Grandeur Yosemite hiking dengan John Muir dan Ansel Adams

Custom Search

By Ambar • Mar 8th, 2007 • Category: Hiking
Bookmark and Share
Yosemite sebenarnya adalah lembah yang tercipta karena glesier yang mencair. Batuan monolith seperti El Capitan yang mempunyai tubuh mulus itu karena pergerakan air ketika aliran sungai hasil pencairan es. Saat ini sungai2 yang mengalir di lembah ini airnya bersumber dari salju di puncak pegunungan. Ditetapkan sebagai Taman Nasional semenjak 1890 ini adalah tempat paling terkenal untuk memotret. Yang paling berkesan adalah Ansel Adams dengan seri hitam putihnya.

Everybody needs beauty as well as bread, places to play in and pray in, where nature may heal and give strength to body and soul. -John Muir


Backpacking Bersama John Muir

Gagal ke Yosemite (baca : Yo-se-mi-ti) bulan Oktober lalu memaksa harus usaha sendiri. Untuk mendapatkan akomodasi di dalam National Park sendiri sudah kepayahan, terlebih kami ini ngg bawa peralatan kemping. Satu hal lagi adalah suhu sudah mencapai zero saat ini, jadi rasanya klo kemah di luar mungkin enggak bijaksana…hiks alias engg nyaman. Kami sempat ditawari tenda kanvas tanpa penghangat. Weksss….kulit kayak begini mana mau berdingin-dingin.

Akhirnya dapat juga di Apple Tree Fish Camp tak jauh dari pintu gerbang Nat Park sebelah Selatan atau Highway 41 atau sekitar 22miles dari Valley. Maka hari Kamis pagi (23 Nov) pukul 7am sudah meninggalkan Sunnyvale. Seperti biasa tugas saya adalah navigator dengan segepok peta manual di tangan. He he he jangan berharap ada gps disini….atau internet.

Day 1, Thursday 23rd Nov 2006

Ada beberapa hal yang ingin saya uji coba di udara dingin Yosemite. Salah satunya adalah under-layer dan down jacket. Saya mencoba Sugoi base layer dan silk REI untuk celana. Sugoi top ini warna hitam dan betul2 nempel di bodi…(baru kerasa bahwa saya tambah ndut selama Sunnyvale). Sedang base layer sutra karena memang lagi diskonan….Sedang down jacket karena memang saya ini rentan dingin. Biarlah warnanya biru tarquiose, genit sekali dah… Down jacket ini biasa dibuat dari bulu angsa atau binatang air lain. Biasanya yang keliatan gelembung gede tapi enteng sekali. Maka saya akan seperti pisang goreng. Lemu ginuk-ginuk

Kami lewat Highway 101 trus menuju Highway 152 melewati perbukitan yang asyik. Disana-sini adalah ladang buah dalam skala besar. Ada pear, apel atau anggur. Tapi di musim begini daunnya mengering dan saatnya memotong cabang hingga siap untuk berbuah tahun depan. Sudah disepakati bahwa hari ini kami langsung ke Nat Park lewat pintu utama. Bayar dengan $20 per kendaraan sudah termasuk peta, buku guide kecil, kartu pos dan leaflet untuk keluar masuk selama 7 hari. Kalau mau ngirit lebih baik beli $50 untuk akses Taman Nasional di North America selama setahun !

Yosemite sebenarnya adalah lembah yang tercipta karena glesier yang mencair. Batuan monolith seperti El Capitan yang mempunyai tubuh mulus itu karena pergerakan air ketika aliran sungai hasil pencairan es. Saat ini sungai2 yang mengalir di lembah ini airnya bersumber dari salju di puncak pegunungan. Ditetapkan sebagai Taman Nasional semenjak 1890 ini adalah tempat paling terkenal untuk memotret. Yang terkenal adalah Ansel Adams dengan seri hitam putihnya.

