Mahakam, menelusuri setengah impian
By Imas • Feb 9th, 2007 • Category: Petualangan
Esok paginya kami memulai perjalanan menyusuri sungai Mahakam dengan transportasi air. Hanya beberapa meter dari penginapan, kami sudah menemukan dermaga tempat perahu yang akan membawa kami ke Tanjung Issuy. Tapi ternyata tak ada shuttle boat yang melayani rute Kota Bangun – Tanjung Issuy secara regular, dan itu artinya kami harus charter perahu. See…inilah salah satu sebab yang membuat saya harus berpikir panjang saat dulu berniat melakukan perjalanan susur Mahakam seorang diri. Karena ketika keadaan mengharuskan saya mencharter perahu, itu artinya seluruh biaya akan saya tanggung sendirian, dan jelas sekuel film ‘mendadak dangdut’ akan langsung tercipta, alias saya bakal ‘mendadak bangkrut’.
Selama 6 tahun sejak menginjak tanah timur Borneo, saya hanya bisa menggeleng jika ada teman yang menanyakan apakah saya sudah pernah menikmati eksotisnya aliran arus Mahakam. Jangan bilang kalau saya tak ingin, karena saat pertama kali melihat mahakam 6 tahun lalu keinginan terbesar saya adalah berperahu melawan arus, menyusurinya sampai ke hulu. Dan menjelang penghujung tahun ini akhirnya bersama seorang teman, saya membuatnya tak lagi hanya sekedar impian.
Samarinda adalah meeting point kami, karena saya dan teman saya tinggal berseberangan pulau. Dari terminal bis Samarinda kami menggunakan angkutan umum menuju Kota Bangun, sebuah kota kecamatan kecil yang berada dipinggir sungai Mahakam. Sebenarnya ada dua cara untuk mencapai Kota Bangun, lewat darat dengan bis umum selama 3 jam, atau lewat sungai dengan kapal/taksi air selama 8-10 jam tergantung tinggi rendahnya permukaan air sungai. Kota Bangun ini juga bisa dijadikan starting point bagi orang-orang yang akan menempuh perjalanan lewat air menuju tempat-tempat dihulu Mahakam. Bisa menghemat waktu seharian jika dibandingkan perjalanan lewat air dimulai dari Samarinda. Kombinasi rute perjalanan darat Samarinda – Kota Bangun, lalu kemudian berganti dengan angkutan kapal/taksi air dari Kota Bangun menuju hulu Mahakam pastinya akan terasa lebih menyenangkan.
Dengan terbatasnya waktu yang dimiliki, jalur darat pun menjadi pilihan kami untuk memulai perjalanan. Pukul 5 sore bis yang kami tumpangi dari Samarinda tiba di Kota Bangun, dan kami memutuskan untuk menginap di kota ini. Jadilah sore itu kami habiskan hanya dengan duduk santai diberanda penginapan sambil menikmati matahari terbenam diseberang sungai.
300 ribu bonus dorong
Esok paginya kami memulai perjalanan menyusuri sungai Mahakam dengan transportasi air. Hanya beberapa meter dari penginapan, kami sudah menemukan dermaga tempat perahu yang akan membawa kami ke Tanjung Issuy. Tapi ternyata tak ada shuttle boat yang melayani rute Kota Bangun – Tanjung Issuy secara regular, dan itu artinya kami harus charter perahu. See…inilah salah satu sebab yang membuat saya harus berpikir panjang saat dulu berniat melakukan perjalanan susur Mahakam seorang diri. Karena ketika keadaan mengharuskan saya mencharter perahu, itu artinya seluruh biaya akan saya tanggung sendirian, dan jelas sekuel film ‘mendadak dangdut’ akan langsung tercipta, alias saya bakal ‘mendadak bangkrut’.
Ada dua jenis perahu yang dapat di charter di dermaga ini. Yang kecil disebut cess, perahu motor yang hanya bisa memuat empat orang. Sedangkan untuk kapasitas 8-10 orang disebut long boat. Proses tawar menawar harga dengan pemilik cess berlangsung agak alot, harga mentok yang bisa kami tawar adalah 300 ribu dari harga semula 500 ribu, sekali jalan menuju Tanjung Issuy dengan waktu tempuh 3 jam sampai 4 jam jika air sedang surut.
Perjalanan membelah sungai tentu saja membuat adrenalin saya sedikit melonjak. Selain karena cess yang kami tumpangi gampang sekali oleng kalau kami bergerak sedikit saja, pemandangan disepanjang sungai juga menyuguhkan eksotisme tersendiri. Jalur sungai juga cukup ramai dilalui berbagai ukuran kapal, dari mulai sampan nelayan sampai tongkang pengangkut batubara. Menyaksikan kehidupan sehari-hari masyarakat yang bermukim diatas rumah terapung disepanjang sungai juga sangat menyenangkan, diselingi pemandangan vegetasi yang tumbuh dipinggir sungai berikut satwa yang mendiaminya.
