Melewati Equator Sumatra ke Rumah HAMKA
By sunaryo • Oct 2nd, 2007 • Category: Budaya / Cultural, Indonesia
Daerah Riau, Sumatra terkenal sebagai daerah yang kaya sumber alam. Bahkan ada sebutan kalau daerah Riau di bawah tanah mengandung minyak, yaitu minyak bumi dan di atas tanah juga mengandung minyak yaitu minyak kelapa sawit. Dalam suatu kesempatan ke daerah Riau, saya terobos Pulau Sumatra dari pantai Timur, Dumai sampai pantai Barat, Padang dengan perjalanan darat memotong garis equatornya. Melintasi 2 propinsi, Riau dan Sumatra Barat. Saya sempatkan mampir di Bukittinggi, melihat rumah kelahiran Hatta dan bermalam di Maninjau, melihat rumah HAMKA. Berikut adalah catatan-catatan selintas saya.
Dumai
Pertama menginjakkan kaki di Dumai, saya langsung ingat “kampung” saya, Bontang. Rasanya nggak beda jauh. Bandara yang kecil dan sepi. Hanya ada pesawat-pesawat kecil Pelita Air dan sekelilingnya hutan. Ruang tunggu bandara 2 lantai, sudah ada kafe dan transportasi darat komersialnya alias taksi. Yang khusus adalah jalan-jalan di Dumai dihiasi dengan pipa-pipa panjang di kiri-kanan jalan milik PT Caltex Pasific Indonesia. Dumai memang bukan daerah wisata, tetapi daerah industri di pantai. Sama dengan Bontang, Dumai juga termasuk daerah industri yang dijaga oleh Satuan Pengaman ABRI, Rudal. Daerah lain di Indonesia yang dijaga Rudal populer dengan sebutan ABCD (Arun, Bontang, Cikupai, Dumai)

pict : pipa minyak di Dumai
Kabarnya, Dumai semula adalah sebuah desa nelayan yang kecil di Selat Rupat tidak jauh dari Selat Malaka. Sekarang merupakan pelabuhan laut serta terminal penyimpanan minyak yang sibuk. Kapal-kapal datang silih berganti lewat Selat Rupat menuju dermaga kelapa sawit, dermaga muat barang dan dermaga kilang minyak Pertamina yang berjejer sepanjang pantai Dumai.
Kondisi kota Dumai tak jauh beda dengan Bontang, karena industri maka berdatanganlah para pelaku ekonomi lain untuk support kegiatan industri meramaikan Dumai. Kota administratif Dumai masuk Kabupaten Bengkalis. Kotanya lebih ramai sedikit dibanding Bontang. Ada beberapa industri di sana, minyak kelapa sawit, Pertamina, Caltex dllnya. Tidak ada souvenir khusus dari Dumai karena barang-barang yang dijual di sana seperti barang kota lainnya, elektronik, keramik dan barang rumah tangga lainnya. Nampaknya banyak juga barang-barang dari Singapura karena label harga barang ada yang dalam dolar Singapura atau USA. Yang khas di Dumai adalah becaknya yang dibuat dari sepeda dengan ditambahi roda disamping untuk tempat duduk penumpang. Selain hutan, tanaman yang banyak adalah kelapa sawit. Di areal komplek Pertamina Dumai -menumpang menginap pada rekan kuliah saya yang bekerja di Pertamina- banyak dihiasi tanaman kelapa sawit. Menurut rekan saya yang telah bekerja lima tahun, tanaman tersebut disumbangkan dan dikelola sebuah organisasi pemuda. Cuaca Dumai panas maklum kota pantai. Dari Dumai ke P Batam memerlukan waktu 7 jam dengan perjalanan feri. Ke Singapura tentunya lebih dekat lagi.
Sewaktu saya tanya tentang makanan yang khas Dumai, teman saya kesulitan menjawabnya. Akhirnya saya dapati menu di suatu restoran yaitu lkan terumbung (?) bakar. Ikannya seperti bandeng tetapi durinya banyak dan kecil-kecil. Rasanya ? Masih kalah dengan ikan baronang bakarnya Cak Ali, Loktuan.
Dumai-Duri-Minas-Pekanbaru.