Begitu sampai di lembah kami berhenti di sebuah tempat bersejarah. Iyah ini adalah tempat kemping Presiden Theodore Roosevelt dengan John Muir pada 17 Mei 1093. Sambil duduk didepan api unggun yang hangat kedua orang eksplorer ini saling berbagi visi tentang kekayaan alam amerika dan bagaimana menjaganya. Muir mengantar Pak Presiden ini backpacking di Yosemite yang waktu itu masih liar. Hasilnya : kita masih bisa menikmati kecantikannya.

Capek hampir 4 jam nyetir kami hanya ke Lower Yosemite Falls atau air terjun Yosemiti Bawah. Cuma jalan kaki 5 menit juga nyampai, tapi untuk mencapai air terjunnya harus melewati bebatuan di sungai. Asyik banget main lompat dan panjat. Sedang view El Capitan -batu paling dipuja oleh para rock climbers dunia terlihat gagah disampingnya. Ohya untuk musim dingin begini air terjun tidak dalam tampilan terbaiknya. Kalau ingin melihat datang saja musim semi ketika salju mulai meleleh dan memenuhi sungai. Di sebelah timur adalah Bridalveil Fall -air terjun yang menjadi landmark untuk tiap foto.

Namanya Lower pasti ada Upper Falls. Iyah bener..dan itu yang akan kami daki selanjutnya. Setinggi 3,000ft vertikal keatas melewati jalan zigzag hingga puncak air terjun dan Yosemite points. Lepas gelap kami mencari Apple Tree menyiapkan long trekking esok hari.

Dengkul Tua : Percobaan Hiking

Benar sodara, saya memang dengkul tua. Lha sejak sekolah SMA sampai sekarang kok ya masih hiking. Dengkul kiri saya sering komplain kalau dipaksa naik gunung. Di ransel saya pasti tersedia balsem, salonpas dan uang logam. Hah duit for what? Iyah untuk kerokan paha. Percaya tidak percaya ini adalah cara manjur untuk menyembuhkan kaki pegal. Salah satunya juga adalah minum dehydrated powder yang dicampur air menjaga agar kaki ngg kram dan fatigon untuk memuaskan doping. Obat yang lebih manjur adalah : naik gunung lagi !

Maka hari kedua di Yosemite saya isi semangat hiking di Upper Falls. Saya milih ini karena lebih bagus pemandangannya dan lebih panjang jaraknya. Guide Book karangan Ann Marie Brown cukup memberikan gambaran kegiatan apa saja yang bisa saya lakukan. Tapi ternyata percobaan dengkul tua ini cukup melelahkan juga.

Day 2 Friday, 24th November 2006 Upper Yosemite Fall+Yosemite Point

Distance : 7.4 miles (12km) round trip
Duration : 5-6 hours (leave more time for photography)
Rating : Strenuous
Elevation change : 2,700ft
Water : there are 3 springs in the way up, but I recommended to bring your own drink sinced the danger of Giardia bacteria

Berangkat pagi sekitar 730am menuju Valley yang memakan 45 menit nyetir. Kami cuma packing air minum. Di ransel kamera saya cuma sebotol, sedang di ransel lain ada 2 liter. Makanan hanya coklat dan buah2 kering seperti kismis, sepotong bagel sisa sarapan dan dua buah apel. Saya pikir bakalan dingin di puncak jadi ekstra fleece atau baju anget dan down jacket saya bawa. Kaos tangan terpaksa dipakai juga karena pagi itu dingin sekali. Berikut adalah barang2 yang musti dibawa untuk day hiking di Yosemite :

