Selorejo, 2 hari penuh kenangan.
By Evy • Feb 4th, 2007 • Category: Wisata
Kelar makan, para cewek dikembalikan ke wisma sementara para cowok mencoba peruntungan mereka memancing ikan. Kita bermalam di Wisma Anggrek dan Bougenville karena keinginan kita untuk menyewa cottage tidak terkabul berhubung ditolak oleh pengelola penginapan dikarenakan peserta kita terlalu banyak untuk tinggal dalam 2 cottage. Padahal wisma Anggrek yang ditempati para cewek ini lumayan gede, ada ruang tamu, ruang makan, 3 kamar tidur, dan 3 kamar mandi.
Day One – 20 Januari 2007
Awalnya Cepi menawari temen-temen IBP Surabaya untuk bergabung dengan acara kantornya, melewatkan weekend di Selorejo, bendungan yang terletak di daerah Malang. Tak dinyana, respondnya disambut dengan sangat hangat. Bahkan bukan hanya temen-temen dari Surabaya saja, yang dari Jakarta pun turut meluangkan waktu untuk bergabung. Akhirnya, 19 peserta siap berangkat. Dari Surabaya ada Cepi, Yuda, teman kantor Cepi & Yuda (Firman, Gigih, Devi dan Iping), Ina, Yani, Siti, Intan, Bie, teman kantor Intan (Nita dan Reny). Dari Sidoarjo ada Evy, Susy, Irma dan Mark. Sedangkan imigran dari Jakarta adalah Firlana dan Cipi.
Seperti biasa, rencana ketemuan di Stasiun Waru molor. Rencana berangkat jam 8 pagi jadinya baru terealisasi jam 9.30. Keberangkatan inipun terpaksa tidak bersama-sama karena Bie, Intan dan Ina mendapat tugas untuk menunggu Fir yang pesawatnya kena delay. Kali ini kita menggunakan 2 mobil Xenia sewaan dan Honda Jazz-nya Ina.
Dari Waru kita menjemput Irma dan Mark karena jalannya searah. Siti memanfaatkan kesempatan ini untuk memborong rambutan buat bekal di perjalanan. Berhubung banyak yang belum sempat sarapan, di Sidoarjo kita mampir untuk sarapan.
Untuk menghindari kemacetan di daerah Porong, kita memilih rute alternatif ke Malang melalui Mojosari. Mendekati daerah Pacet, kita sepakat menunggu rombongan Fir cs karena mereka akhirnya bisa menyusul kita. Setelah semua pasukan lengkap, perjalanan kita teruskan. Tujuan pertama ke objek wisata pemandian air panas Cangar. Di perjalanan, semangat narsisme menggoda kita untuk berhenti dan berfoto ria di air terjun yang terlihat dari tepi jalan dan juga di jembatan hijau. Sesampainya di Cangar, ternyata tidak ada yang tertarik untuk masuk. Jadilah kita hanya berpose di depan pintu masuknya. Saat hendak beralih ke tempat lain, mata Fir tertuju pada pedagang pikulan yang ternyata menjual ketan hitam lopis. Karena tertarik dengan makanan yang belum pernah kita temui di tempat lain ini, kita menyempatkan untuk menikmatinya.
Dalam perjalanan menuju waduk Selorejo, banyak pemandangan indah yang kita temui. Akhirnya kita tak lagi dapat menahan diri ketika bertemu kebun bunga. Untung Cepi yang (lagi-lagi) menjadi supir kita, bersedia untuk berhenti. Apalagi kalau bukan untuk berpose. Kelihatannya para cowok mungkin terheran-heran melihat para cewek tak henti-hentinya berfoto. Kayaknya hanya Yuda yang memahami faham narsisme dengan baik, terbukti hanya dia satu-satunya cowok yang bersedia berfoto di kebun bunga ;-D.
