10 Muharram itu sayangnya jatuh pada bulan Januari tahun ini, dimana cuaca telah menghilangkan satu pesawat berpenumpang 96 orang tanpa bekas. Penerbangan ke Padang sebulan lalu membuat saya kapok. Terbang pada cuaca buruk rasanya seperti terbang dengan pesawat hybridd antara Bajaj dan kapal ke pulau saat ombak besar : bergetar terus seperti bajaj, dan pesawat naik-turun seperti kapal rakyat. Payahnya lagi, saya terpaksa naik airlines yang kehilangan pesawat tersebut, karena penerbangan sudah penuh semua ke Padang. Ketika menerima tiket dari travel agent, saya bahkan tidak berani melihat tiket yang saya terima ….
Raiyani teman saya beruntung, jauh hari dia sudah sempat booking Airasia. Penerbangan kami sama, jam 6.25 pagi pada hari yang sama. Sempat terpikir, saya go show saja di bandara, cari seat kosong Airasia, daripada naik airlines ini.
Sebenernya alasannya konyol. Saat penerbangan di cuaca buruk kemarin, kebetulan saya juga terbang dengan Raiyani. Ketika nervous, setidaknya saya tahu ada tangan dia yang akan bisa saya pegang…..walaupun kemarin saya toh tidak memegang tangannya juga, karena saya pikir tangan Raiyani sahabat saya itu tidak bisa bikin saya jadi selamat juga……
Setelah tidak bisa tidur beberapa hari, akhirnya saya putuskan untuk pergi juga.
Akhirnya sampai juga saya di Minangkabau International Airport (MIA) dengan selamat. Cuaca cerah, dan penerbangan tidak buruk-buruk amat.. Berbeda dengan airlines lain, di airlines ini banyak pramugara yang ganteng-ganteng. Dilayani makhluk Tuhan yang indah-indah ini membuat saya lupa khawatir terbang dengan airlines yang punya kemampuan menghilang di laut ini. Di bandara, Rahman, fotografer Padang dan Raiyani yang sudah sampai duluan menyambut dengan cengengesan. Mereka tahu saya nervous tadi pagi.
Kami disediakan mobil berikut bensin untuk keliling Sumatera Barat. Rahman dan Raiyani akan segera survey ke Mahat, tempat menhir2 (kuburan batu) bersejarah di Payakumbuh, sedangkan saya akan langsung ke Pariaman. Mereka akan bergabung di Pariaman pada malam hari. (Berarti saya sempat solo backpacking ke Pariaman dong…. walaupun cuma seharian. Wuih senangnya…..sudah bertahun-tahun saya tidak solo backpacking, akhirnya kesempatan ini datang juga).
Untuk ke Pariaman, kita bisa naik bis Damri di depan airport MIA ke Tabing seharga Rp15.000,-. Dari Plaza Minang naik bis Kawan atau Alisma sebesar Rp 6000,- dan turun di simpang terminal jati, lalu naik angkot Rp 2000,- ke Pariaman, turun di persimpangan Tugu Tabuik. Tapi karena kami naik mobil, saya turun di Lubuk Alung dan naik bis Kawan ke Pariaman, sementara teman-teman terus ke Payakumbuh.
Hotel yang dibooking nara sumber di Pariaman tepat berada di depan Tugu Tabuik Lokasinya sangat strategis untuk memotret. Tapi ketika masuk ke kamar hotel, saya tertegun. Walaupun dilengkapi AC, TV dan Water dispenser di dalam tiap kamarnya, segala jejak peninggalan sejarah tamu sebelumnya masih utuh. Segera saja saya minta kamar dibersihkan secara total, termasuk bak mandinya. Saya bingung dengan standar kebersihan mereka, tapi mungkin justru sayalah yang dianggap paranoid oleh pegawai hotel. Biarlah………
Sebenarnya banyak hotel yang lebih baik di Pariaman. Setelah berkonsultasi via HP dengan Rahman dan Raiyani yang juga akan menginap di kamar ini nanti malam, kami putuskan untuk tetap tidur disini, dengan pertimbangan bahwa lokasi hotel ini sangat strategis untuk memotret dibandingkan dengan hotel lain, dan kami toh hanya akan tidur beberapa jam saja nanti malam.