  1. Makanan dan Minuman. Bawa yang cepat dicerna seperti coklat, buah dan gula.
  2. Peta yang menunjukkan kontur lengkap+kompas. Saya memakai Map dari NatGeo yang anti basah dan anti robek
  3. Baju ekstra : suhu dan cuaca mudah berubah, sedia jaket anti hujan. Kalau bisa bawa ektra kaos kaki
  4. Sunscreen dan sunglasses. Ini barang penting buat saya karena tiap hiking saya make contact lens dari kelembaban udara yang rendah.
  5. Lampu senter. Nah ini yang agaknya sering lupa. Musim begini hari menjadi sangat pendek. Sunset adalah pukul 450pm dan sebelumnya trail sudah gelap karena berada dalam bayangan puncak2 tinggi di sebelahnya.
  6. First Aid : yang ringan2 saja seperti obat kepala, perban dll, juga anti-blister. Ini adalah semacam salonpas untuk melindungi kulit dari lecet.
  7. Survival Tools : Pisau, korek api, space blanket, peluit, kaca. Enggak berat kok tapi sangat bermanfaat jika kita dalam kesulitan
  8. Lain2 : kamera, binocular dll

Dari Yosemite Lodge kami parkir dan nyebrang berjalan menuju Camp 4. Tempat ini biasanya dipakai untuk kemping, sedang trailnya terletak di sisi timur. Sepanjang kaki El Caps ini banyak sekali batuan yang bisa digunakan bouldering. Jadi ngg usah heran kalau melihat ada orang kmana-mana bawa kasur busa untuk latihan. Beberapa dinding juga lumayan untuk latihan manjat walau enggak setinggi induknya. Ohya di dalam Nat Parks tersedia shuttle bus gratis yang bisa dipakai untuk menjelajah klo males jalan kaki.

Pagi itu dingin sekali hingga semua jaket dipakai. Tapi begitu mulai jalan, setengah jam kemudian rasanya jadi gerah. Pagi itu banyak juga yang barengan. Wah berarti cukup populer juga ya… Sekitar 1-2 miles pertama adalah lebih banyak berpasir dengan rimbunan pohon. Jalanan langsung menanjak. Papan arah dibuat gampang banget dan kondisi trek juga bagus. Dalam 1 jam kemudian kami sampai di view point. Disini bisa menikmati lembah sejauh mata memandang. Untung banget hari itu cuaca lagi baik, biarpun dingin.

Dari sini jalan lagi melewati belakang ceruk tebing. Jalanan juga lebih banyak bebatuan dengan tangga yang ditata. Vegetasi sedikit berubah dengan banyaknya pohon pinus. Kondisi dengkul masih bisa dipacu. Saya pikir hmmm kuat juga ya….Dari jauh bisa dilihat air terjun dengan beberapa salju dan es menempel di dinding. Musim begini airnya cuma sak-crut alias minim sekali. Untuk melihat penampilan sesungguhnya dateng aja bulan Maret-April. Ditanggung kena percikan airnya !

Udah deh mulailah terjadi test jalan yang sebenarnya. Saya masih belajar mendaki dengan tanpa kehilangan nafas. Berat banget terutama karena kapasitas paru2 saya dibawah normal. Beberapa kali brenti untuk minum atau makan snack penambah tenaga. Eh tak lama saya dengar lenguh perempuan sepertinya dipukulin. Iyah ngg enak banget dengernya. Ternyata rombongan tiga cewek asian american dengan satu cowok sebagai pimpinan. Duh sember banget, bentar-bentar minta berhenti. Saya amati mereka engga bawa minuman dan mungkin makanan. Ah kok ambil resiko segitunya…

Saya milih berhenti dan menghabiskan makanan. Biarlah mereka naik duluan ketimbang mendengar seru2an begitu. Menurut saya masalah perilaku mendaki itu penting sekali. Terutama mendaki dalam hening. Merenungkan keindahan alam di sekeliling kita, menikmati dalam hati. Bersyukur kita masih bisa melihat dan merasakannya. Beberapa kali saya dilewati pendaki lain. Biarlah wong pendaki dengkul tua begini kok mau diajak racing….lha cilaka dung.

