Ketika Paspor Hilang di Kathmandu.. (Tribhuvan Airport elevation 1355m)
By Ambar • Jun 10th, 2007 • Category: Mancanegara, Trekking
Setelah beberapa lama Ram datang dan mengabarkan bahwa temannya dan Gopal akan berusaha mencari. Ram juga menyarankan untuk segera check-in. Perang batin antara pergi ke Lukla atau mengurus paspor Nanung berkecamuk. Secara nalar, trekking ke Everest ngg perlu paspor. Hanya diperlukan copy paspor ketika akan memasuki Sagarmatha National Park. Kekhawatiran saya justru setelah trekking selesai. Karena di Kathmandu tidak ada KBRI yang bisa membantu membuat Surat Jalan Laksana Paspor. Mau tidak mau Nanung harus menuju ke negara yang ada KBRI atau Konsular Indonesia. Entah itu Bangkok atau India.
Kathmandu, Friday 6 April 2007
Kegagalan terbang ke Lukla (2860m) kemaren membuat semangat menyala menjadi sedikit kendor. Padahal kami sudah mempersiapkan diri sejak dini hari, ngepak barang -seletif mana yang dibawa trekking dan ditinggalkan; melawan udara berpolusi di Kathmandu sembari merasakan perubahan cuaca yang aneh di Nepal.
Kathmandu Valley terletak di ngarai yang mengakibatkan jebakan suhu dan teriknya panas matahari. Karena oksigen makin tipis, ultra violet matahari menyapu bumi dengan ganas. Di pagi hari, suhu serasa nyaman bahkan cenderung sejuk. Tapi begitu matahari menampakkan diri, suhu berubah drastis. Belum lagi pembakaran asap rumah tangga dan transportasi yang memenuhi paru-paru saban hari. Tak heran kami mulai merasakan efeknya di hari pertama. Batuk dan keringnya tenggorokan. Saya sudah mempersiapkan diri dengan Strepsils -permen pelega tenggorokan. Tapi nampaknya buat kawan saya, itu tidaklah cukup.

Nanung berhasil membeli obat batuk lokal. Seperti sirup manis dengan porsi 1 sendok makan. Tapi karena pengen cepat sembuh, ia menengggak mungkin 2 sendok. Efeknya luar biasa. Ia tidur seperti bayi, membuat kami kesulitan membangunkannya. Malam pertama kami tidur terpisah kamar, sedang malam kedua kami setuju di satu kamar dengan tiga bed. Alasannya untuk memudahkan ngepak barang dan koordinasi.
Maka begitu pagi pukul 5 kami bangun dan turun untuk sarapan, mata masih awang-awangen. Nanung mengaku sudah lumayan, Jeannie nampak siap. Saya? mau mandi aja males…he he he. Saya sangsi hari ini bisa mendapat tiket ke Lukla. Upaya saya medesak Gopal untuk membelikan tiket sudah dilaksanakannya. Tapi dalam hati kecil saya tetap meragukan. Walau tiket sudah di tangan belum berarti jaminan mendapatkan penerbangan. Kami harus berjuang melawan guide dan porter dari organised tour. Reputasi jalur Kathmandu-Lukla memang begitu. Belum lagi jika cuaca berkabut. Alamat penerbangan akan gagal lagi.
Gambling banget. Tapi hari ini kami harus tiba di Airport sepagi mungkin. Jika ngg dapet penerbangan pkl 7, kami masih bisa menyusul penerbangan kedua yakni pukul 9. Tiket di tangan dengan Yeti Airlines. Pukul 5.30 pagi taksi sudah menunggu di lobby Hotel Thamel tempat kita mangkal. Gopal datang dengan anak laki2nya mengantar kami di pintu taksi. Ram-guide saya sudah mengangkut barang dibantu Nanung. Ada 2 tas besar, plus masing2 bawa rucksacks. Taksi mungil warna putih nan tua itu terlihat penuh.
