Mabuhay Manila

Custom Search

By Erwin • Oct 2nd, 2007 • Category: Mancanegara, Wisata

 Manila, sebagai kota metropolitan gak jauh beda dengan Jakarta. Polusi,kemacetan, gelandangan, kriminalitas dan masalah sosial lainnya adalah cermin sebuah kota besar di negara berkembang pada umumnya. Suatu waktu saya naik bus antar kota, di dalam bus seorang gadis kecil membagi-bagikan sebungkus manisan ke setiap penumpang, saya pikir ini snack gratisan untuk penumpang, tapi dibungkus manisan itu menempel kertas yang isinya permohonan kepada penumpang untuk membeli manisan itu untuk membantu membiayai hidup si gadis kecil yang putus sekolah.
Setiap lewat kantor-kantor pengerah tenaga kerja, saya selalu menyaksikan antrian panjang orang-orang yang membawa map lamaran kerja, berharap bisa diterima kerja di luar negeri. Maklum, Filipina juga bersaing dengan negara kita dalam hal ekspor tenaga kerja.

Beberapa kali membaca review dari internet tentang perjalanan para backpackers, banyak menyinggung soal kriminalitas yang legendaris di kota Manila. Mungkin karena tingginya tingkat kriminalitas, satpam-satpam setingkat minimarket pun punya pistol di pinggang. Tapi setiap tempat yang berbeda, pasti menarik untuk diamati.

>> Jeepney Kreatif


Setelah perang dunia II, Amerika Serikat yang memiliki pangkalan militer di Filipina punya kelebihan stok mobil Jeep. Kendaraan ini tidak lantas jadi besi rongsokan yang siap dipretelin oleh para pemulung. Daripada nggak kepakai, dijadikanlah angkutan umum. Rangka body dilapis alumunium, chasis dibuat lebih panjang, bodynya di cat warna-warni, di kasih tulisan dan gambar macam-macam.

Jeepney sudah jadi media ungkapan kreatifitas Pinoy (orang Filipina). Di jalan raya, Jeepney jadi raja jalanan. Di kemacetan, di lampu merah, di daerah pedalaman, Jeepney mendominasi. Di Manila, Jeepney salah satu angkutan umum 24 jam. Saya coba naik Jeepney beberapa kali. Pintu keluar-masuk penumpang ada di bagian belakang, seperti naik opelet. Kapasitas penumpang bisa mencapai 20 orang tetapi terasa lebih lega dibanding opelet. Walau tanpa kernet, supir gak perlu repot-repot untuk narik ongkos.

Begitu naik, penumpang saling oper uang. Begitu juga supir, oper uang kembalian lewat penumpang yang duduk dibelakangnya.
Walaupun jumlah Jeepney sangat banyak, saya belum pernah lihat para supir ugal-ugalan di jalan. Tapi saya juga pernah sih hampir diserempet Jeepney gara-gara jalanan padat banget dan supir-supir berusaha keluar dari kemacetan. Kemungkinan para supir Jeepney takut dilaporkan oleh penumpang atau pemilik kendaraan lainnya kalau mereka ugal-ugalan. Di bagian belakang semua angkutan umum di Filipina tertulis “How’s my driving ?“ lengkap dengan nomer telepon untuk melaporkan kelakuan supir di jalanan.