Setelah lumayan terseok-seok sampai juga akhirnya di puncak. Tepat di cekungan sungai sebelum jatuh bebas menjadi air terjun. Saya ngg kuasa menahan diri mlongo. Pemandangan diatas luar biasa ! Saya bisa melihat Half Dome yang berada di seberang dengan Cathedral Dome tak jauh darinya. Sedang Bridalveil juga terlihat. Ah indahnya….
Kalau mau turun untuk melihat sungai ada jalan setapak yang dilengkapi pagar besi pengaman. Hah liat ke bawah rasanya perut jadi mules. Betul-betul vertikal bawah..

Dari sini bisa dilihat pagar besi di Yosemite Point. Kami putuskan untuk kesana juga. Balik lagi ke trek awal yang bercabang dan mendaki kembali. Melewati jembatan kayu dan hutan pinus muda. Hutan ini tercipta diatas batuan granit maha keras. Akar pinus menjadi tidak kuat karena tidak mampu menembus dalam. Akibatnya sering terlihat pohon terberai karena angin atau lapuk. Sana sini terdengar suara pelatuk burung woodpecker di pohon mati yang masih berdiri. Makanya paling asyik memang jalan dengan diam, menangkap suara2 disekeliling.

Jalur yang ini sepi banget. Saya hanya menjumpai 5 orang dibanding Upper Fall yang mungkin sekitar 20-30 orang. Padahal kalau dilihat jaraknya ngg jauh2 amat. Kami ngg lama disini, apalagi matahari sudah mulai bergeser. Kami perkirakan butuh 1.5 – 2 jam. Apalagi saya memang paling lambat kalau turun. Sayang dengkul…

Total kami jalan sekitar 6 jam dengan standar santai alias enggak ngejar setoran. Yang penting kan enjoy walau akhirnya kaki pegel beneran sampai hari ini……

Catatan :
Space Blanket : adalah selembar selimut dari bahan memantul (emas atau perak) untuk mengurangi kehilangan panas tubuh dalam situasi hypothermia.
Fotografer Ngga Modal : Percobaan Motret


Halah …motret di Yosemite itu kombinasi antara kemauan keras, mengenal medan, waktu yang pas, dan juga modal (maksude kamera dan tetek bengek). Tapi ketahuilah sodara2 saya ini memang modal dengkul. Makanya ketika seorang kawan yang serius photography mengajak ke Yosemite saya langsung iyah. Tanpa pernah memikirkan bahwa sunrise adalah di pagi buta dalam suhu membeku plus kemungkinan bertemu binatang liar. Serius ! saya ngg ngegombal bahwa Yosemite itu masih wild wild west. Tahun lalu kawan saya ini bertemu beruang hitam, seekor induk dengan anaknya. Ia bilang itu pengalaman menakutkan…..gleks.

Ketidak modalan saya ditambahi dengan kealpaan bawa tripod. Terlalu percaya dengan kecanggihan kamera membuahkan over-confidence. Ah disana kan bisa disiasati, gitu hati kecil bilang. Ternyata sodara itu SALAH BESAR ! Ketika kawan saya itu dipersejatai dengan buku Photographer’s Guide to Yosemite sebuah kamera merk top dengan berbagai lensa, tripod, filter dan kartu white balances, saya harus berbahagia dengan kamera veteran saja.

Day 3 Saturday 25 November 2006 Yosemite Valley – Mirror Lake – Lower Fall – Glasier Point

Disepakati kami berangkat dari Fish Camp pukul 0500am untuk mengejar sunrise 0620am. Untuk menuju Yosemite Valley di awal hari hanya membutuhkan 40menit. Tadinya rencana langsung menuju Mirror Lake atau Tunnel View, tapi karena waktu ngg cukup kami hanya di pinggir sungai Merced saja. Sungai ini yang membelah lembah Yosemite, mengalirkan air dari salju-salju di puncak gunung.