Tidak betah berlama-lama di kamar hotel, saya segera keluar untuk hunting foto pembuatan Tabuik. Tempat pembuatan Tabuik di Pariaman ada dua, Tabuik yang dibuat anak nagari kumpulan jorong-jorong (struktur masyarakat Minangkabau terendah) di daerah Subarang, dan Tabuik yang dibuat oleh jorong-jorong di daerah Pasar. Kedua daerah tersebut dipisah oleh aliran sungai yang membelah Pariaman. Semua orang yang saya tanya menganjurkan saya untuk naik ojek saja, tapi saya lebih memilih jalan kaki sambil menyelami kehidupan di kota Pariaman.
Mengikuti insting dan kaki melangkah entah kemana, saya masuk ke jalan kecil disamping Mesjid yang memiliki menara berlapis kaca hijau yang unik. Tanpa diduga, pantai Gandoriah, tempat Tabuik besok dibuang ke laut, sudah membentang di depan mata……
Pantai Gandoriah tepat menghadap ke Samudra Indonesia, tapi gugusan Kepulauan Mentawai membentenginya dari gelombang samudra yang dahsyat. Di kejauhan, tampak dua pulau yang kelihatan sangat dekat. Menikmati ombak memecah di pantai yang sunyi, saya memperhatikan buruh-buruh nelayan tua dan kurus menarik perahu ke pantai dan mendorong perahu lainnya yang hendak berlayar ke laut. Terlintas pertanyaan di benak, apakah 5 tahun lagi mereka masih bisa mendorong perahu? Jika tidak bisa mendorong perahu, darimana mereka makan? Bagaimana kalo mereka sakit? Kondisi papa yang sangat kontras dengan pemandangan Pantai Gandoriah yang indah…….
Dua puluh meter dari pantai, sebuah truk dengan box-box pendingin melakukan pengemasan hasil tangkapan ikan. Buruh-buruh diatas truk berseru-seru. Saya tidak mengerti bahasa Minang, tapi dari bahasa tubuhnya, saya mengerti……Hai, potret doooong! Maka keluarlah pose-pose buruh pedagang ikan versi majalah Vogue Pariaman!
Di sepanjang jalan setapak dibawah kerindangan pohon cemara di tepi pantai, kios-kios makanan di kanan kiri menyajikan salla dan kepiting goreng bertumpuk-tumpuk menggiurkan. Salla adalah fish ball khas Pariaman. Udara pantai dipenuhi aroma seafood goreng yang lezat. Ibu-ibu penjaja terus menggoreng walaupun Salla dan kepiting goreng masih bertumpuk-tumpuk banyak. Besok, beribu-ribu orang yang menyaksikan Tabuik dibuang ke laut akan menyerbu membeli tumpukan makanan lezat itu.
Kembali melangkah mengikuti insting, saya tiba di depan Balai Desa Pasar tempat pembuatan Tabuik Pasar. Pemuda dan orang tua berkunjung kesana dengan bebas, membantu pembuatan Tabuik atau kongkow-kongkow di warung sebelahnya. Murid-murid sekolah berhenti mampir menyaksikan pembuatan Tabuik, bercakap-cakap, sebelum meneruskan berjalan pulang.
Tabuik dibuat dengan sangat cermat. Para pemuda menyelesaikan detilnya dengan sungguh-sungguh secara artistik dan teliti. Sangat menakjubkan. Mengingat Tabuik ini akan dibuang ke laut besok sore setelah diarak di kota Pariaman, bukankah ini seperti melakukan kerja keras yang sia-sia? Tapi, bukankah semua didunia ini toh akan musnah juga pada akhirnya, sehebat apa pun itu?
Perayaan Tabuik adalah acara memperingati meninggalnya Imam Hosein, cucu Nabi Muhammad, dalam perang Karbala. Meninggalnya Imam Hosein ini juga diperingati oleh masyarakat di Iraq. Jika masyarakat Iraq merayakannya dengan menyakiti tubuh, maka masyarakat Pariaman merayakannya dengan membuat Tabuik. Upacara Tabuik dibawa oleh aliran Syi’ah. Walaupun masyarakat Pariaman menganut Islam Suni seperti sebagian besar masyarakat Islam di Indonesia, wafatnya Imam Housein merupakan pengkisahan salah satu peristiwa bersejarah Islam kepada yang digemari masyarakat Pariaman.
