Umrah Ala Backpacker, Mungkinkah ?

Custom Search

By Dvi Shifa • Aug 16th, 2007 • Category: Cerita Lainnya, Mancanegara
Bookmark and Share

Ketika kesempatan emas untuk berkunjung ke Baitullah ada di depan mata, konon kabarnya saya telah diundang oleh Allah. Namun bagi saya pribadi yang terjadi sebaliknya, Allah sudah mengundang seluruh ummat-Nya lewat berbagai ayat yang tertulis dalam Al Qur’an, hanya kita sajalah yang selalu berkelit oleh berbagai alasan sebagai pembenaran untuk tindakan kita masing-masing.

“Labaik Allahuma Labaik…” (aku datang memenuhi panggilan-Mu yang Allah…)

Seorang rekan backpacker berpesan kepada saya untuk mencari informasi bagaimana dapat melaksanakan umrah ala backpacker (terjemahan saya : murah meriah) dan berkemah sebagai alternatif akomodasi. Hal ini pernah menjadi perbincangan di milis indobackpacker setahun silam. Apakah para backpacker yang menganut paham “lantaiku adalah bumi dan atapku adalah langit”, melancong dengan biaya se-ekonomis mungkin untuk dapat melihat sebanyak-banyaknya (yang juga merupakan penerapan prinsip ekonomi) serta merta akan menerapkan hal yang sama selama melakukan ibadah umrah ? Apakah kita bersedia dan merelakan kekhusu’an beribadah dan berkompromi dengan hal-hal lain ?

Sejenak pikiran saya melayang, mengingat sebuah film yang diputar saat Festival Film Prancis di Jakarta tahun 2005 silam yang berjudul, Le Grand Voyage, yang bercerita tentang perjalanan darat menuju Makkah oleh Bapak-Anak imigran Prancis asal Marocco, di mana mereka bisa tidur di dalam mobil selama perjalanan lintas batas tersebut. Apakah ini yang dimaksud dengan perjalanan umrah ala backpacker ? Wadoeh, kalaupun iya, waktunya gak bakalan cukup dong bagi saya yang masih menjadi “kuli orang”.
Kalau ingin menghemat biaya mungkin kita bisa merubah sendiri jadwal perjalanan kita. Pengen naik transportasi umum ? Walah, di Makkah dan Madinah tidak ada bis umum, kalo mau bepergian silakan naik taxi atau carter mini van dan itu pun perlu proses tawar-menawar dan ketrampilan berbahasa Arab kalee..

Persiapan

Berburu informasi dari beberapa agen perjalanan adalah wajib hukumnya! Tiap agen menawarkan berbagai jadwal perjalanan yang serupa tapi tak sama, pilihan pesawat dan hotel yang berbeda-beda. Namun intinya prosesi ibadah umrah itu sendiri hanya berlangsung dalam waktu beberapa jam saja. Sisanya adalah waktu untuk memperbanyak ibadah sunnah sebagai penunjang ibadah wajib di masjid Nabawi (Madinah) dan Masjid Haram (Makkah). Karena itu, sah-sah saja apabila kita ingin “cross check” dengan toko tetangga koq.

Ketika saya tanyakan kenapa harus 9 hari, jawabannya adalah karena permintaan pasar dan disesuaikan juga dengan jadwal penerbangan. Kegiatan kita meliputi beberapa hari di Madinah untuk beribadah di Masjid Nabawi dan ziarah ke tempat-tempat bersejarah bagi ummat Islam di Madinah yang berhubungan dengan Rassulullah SAW, beberapa hari di Makkah di mana prosesi ibadah umrah itu sendiri akan dilaksanakan di Masjid Haram di mana Ka’bah berada, juga ziarah di tempat-tempat yang bersejarah dalam perjalanan perkembangan Islam dan kenabian Rasulullah SAW. Yang terakhir adalah kota Jeddah (arti kata Jed itu sendiri Nenek, karena Jeddah diyakini sebagai tempat turunnya Nenek Hawa, nenek dari semua ummat manusia) sebagai pintu masuk dan keluar kita melalui Bandara King Abdul Aziz. Sebuah bandara international yang sangat sederhana untuk ukuran negara kaya raya seperti Saudi Arabia.

Rata-rata agen perjalanan menawarkan menggunakan jasa penerbangan Garuda Indonesia dan Saudi Airlines (rute langsung Jakarta-Jeddah). Juga terdapat beberapa penerbangan lain seperti Royal Brunei (dengan iming-iming city tour di Bandar Seri Begawan, karena connecting flight dari Bandar Seri Begawan – Jakarta mempunyai jeda waktu cukup panjang), Qatar Airways, Emirates, Gulf Air dan Yemen Air. Total waktu terbang selama di udara rata-rata sekitar 10 jam.