Begitu sampe kami langsung cari posisi. Dengan temperature sekitar -2C kami bengong menatap dinding tajam sebelah barat untuk melihat pantulan pertama matahari pagi itu. Secara ngg sengaja posisi kami tepat diseberang sungai. Sebuah padang ilalang dengan deretan pinus dibelakangnya. Saya bisa melihat kabut tipis menggantung membentuk ilusi gelombang yang sangat cantik. Kabut tipis ini karena panas bumi yang mengenai partikel air di udara, jika terkena sinar matahari sebentar saja pasti lenyap.

Ternyata kesabaran saya sedang dicoba. Lha iya sunrise memang jam segitu tapi untuk mencapai dinding tebing butuh sekitar 10-15 menit lagi. Dan berdiri di luar dengan full jacket, kaos tangan dan kupluk memaksa harus lompat2 untuk menjaga suhu tubuh. Tangan sudah mulai kaku. Satu menit nampak begitu berharga. Setelah ditunggu nampaklah cahaya jingga di tebing nun jauh disana. Ah …rasanya lega. Beberapa fotografer menyusul kami di tepi sungai. Total ada sekitar 5 orang mengarahkan lensa terbaiknya. Sedang saya…hiks sambil mengelus kamera satu2nya.


Puas disini kami bergerak ke Mirror Lake. Ini adalah sebuah danau tampungan yang terletak di ujung lembah. Airnya berasal dari mata air sungai Tenaya. Mirror Lake dinamakan begitu karena jika pagi hari akan terlihat pantulan tebing2 di sekeliling Valley seperti Basket Dome, Half Dome dan Mt Watkins. Kami harus jalan kaki sekitar 1 mile (1.6km) menuju lokasi. Di sana sudah nampak beberapa orang mengambil gambar. Terpaksa agak menyingkir ke sisi lain danau.

Disinilah kenyataan bahwa ngg bawa tripod begitu berpengaruh. Cahaya minim sekali padahal pengen mengambil foto ilalang yang sedang ditutupi kristal es. Juga karena matahari blum nongol membuat saya hanya keliling2 saja. Dua orang kawan saya malah sibuk memfoto air terjun disungai. Jengkel saya duduk manis dan mulai makan bekal.

Sekilas saya liat sesuatu bergerak. Berlari kecil di trek seberang sungai. Mungkin sedikit lebih besar dari anjing, dan saya kira memang anjing. Tapi..hang on a minute, tadi kan saya liat tanda peringatan ngg boleh bawa doggie. Hah lantas itu apa ya?
Panik botol minuman saya tinggal dan berteriak ke bawah. Saya tunjuk lokasi si binatang tadi. Dasar suka moto binatang, Mark mengejar (eng ing eng…..) dengan antusias. Sepuluh menit…lima belas menit…..tigapuluh menit….hah lama amat ! Jangan-jangan…


Saya bilang ke kawan saya. Dia terlihat pucat. Saya nanya, lha trus itu tadi apa. Dia bilang kemungkinan adalah mountain lion. Hah? macan….eeeh…. macan beneran? Itu tadi Mark malah mengejar kira2 aman ngg ya. Katanya dengan santai kalau belum denger Mark menjerit pastinya he’s OK. Gleks..what?

Tak lama nampak Mark datang dari kejauhan. Ah lega tapi kok sekelebat binatang di belakangnya mendaki bukit. “Oiiii It’s behind you!” teriak saya campuran cemas dan panik. Cepat dia berbalik dan kembali mengejar. Duh…maksud saya mbok lari kesini lha ini kok malah ngejar. Aneh.. Tak lama nongol juga. Katanya si binatang tadi duduk diatas batu sembari mencari mangsa bajing2 di pepohonan. Ia bilang bukan macan kok tapi Bobcats (Lynx rufus) atau kucing gede liar.

Siang kami putuskan jalan2 ringan saja sehabis brunch. Kembali ke rute Lower Falls lantas naik bis balik ke parkiran. Pukul 0230 kami bergerak menuju Glasier Point. Glasier Point ini melewati Tunnel View yakni terowongan yang menjebol batuan menghubungkan Valley dengan Wawona. Tadinya saya tergoda berhenti disini, tapi saya lihat mendung menggayut di lembah. Dalam satu jam kedepan sangat sulit mendapat sinar matahari.