Tabuik sendiri berasal dari bahasa Arab yang diartikan sebagai keranda atau peti mati. Tabuik terdiri dari dua bagian. Bagian atas mewakili keranda, berbentuk menara yang dihiasi bunga dan kain beludru berwarna-warni, sedangkan bagian bawah mewakili burung Bouraq, yang di percaya membawa Imam Hosein ke langit menghadap yang kuasa. Bagian bawah ini berbentuk tubuh kuda, bersayap dan berbuntut burung dan memiliki kepala wanita memakai jilbab yang diambil dari manequin. Jika kedua bagian itu disatukan, tinggi Tabuik mencapai 12m. Dari tahun ke tahun, tinggi Tabuik terus turun karena kondisi perekonomian rakyat yang makin sulit.
Perayaan Tabuik dirayakan sejak tanggal 1 Muharram hingga 10 Muharram. Semua kegiatan penyelenggaraan bermula dari Rumah Tabuik. Di lokasi Rumah Tabuik dibuat suatu tempat yang disebut daraga, dipagari dengan pimpiang/palupuh yang atapnya dilapisi plastik.
Selama 10 hari, terdapat beberapa kegiatan seperti Maambiak Tanah (mengambil tanah) sebagai simbol makam Imam Housein, Maambiak Batang Pisang (mengambil batang pisang dan dibawa ke daraga dan ditanamkan dekat pusara), Maarak Panja/Jari (mengarak panja yang berisi jari-jari keliling kampung), merupakan pencerminan pemberitahuan kepada pengikut Imam Hosein bahwa jari-jari tangan Imam Hosein yang mati terbunuh telah ditemukan, Maarak Sorban (membawa sorban berkeliling kampung), menandakan bahwa Imam Housein telah dipenggal, dan Tabuik Naik Pangkat (menyatukan tiap-tiap bagian tabuik menjadi satu), dan terakhir adalah ritual Membuang Tabuik (membawa Tabuik ke pantai dan dibuang ke laut).
Lelah memotret, saya kembali ke hotel. Karena sangat lelah mengantuk tapi juga kelaparan, saya bingung juga, lebih baik keluar mencari makan atau tidur? Di pantai tadi banyak sekali sea food yang enak-enak, tapi karena tubuh saya alergi terhadap sea food, saya terpaksa melewatkannya. Akhirnya saya memilih tidur dulu dengan perut keroncongan.
Sore hari, saya terbangun dengan sangat kelaparan. Saya memutuskan pergi ke pasar, makan di food court di lantai atas yang bersih dengan pemandangan lepas terbuka. Seorang pedagang makanan yang ramah dan sopan mengajak mengobrol. Dengan segera, keluarganya juga berkumpul di meja saya, bercerita segala hal tentang Pariaman dan Upacara Tabuik. Rupanya Walikota Pariaman baru saja meninggal 10 hari yang lalu, sehingga Tabuik tahun ini kurang meriah karena kota masih dalam suasana duka. Mereka terus-menerus menyajikan berbagai makanan khas dengan gratis. Baru saja saya kelaparan hampir pingsan, sekarang saya kekenyangan hampir mati. Wah, harusnya saya beli makanan dari mereka, tapi koq saya yang jadinya ditraktir…….
Ketika senja menjelang, saya berjalan ke tempat pembuatan di Subarang. Disana tiba-tiba kamera saya macet. Ampuuuun……..saya diundang kesini untuk memotret, tapi kamera saya macet? Guawaatt……..saya matikan kamera saya, berharap hanya macet sesaat. Saya lalu ngobrol dengan Alfred yang sedang membuat Tabuik. Pemuda ini rupanya bisa dibilang satu-satunya pemuda yang bisa membuat kerangka Tabuik, itupun dari hasil mengamati orang-orang tua saat dia masih kecil. Oleh karena itu dia dipercaya untuk membuat kerangka baik Tabuik Pasar maupun Subarang. Orang-orang tua menjaga rahasia cara membuat Tabuik dan tidak mau mengajarkan kepada generasi penerus. Juga tidak ada catatan tertulis bagaimana cara membuat Tabuik. Seandainya Alfred meninggal, maka berakhirlah riwayat Tabuik……..
