Gunung Ungaran di Ambarawa, 2050 mdpl

Custom Search

By Ami Suratmi • Sep 17th, 2007 • Category: Hiking, Indonesia, Wisata

 Jalur ini juga melewati bebatuan yang besar. Sesekali aku terpeleset, sepatu yang seharusnya bisa menggigit tanah ini kok ya masih terasa licin. Apakah karena kembangan tapak kakinya justru terisi tanah liat..au ahh. Suara-suara di perkemahan semakin jauh seiring kaki yang melangkah menaiki bukit. Malam itu bukan malam purnama, tetapi bulan masih cukup besar untuk menyiramkan sinar lembutnya menerangi jalan kami, mengeliapkan warna perak pada geliat dedaunan. Langit bersih dan berlaksa bintang berkedap-kedip seakan ikut menghitung langkah.

Godaan itu

Entah berapa kali aku membuka-buka kembali foto-foto perjalanan ke Candi Gedong Songo. Foto itu tidak mengabadikan semua yang kulihat, tapi tentu meluncurkan kembali alam pikiran ke tempat berratus kilometer dari Jakarta ini. Lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Ambarawa. Kawasan itu begitu indah, tak heran jika wisatawan lokal dan asing berbondong-bondong mengunjunginya. Jalan yang sangat menanjak yang menguras seluruh kemampuan kendaraan tumpangan tak menyurutkan minat mereka datang kesana. Candi di kesejukan dataran tinggi, pemandangan hamparan gunung gemungung di sekitarnya, dan gunung ungaran yang menjulang di latar belakangnya benar-benar membenamkan jiwa dalam keindahan alam tak terkata.

Hamparan gunung gemunung itu terlukis kuat dalam benakku. Sawah berteras berbaris-baris, jurang dan bukitan dalam hijau hitam berselingan, dan Merbabu utuh sebadan dengan lekuk liku punggungannya. Bagaimanakah jika menengoknya dari puncak yang lebih tinggi disana, tidak hanya di pelataran candi saja. .. aihh bayangan itu begitu menggoda. Keinginan itu masih saja kusimpan hingga bak meledak saat rencana menemui Nini Ragarunting di lereng lawu 90% sulit dilaksanakan. Searching artikel tentang gunung ini dan ketemu di merbabu.com , *thanks to the writer*, rasanya tidak terlalu sulit untuk diriku yang basicnya adalah wisatawan awam gunung ini untuk mencapainya.

Namun aku tak berani mendaki sendirian makan kucarilah teman. Aku contact Nanung lewat multiply andai dia mau jalan kesana, dan ajakan itu langsung diiyakan, gayung bersambut kata orang.. halahh, karena dia juga memerlukan light trekking untuk mencobai kakinya yang cidera katanya. Dan bagi dia Gunung Ungaran dengan ketinggian 2050 meter diatas permukaan laut ini cukup ideal, tidak terlalu tinggi tapi tak juga rendah. Disepakatilah naik Gunung Ungaran di akhir pekan ini (yang tinggal 2 hari lagi) lewat jalur Candi Gedong Songo daripada jalur Jimbaran yang start dari Semarang.

Berangkat

Jadilah siang itu, Sabtu, 7 Juli 2007, jam 11.15 aku sampai di terminal Jombor untuk naik bus yang Nanung, Rina, Dhani, dan Joshua tumpangi dari Gamping untuk bersama-sama menuju Ambarawa. Bus itu masuk terminal hanya untuk menyamperin aku, hihii.. karena ternyata tak semua bus masuk terminal hingga Nanung harus membuat request khusus agar bus masuk terminal mengingat aku menunggu disana. Berlari-lari aku membawa backpack yang isinya praktis peralatan saja, sedang logistik sedikit sekali. Harusnya kami berangkat lebih pagi, namun, musim liburan sekolah yang tengah terjadi dan pembenahan jalan di pantura membuat bus yang membawaku dari Jakarta ke Jogja terlambat sampai 4 jam dari jadwal biasanya.

Rencana cek kembali packing di rumah di Sleman menjadi minimal, dan banyak logistik yang belum terbawa, dan keberangkatan yang rencananya jam 10 mundur menjadi jam 11. Ah, repot juga mengejar bus yang buru-buru, apalagi dengan backpack besar dipunggungku ini. se-bus jadi pada ngeliatin semua.. hihii.. akhirnya masuk juga ke bus, dan baru kali itu tuh kopi darat ama temen-temen ini. Baru sekali ini ketemu Nanung & the gang. Senyum adalah modal perkenalan dan Alhamdulillah kami semua mempunyai modal itu, hingga dapat cepet akrab dan berbincang ampe puas sepanjang perjalanan bus menuju pertigaan Bandungan di Ambarawa.