Dari Dumai ke Pekanbaru sekitar 3-4 jam perjalanan darat. Ongkos travel AC kelas ekonomi Rp 15.000. Kiri kanan jalan masih tetap dihiasi pipa-pipa minyak milik Caltex karena Duri dan Minas adalah tempat ladang minyak sekaligus distrik Caltex. Sekitar jalan antara Dumai – Duri kebanyakan tanahnya tanah gambut dan berawa. Yang terkenal dari Duri adalah tempat injeksi steam (steamflood) terbesar di dunia untuk eksplorasi minyak Duri yang mempunyai angka kekentalan tinggi. Duri, adalah tempat bermukim lebih dari 4000 karyawan Caltex dari total karyawannya yang berjumlah 6200 orang. Minas terkenal dengan monumen sumur No : 1 yang pertama kali ditemukan tahun 1940-an dan masih beroperasi sampai sekarang. Sedang Pekanbaru yang ibukota propinsi Riau sudah seperti kota besar lainnya. Distrik Caltex di Rumbai -sekitar setengah jam perjalanan darat dari Pekanbaru- turut berperan dalam pertumbuhan kota ini. Jembatan khas Sungai Siak yang menghubungkan Rumbai-Pekanbaru dibangun oleh Caltex.
Tidak ada yang istimewa di sekitar sini kecuali Caltex. Caltex begitu mewarnai daerah ini. Ada hutan penghijauan Caltex, jalan Caltex dll. Hal ini dapat dimaklumi karena perusahaan tersebut sepenuhnya mengambil sumber daya alam dari daerah tersebut maka harus menjaga “habitatnya”. Saya teringat tulisan Amien Rais di Rubrik Resonansi Harian Republika yang menyoroti aktivitas perusahaan PT Freeport Indonesia dan peran sertanya untuk pelestarian lingkungan setempat. Tak dapat dipungkiri komunitas Caltex patut dijadikan benchmarks dengan segala aktifitas sumber daya manusianya.
Pekanbaru-Bukittinggi menembus Garis Equator
Perjalanan darat Pekanbaru-Bukittinggi memakan waktu 5-6 jam melewati Kampar, lalu daerah PLTA, lewat kelok 9, Lubuk Paku, Kabupaten 50 Kota, masuk Payakumbuh dan Bukittinggi. Sewaktu melewati komplek ABRI di Kabupaten Kampar, kendaraan semua berjalan pelan-pelan sepanjang sekitar 1 km. Ada apa ini ? Ternyata ada tanda lalulintas bahwa kendaraan tidak boleh lebih dari 25 km/jam di depan komplek ABRI. Hal tersebut di daerah Sumatra sudah biasa, kata sopir travel yang membawa kami. Berani melanggar ? Hukumannya, si sopir disuruh push up atau menghitung banyaknya batang pagar atau mandi dengan satu sabun harus habis.
Bukittinggi sebagai daerah wisata cukup terkenal dengan Jam Gadangnya yang pada angka IV tertulis IIII. Hotel dan penginapan begitu banyak. Juga bangunan-bangunan tua beratap gaya Minang. Luas kotanya hanya 24,90 km2. Penduduknya berjumlah 150.000 (siang) dan 85.000 (malam). Kotanya kecil pada daerah perbukitan, mungkin karena itu disebut Bukittinggi. Ada 72 bukit besar dan kecil. Ada dua gunung yang mengapitnya yaitu G. Singgalang dan G. Merapi. Arah Timur kota Bukittinggi, tepatnya di sekitar Jl. Panorama (500 m dari jam gadang) terdapat lembah yang dikenal dengan nama Ngarai Sianok yang terbentuk karena Patahan Semangko.
Rumah kelahiran Hatta terletak di pinggir jalan ke arah terminal sekitar 500 m dari Pasar Atas. Rumahnya sederhana dan berlantai dua. Ada plakat keterangan dan bendera merah putih dikibarkan. Saya tidak sempat masuk rumah karena hari itu kebetulan hari libur jadi tidak buka. Banyak pedagang cindera mata di sekitar jam gadang. Kebanyakan kerajinan dari kain. Sewaktu menawar kerudung buatan Bukittinggi, ada pembeli lain di tempat itu. Bukannya mereka membela “sesama pembeli”, tetapi pembeli yang berlogat Minang tersebut malah membela penjualnya -mungkin tahu dengan logat Jawa saya.

pic : rumah kelahiran Moh Hatta
Lewat Kelok Ampek Puluh Ampek (44) Menuju Danau Maninjau
Bukittinggi-Danau Maninjau tak begitu jauh. Perjalanan darat hanya berkisar 2-3 jam melewati Kelok 44 yaitu jalan menurun dengan kelokan tajam ke kanan dan ke kiri berjumlah 44. Di hotel saya ditawari taksi dengan ongkos Rp 35.000, tetapi saya carter angkutan umum yang ongkosnya Rp 27.500 dengan “crew”nya mirip preman ABG dengan rambut gondrong dan bertampang agak sangar yang berjumlah 5 orang cowok dan seorang cewek. Sengaja saya pakai itu karena disamping ditawari, juga bisa saya ajak ngobrol-ngobrol tentang situasi daerah situ. Kalau toh mereka macam-macam, teman seperjalanan saya yang pelatih silat dapat mengatasi 3 orang dan saya mungkin dapat mengatasi 2, begitu pikir saya. Mereka putra daerah setempat dan bercerita kalau pada menganggur. Rata-rata lulusan SLTA dan berulangkali menanyakan lowongan pekerjaan. Sewaktu saya tanya kenapa tidak cari kerja di sini, mereka bilang sulit mendapatkan pekerjaan di Bukittinggi.