Bergegas kami menuju pintu domestik penerbangan Tribhuvan. Benar saja situasi sudah begitu ramai oleh porter dan guide. Ada ratusan orang lokal yang bertugas membawa barang menuju penerbangan. Mereka ini diorganisir oleh agen besar di Kathmandu dan biasanya untuk bule Eropa dan US. Terlihat antri, sayang tidak tertib. Strategi kami adalah melewatkan barang dulu, sedang saya dan Jeannie tepat dibelakang sembari mengangkut sebisanya.
Sikut sana sini situ, akhirnya nyampai juga di pintu. Nanung tepat di depan saya. Terlihat seorang mendekatinya, saya agak curiga. Apalagi reputasi Kathmandu sebagai surga copet membuat saya waspada. Tapi nampaknya ia memang porter, terlalu sibuk dengan barangnya.
Tak lama Nanung berteriak, “Lhoh dompetku endi?”, alias menanyakan dompetnya. Saya tertegun. Saya jawab, “Mau mbok deleh endi Nung?” sembari menenangkannya. Ia terlihat panik, matanya seperti putus asa. “Tadi tak taruh di saku jaket, soalnya dompetnya kegedean”. Terakhir saya melihat dompet itu tergeletak di meja makan hotel, tempat sarapan tadi. Yang menggusarkannya adalah paspor, tiket, uang dan barang penting berada didalamnya.
Nanung berusaha mencari lagi, membuka semua saku. Nihil. Dia mengaku masih merasakan dompet itu disaku ketika berada di taksi. “Kemungkinan jatuh di taksi mbak, soalnya tadi kita buru-buru,” ia menambahkan. Posisi kami juga ngg mengenakkan. Setelah berjuang melewati sekian orang dengan barang berat ternyata harus balik lagi untuk mencari dompet tadi. Saya berpikir keras. Saya ajukan alternatif untuk membawa semua bagasi melewati pintu dulu, baru kemudian kita kejar sopir taksi itu. Ram -sang guide setuju. Ia juga nampak bingung.
Setelah melewati pintu, Ram nampak sibuk dengan hapenya. Ia juga berjalan keluar untuk ngecek keberadaan taksi yang kita pakai tadi. Dari sekian puluh taksi warna putih di Kathmandu pastilah ia ingat. Saya dan Jeannie mencoba kontak Gopal, karena dia-lah yang memesan taksi untuk kami. Pasti dia bisa ingat. Dan juga sebelum kami pergi, Gopal sempat membuat copy-an paspor untuk jaga2 dan mengurus trekking permit. Saya sendiri punya soft copy yang saya taruh di server Yahoo sebelum berangkat ke Nepal. Tapi untuk akses-nya saya perlu internet.
Setelah beberapa lama Ram datang dan mengabarkan bahwa temannya dan Gopal akan berusaha mencari. Ram juga menyarankan untuk segera check-in. Perang batin antara pergi ke Lukla atau mengurus paspor Nanung berkecamuk. Secara nalar, trekking ke Everest ngg perlu paspor. Hanya diperlukan copy paspor ketika akan memasuki Sagarmatha National Park. Kekhawatiran saya justru setelah trekking selesai. Karena di Kathmandu tidak ada KBRI yang bisa membantu membuat Surat Jalan Laksana Paspor. Mau tidak mau Nanung harus menuju ke negara yang ada KBRI atau Konsular Indonesia. Entah itu Bangkok atau India.
Saya merancang skenario dengan Jeannie dan Nanung. Permasalahannya dengan melapor kehilangan di polisi Nepal, ia mungkin bisa terbang ke Bangkok. Darisana ia bisa mengurus paspornya. Atau lewat darat menuju India. Bla..bla..bla….
Ngg tahan sebenarnya melihat Nanung menyalahkan diri sendiri karena kehilangan dompet. Ia memang pelupa begitu ngakunya. Saya memaklumi karena saya sendiri juga pelupa, walau belum pernah kehilangan paspor. Beberapa saat kemudian ia malah berkata. “Yah masalah paspor dipikir nanti aja mbak, yang penting kita treking dulu”. Saya mengiyakan dan berjanji akan membantu sebisa saya agar ia bisa pulang dengan selamat.