Sampai di pertigaan ini terdapat angkutan reguler yang dapat mengantar kita ke plang Candi Gedong Songo. Angkutan ini semacam mobil colt, ngetem di pertigaan itu untuk mengumpulkan penumpang. Kami menumpang salah satunya, dan angkutan itu penuh sekali, backpack kami ditaruh diatas mobil dengan di kencangkan tali, dan melajulah menyusuri kawasan Bandungan. Jalan raya ini tidak terlalu lebar, dengan lalu lintas yang padat, apalagi sampai pasar Bandungan macet akibat pasar tumpah dan warung-warung tahu ‘Serasi’ yang ngejibun dipinggir jalan. Ihhh.. tahu serasi, kelihatannya serasi bener dengan perut kami yang keroncongan :-D, tapi nggak ada waktu buat makan siang di tengah jalan.

Kami tidak turun kendaraan sampai Palbapang atau Plang Pertigaan ke Candi Gedong Songo. Angkutan sering kali menawari apakah kita memerlukan servis hantaran sampai halaman parkir Candi, tapi memang sebaiknya tidak, karena ongkos bisa jadi sangat melambung, heheee… Ongkos dari Pertigaan Bandungan ke Pertigaan Candi Gedong Songo ini per orang Rp.3.500,-

Rasa lapar sudah tidak bisa ditahan sampai disini, dan kebetulan sekali dipinggir jalan di sebelah kanan pertigaan Candi ini ada sebuah warung sederhana. Kami makan disana, dan tentu saja sambil mencari informasi angkutan paling efektif dan efisien (baca: nyaman & murah) menuju Candi. Memasuki warung tentu tak banyak pengharapan akan makanan enak, sekedar memenuhi kebutuhan tubuh saja, namun ternyata masakan ibu warung ini pas dengan mulut jawa kami. Sayur kacang yang dimasak layu, pepaya cacah ditumis yang sedikit pedas, tahu kerecek, telur goreng mata sapi, telur pindang, bacem tempe, bermacam-macam gorengan, kerupuk.. hmm pas banget.

Ditambah minum teh manis panas melengkapi rasa kenyang yang menentramkan. Tentu saja warung ini juga memajang banyak sekali minuman pabrikan, jadi bisa juga melengkapi kebutuhan air minum kemasan disini. Dari ibu warung diperoleh informasi angkutan ke atas (Candi), tak ada angkutan umum, adanya ojek di seberang atau ikut mobil sayur bak terbuka. Ojek sekitaran Rp 5.000,-, dan ikut mobil sayur Rp. 2.000,- per orang.

Namun setelah dikonfirmasi pak Ojek menawarkan Rp. 7.000,- sampai atas, dan tidak mau harga Rp 5.000,-. Wah.. rada tidak pas dengan kantong kita, maka diputuskan ya jalanlah ke atas, sambil mencari mobil sayur. Jika tak menemukan mobil sayur ya terpaksanya benar-benar jalan kaki sekitar 4km menanjak. Baru berjalan 50 meter telah ada mobil sayur yang menawari, dan benar Rp.2.000,- per orang. Kebetulan juga dibelakang kami ada rombongan remaja yang juga kemudian ikut menumpang mobil sayur hingga segera kita berangkat tanpa menunggu dan mencari penumpang lagi.

Menderum-derum meliuk-liuk menyusur jalan berliku dan menanjak. Sejuk hawa pegunungan mulai terasa. Semakin tinggi dan semakin menanjak, hamparan yang kurindukan itu makin lebar menggelar dibelakang sana, pesonanya tak lekang. Setelah sekali sentakan pada tanjakan yang paling terjal kami sampai di pelataran parkir Candi. Saat itu telah lepas ashar. Suasana masih sangat ramai.

Gedong Songo ini memang tempat yang nge-top untuk rekreasi di Jawa Tengah, hingga sore malam minggu itu begitu ramai dengan anak-anak remaja maupun keluarga yang datang untuk camping atau sekedar melewatkan malam panjang di ketinggian. Kami mampir di warung sebelah kanan pelataran untuk membeli tambahan logistik dan air mineral. Kemudian ke loket tiket untuk membeli tiket camping, Rp. 2.600,- per orang.

Segera ke mushola untuk jama’ ta’khir dzuhur-ashar dan menyusur jalan wisata menuju bumi perkemahan. Disanalah kami akan mendirikan kemah dan melewatkan malam hingga dini hari saat kami akan mendaki. Bumi perkemahan merupakan daerah berpohon pinus banyak yang terletak antara Candi 1 dan Candi 2, dan pada sisi luar timurnya adalah jalur awal pendakian.

Perkemahan hingar bingar

Kemah telah didirikan dan kompor telah dinyalakan, makan mie *menu kenegaraan kegiatan luar ruang :-D* untuk menghangatkan badan. Pada lepas maghrib kami sempatkan turun di pelataran parkir untuk membeli senter, tolak angin, dan jagung bakar. Ramai.. ternyata kawasan ini mirip Bebeng-Kaliadem sebelum banjir lava dulu, jika malam minggu hingar bingar dengan kegiatan remaja & anak-muda. Saat turun itu kami berpapasan dengan banyak rombongan orang yang membawa-2 peralatan kemah dan sound system segede gambreng ke atas. *Wah wah..mau ada apakah?* Kami sempatkan sekalian sholat maghrib-isya’ di toilet-mushola umum berair panas yang penjaga-nya.. duhh.. anak kecil yang preman banget.