Saya sempat pesimis karena dalam perjalanan kesana kabut dan mendung terus membayang. Hingga ke Glasier Point saya bisa melihat seluruh sisi barat lembah. Wow..inilah Grandeur Yosemite ! Hingga sunset saya terduduk disini, menikmati indahnya cahaya yang hanya sekilas. Mendung masih menutupi puncak Half Dome. Tapi kilau indahnya saya rekam di kamera. Priceless…

Titip Pesan Lewat Pohon

Trees go wandering forth in all directions with every wind, going and coming like ourselves, traveling with us around the sun two million miles a day, and through space heaven knows how fast and far! John Muir

Saya dulu suka manjat pohon, apalagi jika itu mangga milik tetangga dan berbuah lebat. Entahlah saya suka sekali berada diantara pohon-pohon tengah hutan. Ada rasa takut gimanaaa gitu jika melihat pohon-pohon besar. Saya jadi ingat Treebeard dalam Return of The King-nya JRR Tolkien. Pohon yang memimpin para ents menghancurkan Isengard. Rasanya kok pohon itu memang mengerikan ya…

Day 4 Sunday 26th November 2006 Mariposa Grove of Giant Sequoias

Hari terakhir Yosemite saya putuskan menengok Mariposa Grove – pohon sequoia raksasa. Tempat ini diketemukan oleh Galen Clark seorang mantan penambang emas yang divonis tak bakal hidup lama karena infeksi paru-paru. Pak Clark ini begitu terinspirasi dengan pohon sequoia yang mampu hidup hingga beribu tahun akhirnya memutuskan menjadi tukang jaga Yosemite dan Mariposa. Dan hebatnya karena hawa gunung yang dihirup tiap hari bisa menyembuhkan sakitnya hingga ia meninggal di usia 95 tahun ! Waw …

Bukan kebetulan kalau hari itu saya ngg sengaja bareng dengan laki-laki yang mengaku berumur lebih dari 100th. Saya tidak percaya pengakuannya, apalagi dari fisik ia nampak gagah. Hanya rambut panjang putih yang ditutupi topi serta jambang panjangnya persis seperti foto Galen Clark. Apalagi ia tidak berjalan dengan tongkat, seperti wajarnya seorang kakek-kakek. Ia tampil dengan gaya modern lengkap jeans belel dan jacket hood. Pfff…

Tapi dari cerita yang disampaikannya saya mengamini. Ia bilang hutan ini memberinya semangat untuk tetap hidup, seperti halnya pohon-pohon disini.

Jadi pohon sequoia itu apa sih ? Nama aslinya Sequoiadendron giganteum atau Siera Redwood atau Pohon Raksasa. pohon ini bisa tumbuh tinngi 50-85m dan tercatat paling tua adalah berumur 3,200 tahun berdasar lingkaran tahun. Kok bisa awet ya? nah rahasianya adalah kulit pohon yang tahan terbakar, kemampuan menyebarkan bibit dalam cones, dan juga di Mariposa ini benar2 dilindungi. Gak ada logging semenjak 1853.

Biasanya pengunjung hanya sampai Lower area. Tapi kami putuskan hingga lebih nanjak lagi untuk melihat lebih jauh. Kami ngambil rute memutar melewati pohon2 yang jelas bekas terbakar. Ah ya disini kalau musim kering gampang sekali tersulut apalagi dekat dengan pinus yang mempunyai daya pantik.

Hingga di perbatasan sampailah saya di pohon yang dilobangi untuk bisa lewat. Iyah si pohon ternyata masih bisa bertahan hidup dan terus tumbuh walaupu jutaan orang melewati lubang menganga. Saya sempat juga menjumpai padang edelweis ketika mendekati puncak bukit. Waaaaaa…kalau di Indonesia mungkin sudah habis diambilin untuk buah tangan. Bedanya yang ini tipenya seperti tanaman merambat di tanah, hanya bunganya nampak menjulang seperti semak. Harumnya itu….

