Iyang Argopuro – Lukisan Surga di Pulau Jawa

Custom Search

By admin • Jun 3rd, 2007 • Category: Gunung / Mountain, Hiking, Indonesia
Bookmark and Share

Pegunungan YANG memiliki berbagai jenis Fauna Endemik yang Kas. Contohnya : Lutung Merah ( Presbytis Rubicunda ), Lutung Jawa, Merak Hijau ( Pavo Mulicus ), Kijang ( Muntiacus Muntjah ). Dari berbagai jenis Fauna Endemik yang Kami sebutkan tadi, Kami berjumpa dengan Lutung Jawa dan Lutung Merah yang melompat – lompat di pepohonan diatar jalur setapak yang kami lintasi.

Diantara ± 14 puncak di jajaran pegunungan YANG, Puncak Gunung Argopuro adalah puncak yang tertinggi ( 3088 MDPL ). Keindahan dan kecantikan pegunungan ini serta keanekaragaman Flora dan Fauna membuat para pendaki menyebutnya sebagai “ Surganya Pulau Jawa “. Itu juga salah satu alasan saya dan keempat rekan anggota PALABA STIE Bhakti Pembangunan Jakarta memutuskan untuk mendaki Gunung Argopuro.

kurang lebih satu jam setengah menikmati pemandangan senja selama perjalanan dari kota besuki akhirnya kendaraan yang kami tumpangi tiba di Pos Resort Konservasi Dataran Tinggi YANG Timur. Pos ini terletak di Desa Baderan, Kecamatan Sumber Malang, Kabupaten Situbondo.

Setibanya di Pos kami disambut oleh Bapak Susiono sebagai Kepala Resort Konservasi YANG Timur beserta rekan – rekannya. Rupanya mereka sudah mengerti dengan gaya dan tingkah laku para pecinta kegiatan alam bebas seperti kami ini. Tak lama berselang kami sudah terlibat obrolan hangat, Mereka menceritakan berbagai keindahan Flora dan Fauna di Pegunungan YANG ini. Karena mendengar cerita dari mereka kami tak sabar untuk memulai pendakian esok pagi.

Pagi harinya kami memulai pendakian dengan berjalan di atas aspal kasar yang biasa disebut penduduk setempat dengan sebutan jalur makadam. Panorama disisi kanan jalan terlihat begitu indah, lahan penduduk yang di tanami berbagai jenis tanaman terlihat begitu kontras di latar belakangi hijaunya perbukitan di seberang lembah.

Tak terasa kami sudah tiba di ujung jarur makadam. Saat beristirahat sejenak Kami berjumpa kembali dengan Bapak Susiono yang ternyata hari ini mendapat tugas mengawal Petugas BKSDA Kota Jember untuk mendata ulang Dataran Tinggi YANG. Luasnya berkisar ± 14.177 Hektar.

Pegunungan YANG memiliki berbagai jenis Fauna Endemik yang Kas. Contohnya : Lutung Merah ( Presbytis Rubicunda ), Lutung Jawa, Merak Hijau ( Pavo Mulicus ), Kijang ( Muntiacus Muntjah ). Dari berbagai jenis Fauna Endemik yang Kami sebutkan tadi, Kami berjumpa dengan Lutung Jawa dan Lutung Merah yang melompat – lompat di pepohonan diatar jalur setapak yang kami lintasi.
Perjalanan pun di lanjutkan kembali dengan menaiki perbukitan yang membuat kami kelelahan. Setelah berjalan melewati perbukitan yang melelahkan akhirnya Kami dan rombongan Bapak Susiono beserta Petugas BKSDA Kota Jember tiba di Pos Mata Air 1. sesuai dengan namanya disini terdapat mata air yang jaraknya ± 25 meter kebawah dan berada disebelah kiri jalur.
Setelah mengisi persediaan air Kami melanjutkan perjalanan dengan melewati bukit – bukit. Menjelang Pos 2 Kami dihadapkan dengan tanjakan yang kemiringannya berkisar ± 50º, trek ini biasa disebut tanjakan cemara panjang. Akhirnya kami tiba di Pos Mata Air 2. Jarak mata air dari pos ini ± 50 Meter agak curam ke bawah dan berada di sebelah kanan jalur. Setelah Pos ini jalur yang Kami lintasi mulai datar sampai Puncak Cemara Panjang. Setelah Puncak Cemara Panjang jalur mulai menurunsampai Alun – alun Kecil.

Dataran Tinggi YANG pada ketinggian di atas 2.000 MDPL banyak tersebar hamparan padang rumput atau biasa di sebut SAVANA. Pada ketinggian ini juga banyak terdapat hamparan Padang Edelwis yang ketinggiannya ± 3 Meter. Fenomena ini sangat jarang di jumpai di Gunung lain di Pulau Jawa.

Dari Alun – alun Kecil Saya dan Rekan – rekan kembali melanjutkan perjalanan mengitari Puncak Gunung Jambangan yang akhirnya sampai di Padang Savana. Disini Kami berpisah dengan rombongan Bapak Susiono dan Petugas BKSDA Kota Jember. Karena mereka ingin mendata ulang ketinggian Puncak – puncak Gunung yang berada di Suaka Marga Satwa YANG Timur dan Barat.
Setelah berpisah kamipun melanjutkan perjalanan kembali menuju Pos Cikasur yang jaraknya ± 3 kilo dari tempat kami berpisah dengan Bapak Susiono dan rekan – rekan dari Petugas BKSDA Kota Jember. Kami mulai mempercepat langkah, supaya sampai di Pos Cikasur tidak terlalu malam.