Begitu pintu toilet terbuka langsung dia lantang.. “BAYAR!!”.. cara bicara dan bersikapnya ini agak memprihatinkan sebagai anak kecil. Tidak ada elegan-elegan-nya sama sekali. Seakan dia telah mengalami 2000 kali orang datang ke toiletnya ngeloyor tidak membayar.

Kembali ke kemah.. ngobrol sana sini menunggu malam.. dan wadaww.. hingar bingar dari tape dan sound system yang tadi kita jumpai sudah dimulai. Tempat itu bagai pasar malam saja. Bahkan ternyata warung-warung disepanjang jalan ke candi-candi itu buka 24 jam. Jadi sebenarnya tak perlu khawatir dengan logistik. Murni perjalanan wisata. Musik dangdut, musik rock, maupun nyanyian teriak-teriak sumbang dari rombongan-rombongan yang kemah membahana, menyerbu kemah kami yang pengennya diset sepi. .. agak malam kami membeli nasi goreng di warung untuk pengisi tenaga untuk naik nanti dinihari, dan dilanjutkan packing ulang apa yang akan dibawa mengingat kita akan meninggalkan sebagian barang di tenda yang akan dijaga oleh Joshua yang memang berencana tak ikut naik.

Disisihkan air mineral, air berasa (manis), makanan, alat masak, senter, matras, jas hujan. Barang-barang dibereskan dan semua masuk ke tenda untuk tidur.. duhh.. selayak tidur di tengah pasar malam. Jika mencari keheningan dan kesenyapan, tentu bukan disini tempatnya.. huahh.. ampe malam jauh menggelincir belum juga terpejam mata ini. Berisiiiiiikkkk.

Mari menanjak

Setelah bergulat dengan hingar bingar itu tak terasa bisa terlelap juga dan terbangun saat alarm 01.30 terdengar. Bergegas kami bersiap-siap, berpakaian penahan dingin, memakai sepatu, bersenam sedikit mengadaptasikan otot-otot, menyandang tas masing-masing, dan senter-senter segera disorotkan ke arah jalan setapak menuju bukit di belakang bumi perkemahan. Begitulah kami mengawali perjalanan. Benar saja, seperti diceritakan di berbagai sumber internet, awal perjalanan langsung disambut jalur bukit yang terjal. Sudut kemiringan yang sangat besar, jalur yang licin, tanah liat basah dan semakin dibasahi oleh embun yang banyak.

Jalur ini juga melewati bebatuan yang besar. Sesekali aku terpeleset, sepatu yang seharusnya bisa menggigit tanah ini kok ya masih terasa licin. Apakah karena kembangan tapak kakinya justru terisi tanah liat..au ahh. Suara-suara di perkemahan semakin jauh seiring kaki yang melangkah menaiki bukit. Malam itu bukan malam purnama, tetapi bulan masih cukup besar untuk menyiramkan sinar lembutnya menerangi jalan kami, mengeliapkan warna perak pada geliat dedaunan. Langit bersih dan berlaksa bintang berkedap-kedip seakan ikut menghitung langkah.

Terjalan bukit dengan cepat membawa kami ke ketinggian, hingga dapat melihat hamparan gemerlap kota di bawahnya. Ahh.. kota-kota dimana sebagian besar penghuninya pasti kini tengah terlelap didalam perlindungan hangatnya. Pada puncak terjalan itu kami mendapati sebuah simpangan, Dhani didaulat untuk mensurvei-nya.. ke kanan jalur jelas, kekiri katanya ada juga, namun rasanya lebih jelasan jalur kekanan hingga kami memutuskan memilih jalur kanan. Sampai perjalanan pulang kami yakin bahwa itu simpangan, hingga saat perjalanan turunpun kami masih menyebut simpangan itu untuk tanda akan masuk track terjal pertama tadi, namun ternyata saat turun tak juga menemukan simpangan ini hingga kembali ke tenda.. hiiiyyy… simpangan mistis.

Memasuki areal terbuka, sebelah kiri menjulang punggungan bukit, demikian juga sebelah kanan jauh membayang punggungan. Angin hangat menerpa-nerpa dari kanan belakang, arah kami dapat melihat cahaya kota. Aku jadi inget apa yang kubaca, pastinya sebelah kanan adalah jurang, dan kami sedang berjalan di gigirannya. Kutengok ke kanan.. dan aaauuuuu…. gelap hitam..

