Menggapai Puncak Rengganis -Mental vs Fisik
By admin • Mar 31st, 2007 • Category: Hiking
Ughh..aku tidak membayangkan,bagaimana mungkin kami bisa melaluinya pada malam hari kemarin?Ternyata medannya ngeri begitu…!Tapi mungkin benar kata-kata bijak yang menyebutkan " Mereka yang percaya sesuatu itu mustahil,akan selalu mendapati hal itu memang mustahil.Sementara mereka yang percaya tidak ada yang mustahil akan selalu menemukan jalan."
Tim pendaki FKG yang terdiri dari Virma (ketua),Nurul Rizal,Amy, Galuh,Hepi,Daniel,Owin dan aku sudah siap berangkat menuju terminal Bungurasih ketika tiba2 hujan deras mengguyur SUrabaya.Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 13.00,waktu kesepakatan dengan David untuk bertemu di ruang tunggu terminal.Hingga pukul 14.00 hujan tak jua kunjung berhenti,bahkan semakin deras hingga menggenangi halaman kampus yang sepi karena masih masa liburan.Akhirnya kami memutuskan untuk mencarter angkot menuju bungurasih.Di ruang tunggu terminal,nampak David yang sudah bermuka kusut karena terlalu lama menunggu
Pukul 16.00 bus Restu jurusan Probolinggo beranjak meninggalkan terminal.Karena di daerah Tanggulangin dan Porong Sidoarjo terjadi demonstrasi warga korban lumpur Lapindo,bus terpaksa memutar arah tidak melalui Raya Porong,tapi melewati Krian-mojosari-japanan.Akibatnya,perjalanan dapat dipastikan memakan waktu 1-2 jam lebih lama.
Sekitar pukul 21.00 kami tiba di Terminal Probolinggo dan melanjutkan perjalanan ke Besuki dengan menggunakan bus Akas jurusan Ketapang-Banyuwangi.Selama perjalanan menuju Besuki yang sangat membosankan karena sopir menjalankan bus dengan sangat lambat ,kami cukup terhibur dengan pemandangan PLTU paiton yang membuat kami sempat bernostalgia ketika kami melakukan perjalanan menuju Gunung Ijen 4 tahun lalu melalui jalur ini. Waktu pun berlalu, tak terasa aku tertidur hingga kondektur bus berteriak kami sudah sampai di Besuki. Kami pun mengisi perut yang sudah merintih dengan semacam kare daging yang dikombinasi dengan biji kacang hijau…kalau sudah lapar begini,makanan asing pun tampak lezat…
Karena angkot yang akan membawa kami ke Baderan (starting point) tidak ada,maka kami memutuskan untuk menginap di musholla Polsek Besuki di seberang terminal.Untunglah,bapak ibu penjaga musholla sangat baik pada kami.Beliau bahkan mengijinkan kami tidur di dalam,karena diluar musholla sangat dingin dan banyak nyamuk.Setelah sholat isya' berjamaah sekitar pukul 23.45,kami pun beristirahat untuk persiapan pendakian esok hari.
Sabtu,24 Feb 07
Pukul 05.30 angkot yang akan mengantar kami ke Desa Baderan sudah siap dengan kesepakatan harga 5000 rupiah per orang.Setelah berpamitan pada penjaga musholla dan istri,serta melapor pada petugas polsek Besuki,kami pun berangkat.Sekitar 1 jam kemudian,kami sampai di Desa Baderan.Kami mampir terlebih dahulu ke sebuah warung sederhana di dekat pos BKSDA Argopuro Baderan.Menu yang disajikan adalah nasi jagung plus sayur pecel dengan lauk tempe dan ayam goreng..Cukup nikmat,tapi pedesnya itu lho!!Ampun deh…Puas mengisi perut,pukul 7.30 kami bersama-sama menuju pos BKSDA untuk melaporkan rencana pendakian kami.Usai ngobrol sejenak dan para cewek (dan temen cowok yang centil) sibuk memakai sun block,kami memulai perjalanan pada pukul 08.15,tanpalupa untuk berdoa dan berfoto ria terlebih dulu.