Tiba-tiba terdengar suara bapak-bapak memberi salam. Lalu bapak-bapak ini bertanya, “Disini ada yang namanya Tari?” Ooh, rupanya inilah Ajo Fe, nara sumber di Pariaman yang kebetulan sekretaris panitia upacara Tabuik. Ajo Fe dan Sutan Panjang baru datang dari Padang, menghadiri pertemuan dengan Gubernur Sumbar. Dengan mobil, Ajo Fe dan Sutan Panjang lalu mengajak saya berkeliling memperkenalkan kota Pariaman. Ajo Fe lalu menelepon Oom dan Tante2nya mengajak makan malam bersama.
Oom dan para Tante ini sudah cukup sepuh. Mereka berdomisili di Amerika dan pulang ke Pariaman untuk melihat Tabuik. Kata Ajo Fe, dia akan mengajak kami makan malam Gulai Tunjang di tempat makan yang paling enak. Malam itu, hujan turun, dan mobil melaju ke atas bukit yang gelap. Ajo Fe berhenti di kegelapan di tengah kebun. Saya, Oom dan Tante-tante bingung. Katanya mau makan di tempat makan Gulai Tunjang paling enak, tapi koq berhenti di tengah-tengah kegelapan seperti ini? Tidak ada kehidupan disini, dimana rumah makannya? Ajo Fe mengambil senter dan mengajak kami masuk kebun yang gelap pekat dan becek. Oom dan para Tante juga bingung, tapi mereka pasrah saja dan ketawa-ketawa saja mengikuti Ajo Fe dengan senternya.
Tiba-tiba di ujung kebun ada seberkas sinar petromaks dari rumah kayu. Di sebelah rumah itu ada bangunan seperti dangau beratap ilalang. Meja panjang di dalam dangau penuh dengan makanan-makanan kecil. Sekelompok lelaki bermain kartu dan minum-minum teh di meja yang terletak diujung sana. Setelah kami dan kelompok lelaki itu saling memberi salam, Ajo Fe langsung memesan gulai Tunjang.
Gulai Tunjang ternyata kikil (kaki sapi) lengkap dengan tulangnya yang panjang dan besar! Kikil itu memiliki panjang dua kali diameter piring sehingga mencuat keluar kemana-mana. Si Oom di sebelah saya terbengong-bengong melihat ukuran Tunjang ini. Beliau langsung declared, “Kolesterol…..saya makan sedikit saja……”. Semua makan dengan tangan. Saya yang tidak suka kikil dan tidak bisa makan dengan tangan sempat bingung. Tapi kuah Gulai Tunjang rasanya pedas dan enak. Maka saya berusaha keras menghabiskan daging alot yang menempel di tulang-tulangnya. Oom dan para Tante sudah menyerah, dan mereka asyik melihat saya berjuang dengan sendok dan garpu. Akhirnya daging yang menempel di tulang Tunjang itu tandas tak bersisa, dan tangan saya tetap bersih dan wangi tanpa sedikitpun memegang Tunjang, walaupun saya juga menghisap habis sumsum Tunjang…….
Setelah itu kami diajak melihat performance Gendang Tasa yang mengiringi pembuatan Tabuik. Ajo Fe, Sutan Panjang dan Oom ikut bermain gendang. Karena tidak tega menolak permintaan Ajo Fe yang ingin dipotret, saya mencoba menyalakan kamera yang tadi mati. Dan…….hidup! Dengan rasa bersyukur, saya pun mengambil beberapa gambar Gendang Tasa disini. Setelah diantar sebentar melihat Rumah Tabuik (Rumah peringatan pertama kali Tabuik ada), Tepat jam 12 malam saya telah berada kembali di kamar hotel. Sendiri di kamar hotel, saya berpikir tentang kamera yang mati. Aneh…..apa karena saya memotret saat Maghrib ya? Suasana tempat pembuatan Tabuik di Subarang tadi emang agak mistis. Ah, tapi itu hanya perasaan saya saja…..
Jam 2 pagi dini hari, akhirnya Raiyani dan Rahman yang survey dari Mahat, Payakumbuh, tiba juga. Seperti saya, mereka tertegun melihat kondisi kamar. Saya ketawa. Kamar ini sudah mengalami pembersihan besar-besaran, tapi tetap saja membuat mereka shock. Akhirnya karena sudah tidak memiliki tenaga lagi, mereka segera “pingsan” tanpa sanggup berpanjang-panjang mengomentari kamar hotel, apalagi mandi…….