Gigir jurang itu ditumbuhi alang-alang, semakin lama semakin tinggi dan dilapisi embun yang tebal yang mulai membasahi celanaku, bahkan sepatuku juga basah banget. Basah sampai kedalam. Rina sampai harus mengganti celana yang basah dengan celana jas hujan. Aku, untunglah memakai celana sintetis yang biar basah tapi keringnya cepet. Angin hangat pada beberapa tempat mengurangi ketebalan embun, tapi hanya sedikit saja. Bahkan pada bagian yang agak melembah ilalang dan semak begitu tinggi dan begitu berembun. Jalur itu kami terabas saja, namun yang sedari tadi berkutat di pikiranku adalah kenapa jalur ini semakin saja menyerong ke arah kanan. Bukan kekiri kearah puncak di belakang candi Gedong Songo.

Apakah kami melewati jalur yang salah?. Malam itu begitu sunyi, tak ada pendaki lain yang kami temui, atau bahkan suara mereka pun tak kedengaran andai mereka ada di punggungan lain. *kadang di gunung ada pendaki yang suka teriak-teriak entah mo ngetest gaung suara, manggil temennya atau sekedar kegilaan sesaat*. Seakan hanya kami saja yang mendaki gunung ini, atau semua pendaki naik lewat Jimbaran dan menggunakan jalur Gedong Songo untuk turun *seperti kata seorang cowok di Gedong Songo tadi*.

Aku masih selalu saja bertanya pada Nanung, kita salah jalan nggak ya, kok semakin menjauhi ‘puncak’ saja. Beberapa kali terhening, kemudian berhenti dan tengok kanan kiri, Nanung bilang, mungkin puncak gunungnya itu yang itu *menunjuk julangan sebelah kanan*, yang kita lihat dari Gedong Songo itu kita pikir puncak dan terlihat paling tinggi karena letaknya dekat. Hehee.. aku masih blum yakin tuh, karena rasanya yang dia tunjuk tadi juga tak setinggi ‘puncak’ di sebelah kiri.

Dia juga bilang ‘Wah, aku gak sempat nyari-nyari peta topografinya’ *klo aku mah emang gak pernah.. uhh mengkhawatirkan*. Mikirnya tadi sih, karena ini gunung wisata, ternyata bikin bingung-resah juga. Walau memang semestinya tidak benar memasuki gunung ‘tak dikenal’ tanpa melihat petanya.

 Dagelan Mataraman

Jalur terbuka bersiram terang benderang sinar bulan itu kemudian menggelap dalam naungan pepohonan. Masih dengan kesunyian yang sama. Gelap, terjal, dan licin. Sedikit melewati akar-akar pohon, dan batu-batu yang bisa runtuh. Ahh tidak semenyeramkan kedengarannya kok. Bukan batu besar yang runtuh. Bebatuan kecil saja, walaupun kalau kena celaka juga Laughing Bebatuan besarnya cukup mantap, terlilit akar pohon dan terkurung tanah basah hingga jadi sangat licin dan melaluinya beberapa kali harus berpegangan pada akar-akar pohon disebelahnya. Jalur ini boleh dibilang gelaaappp banget, dan aku cukup merinding memasukinya. *kebanyakan khayalan aneh kali*. Pohon-pohon besar disebelahnya ada yang berceruk-ceruk hingga menimbulkan ingatan akan Nini Ragarunting yang tinggal di ceruk pohon *Arya Kamandanu banget*. Di puncak terjalan itu, kami berhenti untuk istirahat. Ada tanah datar sedikit lebar, sebelahnya pohon berceruk dan didepannya jalur lembah yang terbuka. Perfect!. Bayangannya kita akan segera menyalakan kompor dan memasak mie, minum energen panas, dan memakan biskuit-biskuit. Apa yang terjadi….

Jreeengnggg…. Itu logistik semua tertinggal ditenda.. wattaww.. gimane seeehhh… kita pikir itu tas besar yang dibawa Dhani telah memuat logistik tersebut.. ternyata hanya berisi 2 botol besar aqua heheeheee… Ah duhh.. pastinya terjadi miscommunication, miss coordination dan miss-miss yang lain dahh.. hingga tuh logistik bisa ketinggal semua. Dagelan tenan.. Hanya satu bungkus biskuit terbawa dan tinggal sebotol minuman menyenangkan (manis dan segar). Oh my God.. itu bayangan makanan panas-panas sriuup berenergi bagai istana pasir ditelan ombak deh.. byuuusss abisss.. celakanya bagiku justru memberi efek psikologis rasa lapar yang menjadi-jadi. :-D.. Payah nih mentalku. Tapi yah kita semua ya cengingisan aja, gimana lagi, salah kita juga tidak saling re-check.