EHm..plus saus sambal yang pedas,enak juga! Beberapa teman cowok berinisiatif untuk mengambil air di sumber air yang letaknya dilereng jalanan.Namun karena ternyata kondisi jalan menuju mata air licin,niat tersebut pun urung. Kami pun melanjutkan perjalanan yang ternyata sudah begitu jauh dari waktu standar.Apalagi kami berniat untuk nge camp di Cikasur malam itu. Perjalanan menuju Pos Mata Air 2 terasa makin berat ketika hujan makin deras dan jalanan yang makin menanjak. Mungkin dalam kondisi kering, jalanan akan dengan mudah didaki,tapi karena aliran air hujan yang begitu deras,jalanan menjadi licin. Belum lagi kaki-kaki kami mulai terasa dingin meski beberapa dari kami termasuk aku,sudah memakai sepatu.
Aku berjalan paling depan diikuti Owin.Tak terasa kami telah meninggalkan teman2 jauh dibelakang.Aku dan Owin pun berhenti sejenak di bawah naungan sebuah pohon sambil sedikit terkantuk-kantuk.Ketika teman2 menyusul,mereka mengabarkan bahwa Hepi mengalami kram kaki.Kondisi Hepi nampak begitu tersiksa..Dengan semangat dari teman2 dia mulai melangkah lagi sambil menahan sakit.
Sementara hari mulai gelap dan hujan terus mengguyur,kami tak jua menemukan Pos Mata Air 2.Lalu jam berapa bisa sampai Cikasur??? Aku mulai dirambati rasa jengkel dan sesal.Jengkel karena ternyata sejauh ini kami belum juga sampai ke tujuan pertama.Tapi harus menyalahkan siapa?? Kondisi Hepi pun makin parah.Dia sampai harus dibantu tongkat dalam berjalan.Bahkan kemudian tercetus keinginannya untuk kembali saja ke Baderan!! Ya Allah…apalagi ini? Hepi yang biasanya punya tenaga kuda karena sering berpuasa waktu naik gunung dan selalu paling depan,kini menyerah??!!! Hal ini sempat membuatku dan 2 teman2 cewek ikut down.Tapi kemudian kukatakan pada Hepi dan yang lain ketika kami sedang rehat tentang apa yang kubaca dari sebuah buku bahwa " Yang bisa menghentikanmu adalah dirimu sendiri"! Dan rupanya ucapan itu cukup manjur,dan Hepi pun bersedia melanjutkan perjalanan.
Matahari menghilang dibalik pepohonan dan bukit yang mulai nampak menyeramkan.Dan kami tak juga menemukan pos Mata Air 2.Virma dan Nurul (penanggung jawab pendakian) pun akhirnya memutuskan untuk nge camp darurat di sebuah tempat landai mengingat kondisi kami yang nampak kelelahan.tenda pun siap ketika maghrib menjelang.Bintang-bintang nampak jelas ketika hujan reda dan mendung menyingkir.Tapi udara yang cukup dingin membuat kami tak ingin berlama-lama diluar tenda,dan kami pun segera merebahkan diri dalam mimpi.
Minggu,25 Feb 07
Pukul 09.00 kami bergegas meninggalkan area camp.Targetnya minimal kami harus sampai di Cikasur.Yah..sedikit meleset dari jadwal karena seharusnya saat ini kami sudah dalam perjalanan dengan target Cisentor.Tapi kami tak mau memaksakan diri.Have fun aja lah…Tak lama berjalan,kami bertemu Pos Mata Air 2.Ternyata hanya 5 menit dari tempat kami berkemah!!Perjalanan menuju Cikasur kami lalui dengan bugar,bahkan Hepi yang kemarin lemah pun sekarang berjalan (lagi2) di rombongan depan
Jalan yang cukup landai bahkan beberapakali turunan mempercepat perjalanan kami.Keindahan Argopuro mulai kami rasakan ketika kami sampai di sebuah alun-alun kecil yang merupakan sebuah padang rumput.Menurut Nurul,sepanjang perjalanan pemandangan seperti inilah yang akan kami nikmati. Padang rumput luas,hutan,terus berganti-ganti. Wow…membayangkannya saja sudah terasa indah.Cuaca selama perjalanan menuju Cikasur pun begitu bersahabat.Barulah ketika kami sudah mendekati Cikasur sekitar pukul 11.30 ,hujan gerimis mulai menyapa.Dari kejauhan,nampak padang rumput hijau dengan aliran sungai deras dibawah sana..Oh,ini kesekian kalinya aku berdecak kagum melihat indahnya alam Argopuro.

