Ke Luar Negeri Tanpa Paspor?
By admin • May 1st, 2007 • Category: Indonesia, Romantika
Bukan cuma ikan yg bisa pergi kemana-mana tanpa paspor. Dengan sedikit modal ndableg, kita pun bisa… asal ya itu tadi, ndableg! Bukan sepenuhnya backpacking sih, tapi saya pikir bolehlah sebagai artikel perkenalan secara baru bergabung di komunitas ini *baru register malah
* Selamat menikmati pengalaman saya yang mungkin tak terlalu istimewa ini.

Pikir saya dengan bergabung di LSM berkaliber internasional dan punya aktifitas berkelas dunia, peluang untuk bepergian ke luar negeri akan terbuka lebar. Namun tak dinyana, sampai 5 tahun bekerja tak sekalipun kesempatan itu datang.
Sampai saat saya pindah ke Jayapura pada tahun 1999. Di kota kecil di tepi teluk Yos Sudarso itu, saya berkumpul dengan puluhan staf WWF yang beberapa di antaranya orang baru. Secara kami semua bukan orang lokal dan penduduk baru, jadi kegiatan weekend lebih banyak dipakai untuk bereksplorasi menjelajahi daerah-daerah yang belum pernah kita datangi.
Suatu hari di bulan Mei 1999, terlintas ide untuk pergi melintasi perbatasan internasional dengan negara tetangga, yaitu Papua New Guinea (disingkat PNG). Jarak ke pos perbatasan dari kota Jayapura sekitar 40 km, melintasi jalan beraspal membelah hutan belantara tropis. Kami semua berdelapan, saya (berdiri kedua dari kanan di foto bawah), istri saya (berdiri ketiga dari kanan di foto bawah) dan Vito (yg masih dalam perut bundanya), Suyono Fadhal (Manajer Keuangan dan Admin), Thomas Barano Meteray (Kasie Konservasi Lahan Basah), Zulfira Warta (Kabag Perencanaan dan Tata Ruang Konservasi), Uni Ida (istri Zulfira), dan Edi Rosariyanto (Staf Penelitian).
Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 1 jam dengan 2 mobil Toyota Kijang milik kantor, sempat berhenti sejenak di pos jaga detasemen perbatasan Kostrad dan pos imigrasi *bentuknya hanya sebuah rumah tipe-21*. Selanjutnya… garis perbatasan negara kita, yang tadinya saya pikir sebuah gerbang megah seperti pos lintas batas dengan Malaysia di Entikong (Kalbar) sana. Nyatanya hanya sebuah palang besi seperti yang biasa kita temui di depan pintu masuk markas TNI/Polri.
Tak ada gardu jaga, apalagi penjaganya. Bangunan terdekat berjarak 100 m dari palang besi itu. Di kejauhan tampak bangunan mirip bedeng berdinding baja, yang belakangan saya ketahui ternyata pos imigrasi PNG (lihat bangunan di sisi kiri di foto di samping ini). Kami lantas berjalan melintasi palang besi itu, yang digembok tapi ada celah lebar di ujung-ujungnya.
Kami masuk ke dalam pos imigrasi dan kami lantas diijinkan untuk melintas hanya sampai kampung terdekat, yaitu Wutung, yang jaraknya sekitar 0,5 km dari pos imigrasi tersebut melintasi jalan tak beraspal (unpaved road), lantaran kami tak bawa paspor, apalagi visa.
Ya! Kami melintasi perbatasan negeri orang tanpa bawa surat, kecuali KTP lokal Papua. Memang pos ini bukan pos lintas batas seperti di perbatasan dengan Malaysia di Kalimantan. Hanya pelintas batas tradisional (baca: penduduk asli) saja yang diperkenankan melintas. Secara penampakan fisik penduduk asli Papua tak berbeda dengan penduduk PNG, tanpa surat pun mereka tak bakal ditanya. Lain halnya dengan kami yang berkulit lebih terang dan berambut lurus (tidak ikal/keriting), dari kejauhan saja sudah terlihat kalau kami ini orang asing.
Sempat juga terpikir untuk menyelundup, begitu kami tiba di kampung Wutung. Tapi pikiran itu segera lenyap begitu berjalan kaki sejauh 0,5 km melintasi jalan di tengah hutan lebat. Pantas saja tadi kami tak boleh naik mobil, soalnya bisa-bisa kami tak kembali ke negara asal.
Kampung Wutung hanyalah sebuah kampung kecil berpenduduk ratusan orang yang kebanyakan nelayan. Tak ada hotel, toko souvenir tersedia di kampung kecil itu. Hanya ada satu tempat penyewaan mobil (kebanyakan jip 4×4) untuk transportasi ke Vanimo, ibukota propinsi Sandaun (ejaan lokal Pidgin English dari kata serapan bahasa Inggris: Sun Down, matahari terbenam
) yang jauhnya 200 km dan dapat ditempuh dalam waktu 10 jam. Engga banget deh ke sana, kami pun lantas putar arah kembali ke perbatasan dan beristirahat sejenak di pos imigrasi dan berfoto-foto di depan mobil petugas imigrasi, sekedar ambil gambar kenang-kenangan yang ada tulisan PNG (lihat plat mobil yang kami tunjuk di foto atas
).
Enam bulan kemudian, akhirnya tercapai juga cita-cita saya pergi ke luar negeri secara legal, dengan paspor dan visa maksudnya. Tujuannya: Madang, masih di PNG juga tapi lebih ke arah timur. Saya dan teman saya (Thomas Barano Meteray, jongkok di tengah di foto paling atas) berangkat dengan pesawat F-27 Air New Guinea dari bandara Sentani (Jayapura) ke Madang via Vanimo, yang ternyata kota yang suangat kuecilllll!
Kami saat itu ditugasi mewakili WWF Indonesia dalam konferensi internasional tentang konservasi keanekaragaman hayati Pasifik Selatan di Hotel Hilton Madang. Waaah jangan pikir hotelnya seperti yang ada di Senayan ya, hotel ini meski berbintang 5 tapi desain arsitekturnya sangat unik, mirip rumah-rumah rimba di film-film petualangan di Afrika *sayang foto-fotonya ga ketemu euy*.
Di negeri bekas koloni Jerman-Inggris ini, kegiatan penduduk terhenti saat makan siang (11.30) lantaran mereka siesta alias tidur siang!!! Setelah jam 14.00, barulah aktifitas manusia kembali hidup, meski untuk kantor pemerintah sudah tidak ada orang sama sekali *sama saja dengan di Indonesia ya*.
Lalu dimana-mana dijumpai kotoran berwarna merah menyala, bekas semburan ludah orang mengunyah pinang. Ah rupanya sama saja dengan di Papua, semua orang mengunyah pinang dan membuang ludah sembarangan. Sebegitu besar konsumsi pinang di republik yang merdeka dari Australia tahun 1975 ini, sampai-sampai masuk dalam komoditas perdagangan komoditi pertanian utama yang dibahas di parlemen lhooo.
Demikian sekilas balik pengalaman saya pertama kali ke luar negeri tanpa paspor!
Pernah dimuat di sini .
Foto:
Atas: saya dan teman-teman di depan Jip milik PNG Border Patrol di Wutung.
Bawah: rame-rame narsis di depan Pos Batas RI-PNG di Wutung.
©iput 2006 all right reserved.
admin is
Email this author | All posts by admin