Di pintu check in kami menunggu lagi. Benar dugaan saya bahwa rombongan kecil kami akan dikalahkan grup besar. Tiket di tangan menjadi sia-sia. Ram masih berusaha merayu beberapa pegawai maskapai. Dimulai dari Agni Airlines hingga akhirnya kami bisa dapet seat di Royal Nepal Airlines. Begitu barang kami diberi segel saya bisa bernafas lega. Kami juga diijinkan menuju ruang tunggu keberangkatan.
Untuk kesana harus melewati kotak seperti bilik pemilu yang masing2 dijaga petugas. Antara bilik laki dan perempuan dibedakan. Wah…saya pikir akan ada penggeledahan. Ternyata enggak juga. Saya cuma ditanya darimana dan mengisi daftar foreigner secara manual. Iyah…tulis tangan. Pukul 730 kami sudah di ruang tunggu. Nanung nampak bisa meredam kepanikannya, bahkan mungkin lupa. Jeannie mulai merekam perjalanan kami dengan videocam.
Penerbangan kami bisa dibilang mulus. Pesawat Twin Otter kapasitas 18 orang ini mengarungi langit berkabut Kathmandu arah barat menuju kawasan Everest. Pemandangan dari atas menakjubkan. Apalagi saya menuruti nasehat Ram untuk duduk di kursi sebelah kiri. Jeannie di seberang kursi saya, sedang Nanung memilih duduk di belakang. Penerbangan 40 menit ini seperti berlangsung kilat. Tak lama kami mendarat di Lukla dalam cuaca yang cerah. Sangat beda dengan ketika kami berangkat tadi.
Begitu mendarat, kami disambut deretan porter yang menunggu untuk disewa. Rupanya Ram sudah memesan keponakannya Prem sebagai porter untuk kami. Saya mengingatkan Ram untuk mencoba kontak lagi dengan Kathmandu perihal paspor Nanung. Bergegas ia mencari wartel dan warnet. Di dekat toko kami menemukan warnet. Waw…ajaib! Tanpa pikir panjang saya lantas menyewa dan membuka file2. Dowload file paspor Nanung lumayan lama karena ia mengirimkan dalam format warna sehingga ukuran file jadi gede banget. Total butuh setengah jam untuk buka, ngeprint dan membuat copy. Biaya sewa internet lumayan-lah, yakni 150 Rs per 10 menit. Kami ngg komplain apalagi ini menyangkut nasib.
Kabar terbagusnya adalah Gopal menemukan sopir taksi itu dan meminta paspor kembali. Uang tidak bisa diselamatkan. Sedang tiket dan lainnya masih utuh. Alhamdulillah…. yang penting memang paspor itu. Kami bisa melanjutkan trekking dengan tenang.
Tips tentang menjaga paspor :
1. Pakai dompet yang bisa lekat di badan dan tidak kelihatan dari luar. Misalnya dompet yang dipakai di perut dan ditutupin baju.
2. Copy paspor baik soft-copy dan hard-copy. Untuk soft-copy taruh di server atau kirim email ke diri sendiri dengan attachment gambar detail paspor. Taruh softcopy juga di USB Flash Key yang bisa dibawa kemana-mana. Hard copy dibuat beberapa, salah satunya diserahkan ke orang terdekat atau partner jalan. Ini bisa membantu untuk melacak kembali jika sesuatu terjadi pada kita. Ataupn kita pakai sebagai back-up.
3. Biasakan memisah antara paspor dan uang. Untuk paspor mungkin di tempat paling aman, sedang uang bisa displit lagi antara petty cash dan uang dalam jumlah besar. Kartu kredit dan semacamnya jangan ditaruh di bagasi yang bukan dalam kontrol kita.
4. Untuk tiket, biasakan buat hardcopy juga. Jika kita mendapat e-ticket, simpan dalan softcopy di server dan Flash Key. Jangan lupa simpan nomor kontak maskapai penerbangan jika harus menghubungi untuk mengganti/merubah tiket.
5. Cari informasi tentang KBRI dan Konsular Jenderal di negara tujuan dan tetangga2 nya. Siapa tahu kita butuh bantuan mereka.






