Saat Perjalanan Itu…

Custom Search

By admin • Sep 5th, 2007 • Category: Wisata
Bookmark and Share

 Penulis Catper ini mendapatkan sebuah buku Shambala : The Road Less Travelled in Western Tibet dari Moderator/Owner Indobackpacker. Selamat ya.

Pagi pun tiba, saatnya kami menanjak dan melihat serpihan-serpihan dari tragedi gunung merapi, setapak demi setapak kami berjalan, dan terlihat ada panah jalan menuju juru kunci gunung merapi mbah Marijan, kami pun melewati rumahnya. Akhirnya kami tiba di tempat gunung berapi, indahnya, apalagi pas saat matahari terbit, showtime untuk berfoto2 mengabadikan moment yang sangat indah saat itu.


Aku adalah Amanda, sudah lama aku menjadi milist indobackpacker, namun baru sempat mengikuti perjalanan backpacker, ketika  melihat acara fun gathering ke jogja dengan trip yang sangat menarik di milist, tidak berfikir panjang lagi untuk langsung mendaftar. Ternyata benar, perjalanan dari Jakarta ke Jogja menggunakan bis yang telah disewa oleh teman-teman, menyenangkan, backpacker dari Jakarta, berkenalan dan bertanya-tanya tentang pekerjaan serta bagaimana keseharian teman2 lainnya adalah bahan obrolan kami sepanjang perjalanan menuju Jogja. Perjalanan pun tidak terasa karena kami berangkat pukul 20.00 dari Jakarta.

    Sesampai di lokasi pertama yaitu di Desa Blondo, Yogyakarta, sekitar pukul 10.30 wib, untuk mengikuti rafting, adalah hal yang paling menyenangkan, apalagi bertemu dengan teman backpacker dari Jogja. Mereka sangat ramah dan bersahabat, rafting 1 boat berlima. Tambah menyenangkan karena aku baru pertama kali ikut rafting, arusnya pun aman untuk pemula, arus demi arus kami lalui bersama, ketegangan, kegembiraan bercampur aduk. Dalam rafting menyusuri sungai-sungai, betapa takjub dan terpukaunya aku melihat penduduk yang sedang menyuci, mandi dan keceriaan anak-anak bermain di sungai. Dengan bebasnya mereka bertelanjang badan, hati dan fikiran mereka lepas, takjubku terpancar saat aku melihat seorang kakek menyuci baju di atas batu, dengan cucian yang sangat banyak dan dengan bertelanjang badan, aku mulai berfikir, baju siapakah itu? mengapa tidak ada keluarga yang membantunya? mengapa ia begitu terlihat senang saat menyuci baju2 yang bertumpuk itu?, mengapa ia focus dengan cucian itu tanpa menggubris orang2 yang lewat di sungai itu?…Pertanyaan itu masih tersimpan di benakku dan tak pernah tau jawabnya, dan aku pun masih ingat wajah kakek itu, karena ia tersenyum saat menyuci. Fikiranku, khayalanku, dan imajinasiku terperanjab dan kembali normal kembali saat aku ingat aku kini sedang mengikuti rafting, dan aku berada di jogja.

    Kami pun akhirnya tiba di finish lalu mandi dan melanjutkan makan siang sekaligus sore. Setelah beres semua, teman-teman dari jogja dan Jakarta bergabung untuk melanjutkan perjalanan ke kaliurang, kami akan melakukan trakking ke tempat penginapan yaitu di rumah penduduk setempat di bukit gunung merapi yaitu di kinahrejo. Perjalanan trakking memasuki hutan dan akhirnya tiba di kinahrejo pukul 18.30. Setelah tiba aku sama sekali tidak tahu ini ruma siapa, dan ini dimana. Karena sesampai di rumah penduduk telah malam, dan sesuai jadwal kami akan tinggal di rumah penduduk. Di dapur Simbok sedang menyiapkan makan malam untuk kami, dengan memasak ala pedesaan dengan memakai kayu bakar dan pelaratan dapur seadanya. Sambil menunggu makan malam dan teman2 yang sedang mandi serta ganti pakaian, aku melihat foto-foto seorang laki-laki tua dalam upacara ritual, sampai melihat foto itu pun aku belum tahu ini rumah siapa, terdengar suara mas Andi berteriak, “kalo ingin mandi di tempat mbah marijan aja karena kamar mandinya banyak”, aku masih berfikir mas andi bercanda, tidak mungkin sampai sejauh ini aku melangkah, ke tempat mbah marijan salah satu juru kunci gunung merapi, aku pun masih menganggap nya bercanda dan tidak menganggapnya serius dan aku pun melanjutkan membantu simbok di dapur dengan bahasa jawanya yang kental dan aku pun tidak mengerti bahasanya.