Berhubung kita terlalu sering berhenti untuk narsis dan juga untuk makan siang, akhirnya kita baru tiba di Selorejo menjelang magrib. Sudah terlalu sore untuk memancing dan menunggu hasilnya dibakar untuk makan malam seperti rencana semula. Akhirnya kita putuskan untuk membeli ikan bakar saja sebagai menu makan malam. Toh menunya sama, cuma cara mendapatkannya saja yang berbeda
Kelar makan, para cewek dikembalikan ke wisma sementara para cowok mencoba peruntungan mereka memancing ikan. Kita bermalam di Wisma Anggrek dan Bougenville karena keinginan kita untuk menyewa cottage tidak terkabul berhubung ditolak oleh pengelola penginapan dikarenakan peserta kita terlalu banyak untuk tinggal dalam 2 cottage. Padahal wisma Anggrek yang ditempati para cewek ini lumayan gede, ada ruang tamu, ruang makan, 3 kamar tidur, dan 3 kamar mandi. Seharusnya kita semua muat tinggal dalam 1 wisma. Tapi berhubung sudah terlanjur memesan 2 wisma sesuai saran pengelola penginapan, akhirnya para cowok ditempatkan di wisma Bougenville yang lebih kecil, terdiri dari ruang tamu, 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Mereka kan kalah jumlah, jadi harus menurut dengan permintaan kaum mayoritas, alias para cewek
Sesuai kesepakatan, para cowok kembali dari memancing tepat waktu (hebat… !!), jam 10 malam. Hasilnya ? Tak seekor ikan pun berhasil mereka pancing. Kacian deh loe…
Karena mereka gagal mendapatkan ikan, mereka dihukum untuk memanggang ubi jalar yang sempat kita beli di perjalanan siang tadi. Sementara itu kita menyiapkan acara tukar kado. Acara ini gagasan Fir, kita diminta membawa kado (yang bukan berupa makanan atau minuman) dengan range harga 10 – 25 ribu dan dibungkus kertas koran. Hampir semua peserta membawa kado. Supaya acara tambah meriah, peraturan pun ditentukan. Ini nih yang akhirnya bikin game ini jadi seru
Peserta diperkenankan untuk memilih kado asalkan bukan miliknya sendiri. Apabila dia tidak suka dengan kado yang dipilihnya, dia mempunyai kesempatan untuk menukarkan kadonya ke peserta lain yang sudah mendapatkan kado. Dan uniknya, peserta yang kadonya ditukar / direbut ini, tidak diperbolehkan untuk menolak. Namun peserta yang kadonya ‘direbut’, diberi kesempatan untuk menukarkan kado (apabila dia tidak suka dengan kado yang ditukar itu) ke peserta lainnya lagi. Hal ini berlaku untuk 3 kali kesempatan. Artinya peserta yang mendapat penukaran kado giliran ketiga, tidak diperkenankan untuk menolak ataupun merebut kado. Dia kudu pasrah menerima kado itu, kecuali di kesempatan / putaran berikutnya ada peserta lain yang menukar kado punya dia lagi. Acaranya jadi seru, karena seringkali kado yang kita dapat dan kita sukai, direbut oleh peserta berikutnya. Yang paling jadi rebutan ada 3 item : pigura foto, jam pasir dan t-shirt. Wah, ketiga barang ini entah berapa kali berpindah pemilik karena banyak yang berminat. Seru banget deh…
Nggak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 lebih, waktunya para cowok dipulangkan ke wismanya. Karena belum ngantuk, aku dan beberapa teman lainnya memilih bermain kartu. Sebagian lagi memilih ngerumpi dan sisanya langsung tidur.
Day two – 21 Januari 2007
Jam 5.45 para cewek membajak Cepi untuk diminta mengantar ke waduk. Memang wisma kita lokasinya lumayan jauh dari tepian waduk yang menjadi tempat wisata. Kita sempat trekking sedikit sebelum akhirnya bertemu dengan rombongan para cowok yang ikut menyusul. Puas berfoto di jembatan gantung yang menghubungkan tepian danau, kita menyewa perahu dayung menuju kebun jambu yang terletak di pulau kecil di tengah danau. Namanya perahu dayung, tapi bukan kita koq yang mendayung, melainkan si pemilik perahu dan temannya. Satu perahu muat untuk 10 penumpang.
Sampai di kebun jambu, ternyata pagarnya masih terkunci. Kita kepagian nih… Untung tidak lama kemudian penjaganya datang. Ternyata, kebun jambu yang semula diinformasikan Cepi merupakan kebun jambu air salah, itu kebun jambu biji. Tapi hal ini tidak mengurangi semangat kami untuk berburu / menjolok jambu. Tiket masuknya murah banget, hanya seribu per orang dan kita diperkenankan makan jambu sepuasnya. Kalo membawa pulang, baru dikenakan biaya tambahan 2.000/10 jambu. Walaupun bukan musimnya, tapi pohon-pohon jambu disana tetap berbuah. Asalkan jeli, kita bisa mendapatkan jambu yang matang dan buahnya besar. Angkat jempol buat Cepi, Bie, Intan dan Yuda yang berhasil mendapatkan jambu yang gede-gede.
Kelar berburu dan bergelantungan di pohon, perut juga sudah kenyang berisi jambu, kita akhirnya kembali ke wisma. Waktunya untuk berbenah dan check-out.
Heran… biasanya cewek dandannya lama. Lha kali ini, justru para cewek yang kelar duluan dan akhirnya menunggu para cowok yang masih pada antri mandi. Karena hari sudah hampir jam 10, akhirnya sembari menunggu para cowok kelar, kita menyerbu pedagang bakso yang lewat di depan wisma.