Tabuik Naik Pangkat
Dini hari sebelum jam 5 pagi, terdengar hiruk-pikuk di kejauhan. Berirama seperti aba-aba, bunyi-bunyian itu semakin dekat. Ya, pastilah ini kegiatan Tabuik Naik Pangkat, acara dimana kedua bagian Tabuik disatukan! Saya segera bersiap-siap untuk turun menuju lokasi pembuatan Tabuik. Raiyani yang tadi baru tidur jam 2 pagi pun bangun terhuyung-huyung, tersandung-sandung mengambil kameranya yang segede gaban di kegelapan, mengenakan jilbabnya dan keluar dengan piyamanya. Tapi Rahman yang seharian menyetir ke Payakumbuh sudah tidak punya tenaga sama sekali. “Kalo udah sampe sana, telpon gue ya Taar…..” Huh? Buat apa? Rahman jadi bingung sendiri, iya buat apa telepon? Dia kan kesini buat motret, apa dengan menelepon lalu bisa hadir disana dan memotret? Hehehe…..Sambil tetap tidak membuka matanya, Rahman berkata, “Nitip kamera dooong…..” Hahaha…… ada fotografer mau titip kamera……. Begini aja, foto yang saya ambil nanti di foto copy aja ya Maan…..
Ternyata kami tidak perlu kemana-mana, kegiatan Tabuik Naik Pangkat tepat berada di depan hotel. Tidak sia-sia rasanya tidur di hotel parah ini. Balkon sudah penuh dengan fotografer dan camera man dari STSI Padang dan Aceh yang sedang membuat short documentary untuk TV. Setelah memotret beberapa saat dari atas, kami semua memutuskan turun. Tapi, ya ampun……gerbang di tutup dan penjaganya entah dimana. Maka dini hari itu terlihatlah aktivitas yang sedikiiiit mendekati kekerasan : belasan fotografer dan camera man awalnya mengetuk pintu dengan sopan, lalu mulai mengetuk keras, menggedor-gedor jendela dan pintu sambil berteriak-teriak membangunkan penjaga. Hebatnya penjaganya gak dengar juga tuh…..Kami sudah setengah mati bertahan tidur di hotel ini dengan alasan lokasi strategis demi momen ini. Seandainya kami justru tidak bisa mengambil gambar Upacara Tabuik karena tidur disini, maka konyol buangett……
Akhirnya bisa juga kami bisa keluar. Rahman yang tadi memilih tidur pun akhirnya keluar juga dengan kameranya, karena tidak tahan dengan hiruk pikuk Gendang Tasa yang meriah saat pemasangan kedua bagian Tabuik. Gendang Tasa adalah sekelompok pemain genderang yang mengiringi acara Tabuik Naik Pangkat, dengan irama yang bersemangat seperti memanggil untuk perang.
Menyaksikan penyatuan dua bagian Tabuik itu sangat menarik. Bagian atas Tabuik yang berbentuk menara beramai-ramai diusung masyarakat untuk disatukan dengan bagian bawah yang berbentuk tubuh kuda yang sudah berada di atas truk. Setelah bersatu, maka berturut-turut dipasang sayap, buntut, bunga-bunga salapan dan kepala. Selama penyatuannya, Gendang Tasa terus bertalu-talu mengiringi.
Oyak Tabuik
Siang hari setelah check out, kami mencari makan siang sambil menunggu Tabuik mulai dioyak. Sambil kelaparan setengah terseok-seok, Raiyani dan Rahman mengikuti langkah saya ke Pantai Gandoriah. Saya memaksa mereka menahan lapar tidak berbelok makan dimana-mana, tapi langsung ke Pantai Gandoriah. Biarlah….. Saya ingin sekali mencoba Salla dan kepiting tepung goreng yang saya lihat kemarin, dan saya pikir mereka pun harus mencoba makanan khas Pariaman itu.