Persiapkan paspor yang mencantumkan setidaknya dua suku kata nama kita, foto kopi kartu keluarga, foto kopi KTP, pas foto yang menampakkan 80% bagian wajah (bagi perempuan harus menutup kepala) berlatar belakang putih dan berwarna. Bagi perempuan yang berusia dibawah 45 tahun dan berencana berumrah sendirian, dia tidak akan diperkenakan masuk seorang diri di imigrasi Saudi Arabia. Sehingga pihak agen akan mencarikan pendamping pria, selanjutnya disebut mahram, dari sesama jamaah (untuk memasangkan sang perempuan dengan jamaah laki-laki dewasa demi kepentingan imigrasi. Walaupun antara 2 jamaah tersebut tidak ada hubungan sama sekali).
Dalam kasus saya, mendadak saya menjadi “keponakan ketemu di imigrasi” dari salah seorang jamaah yang menjadi “Oom” saya. Secara bercanda saya katakan, “wah…NTO dong (Nasib Tergantung Oom)…karena tanpa Oom saya tidak mungkin melewati imigrasi!”

Sebagai perempuan yang terbiasa melalukan perjalanan lintas batas seorang diri, sejenak kebebasan dan kemerdekaan saya sebagai manusia berdaulat hilang! Well, pengalaman baru, bagaimana rasanya ketika saya tidak bisa bertanggung jawab terhadap diri dan tindakan saya sendiri. Hhmm….atau justru saya harus berpikir sebaliknya, kenapa harus repot-repot mengurusi hal-hal yang menyangkut dunia luar dan membiarkan kaum laki-laki mengambil porsi itu saja? Alamak, susah saya bayangkan terjadi! Untuk kali ini saya ikuti saja aturannya, toh tujuan saya kali ini adalah beribadah. Apalagi kebetulan yang menajdi “Oom” saya oke punya, jadi tidak apa-apa juga kan ? …ha ha ha ha…

Pemilihan waktu juga menjadi penting, mengingat Saudi Arabia memiliki iklim gurun, sehingga pada musim panas (Juni – Agustus) suhu udara bisa mencapai lebih dari 45 derajat celcius. Sementara pada bulan Maret – Mei cuaca dikatakan sedang sejuk dan lebih bersahabat.
Harga yang ditawarkan menjelang bulan Ramadhan pun makin mahal. Harga murah justru ditawarkan setelah musim haji usai. Menurut informasi yang saya peroleh, sekitar dua bulan sebelum dan sesudah waktu ibadah haji, Makkah tertutup untuk pelaksanaan ibadah umrah.
Perhatikan pula kondisi fisik, karena kita akan menghabiskan sebagian besar waktu dengan beribadah setelah melalui penerbangan yang lumayan panjang (sekitar 10 jam penerbangan) dan perbedaan waktu kurang lebih 4 jam di belakang waktu Jakarta (GMT+3). Apalagi di sana kita akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk beribadah dibandingkan beristirahat.

Untungnya saya tidak mengalami jet leg dan benar-benar tidak memerlukan penyesuaian berarti. Salah satu trik manjur adalah sebisa mungkin tidur selama perjalanan. Untuk menunjang hal ini, saya selalu membawa travel neck pillow dan travel eye mask. Beruntung saya termasuk orang yang gampang tidur…sampai-sampai saya dijuluki “si tukang tidur”. Kalau ini sih meunurut saya adalah anugerah luar biasa, wong ada orang yang menderita insomnia saya justru sebaliknya. Saya mempelajari hal baru selama di sana, untuk mengatasi cuaca panas luar biasa yaitu dengan menutup rapat seluruh tubuh dan mengenakan cadar, Insya Allah, udara panas tidak terasa sama sekali.

Bisnis dan Ibadah
Mengingat jumlah warga muslim yang sangat besar jumlah di Indonesia, bisnis pelayanan ibadah umrah dan haji bertebaran di mana-mana. Berbagai cara ditempuh untuk menarik minat jamaah.
Salah satu cara yang dijalankan oleh sebuah agen perjalanan adalah dengan memberikan keleluasaan calon jamaah untuk mencicil biaya umrahnya sesuai kemampuannya, asalkan seluruh biaya dilunasi 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan. Wah kalo begini, boleh juga tuh dijajaki. Prinsipnya, untuk kepentingan ibadah, ngapain juga bikin susah orang….benar Bu Lanny (Dupawangi Travel), saya setuju deh 100% !