>> Sunset Manila Bay

Roxas Boulevard adalah salah satu jalan protokol di Manila City. Letaknya sangat strategis, di pinggir teluk (Manila Bay). Di sepanjang jalan yang ukurannya lebih sempit daripada Jalan MH. Thamrin ini berdiri gedung-gedung penting seperti kantor pemerintahan, hotel jaringan internasional, juga kedutaan Amerika Serikat yang tampak dijaga ketat oleh tentara.
Seperti jalan protokol pada umumnya, lalu lintas kendaraan sangat padat, apalagi di jam-jam sibuk. Semua jenis kendaraan bebas lewat di sini. Di kemacetan lampu merah, saya melihat Delman ada dalam antrian kemacetan. Saat lampu berganti hijau, kendaraan di depannya mulai bergerak dan memacu kecepatan. Delman tetap diam gak bergerak. Ternyata kudanya lagi kencing. Kendaraan lain yang ada dibelakangnya dengan sabar menunggu. Polisi yang berdiri tidak jauh dari delman itu malah buang muka sambil tutup hidung.
Sebagai ruang publik, Manila bay tempat yang nyaman buat menghabiskan waktu di sore hari. Di Pedestrian area berseliweran orang-orang yang sedang jogging, bersepeda, bersepatu roda, atau bisa juga sekedar santai di Kafe-kafe tenda sambil menghadap ke arah teluk, menyaksikan matahari tenggelam. Kafe-kafe itu ada yang menggelar “Live Music“ selepas senja.

Suasana sore itu sangat meriah. Sambil sesekali melihat sunset ke arah teluk, saya menyaksikan penampilan penari dan band-band lokal di panggung hiburan di seberang jalan yang digelar untuk menyambut kemenangan Manny Pacquiao, seorang petinju Filipina yang baru memperoleh gelar juara dunia kelas bulu di Las Vegas.

>> “Misteri” Kuburan China Kaya di Manila

Kalau soal ukuran, makam orang China pada umumnya lebih banyak memakan lahan dibanding non-China. Gimana nggak ? hartanya aja ikutan di kubur. Kuburan para keturunan China kaya di Manila konon tercatat dalam “Ripley’s Believe it or Not”. Ini yang membuat saya jadi penasaran. Dalam buku LP disebutkan, lokasi ini dekat dengan stasiun LRT (kereta layang) Abad Santos. Tapi dalam peta yang menempel di dalam gerbong LRT menunjuk stasiun R Papa adalah yang terdekat. Sementara petugas di loket tiket LRT yang saya tanyai bilang bahwa saya harus turun di stasiun Bluementritt. Informasi yang bikin bingung dan mengecoh, akhirnya saya ikuti saja petunjuk yang ada di dalam gerbong dan saya turun di R Papa.



Kelihatannya tidak salah, sebab beberapa ratus meter setelah keluar dari stasiun, saya melihat 2 pintu gerbang masuk pemakaman dalam keadaan terkunci. Sementara dinding tembok setinggi 3 meter mengelilingi komplek pemakaman itu. Saya coba mengelilingi komplek makam dari luar untuk mencari pintu lain dengan harapan ada yang terbuka, tapi hasilnya nihil.

Sebagai gambaran, sebagain besar makam orang china yang ada di sini lebih mirip dengan rumah-rumah yang ada di kompleks perumahan elit. Ada yang berbentuk Eropa, China, sampai Art Deco. Beberapa dilengkapi dengan AC, perabotan elektronik, kamar tidur, dan bahkan kotak pos di atas pagar “rumah“. Tapi jangan salah, di dalam “Rumah“ itu adalah kuburan. Keluarga pemilik membangun kemewahan itu untuk keperluan saat ziarah. Ahhh…..sayangnya, sampai sekarang tetap jadi ’misteri’ karena saya cuma bisa melihatnya dari atas stasiun LRT.

>> Quiapo; DVD bajakan dan Komunitas Muslim

Quiapo mengingatkan saya pada pusat perdagangan Tanah Abang untuk soal kesemrawutan dan kemacetan, Pasar Baru Jakarta untuk soal kulakan perlengkapan fotografi, dan Glodok untuk soal DVD/VCD bajakan. Semua itu campur jadi satu di Distrik Quiapo.
Begitu turun dari LRT, di depan mata sudah kelihatan kios-kios yang menjual DVD bajakan karena pintu keluar Stasiun LRT Quiapo langsung terhubung dengan lantai 2 sebuah pusat perdagangan. Tidak jauh dari stasiun, suasananya lebih semrawut lagi. Pedagang kaki lima menggelar lapak di depan deretan kios-kios. Pejalan kaki cuma diberi sedikit ruang gerak. Di tengah-tengah pasar, berdiri gereja tua yang penuh jemaatnya. Dari tulisan yang tercetak di atas batu persegi di depan gereja, kelihatannya itu gereja bersejarah. Sebenarnya, aroma muslim sudah terasa sewaktu saya keluar dari stasiun Quiapo. Banyak wanita pedagang kaki lima yang pakai jilbab, kaum laki-lakinya berpeci dan berjanggut.