Di Mariposa ini ditemui banyak burung seperti jay atau woodpecker. Bahkan rusa liar nampak begitu bersahabat dan tidak takut dengan manusia. Belum lagi bajing yang saling melompat mencari ceceran kacang ditanah. Ah tak heran Pak Clark begitu menikmati hutan ini….Biasalah kalau sudah bertemu binatang bisa makan waktu lama untuk foto2. Tak terasa sudah waktunya kembali ke rumah. Anyway next time kami akan kembali.

Behind the Scene of Taking Pictures in Yosemite

Landscape photography is the supreme test of the photographer – and often the supreme disappointment. —Ansel Adams


I have been photographing landscapes for a few years. My love of photography back when I was in uni or even further my childhood. But the only thing that led me being a photographer because I love the beauty of nature. As George Mallory answered when he asked why he was climbing the mountain : Because it’s there !

Yosemite wasn’t an exceptional. It’s grandeur….it’s beauty that drove people to see it. I have to admit before set off to National Park I am just want to be there, sit and watching. Say : ah…ah..ah then grab a camera snap…snap..snap ! After that I realized that to explore this place you’ve got to walk, climb, crawl, cross the river and fighting with temperature.

I was there with a friend Olivier. He is a serious photographer who armed with lovely EOS D5, many lenses and tit bits in his compact rucksack also Photographer’s Guide To Yosemite Book. A night before we sat together watching his photo taken last year in spring. It was lovely collection, most of them were landscapes and macro -the two area that I played most. Mark in the other hand is an experienced hobbyist. He had been playing with camera for about 21 years since in uni. His major is in macro and wildlife animal. He will spend hours chasing animal and taking photographs. Anyway I wasn’t that keen.

So yes…in Yosemite I have been surrounding by ‘expert’ but to add misery we did not take tripod and many lenses with us. Only monopod that Mark uses it for wildlife which aim to take active movement. We relay on cameras to do as we told, praying that light will on our side. In autumn the sun will the only source of light, and because Yosemite is a valley you couldn’t get much lighting to cover whole area. The valley is built by massive granite wall circulating for 2 miles across.

Now I understand why Olivier was in fully arms. The light conditions was not an ideal for landscape. You’ve got to deal with the situation. Take photos now or never…. So yes I took it for granted. We had two brilliant days for climbing upper Yosemite Falls. The next two days was not bad, apart from early birds down to the Valley and Mirror Lake.
As a bonus Mark met bobcats for the first time in wild world. I was thinking it looked like a mountain lion. I was wrong to send him take photos and end up in 30 minutes worrying something will happen. Olivier said last year he met two brown bear at the same place I spot the bobcat. Early morning obviously a favorite time for animal looking for prey. Ok it’s noted.

Season also play important rules. We were in autumn near winter. The sky still clear, temperature quite mild, no snow and no gusty wind or storm. But nature can change just in blink of eye. One moment I can see the blue sky, then turn misty cold thick clouds covering the peaks. Temperature can drop easily. We ended up had several layers of clothes including gloves and hat. I get used to play camera’s button with the bare hand. But since the cold unbearable I had to put the gloves on and off.

Anyway we always hoping that we will back doing some more photography sometime. But as I wrote this blog I glanced to other screen show my Yosemite’s pictures. I can feel the magic, I can feel the grandeur. Yes…it’s worth to die for. (*)

You can also see the photo collections here :

Grandeur Yosemite : Welcome to Ansel Adams Playgound

Close and Personal Yosemite

Pohon…rusa….bajing…dan edelweis

Tagged as: , , , ,

Ambar is Adventures. Backpacking. Photography.
Email this author | All posts by Ambar

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.