    Pukul 19.00, tiba saat yang ditunggu-tunggu oleh teman-teman yaitu makan malam di rumah depan, sajian makanan telah tersaji. 
    Saat itulah mas Andi menceritakan rumah siapakah ini yang di pakai untuk menginap, dari cerita mas Andi, aku sampai tidak percaya, aku tinggal di rumah mbah Pujo salah satu abdi dalem kunci gunung Merapi mbah Marijan, dan mas Andi pun menceritakan semuanya, sejarah gunung merapi dan tempat tinggal mbah Marijan. Aku seperti mimpi, rasanya aku ingin bilang kepada seluruh dunia, aku tinggal di salah satu rumah orang terpenting di Jogjakarta, di salah satu rumah orang paling terkenal hingga ujung dunia, karena gunung merapinya. Aku sangat senang, ternyata teriakan mas andi benar-benar nyata, dan salah satu temanku dari Jakarta sempat mandi di rumah mbah Marijan, dan bertemu dengan beliau.

    Setelah cerita-cerita dan bertanya-tanya dengan mbah Pujo, kami pun melanjutkan dengan makan malam yang telah disajikan simbok yaitu istri dari mbah Pujo, aku telah berfikir makanannya pasti khas jawa, yang manis-manis, tapi aku terkejut saat makanan yang sebagian ditutup oleh daun pisang dibuka, ada ayam goreng, tahu, tempe, sambal yang sangat mantap serta lalapan. Lalu aku mencobanya, wahhhhhh enak banget, sangat enak dan mantap. Rasa ayam gorengnya ga terlalu manis, tahu tempenya enak banget lalu sambal dan lalapannya nendang abis, dengan memakai daun pisang sebagai pengganti piring. Aku merasa seperti tidak tinggal di jogja, dan aku merasa nyaman. Setelah makan malam yang nikmat, kami pun langsung bersih2 dan tidur memakai sleeping bag yang baru aku beli, di salah satu toko yang diberihu oleh ditta. Maklum ini adalah pertama kalinya aku memakai sleeping bag, ribet, tidak bisa menarik resleting sendiri dan ukhhhhh….nikmat sekali dan nyaman, dengan suhu udara yang sangat dingin karena berada di kaki bukit, namun tidur kami pulas dan nikmat. Teman2 dari jogja memberi tahu bahwa besok paginya kami akan melihat gunung merapi dari dekat di kaliadem, dan melihat puing-puing serta saksi-saksi bisu dari kejadian meletusnya gunung merapi.
 
Pagi pun tiba, saatnya kami menanjak dan melihat serpihan-serpihan dari tragedi gunung merapi, setapak demi setapak kami berjalan, dan terlihat ada panah jalan menuju juru kunci gunung merapi mbah marijan, kami pun melewati rumahnya. Akhirnya kami tiba di tempat gunung berapi, indahnya, apalagi pas saat matahari terbit, showtime untuk berfoto2 mengabadikan moment yang sangat indah saat itu. Takjub saat melihat gunung yang sangat indah itu, seram saat merasakan bila kita berada di posisi saat gunung merapi meletus

          
    Saksi-saksi bisu pun Nampak masih gagah berdiri, walau ia terlihat hangus dan kering, entah berapa tahun lagi ia sanggup untuk berdiri, sebuah pohon tanpa daun, sepertinya ia ingin bercerita pada kita semua, bahwa dasyatnya kejadian saat itu, kejadian yang membuat semua orang ketakutan, kejadian yang membuat sebagian orang mengungsi dan kejadian yang membuat orang terluka. Yah kejadian meletusnya gunung merapi pada tahun lalu.

 

 

    Kami pun tidak terlalu lama di sana setelah selesai mengambil foto dan menikmati suasana alamnya, kami segera kembali ke rumah mbah Pujo. Saat perjalanan kembali ke tempat mbah Pujo, dan saat melewati rumah mbah Marijan kembali, kami tidak menyangka bertemu dengan beliau, sapaan khas jawa yang ramah dan penuh toto kromo ia ucapkan pada kami, saat itu aku pun spontan untuk memfotonya namun ia bergegas lari, kata mas heru ia tidak suka di foto. Lucu sekali mbah Marijan itu, namun aku sudah puas dapat bertemu dengan beliau, walau hanya sesaat.

