Menikmati Sisi Lain Pantai Pangandaran

Custom Search

By admin • Aug 17th, 2007 • Category: Indonesia, Petualangan
Bookmark and Share
Ke Pangandaran Berdelapan, kami bertolak dari Bandung. Berangkat Sabtu siang, kami naik Land Rover long chasis tahun 1981 warna hijau militer. 3 orang duduk manis di depan sambil kaki menahan hawa panas mesin dari bawah kursi. Di belakang, di bak terbuka yang panjang, 5 orang berdesakan dengan tumpukan tas gendong, kardus berisi air kemasan gelas,


Menikmati Sisi Lain Pantai Pangandaran Bagi banyak orang, liburan ke pantai Pangandaran mungkin telah jadi hal yang biasa, membosankan, atau basi. Pantai barat, pantai timur, menanti sunset atau sunrise, makan seafood segar yang digoreng atau dibakar, memancing, berenang, bermain pasir di pinggir pantai yang gelap atau putih di cagar alam, berperahu keliling semenanjung, atau berselancar, mungkin tak lagi menarik. Apalagi berkeliling dengan sepeda sewaan, sambil mata mencari-cari sisa-sisa reruntuhan terjangan tsunami atau tukang oleh-oleh ikan asin. Tapi bagi kami, kembali berlibur ke pantai elok di Kabupaten Ciamis itu pertengahan Juli 2007 lalu, terasa istimewa dan luar biasa. Dari mulai berangkat hingga pulang, kami tak kehabisan cerita.
Ke Pangandaran Berdelapan, kami bertolak dari Bandung. Berangkat Sabtu siang, kami naik Land Rover long chasis tahun 1981 warna hijau militer. 3 orang duduk manis di depan sambil kaki menahan hawa panas mesin dari bawah kursi. Di belakang, di bak terbuka yang panjang, 5 orang berdesakan dengan tumpukan tas gendong, kardus berisi air kemasan gelas, dan kasur busa tipis, sembari menahan gempuran angin dari arah kiri dan kanan yang tak seberapa tertahan tutupan terpal. Baru 10 meter roda melaju setelah kami dilepas dengan lambaian tangan dan ucapan hati-hati di jalan oleh sejumlah rekan kerja, kami terpaksa berhenti. Mesin terasa tak enak digenjot. Untung tak ada pengantar yang melihat kejadian ini.Setelah diperbaiki, beberapa menit kemudian kami harus turun kembali. Yang kedua kali ini di sisi jalan tol, menjelang gerbang keluar Cilleunyi. Masalah mesin si mobil perang ini terus terjadi berkali-kali. Puncaknya di jalan raya Ciamis. Ketika Landy dipacu tinggi, tiba-tiba… “Tar!”. Mesin seakan meledak dan meletuskan peluru satu kali tapi dengan bunyi yang dahsyat. Kami semua kaget dan mulut berkomat-kamit. Pun seorang nenek yang tengah menggendong bayi di pinggir jalan. Untung beliau tak segera tiarap. Kondisi Landy yang tak pasti ini walau beberapa kali diperbaiki, terus memacu ketegangan. Makin asyik, mendebarkan. Setelah ini, apalagi, apalagi…Apakah di sisa perjalanan yang sudah dekat itu bakal berhenti? Menjelang Isya, kami akhirnya berhenti lama, hampir sejam. Kali ini, perut kami yang minta diisi. Memenuhi ajakan seorang kawan yang ikut rombongan liburan kami dengan mobil lain dan tentunya tiba lebih dulu, kami dijamu semur daging, ikan mas bakar, kerupuk dan sambal cobek yang menendang perut di rumah keluarganya.