Akhirnya diputuskan lah tidak semua jalan sampai puncak. Aku dan Dhani akan meneruskan jalan, sedang Nanung dan Rina menunggu disitu, secara juga lutut Nanung yang masih cedera. Pada kondisi ini dan sampai di tempat ini pun kami masih belum ngeh apa jalan kita benar menuju puncak atau tersesat, sehingga dengan minimnya perbekalan kita berhitung waktu dan tenaga. Kita sudah naik hampir 3 jam, untuk balik lagi pasti perlu waktu yang hampir sama, hingga diputuskan aku dan Dhani akan berjalan 1 jam, jika belum ada tanda-tanda puncak maka kami akan mengakhiri perjalanan dan kembali. Juga melihat cuaca, jika cuaca menunjukkan tanda-tanda kemuraman kami juga harus segera kembali.

Adzan Subuh telah berkumandang, dan kami bergantian sholat ditempat itu. Wudlu dengan debu pohon ajah, takut dingin banget klo wudlu dengan embun.. *seenaknya banget nggak ya, semoga nggak*. Mengenakan kembali sepatuku yang basah sampai kaos kakinya *hiks dingin, gak enak banget*, kami makan biskuit sekeping-sekeping *irit abiss*, minum beberapa teguk, dan kami mulai kembali berjalan. Jalur ini menurun *udah susah naik eh sekarang turun Laughing ih ga boleh kali ya bilang gini*. Jalan setapak dengan kanan kiri semak tinggi sepinggang, berembun tebal pula. Daerah terbuka ini merupakan lembah dengan kanan kiri punggungan gunung.

Jalan hanya naik sedikit, sebentar kemudian turun dan cenderung datar, datar terus dan semakin menjauhi apa yang kusebut ‘puncak’. Meski telah lepas subuh, punggungan sebelah kanan menghalangi lembah dari semburat sinar matahari hingga suasana tetap redup. Aku minta Dhani nge-set alarm handphone satu jam dari saat ini, jam 6 *saat ini jam 5* untuk memberi batasan kami berjalan. Sampai disini juga tetap sepi, dan makin sepi karena kini kami hanya berdua. Rasanya takut juga eh di hutan sepi gini. Takut ketemu binatang besar, takut ketemu orang jahat, takut lelembut.. hehee.. Untungnya saat ini pagi telah datang hingga alam bayangan tidak ikutan menakuti. Dhani, si anak muda ini, cepat sekali jalannya, ck ck.. enaknya punya fisik muda :-D.


Menuju Puncak

Kami kembali memasuki jajaran selang seling pohon besar setelah melewati semak tadi. Jalan masih saja datar hingga terpikir ‘jika datar terus gini kapan sampai puncaknya’. Seakan makin jauh saja dari tanda puncak, aku berbisik dalam hati ‘ya sudahlah pokoknya jalan aja ampe satu jam’, dan melanjutkan keluar masuk lika-liku. Senter sana sini dan pada satu pohon besaar dengan pelataran agak luas ada tanda penunjuk arah puncak yang sangat meyakinkan. Tanda ini terbuat dari pelat stainless steel tulisan cat biru. Alhamdulillah.. gak salah jalan, dan saat itu aku meringis saja melihat arah anak panah emang menjauhi apa yang sedari tadi aku pikir sebagai ‘puncak’ gunung Ungaran. Ternyata puncaknya ada di belakang sana dan arah kanan dari jalur Gedong Songo ini. Yang dibelakang candi ternyata hanya puncak satu punggungan saja.. hihihiiii.. kurang pengetahuan diriku ini.

 Kami sekarang mantap melangkah. Dari sini jalan memang masih datar dan beberapa kali ada simpangan, hingga cari-cari tanda arah puncak yang ditinggalkan pendaki di batang-batang pohon. Langit telah cerah dan kita masih dalam naungan kanopi pepohonan. Dua kali sudah aku sok tau dan kecele.. pertama, anggapan salah tentang yang mana puncak. Kedua, sekarang ini, sunrise!. Semalam aku bilang Nanung, alaa santai aja, kita pasti dapat sunrise meski blum sampai puncak, toh kita melalui sisi timur gunung.. hehehee.. tau rasa sekarang.. di jam-jam penantian sunrise kita masih di lembahan dan ternyata kita mencapai puncak dari sisi baratnya hingga praktis kehalang si gunung sendiri. =)) Sok tau sihh.

Ya sudahlah, gimana lagi.. lha wong ‘puncak anggapan’ dengan ‘puncak senyatanya’ selisih jauh. kita tetap berjalan saja, dan alarm handphone telah berbunyi saat kami baru beberapa kali berkelok di track menanjak menuju puncak. Dhani mengingatkanku akan alarm itu, tapi kupikir, ahh sebentar tanggung kalii, secara kita telah yakin jalur benar dan cuaca mendukung. ‘Tanggung, jalan terus aja’ kataku, dan kita berjalanlah menanjak. Jalur ini biar menanjak tapi tidak terlalu terjal, jauh, tetap berkelak-kelok menggemaskan.