Visa dan Tiket
Ketika diminta melengkapi data-data untuk keperluan visa, saya penasaran karena dokumen yang diminta hanya foto kopi KTP, kartu keluarga, pas foto berwarna dan paspor asli. Tidak diperlukan bukti keuangan sebagaimana yang disyaratkan di hamper semua kedutaan besar asing di Indonesia. Lalu apa dan siapa yang menjadi penjamin kita selama di sana?

Rupanya agen perjalanan yang mempunyai kontrak dengan pihak Saudi Arabia sajalah yang diperkenankan mengajukan permohonan visa karena merekalah yang dijadikan jaminan oleh pemerintah Saudi Arabia. Dengan kata lain, apabila terjadi jamaah overstay atau berbuat diluar izin (baca : bekerja selama di sana) maka pihak agen inilah yang akan dimintai pertanggungjawabannya, bisa-bisa agen tersebut akan dimasukkan dalam daftar hitam oleh pihak Saudi Arabia. Walah, ribet juga ya ternyata dibalik kemudahan yang diberikan kepada kita…

Proses pembuatan visa itu sendiri berkisar antara 3-4 hari atau selambat-lambatnya 1 minggu. Bagaimana dengan pengajuan visa individu ? Untuk kepentingan ibadah umrah, rupanya tidak mungkin dilakukan. Semua harus melalui agen perjalanan di mana kita mendaftar. Tidak apa-apa dong, mengalah kali ini saja. Asyik juga koq sesekali perjalanan kita diatur dan direncanakan oleh pihak kedua, sehingga kita bisa berkonsentrasi untuk hal yang lebih penting.
Sedangkan untuk urusan tiket, diperlukan jaminan tiket pulang-pergi untuk kepentingan Umrah. Ini yang membedakan dengan tiket TKI, yang hanya sekali jalan.

Akomodasi dan Makanan

Biasanya agen perjalanan menawarkan pilihan tempat tinggal di hotel berbintang 3 ke atas. Rata-rata menawarkan paket hotel yang berlokasi dekat dengan Masjid Nabawi (di Madinah) dan Masjid Haram (di Makkah). Pilihan kamar double (sekamar berdua), triple (sekamar bertiga) atau pun quad (sekamar berempat). Lupakan keinginan untuk bertenda selama umrah…salah-salah malah ditangkapi oleh Askar (penjaga) masjid. Lagipula, mau bertenda di mana, wong semuanya sudah disemen dan jalanan beraspal mulus sekali… Mengantisipasi tingginya jumlah jamaah asal Indonesia, setiap hotel rata-rata bisa menyajikan masakan ala Indonesia. Secara bercanda saya katakan, sekembalinya ke tanah air, masing-masing harus cek kadar kolesterol…karena makanan yang tersaji benar-benar heavy (bersantan, berminyak dan berbumbu tapi kurang serat). Justru saya yang menganut pola makan semi vegetarian yang harus menyesuaikan diri jadinya. Tak apalah, toh semua daging yang dimakan halal di sini.

Perempuan Jalan Sendirian

Sebelum berangkat saya sudah sering mendengar bahwa selama di sana perempuan tidak akan diijinkan untuk jalan ke mana-mana sendirian. Berbagai cerita yang santer saya dengar antara lain, kalau naik taxi sebaiknya laki-laki yang naik terlebih dahulu dan turun belakangan, karena bila terjadi sebaliknya, perempuan justru akan dibawa kabur oleh supir taxi. Logika saya seolah sulit memahami hal ini, masak sih, laki-laki yang berada di dua kota suci tersebut masih bisa berlaku senekad itu ? Apakah mereka tidak takut humunan Allah ? Namun suara dalam hati saya seolah membenarkan argumen ini, saya teringat kalimat seorang teman, men never think with their head, they think with their other head…nah lho …

Karena berniat untuk ibadah dan memfokuskan diri untuk lebih dekat dengan Sang Khalik, saya pun berusaha sebisa mungkin menghabiskan waktu di Masjid, sayang rasanya pabila terlalu lama berada di luar. Pada awalnya dengan sedikit perasaan was-was, saya memberanikan diri jalan seorang diri keluar hotel menuju Masjid setiap harinya, baik itu pada pukul 03:00 pagi maupun setelah selesai shalat Isya. Syukur-syukur bertemu jamaah lain di jalan, pabila tidak pun dengan tambahan do’a dan tetap memegang aturan main bertualang selama ini, selalu berjalan di tengah keramaian dan jangan pernah menunjukkan kegelisahan ataupun ketakutan diri. serta jagalah bahasa tubuh kita. Alhamdulillah, tidak ada sedikit jua pengalaman buruk yang terjadi pada saya.
Mungkin yang dimaksud bahwa perempuan tidak boleh jalan sendirian adalah apabila dia hendak bepergian ke tempat lain selain ke Masjid. Wah, kalau itu sih, di mana pun dan kapan pun dapat terjadi alias tidak hanya berlaku di tanah suci saja.