Kami memutuskan untuk menunggu hujan reda untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Cisentor. Menurut Virma,amat riskan jika kami harus mendirikan tenda di Cikasur, karena hawa yang sangat dingin. Hujan benar-benar reda ketika waktu menunjukkan pukul 17.00.tepat sama seperti kemarin.Ketika kami bersiap berangkat,kami mendengar suara burung merak bersahutan di hutan seberang pondok. Sayangnya, dia enggan menampakkan bulu-bulu indahnya pada kami……..
Rombongan pun berangkat menuju Cisentor pukul 17.30.Sedikit terkesan nekat memang
Ketika kami mulai meninggalkan Cikasur,nampaklah lapangan terbang yang terhampar begitu luas dibawah sana.Begitu apik… Kami terus berjalan menembus padang rerumputan dan hutan hingga malam mulai menjelang dan senter-senter mulai dinyalakan. Ritme berjalan pun mulai melambat karena terbatasnya jangkauan pandang dan hujan mulai mengguyur lagi. Inilah kerugian berjalan malam.
Keraguan akan jalur yang benar membuat Virma dan Nurul mengecek terlebih dahulu jalan yang ada didepan kami.Tak lama kemudian mereka kembali dan mengatakan medan didepan sana sangat riskan untuk dilalui pada malam hari begini.Akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di jalan dibawah tebing yang menjulang 90 derajat.Dalam keheningan malam yang diisi suara dengkur lelah teman-temanku,aku terus berdoa semoga perjananan kami selalu dilindungi olehNya….
Senin,26 Feb 07
Pukul 06.00 aku dan teman-teman sudah terbangun.Kami semua tertegun menyaksikan medan perjalanan yang kami lalui semalam.Ughh..aku tidak membayangkan,bagaimana mungkin kami bisa melaluinya pada malam hari kemarin?Ternyata medannya ngeri begitu…!Tapi mungkin benar kata-kata bijak yang menyebutkan " Mereka yang percaya sesuatu itu mustahil,akan selalu mendapati hal itu memang mustahil.Sementara mereka yang percaya tidak ada yang mustahil akan selalu menemukan jalan."
Sejak itulah kepercayaan diriku terus muncul bahwa aku bisa menyelesaikan pendakian ARGOPURO ini.Meski pada hari pertama kemarin,aku mendapat serangan mual yang mungkin bagian dari manifestasi sakitku beberapa waktu lalu.Setelah menyantap sarapan roti bakar oles Blue Band plus strawberry jam dan kopi hangat,kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan Cisentor.
Dan Auuw…betisku yang telanjang karena cuma memakai celana pendek terkena belaian durinya.Rasa panas,sedikit gatal pun terasa.Tak apa,kupikir.Kalo rasa gatalnya terus saja menetap,aku akan menenggak antihistamin yang kubawa.Tak sampai 10 menit, Cisentor pun sudah nampak didepan mata.Masyaallah,ternyata begitu dekatnya kami dengan sungai jernih ini…Setelah meletakkan ransel di pondok pendaki,aku berniat membasahi tubuh yang sudah terasa lengket karena berhari-hari tak terjamah air.Tapi kami harus segera melanjutkan perjalanan menuju Puncak rengganis.Yah,ritual mandi harus ditunda dulu..
Ransel sepakat kami tinggalkan dipondok yang akan dijaga Nurul dan Daniel dan hanya membawa minum,snack dan ponco menuju puncak.Langkah kaki terasa ringan selama kami melintasi padang rumput dan hamparan pohon edelweis menuju Rawa Embik. Sayang sekali bunga edelweis tidak menunjukkan keindahannya pada kami. Mungkin karena saat ini sedang musim penghujan,sehingga tampak beberapa bunga yang dulu mekar mulai membusuk. Jalanan menanjak pun tak terhiraukan. Perjalanan dari Cisentor menuju Rawa embik hanya membutuhkan waktu 45 menit.Kami cukup lama beristirahat di Rawa embik.Sambil menikmati indahnya alam,tak lupa kami menyalurkan bakat foto model dengan David sebagai sang fotografer.