Pemandangan jalan antara Bukittinggi-Maninjau adalah pemandangan yang indah lereng gunung. Dihiasi dengan beberapa rumah dan masjid tua bergaya Minang dengan atap yang tinggi. Tentunya jalan berkelok naik turun. Sebelum Kelok 44 ada daerah yang namanya Lawang yang terkenal dengan gulanya. Di daerah Kelok 44, beberapa kera terlihat di pinggir jalan. Katanya kera-kera itu jinak dan kadang diberi makanan oleh pengunjung.
Ingat Maninjau, Ingat HAMKA
Saya mengetahui keindahan Danau Maninjau lewat satu tulisan dari HAMKA. Dari buku Catatan Harian Firdaus AR -tokoh kelahiran setempat- yang dipenjara bersama banyak tokoh lain pada era Soekarno, saya juga tahu ada satu kampung yang melahirkan beberapa tokoh nasional. Di dekat saya menginap, desa Pasir Panjang kata Ida Palo (63 th) -pemilik homestay yang juga penduduk setempat- tempat kelahiran Mohammad Natsir. Sedang sekitar 5 km dari situ, tepatnya desa Sungai Batang, tempat kelahiran HAMKA dan Nur Sutan Iskandar si raja Balai Pustaka.

Saya masih penasaran kalau belum melihat kampung halamannya maka meskipun bagaimana saya berusaha untuk melihatnya. Saya tanya beberapa orang di mana rumahnya. Akhirnya saya dapati rumah HAMKA dan NS Iskandar. Ke dua rumah hampir mirip bentuknya, bergaya Minang dengan atap menjulang, kuno dan besar. Ke dua rumah berdekatan. Hanya dipisahkan satu kapling rumah. Rumah NS Iskandar lebih dekat dari danau yang berjarak sekitar seratus meter dan terdapat masjid di sisi kirinya. Di depan rumah ada plakat yang menunjukkan bahwa rumah tersebut rumah peninggalan NS Iskandar. Saya heran, kenapa rumah HAMKA tidak ada keterangan serupa.
pict rumah Nur Sutan Iskandar
Karena waktunya sempit saya tidak sempat masuk rumahnya. Saya hanya berdiri di depannya sambil sebisanya membayangkan keadaan dulu. Puluhan tahun yang lalu, tepatnya 3 Nopember 1893 lahir NS Iskandar yang belakangan dikenal sebagai sastrawan angkatan 20, guru dan juga pernah menjadi dosen Sastra UI. Daerah yang begitu damai telah mengilhami NS Iskandar untuk membuat karya-karya sastra hingga karena produktifnya sampai dijuluki Raja Balai Pustaka sekitar tahun 1917. Karangannya bercirikan perjuangan generasi muda melawan adat. Yang terkenal adalah Apa Dayaku Karena Aku Perempuan (1922), Salah Pilih (1928) dan Pengalaman Masa Kecil (1949).
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau HAMKA lahir pada tahun 1908. HAMKA yang putra ulama setempat hanya berpendidikan Sekolah Rakyat tetapi dengan kemauan keras dia belajar sendiri hingga dikenal sebagai pujangga yang melahirkan pelbagai buku dan pemikir agama yang dikenal sampai tingkat internasional. Mendapat anugrah gelar doktor dari Univ. Al-Azhar, Mesir (1955) dan Univ. Kebangsaan, Malaysia (1976). Tahun 1924 merantau ke Jawa, belajar pada HOS Cokroaminoto lalu menjadi pengurus Muhammadiyah. Karangannya yang terkenal adalah Di bawah Lindungan Ka’bah (1938), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939) dan Tafsir Al-Azhar yang ditulisnya sewaktu dipenjara pada jaman Orla. HAMKA juga pernah menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia yang dihormati.

pict : rumah HAMKA
Danau Maninjau tergolong luas. Kata si Ed (21 th), yang mengurusi Homestay Abang tempat saya menginap, luasnya meliputi panjang 17 km dan lebar 9 km. Hotel dan homestay banyak bertebaran di situ menandakan sudah terbiasa dengan wisatawan. Agen-agen perjalanan, persewaan kendaraan ada di situ. Bahkan Money Changer pun ada. Menurut si Ed, biasanya banyak turis asing menginap di situ. Sekarang karena belum lama ada bencana asap maka tidak banyak turis datang. Kalau saat turis datang, sampai kerepotan mengurusnya. Kalau pas musimnya sampai penuh semua hotel dan homestay. Sampai menolak-nolak. Kesenangan turis asing adalah bersepeda mengelilingi danau atau berenang.
