Gunung Penanggungan, tak semudah yang dibayangkan
By Evy • Sep 17th, 2007 • Category: Gunung / Mountain, Hiking, Indonesia
Aku sama sekali nggak tertarik waktu denger temen-temen mo naek ke Penanggungan. Gunung gitu loh, gue kan bukan anak gunung. Tapi waktu Yani bilang ntar jalur turunnya bakalan lewat segerombolan candi-candi, nah, baru deh telingaku terbuka lebar. Akhirnya setelah diyakinkan kalo gunung ini nggak tinggi, 5 jam aja dah nyampe puncak, trus pulangnya bakalan lewat candi-candi, akhirnya aku memutuskan untuk ikut bergabung. Kayaknya nggak berat ndaki gunung ini, wong sehari pp juga bisa. Lagian pulangnya mo lewat candi Jolotundo, dulu kan kita gak sempat mampir kesana. Boleh deh dicoba….
21 – 22 Juli 2007
Photo dari Evy dan Siti

Seperti biasa, waktu ketemuan molor satu jam dari yang dijanjikan. Aku yang pertama dateng di terminal Bungurasih, abis tu disusul ama Yani. Aku sempet merasa heran waktu Yani bilang kalo temennya yang namanya Mona ntar mau mbawain kita tenda, kompor, nesting dsbnya. Dibawa sendirian ama dia. Wih, koq tega bener si Yani mbiarin temen ceweknya mbawa semua peralatan berat begitu… Sedangkan kita-kita cuman bawa daypack semua. Ndilalah waktu aku dikenalin sama si ‘Mona’, koq yang muncul cowok ??? Ternyata, nama aslinya Anom, sama si Yani namanya dibalik dan diplesetin jadi Mona. Walah… Setelah tau si ‘Mona’ ternyata emang lagi niat mo latihan fisik, dengan tanpa rasa bersalah kita membiarkan dia membawa tas gaban itu sendirian
Kita berangkat dari Surabaya jam 4 sore. Karena jalan raya Porong saat weekend selalu macet, kita tiba di Pandaan tiga jam kemudian. Siti sudah menunggu disana karena dia berangkat langsung dari Sidoarjo. Kita melanjutkan perjalanan dengan naik colt ke Tamiajeng. Setelah mengisi perut dan membungkus nasi untuk bekal, kita memulai pendakian.
Awalnya jalan masih beraspal dan melewati pedesaan, kemudian setelah melewati kampus Universitas Surabaya, jalan mulai mengecil dan berbatu. Lama kelamaan jalan mengecil lagi menjadi jalan setapak. Perjalanan masih menyenangkan walopun kita tempuh dalam kegelapan. Aku aslinya paling males kalo diajak naek gunung malem-malem, karena kalo malem aku sering banget jalan sradak sruduk. Tapi kali ini ternyata aku bisa berjalan dengan lancar, ada untungnya juga pake senter yang nempel di dahi, jadi tangan bisa bergerak bebas sewaktu diperlukan untuk bergelantungan karena jalan yang kita lalui mulai berbatu-batu dan menanjak dengan jarak lumayan tinggi.
Pemandangan sepanjang perjalanan benar-benar indah. Kalau kita menoleh ke belakang, tampak kerlap kerlip lampu di bawah. Cantik banget di tengah kegelapan malam, tanpa terhalang bangunan, pepohonan ataupun awan. Seringkali kami berhenti, kadang untuk beristirahat, kadang hanya untuk sekedar menikmati pemandangan yang elok ini. Kita sempat beristirahat agak lama saat bertemu dengan rombongan pendaki yang mendirikan tenda mereka tak terlalu jauh dari puncak. Ada beberapa kelompok, kita nunut menghangatkan diri di salah satu kelompok yang menyalakan api unggun.