Di jalan Globo de Oro yang berseberangan jalan, ada sebuah Mesjid besar yang disebut Golden Mosque karena kubahnya berwarna kuning emas, tapi sudah kusam kehitaman. Menurut info, Mesjid agung ini pernah dipugar oleh Imelda Marcos untuk menyambut kedatangan pemimpin Libya, Moamar Khadaffi. Di gerbang mesjid ada peringatan bagi turis non muslim untuk berpakaian sopan kalau ingin masuk dan memotret bagian dalamnya. Jemaah yang hendak sholat akan dikerubungi anak-anak kecil yang berebut menjaga sandal atau sepatu jemaah dengan imbalan uang. Ironisnya, penjual DVD/VCD porno atau bajakan terang-terangan menggelar dagangan di sekitar mesjid.
Kedai-kedai yang menjual masakan halal juga gampang ditemui di sini. Bagi saya, masakan Pinoy rasanya terlalu asin di lidah. Penduduk Filipina yang beragama muslim hanya sekitar 5 % dan kebanyakan berada di Filipina Selatan, tapi komunitas muslim yang tinggal di sekitar mesjid ini adalah kaum minoritas di Manila.

>> Misunderstanding Tagalog

Beberapa kali saya mengalami salah pengertian soal bahasa. Wajah melayu yang mempunyai kemiripan dengan Pinoy, membuat kita merasa lebih nyaman karena dikira bukan turis. Sewaktu jalan di Rizal Park, udara panas siang itu bikin saya kehausan. Kerongkongan yang lagi kering ini pengen banget dibasahi pakai ‘Buco’, minuman segar dari air kelapa yang banyak dijual di warung-warung pinggir jalan. Dengan yakinnya, saya langsung membayar 5 peso untuk segelas minuman itu. Si penjual ngomong bahasa Tagalog yang kalau gak salah dengar “Trece”. Saya cuma berpikir, pasti kurang 5 peso dan langsung saya tambah uang receh. Lagi-lagi si penjualnya ngomong bahasa yang sama. Daripada salah lagi, “How much ?”, tanya saya. “Thirty Peso”, kata si penjual.


Di stasiun LRT, saya pernah diteriaki oleh security. Kereta lagi penuh-penuhnya, sewaktu mau naik ke gerbong paling depan yang tampak lengang, belum sempat kaki melangkah masuk, seorang security teriak-teriak kearah saya. Tentu pakai bahasa Tagalog yang saya nggak ngerti artinya. Saya jadi ragu-ragu untuk naik. Setelah saya mengira-ngira maksudnya dan melihat keadaan sekitarnya, ternyata gerbong terdepan yang akan saya naiki itu khusus untuk wanita dan anak-anak. Pantas aja 3 gerbong lainnya penuh sesak terisi penumpang campuran laki-laki dan perempuan. Hampir aja kalau saya paksakan naik, saya jadi “pangeran” di gerbong itu.