Puas bernarsis ria,kami berjalan lagi menuju Puncak. Hanya sekitar 40 menit kemudian kami sudah sampai di puncak Rengganis setelah sebelumnya kami berdoa sejenak di papan memoar saudara Anang Purwanto.Di puncak inilah kami serasa berada dalam sebuah kerajaan besar yang kukuh dan berbudaya.Dengan tatanan batu yang mengitari area,bekas-bekas arca,bekas pondasi berkotak-kotak dan juga yang kemungkinan adalah makam.Kabut dan hujan gerimis menyaput ketika kami tepat sampai di puncak Rengganis.Aku menemukan semacam kentheng (tempat menumbuk padi) seperti yang kulihat di puncak Kentheng Songo di gunung Merbabu.Nampak pula tumpukan sesaji seperti ketupat,rokok,bunga sepasar,buah teronggok disana.Dari atas puncak Rengganis,pemandangan yang terhampar begitu indah..Apalagi ketika kabut mulai menyingkir.Ya Allah…begitu besar kuasaMu yang telah menciptakan semua ini..Hepi nampak begitu senang dan dia mengatakan akan sangat menyesal jika pada hari pertama kemarin dia benar-benar kembali turun dan membatalkan perjalanan..
Kami tak berlama-lama diatas puncak karena hujan mulai turun kembali.Perjalanan turun menuju Cisentor sedikit terganggu oleh hujan yang menyebabkan jalanan menjadi licin.Akibatnya aku,amy,galuh,owin dan hepi bahkan virma sempat melakukan surfing sampai telentang.hehhee….lucu juga kalau diingat-ingat.sensasi kaget saat terjatuh dan rasa malunya itu lho!!
Perjalanan ke Cisentor hanya ditempuh dalam waktu 1 jam 10 menit.Wah,senang sekali rasanya karena berhasil menempuh separo perjalanan panjang ini.aku dan galuh pun bertekad untuk mandi sore itu.Air yang dingin bukan halangan bagi kami berdua.Apalagi tak ada kekhawatiran adanya Joko tarub kan???Hehehhee….
Malam itu,udara sangat bersahabat. Nyaris tidak turun hujan dan hawa tidak terlalu dingin.Kami para wanita memasak beras,selada air dari Cikasur dan merebus kentang untuk makan malam.Selada air yang disajikan dengan bumbu pecel yang dibawa pun terasa begitu segar dan nikmat.Coba kalau dirumah,dipaksa pun ga bakalan aku mau makan selada.hehehhe…..
Selasa,27 Feb 07
Hari terus berganti. Kami berulang kali saling menanyakan sekarang hari apa ya?Makanya teman2 sepakat menamakan gunung Argopuro sebagai gunung LALIDINO (lupa hari-bhs jawa, red). Kami berencana untuk segera melanjutkan perjalanan pulang.Ada beberapa teman yang menginginkan kami lgsg turun ke Bremi,tapi ada pula yang ingin melihat keindahan Danau Taman Hidup.Disinilah egoisme diuji untuk dapat bertoleransi dan kompromi atas kepentingan pribadi maupun umum,dengan memperhatikan kondisi.
Sementara para siswa marinir itu istirahat dan makan pagi,kami berfoto ria dengan para pelatihnya.Salah seorang pelatih bertanya padaku, "Apa se mbak yang dicari disini??" Lah,kok tanya gitu? Apa perlu kujawab seperti kata Thoreau "aku pergi ke hutan untuk mencari kebijaksanaan…" HALAHH!!!
Sebenarnya kami berniat berangkat mendahului tentara2 itu,tapi kami atas pertimbangan "kecepatan" kami pikir kebih baik kami berjalan di belakang mereka.Ternyata…..,mereka berjalan sangat LAMBAT!!! Kami berulang kali harus berhenti untuk menunggu mereka mengatasi tanjakan dan menerima sejumlah pentungan popor senapan dari pelatih. Belum lagi bentakan-bentakan kasar yang berdampak juga pd emosi kami yang ikut2an jadi 'kasar'.Hehehee….tapi yang paling membuat kami merugi adalah akibat jalur yang terinjak 700 orang itu, jalanan menjadi rusak, ditambah lagi kondisi becek akibat hujan yang terus mengguyur,so…kami makin sering terpeleset gara-gara bekas pelesetan tentara itu juga.