    Tiba di rumah mbah Pujo, kami telah disiapkan sarapan pagi, terkejut lagi dengan sajian masakan yang disajikan, nasi goreng yang sangat enak dan telur dadar, serta lalapan yang nikmat. Wah serasa ada di rumah, semua masakan yang disajikan tidak manis dan sangat luar biasa. Setelah makan kami pun bersiap untuk berpamitan, tawa, suka dan keceriaan telah kami lalui bersama di rumah mbah pujo, dan hal itu tak akan pernah kami lupakan. Saat teman2 sedang membereskan barang di dalam bis, aku pun turun kembali dari bis untuk berpamitan sekali lagi pada mbah pujo, air mataku tak sengaja tertetes, dan mbah pujo pun memberi nasehat padaku memakai bahasa jawa halus, walau aku tidak tahu artinya, namun aku tahu nasehat itu pasti yang terbaik untuk kami. Dan aku memberi kartu nama padanya, dan dia tidak membacanya malah membalik2 kartu namaku dan dia bilang dia tidak bisa baca, ketakjuban yang sangat luar biasa dalam diriku, ia seorang yang hebat namun buta huruf. Sungguh Tuhan Maha Besar. Kami pun akhirnya meninggalkan lokasi dan siap menuju petualangan berikutnya. Sesaat setelah meninggalkan lokasi kaliurang, suasana dalam bis terdengar sepi, mungkin teman2 kelelahan dan sedang menikmati tidur mungilnya.

    Sesampai kami di lokasi caving, teman2 jogja yang telah survey lokasi memberi tahu bahwa wanita yang sedang datang bulan alias sedang mens, tidak boleh masuk ke dalam goa, akhirnya sebagian peserta ada yang tidak ikut. Sebelum masuk gua kami pun di briefing dahulu mengenai kondisi goa, dan larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar. Setelah sampai di bibir goa, lumayan seram, dengan wangi bunga 7 rupa dan kemeyan, membuat aku jadi sedikit takut. Namun ada guide yang memberi tahu jalan dan sejarah goa crème ini. Belum sampai di tengah perjalanan di dalam goa, kami pun telah di buat takjub oleh batu-batuan dari tetesan air, serta tempat bersemedi orang2 dari luar jogja yang ingin mendapatkan wangsit. Jalanan goa yang berbatu serta air yang mengalir, serta mata air yang jernih membuat ketakjuban aku semakin meningkat, khayalanku mulai bercerita saat aku melihat goa yang buntu, yang tidak boleh kami lewati, lalu tempat bertemu dan rapat para wali songo, serta air kehidupan yang dapat membuat awet muda.   

 
    Semuanya terlihat jelas disamping pemandangan batu yang dijadikan arah kiblat serta perjalanan yang harus menunduk dan jongkok, serta air yang tinggi hingga dada dan lumayan dingin.
Perjalanan di dalam goa pun memakan waktu kurang lebih 2 jam, berjalan tanpa henti dan lumayan penuh rintangan. Cahaya, cahaya menuju jalan keluar telah terlihat. Hanya satu kata Alhamdulillah, akhirnya kami berhasil keluar dari gua dengan selamat. Kami pun harus berjalan kami untuk ke tempat awal kami datang dengan melewati hutan dan tanjakan berbatu. Sesampainya kami di bis dan bertemu dengan teman2 yang tidak ikut ke gua, kami langsung makan siang yang telah disediakan teman2 dari jogja, nasi bungkus pakai ayam goreng, sayuran serta bumbu kare sebagai kuahnya.
Tiba saatnya untuk berpamitan dengan teman2 jogja, karena kami harus kembali ke Jakarta. Berfoto untuk kenang-kenangan serta berpelukan dan bertukar no handphone agar kami bisa saling kontak.

    Terhening sejenak dalam bis mungkin kami masih terpikir perjalanan backpacker kami di jogja, hal yang tidak dapat terlupakan seumur hidupku. Benar-benar fun ghatering, menyenangkan sekali. Mbah pujo, teman-teman dari jogja, guide goa crème, teman-teman dari Jakarta, serta pa supir dan kenek bis yang setia mengantarkan kami pulang pergi Jakarta-jogja-jakarta, terima kasi untuk kalian semua. Saat perajalanan itu berakhir dan kami kembali untuk bekerja, di dalam benakku dan di dalam hatiku, u always in my mind…

Baru pertama kali ikut backpacker dan merasakan indahnya kehidupan ini serta tidak sabar untuk melakukan perjalanan backpacker lagi.

     
   

                               

admin is
Email this author | All posts by admin

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.