Inti Prosesi Umrah
Umrah juga dikatakan sebagai haji kecil. Diawali pergi ke miqat (batas tempat untuk mulai haji.umrah) di tempat-temapt yang telah ditentukan. Karena kami datang dari Madinah, maka miqatnya di Bir Ali. Di sanalah kita berniat umrah, para lelaki mengganti pakaiannya dengan pakaian ihram (terdiri dari 2 potong kain yang tidak berjahit) sedangkan perempuan hanya mengenakan busana muslimah yang menutup aurat (namun tidak bercadar dan telapak tangan tidak ditutupi kaos tangan). Prosesi umrah di Makkah sendiri terdiri dari tawaf (berjalan mengelilingi Ka’abh sebanyak 7 kali, di mana di sini juga apabila memungkinkan kita bisa mencium Hajar Aswad), Sa’i (berjalan antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak 7 kali) dan Tahallul (bercukur / memotong rambut).
Saking banyaknya orang yang melakukan ibadah ini, saya tidak pernah melihat kapan waktu kosong Ka’bah tidak dikelilingi orang-orang yang ingin bertawaf. Begitupun dengan tempat Sa’i dilaksanakan. Kenangan indah ini selalu saja membuat merinding bulu roma. Subhanallah…masih begitu terasa kerinduan saya untuk menjadi bagian dari mereka yang sedang bertawaf dan bersa’i…Walaupun saya mengikuti prosesi umrah ini sebanyak tiga kali, namun rasanya masih saja kurang. Suatu perasaan yang begitu sulit untuk digambarkan dengan kata-kata, karena saya tidak menemukan padanan kata yang tepat.

Wisata Tambahan
Masih dalam rangkaian paket Umrah, biasanya selalu disertai dengan wisata ziarah tambahan seperti ke Jabal (Gunung) Udud, Tsur , Nur, kebun kurma, city tour Jeddah, dan lain-lain. Di mana wisata tambahan ini bisa didiskusikan atau dinegosiasikan lagi apabila sedianya kita bepergian dalam group sendiri. Saya penasaran untuk bisa naik sampai ke Gua Hira tempat pertamakali Rasulullah menerima wahyu. Trekking ke sana diperlukan waktu kurang lebih 5 jam perjalanan bolak-balik melewati jalan berbatu-batu.

Pengalaman Pribadi
Bagi saya pribadi, ada kerinduan tiada tara untuk kembali ke sana. Melihat dan merasakan keagungan Ka’bah yang dikelilingi ribuan bahkan jutaan orang pada saat musim haji tak pernah bisa terungkap dengan kata-kata namun selalu membuat mata basah setiap kali mengingatnya. Juga ketika pada umrah ketiga saya berkesempatan mencium Hajar Aswad berkat perlindungan barikade sesama jamaah yang bertindak sebagai “tukang ojek Hajar Aswat”. Sungguh sebuah kerja sama kelompok yang baik dan ditunjang dengan ketahanan fisik yang prima tentunya. Padahal disekitaran Hajar Aswad ada juga lho joki Hajar Aswad asal Indonesia! (ya ampun, apakah kita harus bangga dengan hal ini ?)

Saya tersenyum saat menuliskan ini kembali walaupun pelupuk mata dipenuhi genangan air yang berlomba turun…karena bahagia…Terngiang pesan ayahanda tercinta,”kalau kamu berjanji dengan orang lain, jangan biarkan orang tersebut menunggu kamu. Sebaiknya kamu yang datang terlebih dahulu untuk menunggunya.” Kali ini saya merefleksikan pesan tersebut saat saat duduk sendiri di Masjid Nabawi….ketika menunggu waktu adzan berkumandang, panggilan dari Yang Maha Tinggi… Semoga kali berikutnya saya berkesempatan bersujud pula di Masjid Aqsa di Palestine…Insya Allah….

Informasi :
Al Azhar Arfina Tours & Travel (Mbak Lenny & Mas Zulpa) Tel : 021 7279 9758-59
Dupawangi Tour & Travel (Ibu Lanny Elvirya) Tel : 0815 111 25557, 021 687 78008

Tagged as: , , ,

Dvi Shifa is
Email this author | All posts by Dvi Shifa

Bookmark and Share

2 Responses »

  1. Jadi intinya nggak bisa donk backpack untuk pergi umroh.. Tetep harus lewat agent..;-)

  2. bisa aja kali Mba…
    asala hapal Al-Quran ama khatam bahasa Arab kali ;p

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.