Padahal medan di Hutan Taman Lumut begitu terjal dengan lembah yang siap mengancam dibawah sana.Hal itu terus mengganggu hingga kami memasuki hutan Konservasi. Fisik pun makin terasa lelah karena psikis yang 'juga lelah'. Hampir 6 jam kami berjalan (tapi lebih banyak berhentinya nunggu tuh marinir agak jauhan) akhirnya kami berunding.Apakah kami langsung turun ke Bremi ato menginap semalam lagi..
Waduh,molor??Aku sempat kuatir juga.Bukan apa-apa….aku cuma pamit pada orang tua 4 hari,nyatanya….hikss..Kami akhirnya memutuskan untuk berjalan saja terus hingga gelap, jika memang kondisi tidak memungkinkan,kami akan mendirikan tenda lagi.Mulanya rombongan terbagi atas 3 kelompok.Paling depan, Virma,Daniel dan aku.Yang kedua ada Galuh,Owin dan David.Dan yang terakhir Hepi,Amy dan Nurul.Tapi kemudian rombongan kedua berhasil menyusul rombongan pertama. Ketika itu,hari sudah semakin gelap dan hutan makin nampak 'menyeramkan'. Sepanjang jalan aku terus melafalkan beragam doa, begitu juga Galuh dan Owin.Kami berulang kali berteriak memanggil Hepi,Amy dan Nurul,tapi sama sekali tak ada sahutan. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda disebuah tanah landai karena jalanan yang mulai terasa membingungkan dan karena Daniel melihat 'penampakan'. Nih anak memang lumayan peka dengan hal-hal begituan….
Virma berinisiatif untuk menjemput rombongan terakhir ketika akhirnya kami mendengar teriakan Nurul.Tapi kok nadanya,desperate gitu….hehehee…ada apa nih??!! Owin dan Daniel akhirnya menjemput mereka bertiga.Ketika sampai di tenda,Amy terlihat sangat shock. Berulang kali kutanya ada apa, dia hanya menjawab dengan gelengan kepala..Setelah kuantar dia ke sungai untuk mengambil air wudlu dan kami sholat berjamaah, Amy nampak mulai lebih tenang.Usai sholat isya',aku,Owin,Virma dan Nurul memasak nasi goreng,plus tempe dan kentang goreng.Rasanya jadi ga karuan sih…karena tempenya sedikit gosong.
Sewaktu kami memasak,Nurul menceritakan kejadian selama dia, Amy dan Hepi tertinggal jauh di belakang.Ternyata mereka sempat salah jalan hingga akhirnya mereka bertemu dengan sesosok hewan bertubuh lunak (krn sempat terinjak),berbulu lebat dan gelap,mata besar,berkaki empat,yang menghadang ditengah jalan dan tak mau pergi meski sudah ditodong cutter sampai juga GUNTING!Hehehee….asal sih..Akhirnya mereka bertiga memutar arah karena hewan itu tak juga mau enyah,tapi malah ternyata mereka kembali ke jalur yang benar dan bertemu Daniel dan Owin yang menjemput mereka.Syukurlah…Sementara Amy yang punya indra ke enam juga melihat beragam penampakan selama belum bertemu kami..Yang paling ekstrim adalah sesosok wanita yang berayun di dahan pohon….
Sementara kami bercerita dan memasak, aku sempat 'merasakan' ada 'sesuatu' yang memperhatikan disekitar kami.Entah apa aku tak tahu.Aku sempat menyorotkan senter kearah samping tenda yang berupa semak-semak.Tak ada apapun…Aku pun tenang.Tapi kemudian tiba-tiba Virma dan Nurul menyeringai dengan ekspresi wajah ngeri.Windra sempat bertanya ada apa..Tapi kedua cowok itu tak menjawab dan hanya menundukkan wajah memandang kearah nasting yang tengah kami pakai menggoreng tempe..
Kami berempat mempercepat acara masak memasak dan segera membangunkan teman2 yang lain untuk segera makan malam.Makan malam usai,kami pun segera masuk tenda untuk beristirahat.Tapi hatiku tetap saja diliputi tanya..