Karena cuaca yang hanya di sinarai cahaya rembulan dan kondisi badan Kami yang mulai dingin membuat langkah Kami lebih di percepat. Akhirnya Kami tiba di Pos Cikasur disana sudah tersedia Pondok / Shelter untuk para pendaki beristirahat. Tetapi Kami lebih memilih membuka tenda, karena angina yang bertiup / menghembus jika mengenai tubuh terasa dingin. Itulah alasan Kami membuka tenda supaya istirahat kami lebih nyaman.

Pagi harinya disaat embun pagi masih menempel di rerumputan, pemandangan di Cikasur sangat indah. Selain itu, disini Terdapat Bangunan Tua Peninggalan Belanda, Bekas Lapangan Terbang, juga terdapat Sungai Qolbu yang airnya begitu jernih. Selain airnya yang jernih, diatas permukaan airnya juga banyak selada air yang tumbuh liar. Selada air merupakan tumbuhan yang bisa dimakan. Sungai Qolbu memiliki luas 8,8 hektar. Debit air Sungai Qolbu menurut perhitungan kami secara kasardan secara manual berkisar ± 157 liter air perdetik. Keindahan yang ada di Cikasur takubahnya seperti lukisan.
Karena keterbatasan waktu Kami pun melanjutkan perjalanan kembali menuju Pos Cisentor. Selama perjalanan kami melewati Padang Edelwis yang sudah terbakar ± 2 tahun yang lalu.

Para pendaki di harapkan berhati – hati setelah melewati Padang Edelwis, karena terdapat tumbuhan penyengat. Jika tersentuh akan terasa panas dan pedi, epeknya terasa ± 12 jam. Para pendaki biasa menyebutnya Dancuan, Puki Wowor, Jengkit ( Girardinta Palmata ), ketingiannya bisa mencapai
± 2 meter. Setelah melewati itu semua akhirnya Kami berlima tiba di Pos Cisentir. Sesuai kesepakatan akhirnya kami bermalam dan beristirahat di Pos Ini.

Pagi – pagi sekali kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Argopuro. Di jalur yang kami lintasi disisi kiri dan kanan banyak sekali bekas jejak – jejak babi hutan yang mencari makan. Kami pun akhirnya tiba di Pos Rawa Embik.di Pos Ini Kami sempat beristirahat sejenak sambil mengisi persediaan air. Setelah semuanya terisi Kami melanjutkan perjalanan kembali dengan medan yang berpariasi. Setelah melewati Pos Rawa Embik di sepanjang jalur pendakia banyak banyak terdapat buah Arbey Hutan. Kami sesekali memetik buahnya untuk dimakan selama perjalanan.

Kami akhirnya tiba di persimpangan jalur menuju Puncak Argopuro dan Puncak Rengganis. Jalur menuju Puncak Gunung Argopuro terlihat tidak begitu jelas, sedangkan jalur menuju Puncak Gunug Rengganis terlihat jelas. Untungnya Kami bertemu kembali dengan Bapak Susiono di persimpangan ini, Kami pun tidak menyia – nyiakan kesempatan ini untuk bertanya kemana arah menuju Puncak Gunung Argopuro.

Karena tujuan awal Kami menuju Puncak Gunung Argopuro, setelah diberi tau Kami melanjutkan perjalanan kembalimenuju Puncak Gunung Argopuro dengan kemiringan berkisar ± 50º. Medan yang di laui berbatu dan ditutupi oleh daun cemara yang membuat langkah kami terasa licin.
Setelah bersusah payah mendakinya kamipun tiba di Puncak 1 Gunung Argopuro. Keadaan disekeliling Puncak ditutupi oleh pohon cemara, sehingga membuat pemandangan di sekeliling menjadi kurang terlihat. Kondisi cuaca yang sangat cerah membuat Kami mengambil kesempatan ini untuk mengabadikan kenangan yang sangat jarang ini.

Setelah istirahat sejenak dan menghirup udara Puncak 1 Gunung Argopuro Kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Puncak 2 Gunung Argopuro. Dengan menuruni bebatuan yang curam, setelah itu berjalan ± 50 meter. Kemudian naik kembali baru sampai di Puncak 2 gunung Argopuro dan selama perjalanan beberapa kali Kami melewati undak – undakan seperti anak tangga yang tersusun layaknya bekas pura dan susunan batu – batu di beberapa pohon cemara layaknya seperti pot tanaman.
Di Puncak 2 Gunung Argopuro ter dapat puden berundak – undak yang salah satunya terdapat Patung Dewa Ganesa yang kepalanya sudah diganti dengan susunan batu – batu. Setelah mengabadikannya kamipun turun.

Sewaktu turun kami bertemu kembali dengan Bapak Susiono dan rekan – rekan dari BKSDA Kota Jember di persimpangan Puncak Argopuro dan Puncak Rengganis. Kami pun berhenti untuk bertanya, apakah ada perubahan dari ketinggian Gunung Argopuro dan Gunung Rengganis.ternyata setelah di hitung oleh Petugas BKSDA Kota Jember dengan menggunakan GPS ( global position system ) ternyata terdapat perbedaan ketinggian. Puncak 1 Gunung Argopuro ketinggiannya 3100 MDPL, Puncak 2 Gunung Argopuro ketinggiannya 3085 MDPL, Puncak Gunung Rengganis ketinggiannya 3065 MDPL.
Bertambahnya ketinggian permukaan Gunung bisa terjadi karena
1.Turunnya permukaan laut.
2.Tektonik UP LIFT / pengangkatan kerak bumi.
3.gempa bersekala kecil yang mengangkat struktur batuan.
4.kesalahan pengukuran di masa lampau.

note Admin:
di tulis oleh mahasiswa yg tergabung dalam Palaba Stie Bhakti Pembangunan
palaba88 @plasa.com

Tagged as: , , , , ,

admin is
Email this author | All posts by admin

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.