Setelah tandas, kami lanjutkan perjalanan. Suara letusan belum benar-benar bungkam. Kami menuju ke penginapan milik rekan kami itu. Letaknya dekat pintu masuk cagar alam Pangandaran. Malam itu, kami disambut sekeluarga rusa yang tengah mengais bak-bak sampah untuk makan malam. Konon, mereka selalu turun dari cagar alam. Mereka berkeliaran bebas di halaman sekeliling rumah-rumah penginapan tanpa diusir tamu dan pengelola motel. Jalan Malam Sebagian dari kami yang masih bertenaga, malam itu langsung jalan-jalan di sekitar penginapan. Nonton pertandingan sepakbola Piala Asia di hotel sebelah, Indonesia malah kalah 0-1 oleh Arab Saudi. Kami lantas menuju ke pantai yang gelap. Nelayan-nelayan mulai ada yang mendarat. Pembeli berdatangan menawar di bawah obor perahu. Setelah puas dan badan tak kuat menahan angin malam, kami pun kembali. Hari Minggu Keesokan paginya, kami yang satu per satu bangun, terkaget-kaget. Seorang ibu tua dengan caping di kepala, berdiri seperti menunggu seseorang. Bakulnya diletakkan di teras. Sesekali sorot matanya masuk ke dalam penginapan kami. Aku pikir ibu itu akan menawarkan sarapan. Tapi, apa enaknya sarapan pukul 5 pagi begini? Rupanya ibu itu menawarkan ikan asin. Busyet, sepagi ini kami harus belanja ikan asin? Satu ditolak, yang lain tetap berdatangan. Daripada berhadapan dengan penjual ikan asin itu, sebagian dari kami langsung keluar kamar menuju ke pantai timur Pangandaran. Sarapan, sekaligus menanti matahari yang baru muncul dari balik awan pukul 06.17. Puas menyusuri pantai timur hingga ke arah utara dengan berjalan kaki 2 jam pulang pergi, kami kembali ke penginapan. Rekan kami lainnya membawa kiriman kelapa muda dari rumahnya. Lelah kami agak berkurang begitu minum airnya dan makan dagingnya yang masih kopyor. Segar rasanya. Setelah berkumpul, acara selanjutnya lagi-lagi makan. Menunya pagi menjelang siang itu, dua ekor ikan layur yang dibakar dalam keadaan segar. Sambel kecap menambah kecepatan menyantap. Dalam sekejap, hanya tulangnya saja yang tersisa. Setelah kenyang, kami masuk ke Cagar Alam Pangandaran. Gratis, karena diantar penjaga motel ke petugas jaga tiket.