Rabu,28 Feb 07
Keesokan hari,di pagi yang sejuk Nurul dan Virma bercerita bahwa semalam mereka melihat "penampakan'.Yang lebih serem lagi, 'penampakan' itu bahkan kemudian jongkok disebelahku persis, alias disamping tenda ketika aku memasak!!Whuaaa….Dia kepincut harumnya tempe goreng kali yaa….trus pengen ikutan masak deh.Hiii…
Kami sepakat untuk mampir ke Danau Taman Hidup (DTH) yang katanya punya dermaga layaknya di serial tv Dawson Creek. Ehm…ternyata memang indah!Kabut yang mistis,turun menyerbudari setiap penjuru,berbaur dengan sinar matahari yang terus menerjang masuk.Ditambah rumput liar dan bunga-bunga apik warna warni….Sejenak kami mengabadikan momen keberadaan kami di DTH,bahkan Virma dan Amy ber 'pre wedding' dengan fotografer si David.Hehehe…kalian bikin iri tau!!
Sekitar pukul 10 kami meninggalkan DTH menuju Bremi.Kami sempat bertemu dengan 2 orang bule dan 2 guidenya.Mereka ramah….Sepanjang perjalanan menuju Bremi kami berulang kali menerapkan pelajaran playgroup. Yaitu melorot dan perosotan… Asiiikkkk….
Pukul 14.00 kami sampai di Bremi dan berjalan menuju Polsek Krucil dengan sedikit terpincang-pincang terutama aku, karena kuku kakiku yang sepertinya mau lepass.Pukul 16.00,belum sempat mandi,angkot yang akan membawa kami ke Pajarakan sudah mau berangkat.Daripada nanti harus sewa angkot lagi, mahal, kami rela ga mandi. Sempat mampir ke KUD Sapi Perah di Krucil untuk membeli 4 liter susu sapi segar yang mak nyuuusss….rasanya.Dicampur extra joss ato buat selingan makan roti sisir,eeehhmm……………
Kami sampai di Pajarakan jam 17.00 dan langsung menuju masjid untuk sholat dan sujud syukur bersama..Ya Allah,terimakasih telah kau berikan aku kesempatan untuk menikmati ciptaan indahMu,tanpa melupakan Mu..dan terimakasih kami masih sempat mendengarkan adzan lagi hingga sekarang…
Setelah sholat maghrib sekalian dan mengisi perut dengan nasi goreng porsi KULI dan mie ayam serta bakso,kami berangkat menuju Surabaya sekitar pukul 20.00….
Argopuro, kau lah yang membuat kami melontarkan ungkapan I HATE MOUNTAIN dan I LOVE MOUNTAIN sekaligus….(*)
Terimakasih untuk Allah SWT atas kekuatan,kesehatan,kelancaran dan ridloNya Ibu Bapak, maaf membuat kalian kuatir karena kehilangan kontak
Rekan se Tim:Virma,Nurul,Owin,Amy,David,Galuh,Daniel,Hepi…Selalu ada kesan dan cerita tersendiri bila berpetualang bersama kalian….
Fahmi,yang dititipi wasiat..
Catatan Transportasi :
Perkiraan waktu perjalanan dan dana menuju Gunung Argopuro jalur Baderan-Bremi
(tergantung situasi dan kondisi)
Surabaya-Probolinggo : 4 jam biaya Rp.12.000-15.000
Probolinggo-Besuki : 1 jam 45 menit Rp.5000
Besuki-Baderan : 1 jam Rp.5000
Krucil/Bremi-Pajarakan : 1 jam Rp.5000
Pajarakan-Surabaya : 2-3 jam Rp.15.000
PHPA-Pos 3(Hm :2) : 2 jam
Pos 3-Mata Air II : 2 jam
Mata Air 2-Cikasur : 3 jam
Cikasur-Cisentor (jalan malam) : 4-5 jam
Cisentor-Rawa Embik : 45 menit-1 jam
Rawa embik-Puncak : 1 jam
Cisentor-Aeng kenik : 45 menit-1 jam
Aeng Kenik-Hutan Taman Lumut : 2 jam
Hutan Taman Lumut- Hutan Konservasi/DTH : 4-5 jam
DTH-Bremi : 4 jam