Terdengar bunyi keresek-keresek.. ape tuhh?.. ternyata satu-dua pendaki turun gunung, ‘wah akhirnya ketemu orang lain juga’, pikirku. Kami tanyakan apa masih jauh jarak ke puncak, mereka bilang ‘ya beberapa kelokan lagi’ sambil nyengir. Sumpee deh.. beberapa kelokan lagi..huhh.. masih berkelok-kelok yang benar mah, hihiii.. *sssst.. nggak boleh kesel*. Kami berjalan saja mengikuti track yang emang jelas banget. Jalur ini hijau banget, tanah gembur humus, dan beberapa kali harus melangkahi pohon tumbang. Jalur melingkar mengitari sebuah punggungan lain yang kini cahaya matahari pagi menyepuh rerumputan dan tetumbuhannya dalam warna emas tebal.

Masuk ke lereng puncak, dan masuk ke teduhan pohon-pohon kurus tinggi dimana dibawahnya banyak kawasan tanah datar.. aihhh banyak tenda-tenda disini.. dan aiihhh.*lagi* sekarang bukan hanya satu-dua pendaki kami jumpai.. tapi buanyak.. asap mengepul-ngepul disana sini, ada yang sedang memasak, bercengkrama pagi, ada juga yang makan-ngopi asyeekk banget nampaknya.. *yang terakhir ini bikin ngeces/ngiler *. Ternyata mereka pada nge-camp di atas. Ternyata di atas banyak tempat luas buat ndiriin tenda. Pantes ga ada yang naik bareng kami dari dini hari tadi. Trus kenapakah yang bergerumbul-gerumbul disana itu.. dibagian yang naik gundukan sedikit.. ahh silau dari sini.. orang hanya terlihat siluet hitam-hitam.. kami berlari bergegas dan ahhaaaa.. tugu itu… ‘401 banteng raiders’. Tugu puncak!.. persis seperti di gambar internet.. Alhamdulillah.. akhirnya kami sampai juga..

Keindahan di ketinggian

Aku tersenyum pada Dhani, diapun demikian.. tak sepatah kata dapat terucap. Kami bersalaman dan menepuk tugu puncak.. beberapa melihat pada kami tapi kebanyakan sibuk sendiri. Menikmati sisa-sisa sunrise. Memotret-motret dengan kamera ataupun handphone, memasak dan makan-makan, bersendau gurau, membereskan tenda, ada pula yang bersiap-siap hendak turun. Puncak gunung ini memang lumayan luas, dua level, dan bisa mendirikan 5 tenda kira-kira atau mungkin lebih. Yah kami memang tertinggal sunrise, itu matahari telah begitu tinggi menyibak habis semua gelap, cahyanya membentuk barisan hexagon yang semakin jauh semakin kecil pada intipan lensa kamera. Aku tak menyia-nyiakan waktu meraup keindahan pagi itu. Bayanganku melihat Merbabu utuh sebadan memang tidak terpenuhi.. lautan mega melingkupi badannya. Namun, bagai dua sisi mata uang tak melihat sisi ‘gunungan wayang’ ya bisa melihat sisi ‘rumah gadang’ (hanya bagi yang tau receh th 80-an :-D).

Tak melihat Merbabu sebadan kami disuguhi lautan mega warna keemasan dengan puncak-puncak gunung yang mengapung-apung di riak-riaknya. Lautan awan putih bermandi cahaya matahari itu yang membuat kami seakan berada di negeri langit dan terpisah tak terlihat dari bawah sana. Di sisi tenggara lautan mega bak menenggelamkan gunung Lawu hingga leher atau bahkan tinggal batas hidungnya.. kupandangi gunung itu lama, kubayangkan adek-adek arek Malang sedang berdiri dipuncaknya, mungkin juga sedang memandang ke arah sini tanpa tahu orang yang ingin menemui mereka di Cemoro Sewu ini sedang berdiri di atasnya.. *hihiii… semoga satu saat kita bertemu dek..*

Menoleh ke selatan tentu tak asing lagi, puncak Merbabu yang terlihat paling besar seperti bersirip puncak Telomoyo dikanan dan Merapi yang mengintip di kiri, bagai ikan biru yang sedang berenang dalam lautan putih. Di sebelah barat terlihat jauh Sumbing-Sindoro yang bak gerbang istana dengan dua tembok menjulangnya. Di sebelah utara, mega-mega belum bergerak kesana, hanya kabut tipis yang menyelubungi, hingga menampakkan hamparan hijau nan indah. Gelombang-gelombang bukitan kebun teh dengan setapak yang membelah-belah hijaunya, gerumbul pepohonan besar di lembahannya, kelompok-kelompok perkampungan kecil di kejauhan, dan rerangka menara pemancar maupun repeater merah-putih berpencaran. Hamparan hijau dengan aksen-aksen warna. Indah sekali..