Setelah beristirahat sekitar setengah jam, perjalanan kembali kita lanjutkan. Akhirnya setelah melalui jalur yang dipenuhi bebatuan besar dan kecil yang sering kali membuat kita agak berakrobat, akhirnya tibalah kita di puncak. Rombongan pertama : Siti, Yuda dan David tiba jam 01.30, sedangkan rombongan juru kunci : aku, Yani dan sang pengawal setia – Anom, menyusul setengah jam kemudian. Lega banget akhirnya bisa mencapai puncak. Cuman….. anginnya, wuih, kenceng banget. Dengan baju yang basah kuyup oleh keringat, serbuan udara dingin disertai hembusan angin yang kencang membuat kita terburu-buru mendirikan tenda.
Baru saja kita berenam merebahkan diri berimpitan dan mencoba untuk tidur, terdengar suara-suara berisik dari rombongan para pendaki tadi yang ternyata sudah menyusul kita. Akhirnya rencana untuk tidur nyenyak melepaskan penat berantakan sudah. Gimana mo tidur, lha ada rombongan yang menyanyi dengan suara lantang diiringi pukulan botol minuman kosong. Sempat kita bernapas lega setelah cukup lama kemudian suara nyanyian itu berhenti. Oops, ternyata keheningan itu hanya sejenak. Tak lama kemudian ada segerombolan pendaki yang memilih untuk duduk di sekitar tenda kami dan dengan gegap gempita saling bertukar cerita. Gagal sudah keinginan untuk dapat tidur nyenyak. Akhirnya dengan nelangsa, sebisanya kami mencoba memejamkan mata.
Belum sempat terlelap lama, Siti berteriak dengan heboh, mengingatkan kalau matahari sudah hendak memamerkan diri. Dengan mengerahkan segenap sisa tenaga yang ada aku mencoba keluar tenda. Brr…. Udara dingin dan angin kencang langsung menerpaku. Setelah mencoba bertahan beberapa detik di luar tenda dengan hanya bersenjatakan T-shirt karena jaketku kemaren basah kuyup oleh keringat, akhirnya aku menyerah dan kembali menyelusup ke dalam sleeping bag yang hangat. Teriakan teman-teman yang menyuruhku keluar untuk menikmati sunrise dengan sengaja kuabaikan. Enakan di dalam tenda dan sleeping bag lagi, hangat…. Saat matahari mulai menampakkan diri, aku hanya menyempatkan diri untuk memotret sebagian pancaran sinarnya dari dalam tenda. Keinginan untuk menikmati rasa nyaman dan hangat dalam tenda mengalahkan keinginanku untuk melihat sunrise. Emang dasar pemalas, ya begini ini deh….
Saat matahari mulai meninggi dan gerombolan pendaki lain sudah mulai turun, aku mulai keluar dari kepompong untuk menikmati suasana pagi di puncak Gunung Penanggungan. Wuah, cakep man…. Indah banget… Udara sudah tidak terlalu dingin walaupun angin masih berhembus dengan kencang, langit biru, pemandangan indah luas terbentang di depan mata, suasana hening…. Benar-benar terasa tenteram di hati.
Nggak lama keheningan itu pecah saat David menawari kami untuk beraksi di depan kameranya. Langsung aja pada sibuk berdandan menyiapkan diri. Kacamata hitam pun segera dikeluarkan dari tempat persembunyiannya. Bahkan Yuda diam-diam juga ternyata sudah menyiapkan peralatan tempurnya dengan lengkap. Kalah deh gue…

Menjelang jam 9 pagi kita mulai perjalanan turun. Setelah sebelumnya mencari-cari informasi tentang jalur Jolotundo, akhirnya Yuda menemukan jalur yang dimaksud. Ternyata jalur ini cukup curam. Penuh batu-batu kerikil yang seringkali membuat kita tergelincir kalau tidak hati-hati. Entah sudah beberapa kali bokongku mencium bumi karenanya. Setelah berjuang cukup lama diantara bebatuan, akhirnya jalur berubah menjadi jalan setapak. Agak lega, walaupun di beberapa lokasi tetap saja membutuhkan kehati-hatian dalam menempuhnya. Menjelang tengah hari kita tiba di candi pertama. Namanya Candi Sinta, terdiri dari bangungan candi kecil, altar pemujaan (kecil juga) dan susunan batuan yang menyerupai kuburan dan nisan. Kita beristirahat disini. Perut mulai terasa lapar, jadi komporpun segera dikeluarkan untuk menjerang air dan memasak mi instan. Di puncak tadi kita gak sempat masak-masak karena hembusan angin yang sangat kencang tidak memungkinkan kita untuk menyalakan kompor.
Lagi asyik-asyik berbincang aku baru menyadari kalau jam tanganku gak ada. Wah, pasti jatuh di perjalanan turun tadi, karena sewaktu di puncak masih ada. Temen-temen dengan penuh semangat menyuruhku naik lagi untuk mencarinya, sendirian… mereka dengan penuh kerelaan akan menungguku. Duile… nggak lah yauw…. Wong mendaki jalur biasa aja aku wegah, lha ini disuruh balik mendaki lagi ke jalur yang membutuhkan keahlian jumpalitan begitu, nggak deh, aku memilih merelakan jam tanganku untuk berpindah tangan ke siapapun yang mungkin menemukannya. Sudah nasib nih kayaknya….
Puas berjemur di bawah teriknya mentari, kami pun melanjutkan perjalanan. Tidak sampai sepuluh menit, candi kedua kami temukan. Namanya Candi Gentong, karena ada batu berbentuk Gentong disertai sebuah altar. Ada bekas dupa yang menunjukkan bahwa candi ini dan Candi Sinta tadi masih sering dikunjungi orang untuk bersembahyang. Candi ketiga letaknya juga berdekatan, sayang nama candinya sudah tidak ada, jadi kami tidak tau nama candi tersebut. Bangunannya menyerupai pusara. Candi keempat merupakan candi terbesar diantara yang lainnya, nama candi ini juga tidak nampak. Disini ada beberapa kejadian. Yang pertama, tumpukan sampah terlihat banyak berserakan, terutama sampah kaleng minuman isotonik.
Sepertinya beberapa waktu yang lalu ada rombongan yang mengadakan kegiatan pendakian beramai-ramai dan membuang sampah seenaknya. Kami benar-benar geram dibuatnya. Koq mereka tidak punya kesadaran untuk membuang sampah dengan benar. Kejadian kedua, Siti mendadak terjatuh sewaktu berlari mendekati candi. Katanya tiba-tiba kakinya tidak bisa digerakkan, terasa sangat lemas, sehingga hampir aja kita gotong rame-rame. Tapi sebutan Kelinci Energizer emang cocok buat Siti. Bukannya duduk beristirahat sambil memijat kaki, dia memilih untuk melompat-lompat dan push up dengan gaya serabutan agar kakinya bisa normal kembali. Teknik pengobatan yang aneh, walaupun terbukti mujarab, khusus buat dia deh kayaknya. Yang lain dilarang meniru.