Saya pikir saya akan rugi kalau mengikuti aturan dari badan saya yang suka alergi pilih-pilih makanan ini. Ini hari terakhir di Pariaman, kalau alergi sea food nanti datang menyerang, toh besok pagi saya sudah sampai Jakarta lagi. Biarlah naik pesawat dengan muka dan badan bengkak, lebih baik tidur di rumah daripada di rumah sakit di Pariaman. Yang paling ditakuti saat alergi adalah membengkaknya jalan nafas sehingga harus dibawa ke Unit Gawat Darurat. Tapi rumah sakit kan dekat. Ah, itu nanti saja dipikir kalau saya sudah alergi, sekarang saya ingin menikmati Salla dan kepiting goreng tepung dulu…….
Di pantai kami bertemu lagi dengan Ajo Fe. Sekali lagi dia mengajak kami makan di tempat Salla terenak, katanya. Kami lalu berjalan mengikuti Ajo Fe - hampir putus asa karena ternyata sangat jauh - ke ujung pantai yang sepi. Rupanya tempatnya hanya berupa warung kecil beratap ilalang. Berbeda dengan Salla yang umum dijual, disini daging ikan Marlin mendominasi dan tepung salla hanya sebagai pembungkus. Kalau Salla yang dijual kering, Salla ini basah, dan dimakan dengan sambal yang segar karena dibubuhi jeruk nipis. Ajo Fe baik sekali, kami juga dipesankan gulai kepala ikan kakap. Beliau berinisiatif selalu menyiramkan kuah gulai ke piring kami. Sekali lagi, saya yang tadi hampir pingsan kelaparan sekarang hampir mati kekenyangan.
Setelah makan, kami (saya, Raiyani dan Rahman) memutuskan berpisah dengan Ajo Fe. Kami ingin menikmati Pantai Gandoriah sebelum Tabuik datang, tidur-tiduran di pondok terbuka di tepi pantai sambil menikmati Es Kelapa Muda dan Kepiting Goreng.
Jam 4 sore, kami kembali ke pasar, memotret Oyak Tabuik. Di situ kedua Tabuik dari Subarang dan Pasar dipertemukan. Ketika masyarakat berseru, “Oyak….! Oyak….!”, kedua Tabuik itu digoyang-goyang kencang ke atas dan ke bawah, ke kanan dan ke kiri. Gendang Tasa bertalu-talu.
Hingga sepuluh tahun yang lalu, acara Oyak Tabuik ini selalu diikuti perkelahian warga dari daerah Pasar dan Subarang. Walaupun korban luka-luka sangat parah, begitu acara Tabuik berakhir, berakhir pulalah perseteruan warga tersebut dan suasana kembali tenang. Sejak Tabuik Adat ini dijadikan Tabuik Wisata oleh pemerintah, maka perkelahian tersebut ditiadakan. Sehingga walaupun Tabuik 2007 dikembalikan oleh pemerintah pengelolaannya ke anak nagari dan kembali menjadi Tabuik Adat, perkelahian warga tetap tidak ada lagi. Indonesia ini memang aneh, dimana-mana antar kecamatan pun berkelahi, tapi tetap saja dalam satu Indonesia…..
Ketika kedua tabuik mulai diarak ke laut, saya kehilangan Rahman dan Raiyani. Tabuik diarak dengan cepat dan mustahil mencari mereka ditengah ribuan manusia ini. Saya mencari tempat tinggi untuk angle yang bagus, dan naik ke sebuah mobil pick-up. Ternyata Raiyani dan Rahman diseberang sana, mereka naik juga ke atas sebuah mobil pick-up. Ah, memang mudah mencari teman yang hilang kalau teman kita seorang fotografer. Di tengah ribuan orang begini, cari saja tempat tinggi seperti tiang listrik atau mobil pick-up, pastilah mereka ada di sana…….
Dibuang ke laut
Pantai Gandoriah yang sunyi kemarin sangat penuh dengan ribuan orang yang ingin menyaksikan Tabuik dibuang ke laut saat ini. Puluhan anak sudah berenang-renang di laut, menunggu Tabuik yang dibuang ke laut seperti ikan-ikan menunggu jatah makanan. Maka ketika Tabuik tiba, mereka sudah berebut memanjat Tabuik walaupun Tabuik belum jatuh ke laut. Banyak juga ibu-ibu di tepi pantai yang menunggu anaknya berjuang berebutan sisa-sisa Tabuik untuk dibawa pulang. Masyarakat masih percaya bahwa keping sisa Tabuik akan membawa keberuntungan dalam perdagangan.