Cess yang kami tumpangi pun masuk menyusuri beberapa anak sungai, sampai akhirnya tiba di danau Semayang yang katanya banyak menyimpan ikan pesut. Beberapa saat kemudian cess memasuki danau Jempang, yang merupakan danau terbesar di Kalimantan Timur. Ramainya bangau putih yang berterbangan menjadi pemandangan indah berikutnya.
Saat air pasang, menurut pengemudi cess kami, air di danau ini tak ubahnya seperti lautan luas tak bertepi. Namun saat surut seperti sekarang ini, kami bisa melihat bentangan sawah yang ditanami padi oleh nelayan yang beralih profesi menjadi petani. Eceng gondok pun mengambang dimana-mana, sehingga cess kami harus menerobos rimbunannya.
Beberapa kali pula kami harus memutar mencari jalan untuk menghindari tempat yang dangkal, sampai akhirnya ada satu tempat yang membuat cess kandas tak bergerak. Tak ada pilihan lain, dalam cuaca panas terik tengah hari, kamipun harus turun dan mendorong cess tersebut sampai ketempat yang lebih dalam. Seumur hidup baru sekali ini saya mendorong kapal, seru juga ternyata. Sambil bercanda saya katakan pada teman saya, “ ini nih akibatnya kalau nawar harga, bayar murah tapi pakai dorong”.
Waktu hampir 4 jam sama sekali tak terasa membosankan bagi saya, dan kira-kira pukul 1 siang cess merapat dipinggir dermaga kecil Tanjung Issuy, desa yang dihuni oleh mayoritas suku Dayak Benuaq, yang terletak dipinggir danau Jempang.
Negeri rumah panjang
Rumah panjang selalu identik dengan suku dayak. Lamin, begitu mereka menamakannya, yang terdiri dari banyak bilik dan tiap bilik dihuni oleh satu keluarga. Tapi sekarang ini tak banyak lagi dijumpai keluarga-keluarga yang tinggal di Lamin, umumnya mereka sudah tinggal dirumah yang terpisah. Lamin yang masih berdiri biasanya digunakan sebagai Lamin Adat.
Di Tanjung Isuy sendiri saya melihat ada 2 lamin. Yang pertama kebetulan bersebelahan dengan penginapan saya, dan masih digunakan sebagai pusat seni ukir dan kerajinan serta menyediakan penginapan juga. Lamin yang lainnya sama sekali sudah tak terawat lagi, kosong tak berpenghuni.
Lamin yang masih baik dan sangat terawat berada di desa Mancong, memiliki 12 bilik, yang bagunan aslinya telah dipugar oleh Equatorial Heritage International Foundation. Desa Mancong dapat ditempuh lewat darat maupun sungai dari Tanjung Isuy. Jika menggunakan sepeda motor bisa dicapai dalam waktu hanya setengah jam melewati perkebunan sawit, dengan kondisi jalan yang masih belum diaspal dan bersiap-siaplah untuk mandi debu. Kalau lewat sungai dapat menggunakan perahu kecil melintasi liku-liku sungai Ohong.
Lamin lainnya yang saya kunjungi berada di desa Eheng kecamatan Barong Tongkok, 4 jam jalan darat dari Tanjung Issuy. Lamin ini merupakan lamin adat suku Dayak Tunjung. Di desa Eheng nafsu berburu souvenir saya sangat terpuaskan. Berbagai kerajinan dari rotan bisa kita lihat langsung pembuatannya. Gelang dengan motif etnik yang unik serta anjat (tas keranjang khas dayak) pun jadi incaran saya.
Setelah Tanjung Isuy dan Mancong kami menuju Barong Tongkok. Satu-satunya angkutan umum yang bisa ditumpangi hanyalah bis umum rute Samarinda—Melak yang bisa di tunggu di jalan lintas daerah KEM baru, namun itupun tak banyak dan hanya akan lewat antara pukul 11 sampai pukul 2 siang saja. Yang umum dilakukan oleh orang-orang di daerah ini adalah sistem omprengan, menumpang mobil pribadi yang lewat dan membayar lebih kurang 50 ribu pada pemilik mobil. Kami yang sudah bosan kelamaan menunggu bis umum yang lewat akhirnya pun memanfaat jempol tangan, menggunakan gaya hitch-hiker sebagai isyarat butuh tumpangan. Jujur saja menumpang mobil pribadi begini jelas lebih nyaman di banding naik bis umum. Mobil bisa milih dan yang pasti ber AC (ini penting karena cuaca disini selalu diatas 34 derajat).
Nenek Buak Geh
Menjelang sore mobil yang kami tumpangi tiba di kota Barong Tongkok, dan kami langsung mencari penginapan. Di dalam kota sendiri praktis tak ada tempat menarik yang bisa dikunjungi, dan memang letak kota ini jauh dari sungai Mahakam. Satu-satunya hal menarik yang saya temui hanyalah banyaknya tumpukan durian di sepanjang jalan. Yummy, saat ini sepertinya memang lagi musim durian. Jadilah malam harinya kami mabuk durian di pasar yang memang dekat dengan penginapan.