Perjalanan pulang dilanjutkan kembali. Kini jalurnya hanya berupa jalan setapak biasa tapi rasanya jalan ini memutar, jauh lebih panjang dari jalur pendakian kemarin. Siti yang sempat mengaku kalau kakinya masih sakit, tetap saja berjalan paling depan dan tak lama kemudian sudah hilang dari pandangan. Dasar Kelinci Energizer, energinya nggak ada habisnya tuh… Lama-kelamaan kita takut juga, jangan-jangan ntar di depan ni anak kesasar ato kenapa-kenapa, karena dah dipanggil-panggil nggak kedengeran suaranya sama sekali. Akhirnya kita mengutus ‘Mona’ untuk mengejar sang Kelinci Energizer. Jadilah David dan Yuda yang kebagian mengawal aku dan Yani yang mulai berjalan tertatih-tatih. Dengkulku terasa empot-empotan karena tadi jalur turun yg kita lalui lumayan curam, membuat kita sering ngerem dan akibatnya dengkullah yang menanggung derita.
Menjelang pukul 2 siang akhirnya kita tiba di pintu gerbang Candi Jolotundo. Duh, leganya… ternyata jalur kita bener juga, sebelumnya kan sempat was-was takut nyasar karena nggak seorangpun dari kita pernah menempuh jalur ini. Karena nggak ada yang berniat untuk melihat Candi Jolotundo, katanya kudu jalan mendaki lagi dari gerbang tsb, akhirnya kita memutuskan mampir ke PPLH Seloliman untuk mengisi perut yang mulai terasa melilit minta diisi. Saat berjalan menuruni jalan beraspal, kita berlima sempat takjub waktu melihat Siti berjalan paling belakang sambil tertatih-tatih. Ternyata sang Kelinci Energizer bisa soak juga ya… keabisan energi :p
Rupanya kakinya juga terkena sindrom yang serupa dengan aku dan Yani, dengkul serasa mo copot. Tapi dia bilangnya sih bukan dengkul, melainkan kakinya yang terasa kenceng semua. Serupa tapi tak sama….

Di PPLH Seloliman kita puas-puasin buat istirahat. Angin semilir, makanan enak, berbaring lesehan… duh, nyaman tenan. Aku sempat hampir terlelap sewaktu temen-temen bilang dah waktunya kita pulang karena hari sudah menjelang sore. Berhubung disana gak ada angkutan umum, akhirnya berdasarkan saran dari pemilik warung setempat, kita ke Ngoro naik ojek.
Seru juga, karena jumlah ojek terbatas, kita berboncengan masing-masing tiga orang tiap motor. Aku kebagian sama Siti, Yani dengan ‘Mona’ dan yang kesian ojek terakhir karena kebagian membonceng Yuda dan David, gede-gede begitu… Ternyata jaraknya jauh lho dari Seloliman ke Ngoro… padahal tadi sempat terlintas mau jalan kaki aja, untung ide gila itu gak terwujud. Sampe di Ngoro kita berpindah naik angkot menuju Japanan dan di Japanan kita berpisah. Yuda melanjutkan perjalanan ke Lawang, Yani, Anom dan David memilih naik bis ke Surabaya, sedangkan aku dan Siti memilih naik ‘Bison’.
Usai sudah perjalanan kali ini. Pengalaman yang aku peroleh : jangan suka meremehkan. Mentang-mentang gunungnya pendek, kita anggap ‘kecil’, ternyata cukup ‘menyiksa’, kualat nih kayanya…
Terima kasih buat temen-temen seperjalanan yang selalu ceria dan rela bersusah-susah melalui jalur Jolotundo demi memenuhi keinginanku buat lewat candi-candi ;D
Cheers..
Untuk lengkapnya disini :
http://evy900.multiply.com/photos/album/70/G._Penanggungan_dan_candi-candi_mungil dan
http://simasa.multiply.com/photos/album/47/Penanggungan_2007
Evy is suka jalan-jalan dan mendapatkan pengalaman baru
Email this author | All posts by Evy