Entah bagaimanakah menceritakan sensasi angin yang berhembus dan mendesir di dedaunan juga mengelus bulu-bulu halus diwajah kita, menggelitiki pori-pori, dan meresapkan kesegaran ke dalamnya; lautan mega yang tak diam saja, namun bergerak berarak sedikit demi sedikit menaiki bukit; atau matahari yang menaburkan warna berbeda dalam setiap jengkal langkahnya..

Bagaimanakah menceritakan suara-suara satwa yang merayakan kedatangan hari ini atau bahkan suara keheningan itu sendiri. Tak tahu juga bagaimana menceritakan sensasinya saat semuanya menyatu dalam harmoni yang tertangkap oleh keseluruhan sistem indra kita pun dalam waktu bersamaan. Tak mampu kulukiskan aura warna warni yang berpendar-pendar itu. Hatiku berkata, mungkin itulah yang membuat kita ingin mendatangi sendiri suatu tempat, menyesap yang tak mampu terceritakan, dan mendapat pengalaman yang tak pernah akan sama orang per orang dari waktu ke waktu.

“Mbak, kita mau turun jam brapa?” uppst.. pertanyaan Dhani membangunkanku dari keterpesonaan itu dan pikiran yang melayang-layang diatas awan. Sebenarnya aku masih ingin mengkhayalkan seandainya aku menikmati keindahan ini bersama ayah dan ibu. Ingin mengkhayalkan apa yang kan dikatakan dan diwejangkan ayahku, orang yang kukenal mencintai kehidupan dan pernah dengan susah payah menjaga nyala api kehidupannya sendiri; atau apa ungkapan hati ibuku melihat dan merasakan kebesaran-Nya ini; pun mengkhayalkan kebahagiaan yang kan terpancar di wajah mereka. Ahh ayahku.. engkau telah menghadap Dia yang melukis semua keindahan ini. Semoga engkau dilimpahi-Nya rahmat dan kasih sayang.

Dari pangkuan mentari menuju pangkuan ibunda

Masih sedikit berjalan-jalan ke sisi timur yang curaman lerengnya hilang dalam kelabu kabut. Cukup menggetarkan lereng timur ini. Memotret sana-sini, dan bergantian saling memotret dengan tim-tim lain hingga aku bisa berpotret bareng Dhani di tugu puncak yang saat itu digunakan untuk menjemur jaket. (halahh.. tulisan banteng raiders-nya jadi ketutup deh, jadi kayak poto di depan jemuran neh.. heheee.. tak apalah). Kami pun kemudian berpamitan dengan mereka yang masih ingin berlama-lama di puncak itu. Bersalam-salaman dan beranjak bergerak turun.

Berjalan cepat dan setengah berlari kami menyusuri kembali jalan-jalan darimana kami tadi berasal. Susul menyusul dengan remaja-remaja yang saat itu juga telah mulai berjalan turun. Pada pagi ini dapatlah kami lihat apa yang semalam seperti hanya variasi warna gelap saja. Semak hijau yang tebal tinggi, pohon-pohon aneka bentuk, punggungan-tebing tinggi dengan ilalang bunga putih yang mencuat bertebaran, dan hamparan lembah dan jurang. Sampai di ceruk pohon itu tak lagi kami temui Nanung-Rina, hanya bekas api unggun mereka yang tersisa. Pasti mereka sudah pelan-pelan berjalan turun.

Kami berlarian kembali dan akhirnya menemukan pasangan itu sedang bernarsis ria di gigir jurang berilalang dimana tempatnya terbuka dan mendapat pemandangan indah ke arah Merbabu. “Aku tau kalian sampai puncak dari pendaki yang turun. Uadeem banget disana tadi, jadi aku jalan kesini sambil sekedar menikmati sunrise” kata Nanung melihat kami datang. “hehee iyah tanggung udah deket puncak, ya sekalian aja kesana.. wah.. lha aku malah ga dapat sunrise :-D” kataku sambil nyengir mengingat ketakaburan bisa melihat sunrise di posisi manapun semalam. Hueheheee.

Lalu ikutan bernarsis, dan kemudian beranjak turun.. terus saja menyusuri gigir jurang melewati pinus-pinus dan cemara gunung dan kemudian menuruni terjalan di awalan jalur untuk kemudian kembali ke perkemahan. Joshua sudah menunggu disana. Seperti menyusur lorong waktu kami melakukan kembali hal-hal kemarin berkebalikan. Lapar yang telah ditahan sejak dini hari tadi sedikit terobati disini. Memasak teh, kopi, mie, makan bekal yang ketinggalan semalam, dan membeli gorengan di warung sebelah *mencari mbok-mbok ider makanan tadi sudah tidak ada*. Bersantai sambil packing, kemudian menuruni kawasan Candi Gedong Songo yang hari Minggu itu telah ramai oleh pengunjung.