Saat itu cuaca biasa saja malah cenderung panas. Air danau terlihat kotor. Sewaktu saya tanyakan kenapa begitu, Ed mengatakan kalau Danau Maninjau belum lama ini kena bencana. Air danau berolak dan sulfur di dasar danau menyebar. Akibatnya ikan peliharaan penduduk di karamba banyak yang mati. Memang belum lama saya baca di koran tentang bencana tersebut. Bahkan sampai sekarang masih diberitakan bahwa kandungan sulfur air danau tersebut di atas ambang batas.
Banyak pemandangan bagus di desa-desa seputar Danau Maninjau. Bangunan rumah-rumah tua khas Minangkabau atau masjid-masjid tua diantara sawah menghijau. Suasananya masih desa tetapi transportasi sudah lancar. Jalan aspal sudah ada mengitari danau. Tanah subur dengan sawah menghantar luas. Dihiasi dengan pohon kelapa yang tinggi. Mungkin karena banyak pohon kelapa, kenapa masakan Padang terkenal dengan santannya.
Maninjau-Padang

pict : pemandangan danau Maninjau
Nampaknya sebagian pemuda di sini -yang terwakili dari si Ed, beberapa temannya dan crew mobil yang saya carter- kurang peduli atau tepatnya tidak ada kebanggaan pada sejarah. Bahwa di tempat tersebut telah lahir seorang Nur Sutan Iskandar, seorang HAMKA, seorang Natsir, mereka nampaknya biasa saja bahkan tentang tokoh setempatpun kurang begitu mengenal. Hanya tahu sebatas nama. Itupun setelah dijelaskan. Sewaktu saya tanya tentang sekolah, si Ed menjawab : “Saya hanya sampai SMA saja. Setelah itu berhenti dan mengelola homestay ini. Untuk yang mikir-mikir urusan yang pinter saja. Saya sih di sini saja”, kata Ed dengan logat Minang yang kental. Beberapa pemuda di sebelah rumah pinjam gelas untuk minum-minum bir. Waktu saya tanya, orang Minang terkenal muslimnya, kenapa minum-minum bir. Dengan enteng Ed menjawab tidak semua orang Minang muslimnya baik. Saya jadi ingat cerpen berjudul Si Padang karangan Haris Effendi Tahar (?) di Harian Kompas tahun 80an yang sempat menimbulkan kontroversial karena bercerita tentang anak Minang yang tidak baik.
Saya tidak tahu seberapa jauh para generasi muda tidak mengenal sejarah pendahulunya. Saya pikir itu bukan urusan saya -meskipun terpikir juga. Saya menikmati saja perjalanan pulang dari Maninjau ke Padang selama sekitar 3,5 jam. Petani mengerjakan sawah yang subur di pinggir Danau Maninjau dekat PLTA, nelayan mendayung perahu diantara kerambanya di Pasir Panjang, petani berjalan dengan anjingnya untuk berburu babi baik di Kampung Pisang, Bukittinggi maupun di Pasir Panjang, pemetik kelapa bersama monyetnya yang berkeliling bersepeda di daerah Lubuk Baso dengan ongkos 3 kelapa untuk 10 kelapa yang dipetiknya. Saya nikmati perjalanan Espass yang saya carter Rp 60.000, ke kota Padang yang panas. Tak banyak suasana alami Minang saya dapati di sekitar kota Padang seperti bayangan saya sebelumnya. Padang seperti kota-kota lainnya. Rumah-rumah dengan atap bergaya Minang hanya di bangunan-bangunan kantor, bukan di rumah penduduk asli. Itupun bangunan baru. Sesampai di Bandara Tabing, untuk makan siang saya pesan gado-gado ala Padang saja. Ngapain makan masakan Padang di Padang, toh di Bontang itu dapat saya lakukan. (Sunaryo Broto)




yup, untuk daerah dumai-duri-minas-rumbai masih wilayah kerja CPI, yang namanya sekarang bukan Calte* lg tapi sudah adopsi nama perusahaan induknya yaitu Chevron.
Dan saat ini sejak tahun 2007 jumlah pegawai CPI tidak sampai 6000 lagi, sejak ada program VRP (voluntary retirement program) dimana pegawai ajukan pensiun dini dengan perolehan uang retirement yang besar dan tambahan lainnya, ini bagian dari rasionalisasi kinerja dan departemen2 yang ada di dalam.