Sampai di dalam, kami berhenti dulu di depan papan arah lokasi wisata sambil mendengarkan keterangan cuma-cuma seorang pemandu laki-laki berseragam hijau. Seorang pengunjung yang tak jauh dari kami, sempat terdengar memuji kepintaran monyet-monyet yang diberi sebungkus kacang seharga Rp 500,-. Kata si tukang kacang, monyet-monyet itu akan menerima dengan tangan yang sama sesuai tangan pemberi, kanan atau kiri. Mungkin kelak pikirku, monyet-monyet itu akan beli kacang sendiri dengan uang yang dimilikinya. Entah dari uang yang tercecer atau mencurinya dari pengunjung. Sambil menyodorkan uang seribu perak, monyet itu cukup mengacungkan dua jarinya ke tukang kacang.
Di cagar alam, kami hanya sempat masuk ke gua-gua yang pernah dihuni tentara Jepang dan menjadi lokasi gambar sinema Mak Lampir. Selanjutnya ke pasir putih. Berenang, berguling dan tiduran di pantai, lalu kembali ke penginapan untuk persiapan bermalam di rumah rekan kami lainnya. Bojong Karekes Minggu siang menjelang sore, kami tiba di kampung Bojong Karekes. Di rumah Pak Warno, mertua rekan kami, jamuan kembali muncul. Kami benar-benar sedang murah rejeki. Kali ini, ikan kembung besar-besar dibakar. Sayur pakis, ayam goreng, tahu, tempe dan kerupuk mengiringi. Setelah kenyang, kami pindah rumah lagi. Yang ini dekat pantai. Berbeda dengan pantai barat atau timur Pangandaran, pantai di Bojong Karekes yang masih masuk kecamatan Pangandaran ini lebih tenang. Hanya hiruk pikuk debur ombak, itupun di kejauhan, karena pantainya sungguh luas seperti lapang terbentang. Pasirnya pun lebih padat. Kami tak menyesal datang ke tempat ini.Pantai dan daratannya, dipisahkan sungai kecil dangkal yang mengalir dari muara. Di sinilah warga banyak yang memancing atau menjaring ikan dengan jala dan bubu, perangkap ikan dan kawan-kawannya yang seperti gentong namun terbuat dari rangkaian bilah bambu.
Ketika yang lain menyusuri pantai dan masuk ke gua kelelawar sore itu, aku tertinggal karena asyik memotret Pak Warno yang sedang menyadap air kelapa. Seakan ingin menghabiskan tenaga, malamnya, kami para lelaki, kembali lagi ke pantai dan menyusuri sungai kecil itu. Berbekal obor, 3 tombak dan ember, kami pergi mencari kepiting untuk menemani api unggun. Istilah warga setempat, ngobor. Hampir sejam, hingga masuk ke rawa-rawa yang rawan ular, ember kami hanya terisi sandal dan keong saja. Makan malam kami akhirnya hanya mie cepat saji yang dimasak di atas api unggun. Kisah Keluarga Penyadap Minggu malam sebelum larut, ketika yang lain sudah letih dan tidur, aku singgah kembali ke rumah Pak Warno. Mantan kepala desa itu pun sedang berbaring ketika kutemui. Aku ingin mendengar kisahnya sebagai penyadap air kelapa. Dua rekanku yang mengantar, segera duduk tertidur.
Sejak kecil, lelaki berusia setengah abad itu sudah menjadi penyadap, membantu bapaknya yang merintis penyadapan di tahun 1961. Warga lainnya yang kebanyakan pendatang dari Jawa Tengah, kemudian ikut menyusul. Kini ada 80 keluarga yang bergantung hidup dari usaha menyadap. Air sadapan selanjutnya, diolah menjadi gula merah. Karena itu, tak heran, hampir seluruh pohon kelapa yang ada di sela-sela perkampungan hingga di bibir pantai, dikalungi ember-ember kecil berwarna hitam di pucuknya. Penampung air manis itu dipasang sore dan penuh keesokan harinya. Air itu menetes dari sayatan pelepah kelapa yang diiris setiap kali dipanjat. Karena disadap, buah kelapa tak bakal tumbuh. Meskipun letaknya di pinggir laut, tapi Bojong Karekes bukanlah kampung nelayan. Tak ada yang mau menjadi nelayan disini, karena penghasilan dan nasibnya tak pasti. Karena itu, warga lebih memilih bekerja sebagai penyadap. Setiap hari, seorang penyadap menaik-turunkan ember sedikitnya dua kali sehari. Seperti Warno yang sudah payah, namun masih kuat merayapi 70 batang pohon kelapa dari pagi hingga sore. Lelaki yang baru mendapat seorang cucu bayi itu, dibantu seorang anak laki-laki angkatnya dan menantu. Anak Warno yang berjumlah 4 orang, semuanya perempuan.
Ketika penyadap masih naik-turun pohon kelapa, istri, anak-anak atau kerabat lainnya, membawa jerigen berisi air sadapan dengan sepeda untuk di bawa ke rumah. Di dapur, isi jerigen itu dituang ke dalam wajan besar yang sudah dipanaskan api tungku berbahan bakar kayu sejak pagi. Begitu terus hingga sore. Agar cairan panas itu tak meletup, pemasaknya meredam dengan parutan kelapa. Cairan yang disebut air lahang itu juga sudah siap diminum setelah didinginkan. Kami yang sempat mencobanya siang tadi, merasakan kesegaran baru dan lebih tahan lapar. Pukul 5 sore, adonan yang seluruhnya hanya berbahan air dan kelapa parut itu biasanya telah mengental. Lengket dan warnya coklat kemerahan. Setelah diaduk-aduk, adonan itu kemudian di tuang dengan gayung plastik ke dalam jejeran cetakan yang terbuat dari bilah bambu. Selang 5-10 menit, cetakan dibuka, dan gula merah siap dijual ke bandar.Biasanya, harga wajar gula merah seperti saat ini mencapai Rp 5.000,-/kg. Menjelang puasa dan lebaran, harganya selalu naik seribu lebih. Sudah hukum pasar menurut Warno. Tapi jika penyadap masih punya cicilan hutang ke bandar, harganya bisa dipermainkan, ditekan dibawah harga umum. Hutang penyadap itu biasanya untuk biaya anak sekolah, perbaikan rumah yang diterjang tsunami, guna makan sehari-hari, menambah pohon sadapan di lahan sewaan, atau beli sepeda motor. Para bandar yang dihutangi, dengan suka cita memenuhi permintaan penyadap tanpa bunga dan tanpa kekhawatiran mangkir. Tapi ya itu tadi, manis di awal, pahit di akhir bagi penyadap. Penyadap yang sadar, kini banyak yang memilih berhutang ke bank pemerintah daripada harus berurusan lagi dengan para bandar lintah darat. Untuk lebih menyejahterakan penyadap di kampungnya, Warno berkeinginan menghidupkan kembali koperasi yang sempat berdiri, untuk melawan kekuatan bandar. Sekaligus merintis jaringan penjualan di luar daerah.
Pulang Senin pagi, kami hanya menghabiskan sisa kenikmatan di pantai Bojong Karekes dengan lebih santai. Menyambut matahari terbit sambil menyusuri pantai hingga ke muara. Mengejar si Keple, anjing kampung piaraan yang membawa lari sendal dengan riangnya di pantai lapang. Pulangnya kami menyusuri sungai kecil yang membelah pantai dan daratan, naik sampan seorang pemancing tua yang baru dapat seekor udang dan beberapa ikan kecil. Siangnya kami pulang. Seakan belum cukup semua yang kami dapat, keluarga Warno memberi oleh-oleh yang memenuhi bak mobil dengan setandan pisang bersisir-sisir, puluhan kelapa muda dan tua dan berkilo-kilo gula merah. Perjalanan yang menyenangkan, hingga kami berjanji dalam hati untuk kembali lagi kelak bersama tali persahabatan dan kekeluargaan yang sudah terentang.
Mesin mobil yang lancar mengantar pulang ke Bandung, menutup puncak perjalanan kami dengan senyum puas. Pangandaran ternyata belum habis.(plk)
Tagged as: ,

admin is
Email this author | All posts by admin

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.