Yang benar-benar menarik adalah tempat-tempat yang berada diluar kota Barong ini. Salah satunya adalah Tering, desa kecil dipinggir sungai yang mayoritas dihuni suku Dayak Bahau. Dari Tering baru kami harus menyeberang naik sampan menuju Tering lama yang terletak diseberang sungai. Di desa inilah kami mampir ke rumah nenek Buak Geh, ibu 3 anak yang sudah berusia 83 tahun. Salah satu dari sedikit wanita senior yang masih bertahan dengan tradisi kuping panjangnya. Beliau juga mengijinkan saya memegang kupingnya dan iseng saya menghitung gelang besi yang dipasang disana, ada 20 gelang ternyata. Tato di pergelangan kaki dan punggung tangannya juga unik. “mau bikin ini?” tanya beliau sambil menepuk lutut saya. Hhmm, tertarik juga sih sebenarnya membuat tato dipergelangan kaki saya. Tapi kalau permanen dan rasanya sakit? Duh, terimakasih nek.
Berburu Anggrek Hitam
Tempat lain di luar kota Barong Tongkok adalah cagar alam Kersik Luway, tempat seluas 5000 hektar yang identik dengan tanaman anggrek hitam (Coelogyne Pandurata). Padahal tak cuma anggrek hitam yang ada ditempat ini, karena menurut salah seorang staff pengelola tempat ini diperkirakan ada lebih kurang 72 jenis anggrek. Namun sayangnya karena kebakaran yang terjadi bulan Oktober lalu, koleksi saat ini hanya tinggal sekitar 57 jenis saja. Kantong semar (Nephentes) yang lagi trend di kalangan pecinta tanaman saat ini pun banyak bertebaran disini.
Syukurlah kami beruntung saat ini, karena si anggrek hitam kebetulan memang sedang berbunga. Selain itu ada lagi anggrek tebu atau anggrek macan yang hanya berbunga 4 tahun sekali di bulan Desember. Ternyata anggrek juga mengenal tahun kabisat ya? Dan tahun ini baru memasuki tahun ketiga, jadi baru bulan Desember tahun depan bisa menikmati indahnya si macan tersebut.
Keunikan lain cagar alam Kersik Luway ini adalah jenis tanahnya. Tak seperti hutan cagar alam pada umumnya, di tempat ini pasir pantai yang putih menutupi seluruh kawasan dan beberapa vegetasi yang biasa kita temui di pantai tumbuh subur ditempat ini. Padahal tak ada laut didekat tempat ini. Karena itu jugalah ada yang menyebut tempat ini sebagai padang pasir ditengah hutan.
Hal yang harus dipatuhi pengunjung disini adalah tidak diizinkan mengambil tanaman apapun untuk dibawa pulang. Memang harusnya begitu kan?
Tak jauh dari tempat ini juga ada air terjun Jantur Mapan yang cukuplah untuk menyegarkan badan ditengah teriknya cuaca selama perjalanan, setelah seharian penuh berpindah dari satu tempat ketempat lainnya.
Milir..milir..milir..
“milir kah mbak?”. Ucapan itulah yang terdengar di telinga saya saat kami tiba di dermaga kapal Melak, dan saya sempat bingung karena nggak ngerti apa maksudnya. Ternyata maksudnya adalah Menghilir, istilah yang digunakan oleh penduduk setempat jika ingin menuju kota Samarinda dengan menggunakan kapal.
Setelah empat hari berkeliling, perjalanan kami akhiri hanya sampai kota Melak. Dari sini kami akan menumpang kapal untuk kembali ke Samarinda. Kapal rute Long Bagun – Samarinda merapat di dermaga Melak pukul 9 malam dan diperkirakan tiba di Samarinda pukul 11 siang esok hari.
Kami mengambil tempat di dek atas, yang menyediakan matras tipis untuk tidur dengan posisi disusun lurus seperti ikan asin dijemur. Untung saja suhu ruangan dek ini tak panas, karena dibantu oleh angin yang cukup sejuk. Tak ada goyangan kapal sama sekali selama perjalanan, dan sayapun tertidur cukup pulas malam itu.
Tepat seperti perkiraan, jam 11 siang panas teriknya Samarinda menyambut begitu turun dari kapal. Puas rasanya bisa memenuhi keinginan lama saya untuk menikmati Mahakam, walaupun hanya baru sampai kota Melak. Artinya masih ada lebih dari setengah jalan lagi yang belum saya tempuh, karena keinginan saya adalah menyusuri Mahakam sampai ke hulu menuju Long Apari. Untuk rute terakhir ini, saya berharap bisa kembali menikmatinya dengan beberapa teman lain yang sudah berjanji untuk menghulu bersama pada pertengahan tahun. Insyaalah.*
*Catatan:
- perjalanan dilakukan penulis pada 16-20 Desember 2006