Kita sempat bingung menentukan tujuan wisata berikutnya. Alternatifnya ada air terjun Coban Rondo, Sengkaling, Selekta dan Songgoriti. Akhirnya, diputuskan untuk mengunjungi tempat perlindungan hewan di Petung Sewu yang dikelola oleh Profauna Indonesia karena sebagian besar dari kami belum pernah kesana. Jangankan kesana, mendengarnya aja aku baru kali ini koq… ;-p
Perjalanan menuju Petung Sewu cukup jauh dan berliku. Nggak heran kalo nggak banyak orang yang tau tempat ini. Sesampainya disana, Irma mendapat mandat untuk melobi petugas disana agar diperkenankan untuk masuk, karena sesuai informasi, tempat ini aslinya bukan tempat wisata sehingga tidak sembarangan orang diijinkan masuk. Akhirnya kita bisa masuk, tetapi bukan ke lokasi perlindungan hewannya, melainkan ke P-Wec (Petungsewu Wildlife Education Centre). Tempat dimana lembaga ini mengadakan pelatihan dan pengenalan akan perlindungan satwa langka. Disini disediakan fasilitas homestay, ruang pertemuan dan outbond. Mereka mempunyai beberapa program yang berkenaan dengan pengenalan ke alam dan hewan. Awalnya aku nggak tertarik. Lha aku pikir kita kesana untuk melihat satwa langka dari dekat, lha ini koq jadinya kita diajak ke ruang pertemuan dan diberikan presentasi. Tapi karena diluar mulai turun hujan, aku betah-betahin juga, toh nggak bisa kemana-mana karena hujan. Namun kemudian pendapatku berubah. Sambil menunggu mereka menyiapkan peralatan untuk presentasi, kita diajak melalukan permainan oleh instruktur outbond disana, mas Heri. Awalnya hanya permainan konsentrasi menghitung angka, tapi kemudian peserta yang melakukan kesalahan dihukum untuk memperagakan perilaku hewan dan peserta lainnya diminta untuk menirukan. Cukup seru, karena kebetulan aku dan Irma yang mendapat hukuman, teman-teman lainnya kita kerjain dengan menyuruh mereka menirukan gerakan monyet dan kambing ;-p
Acara dilanjutkan dengan pemutaran presentasi mengenai program-program P-Wec dan ProFauna Indonesia. Cukup miris juga menyaksikan film bagaimana hewan-hewan langka dibantai dan atau diperjualbelikan. Hati kami terketuk, jadinya kami tertarik untuk mengenal program mereka lebih jauh dalam sesi tanya jawab.
Tak terasa kita melewatkan waktu lebih dari 1 jam dalam ruang pertemuan tersebut. Dikarenakan perut sudah mulai menagih minta diisi dan hujan juga mulai reda, kami mohon diri pada pengelola P-Wec. Kami sangat berterima kasih karena mereka telah berbaik hati menerima kedatangan kami yang mendadak dan membuat kami lebih memahami pentingnya menjaga kelestarian binatang, terutama binatang langka yang dilindungi. Kami juga diberikan beberapa brosur dan diminta untuk membantu menyebarkannya secara sukarela agar masyarakat awam lebih memahami pentingnya mengenali satwa-satwa liar yang dilindungi untuk menghindari pemusnahan species mereka yang mulai langka. Sebagian teman membeli suvenir yang mereka sediakan karena dana yang diperoleh digunakan untuk kelangsungan program mulia mereka secara mandiri tanpa tergantung pada donatur tertentu.
Dari Petung Sewu kita meluncur ke rumah Bie untuk menagih janji. Maklum, dari waktu Bie dan Intan menikah, kita belum sempat merayakannya. Sampai disana makan siang sudah tersedia. Menunya unik ala pedesaan. Ada nasi jagung, pecel lele, urap-urap, dan beberapa masakan khas Jawa Timur lainnya, lengkap dengan teh hangat, gorengan, kacang rebus dan buah semangka. Kali ini perut kami benar-benar dimanjakan. Kayaknya semua sampai nambah deh… Wah, pokoknya enak dan kenyang tenan…
Kelar makan kita sempat leyeh-leyeh sambil menunggu para cowok mengganti ban salah satu mobil yang bocor. Jam setengah lima kita meninggalkan rumah Bie dan meluncur ke kota Malang untuk mengantarkan Fir yang hari Senin-nya ada acara disana. Habis mengantarkan Fir, kita mengantarkan Siti ke Pandaan karena hari Senin dia juga mendapat tugas kantor disana. Setelah itu giliran aku dan Susy yang kudu berpamitan pada teman-teman.
See you next time, guys… Mudah-mudahan rencana ke Tuban dan Lamongan sebagai sasaran kita berikutnya segera terlaksana.
Makasih banget buat Cepi dan Yuda yang sudah memberikan kita penginapan gratis (backpacker nginep di wisma, kapan lagi….), buat Cepi, Gigih dan Ina karena bersedia menjadi supir, buat Fir yang sudah membuat acara heboh dan tak terlupakan dan juga paket donatnya, buat Bie dan Intan yang bersedia kita todong menyiapkan makan siang, buat Kiki yang walopun nggak bisa ikut tapi mau meminjemkan peralatan BBQ, juga buat temen-temen lainnya yang membuat kebersamaan IBP Surabaya makin lama makin asyik aja
Cheers….
Evy is suka jalan-jalan dan mendapatkan pengalaman baru
Email this author | All posts by Evy