Saat jam pulang kantor, angkutan umum di kota Manila dijubeli penumpang. Tidak terkecuali dengan LRT. Angkutan massal yang punya rel dalam tanah dan jalan layang ini selain bebas macet, juga paling cepat sampai di tujuan. Penumpang LRT yang mau beli tiket, harus sabar sambil merayap mulai dari tangga di lantai dasar sampai ke dalam stasiun di lantai atas. Antriannya jadi terasa semakin lama, karena setiap barang bawaan penumpang harus diperiksa oleh security. Kini giliran saya, seorang security menunjuk ke buku yang ada di atas meja sambil ngomong bahasa Tagalog. Saya langsung aja membuka buku yang ada di atas meja itu. Saya pikir harus isi buku tamu. Buku itu saya bolak-balik, tapi kelihatannya bukan buku tamu, hanya sebuah buku catatan security yang saya nggak ngerti artinya.
Security mengulangi lagi ucapan-ucapannya dalam bahasa Tagalog. “I’m tourist,” kata saya. “Yeah, please put your backpack on the table, so I can inspect it,” kata securitynya. Lagian, kenapa nunjuknya ke atas buku yaa….

>> Malate & Ermita; Backpackers Haven

Cari penginapan murah diantara hotel-hotel berbintang bukan masalah di Manila. Distrik Malate dan Ermita yang mentereng, letaknya saling berdekatan, dan satu sama lain hanya terpisah jalan. Untuk kelas backpacker, kebanyakan punya label “Pensionne“ yang rata-rata berupa bangunan tua. Cari makanan halal, perlu sedikit lebih jeli, maklum, kebanyakan makanan yang dijual mengandung ’pork’. Di dekat jalan M.H Del Pilar, ada beberapa restoran halal yang ditandai dengan tulisan Arab di depannya. Juga satu masjid kecil ber-AC persis di depan Pizza Hut. Kalau pingin makan di resto franchise seperti Mc D atau cari ATM, ada di gedung Robinson Mall di jalan Adriatico, di seberangnya juga ada biro perjalanan & money changer. Minimarket seperti 7-eleven juga ada beberapa.

 Distrik ini dilewati angkutan Jeepney ke beberapa jurusan. Mau ke luar yang lebih jauh, ada Stasiun LRT. Mau rekreasi, tinggal jalan kaki ke Manila Bay, Rizal Park, atau ke Intramuros (kota di dalam benteng) yang kondang itu.
Lepas senja, suasana di kawasan ini baru kelihatan aslinya. Gemerlap lampu warna-warni mulai nyala. Kafe pinggir jalan mulai menggelar kursi dan meja di seperempat badan jalan. Bar, diskotik, dan panti pijat mulai ramai pengunjung. Suara keras dentuman musik di kafe-kafe, keluar lewat speaker besar yang sengaja diletakkan di trotoar.

Cewek-cewek berpakaian ketat dan seksi mejeng di depan klub-klub malam menanti tamu. Ternyata kawasan ini juga menjadi “Red-light district“ nya Manila. Tapi gak semua hotel/hostel yang ada di kawasan ini ikut andil menyukseskan bisnis maksiat. Di salah satu guest house tempat saya menginap, si pemilik sudah mewanti-wanti para penghuni dengan peringatan ”No Sex Tourism Here” di papan pengumuman. Tapi siapa sih, yang bisa ngawasin kegiatan di dalam kamar ?

>> Balut si Obat Kuat

Tau obat kuatnya orang Filipina ? Namanya ’Balut’. Telur bebek rebus yang di dalamnya udah ada embrionya ini di makan setelah di kasih bumbu cair yang warnanya putih seperti susu. Telur dipecah sedikit diujungnya, dituangkan sedikit cairan perasa, barulah di sedot. Dimana-mana gampang ditemukan. Anak-anak remaja atau orang Dewasa kelihatan nikmat sekali menyantap telur amis ini. Mereka percaya, Balut bisa menambah vitalitas. Kalo saya sih, geli aja ngeliat mereka makan telur yang ada embrionya.

*) Photos of Chinese Cemeteries is taken from www.pinoytravelblog.com/

Tagged as: , , , , ,

Erwin is
Email this author | All posts by Erwin

One Response »

  1. Saya sempet sekolah dan kerja di Philippines. Baca kisah petualangan ini bikin saya senyum-senyum. Jadi nostalgia. Terutama Balut…

    “iiihh, ga banget deh!”"

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.