Setiap kali saya berhasil berdiri di tempat yang strategis untuk memotret di bibir pantai, ombak pasang berkali-kali menggiring saya menjauh dari pantai. Akhirnya, mau tidak mau saya tetap bertahan berdiri di laut meskipun ombak pasang mulai merendam saya hingga di atas pinggul. Terlihat jauh disana Raiyani dan Rahman berendam-rendam seperti saya juga.
Senja menjelang. Hujan rintik-rintik semakin deras. Ribuan orang di pantai berlari pulang. Saya pun sudah basah kuyup oleh ombak pasang. Sambil berlari-lari pulang, saya menengok ke belakang. Di bibir pantai, anak-anak tetap bertahan diatas kerangka Tabuik, dengan gembira menikmati kemenangannya. Seperti bajak laut dalam 1001 malam yang gembira menemukan pundi-pundi emas di dalam goa tapi tidak bisa keluar goa, mereka bergembira dengan harta karun berlimpah dalam bentuk rangka utuh Tabuik, tapi tidak bisa membawanya pulang……
Di lobby hotel, dengan bagian bawah tubuh basah kuyub saya duduk menunggu teman-teman datang. Mereka terjebak di pasar karena hujan. Walaupun sudah check out, staff hotel berbaik hati mengijinkan saya duduk di lobbynya. Dalam hati saya bersyukur kamera tidak macet tadi. Jika harus macet, silakanlah sekarang…..Iseng, saya menyalakan kamera untuk mencek hasil foto, dan…..macet! Mungkin tadi dia sudah berjuang keras mengerahkan segala kemampuannya untuk tidak mati demi saya. Saya memasukkan kamera ke ransel kembali. Beristirahatlah dengan tenang………..
Jam 7 malam, kami berkendara ke Padang dalam keadaan basah kuyup dan berdesakan, karena moderator Rantau.Net dan teman-temannya ikut nebeng mobil kami. Jam 10 malam, dalam keadaan basah kuyub dan gulungan celana penuh pasir dari Pariaman, kami check in di hotel Nuansa Padang di tepi pantai Padang. Saya pikir, kira-kira apa yang akan dikatakan pasir dari pantai di Pariaman dari celana saya ini saat bertemu dengan saudara-saudaranya, pasir di Pantai Padang, ya?
Keesokan pagi, karena sulit bangun, kami terburu-buru ke bandara. Ketika melihat kaki Raiyani, saya nyengir sendiri. Sepatunya basah kena air laut kemarin, jadi dia naik pesawat dengan sandal jepit ibunya Rahman. Ah, Raiyani….Bukannya memberi kado buat Rahman yang akan menikah bulan depan, dia malah menguasai sendal jepit ibunya Rahman…..
Seperti ketika saya berangkat dari Jakarta, Raiyani pun agak nervous terbang pertama kali dengan penerbangan ini. Saya tenangkan dia, saya katakan bahwa pramugaranya ganteng-ganteng. Maka ketika pramugara yang bertugas telah hadir di pesawat - yang sayangnya terlalu ganteng dan lemah gemulai - temanku itu terkikik, “Ini tho yang dibilang ganteng?” katanya sambil mengarahkan lensa kameranya ke pramugara yang sedang memperagakan pemakaian life jacket dengan lemah gemulai. Raiyani adalah fashion Photographer profesional, bahkan dia sudah memiliki modelling agency sendiri. Dia bisa “mengeluarkan” jiwa dari subyek fotonya. Maka saya tidak tega membayangkan jiwa seperti apa yang akan Raiyani keluarkan dari si pramugara ini…….
Di pesawat menuju Jakarta, selesai kami mendiskusikan hasil foto-foto Tabuik yang ada di kameranya, Raiyani jatuh tertidur. Saya pun memejamkan mata. Diiringi alunan Gendang Tasa yang sejak kemarin selalu bernyanyi di benak saya, saya telah kembali berada di tengah keramaian pasar tempat kedua Tabuik dipertemukan. Masyarakat berseru-seru, “Oyak…..! Oyak……”, kedua Tabuik melonjak-lonjak dan dan berdansa, Gendang Tasa bertalu-talu, dan pengeras suara meminta tiap penumpang untuk mengencangkan sabuk pengamannya. Pesawat landing di Jakarta……..
Kuntarini is
Email this author | All posts by Kuntarini