Menuju pelataran parkir dan mendapati kembali mobil sayur yang telah menunggu. Jalanan ramai sekali di dua jalur, bahkan mobil menggerum-gerum mempertahankan posisi karna jalan menanjak namun macet. Bau bensin dan kopling yang sengak mengotori udara sekitar. “Pak.. ayo donk Pak..” begitu berkali-kali kami mengajak pak sopir segera jalan. Pak sopir masih saja mencari-cari tambahan satu dua penumpang, padahal rasanya sudah penuh nih muatan. Tarif mobil sayur tetap sama dua ribuan sampai pertigaan Palbapang.

Bersama rombongan pendaki lain yang turun akhirnya kami sampai kembali ke warung yang sama, dan disini bisa makan sepuasnya.. memuaskan hasrat pada nasi.. nasi.. belon berasa makan klo blon makan nasi.. halahh. Minum teh manis, gorengan dan kerupuk. Kemudian naik minibus (colt) ke pertigaan Bandungan. Menengok dari kaca mobil, menatapi gunung tempat kita berdiri beberapa jam lalu, seakan tatapan selamat tinggal sampai jumpa untuknya yang tak mampu berkata.

Matahari telah mulai mencondongkan bayangan pohon ke timur saat kami naik bus Jogja-Semarang meninggalkan pertigaan itu. Menuju kembali ke jogja dalam bus yang penuh dan penumpang duduk yang terkantuk-kantuk pada suasana siang yang layu. Sebagian kami tak mendapat tempat duduk. Bagaimana lagi. Sedari tadi bus penuh-penuh melulu. Setelah dijalan saja baru kami satu per satu mendapat duduk namun berpencaran. Sampai di pasar Sleman aku turun duluan, mengucap terima kasih dan selamat tinggal pada teman-teman jalanku ini dengan harapan satu saat bisa berjalan bersama kembali..

Menggendong ransel besar itu aku menyeberangi jalan Jogja-Magelang untuk mendapatkan ojek yang kan membawaku ke rumah. Telah sore saat aku kembali melihat taman bunga ibuku di halaman depan, dan berjalan jinjit membuka pintu masuk halaman tengah untuk iseng mengagetkan ibuku yang sedang mengiris-iris bawang disana.. “Weihhh.. Alhamdulillah wis tekan omah” sambutnya riang memelukku.. ya.. Alhamdulillah telah dapat menuntaskan penasaranku pada ketinggian 2050 mdpl itu.. dan Alhamdulillah telah selamat sampai kembali di rumah mendapati senyum ibu dan ponakan-ponakanku..

Pokok pohon kelapa yang mengintip melewati atap rumah sisi daun-daunnya telah memerah. Angin sepoi menyisir helaiannya menggemerisik lirih. Sekali lagi aku seruput pelan teh mengepul beraroma melati itu dikursi bambu halaman tengah. Bersandar melepas lelah. Berpikir dan berharap semoga sahabat-sahabatku tadipun telah sampai di rumah dan menikmati rembang petang yang indah ini dalam kenangan hijau biru gunung Ungaran..

Ringkasan

Gn Ungaran 2050 mdpl
Bandungan, Jawa Tengah
7-8 Juli 2007
Jalur Candi Gedong Songo
Ami, Nanung, Rina, Dhani, Joshua.

Segala Puji bagi Allah swt atas perlindungan dan karunia-Nya selama perjalanan ini dan alam permai di sepanjang jalurnya.

Ucapan terima kasih kepada:
- Ibu, atas ijinnya untuk wisata ini, maaf jadi hanya mampir saja di jogja, maaf juga aku kelupaan membawa kabel penghubung hingga foto puncak Ungaran pesananmu tak bisa dilihat di televisi, sedang engkau tak permono lagi melihatnya di display kamera yang hanya beberapa inchi.
- Teman seperjalanan: Nanung, Rina, Dhani, Joshua. Tanpa kalian bagaimana aku bisa sampai kesana. Luv u guys..
- Para penunjuk jalan, sopir & kernet, ibu warung, temen-temen semobil sayur, temen-temen di puncak.. semua berada di tempatnya tepat pada waktunya.. dan tepat pada waktu itu kita saling membutuhkan.. terima kasihh..

Ringkasan transportasi
- Start: Terminal Jombor, Jogja
- Ke pertigaan Bandungan, Ambarawa: Bus Jogja - Semarang, Rp 12.000,-
- Pertigaan Bandungan – Palbapang/Plang Candi Gedong Songo: Colt bandungan Rp 3.000 - 3.500,-
- Palbapang – Pelataran Parkir Candi: Mobil sayur bak terbuka Rp 2.000,-

Catatan Logistik:
Sumber air terakhir: Candi Gedong Songo, setelah itu tidak ada air sampai puncak sehingga persediaan air harus diperhitungkan jika hendak camping di puncak.

Lama pendakian:
Naik: +/- 4 jam
Turun: +/- 3 jam

Photo lengkapnya di :

http://aamii.multiply.com/photos/album/29/Gn._Ungaran_2050_menuntaskan_penasaran_

Tagged as: , , ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.