Pelarian ke Marocco
By Anggun Pribadi • Oct 22nd, 2007 • Category: Mancanegara, Petualangan
Casa artinya rumah, Blanca artinya putih. Sebenarnya ini dari bahasa Portugis Casabranca, lalu dimasuki oleh orang Spanyol jadi Casablanca. Saya turun di Casa Voyageurs a la gare. Turunnya langsung di rel kereta. Gadis manis yang saya tanya beberapa detik yang lalu tampak bingung menjelaskan dimana kita berada dalam bahasa inggris. Ok, here I am, Casablanca. Kota yang banyak diceritakan di film atau buku atau apalah.
Ini adalah kisah nyata tentang seorang pria berusia 23 tahun yang mencoba melarikan diri dari kenyataan hidupnya. Sebuah buku catatan kecil berisi hari-hari yang menyenangkan dan menegangkan ditulis untuk mengenang semua yang terjadi.

Minggu, 24 Juni 2007.
07:17 AM, Aberdeen Bus Station
Berangkat dalam keadaan sangat lapar dan kedinginan. Saya tidak sadar bahwa bus yang akan saya naiki berangkat 7.15 AM. Jadi langsung saja buru-buru berlari. Diluar hujan, such a summer.
Perjalanan melewati kota-kota mati di Skotlandia sangatlah menusuk perasaan saya yang sedang kosong ini. Wah, ditengah kesepian, semua orang didalam bus ini tertidur. Kita berhenti dibeberapa terminal kecil. Beberapa orang terlihat sedang berpeluk-pelukan untuk melepas kepergian teman atau keluarga. Dan disaat itu saya sedikit tersenyum karena sudah lama juga tidak merasakan kehangatan pertemanan dan keluarga. Everything seems to be cold and tiring. Seperti halnya tinggal di Aberdeen.
Depresi kepanjangan ini harus diakhiri dengan sebuah perjalanan mengisi kekosongan. Semoga saya tahu jawabannya setelah selesaikan 10 hari ke Maroko ini.
18:00 PM, didalam bus.
Sekitar 1-2 jam lagi saya akan sampai di London. Salah seorang penumpang yang bergaya hip-hop menyalakan iPod nya dengan volume yang mengganggu. Saya lapar, belum makan seharian. Langit diluar kelabu. Entah kutukan apa yang diberikan tuhan kepada negara ini, kok tidak pernah cerah-cerah ya langit? Udara di dalam bus dingin. Sesekali pemanas menyala, tapi tetap saja udara dingin. Saya suka melihat jalanan yang tidak pernah berubah. Garis jalan yang berwarna putih dan terus seperti saling berkerjaran. Mata saya gatal. Perempuan dibelakang bau. Saya lapar. Saya mau pulang… tapi kemana?
21:56 PM, London Thames Link Station.
Basah bekas hujan. Saya di London. Di stasiun Kingcross Thames Link. Baru saja makan, tapi saya capek entah kenapa. I think I need a rest. Saya tidak mau sakit. Wew, harusnya membeli semacam obat kuat dulu. Besok sudah sampai di Maroko. Saya rasa akan sangat menegangkan banget deh. Karena saya sendirian. London atau semua kota di UK membosankan. Atau mungkin karena saya tidak bisa menemukan aktivitas yang bisa membuat saya hidup. Entah nih, saya capek untuk berpikir.
Senin, 25 Juni 2007

02:13 AM, Luton Airport.
Wah, pantat saya rata aja nih. Dari tadi pagi kerjannya duduk. Sekarang dalam posisi duduk tertidur di airport, menunggu pesawat jam 6 pagi yang mungkin saja check in-nya jam 4 pagi. Sambil mendengarkan My bloody Valentine – We have all the time in the world, saya perhatikan semua orang yang juga bersama saya menunggu pesawat untuk terbang menuju entah kemana.
Belakangan saya agak tenang. Mungkin karena saya membuat suatu gebrakan dalam kemonotonan di dalam hidup yang membuat saya super-stress dan hampir membuat saya gila. Belakangan saya berpikir, mungkin yang selama ini saya pilih adalah sesuatu yang saya paksakan. Mungkin ini bukan jalannya.. Mungkin.. ZzzZzzz..
Apakah saya satu-satunya orang di airport yang lari dari permasalahan hidup atau ada beberapa orang lain juga yang berkeliaran sendiri dengan tas-tas backpacknya? Seorang ibu dan putrinya duduk di kursi tunggu tepat di samping sebelah kiri saya. Si putri yang membawa papan selancar bekerja di London. Dia tampaknya sedang ada masalah dengan pekerjaannya, namun bukan sesuatu yang dia benci dengan sangat..
5:30 AM, Departure gate Luton Airport.
Sempat ditanya
“Kamu butuh visa ke Maroko?”
Saya jawab
“Tidak”
Tapi si mbak-mbak di counter check in tetap tidak percaya dan dia melakukan double check di bagian informasi. Tuh kan bener! Emang nggak butuh! Sebelumnya saya berbicara dengan si ibu dan putrinya yang membawa papan selancar. Ternyata mereka juga mau ke Maroko. Saya senang berbicara dengan orang asing sepanjang perjalanan, karena mereka tidak tahu siapa saya.
Wew, kini menunggu diantara orang-orang yang juga entah mau ke Marakesh atau kemana.
8:40 PM, didalam Ryan Air.
Tahukah betapa indahnya Samudera Atlantic itu? Awan-awan yang tercecer diatas langit dan pantulan cahaya dari permukaan laut membuat saya lupa akan segala masalah. Sebentar lagi misi touchdown Africa akan terselesaikan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah 10 hari di Maroko, kehilangan pekerjaan? atau… Tapi saat ini saya sangat tidak peduli. 20 menit lagi sampai…
9:30 AM, Menara Airport Bus Stop.
Sampai nih di Marakesh! Dari udara, debu dan padang pasir aja pemandangannya. Tapi sistem pengairan telah berhasil menghidupkan kebun-kebun disini. Saya agak hilang sejenak seturunnya dari sini. Ada sebuah bus stop kecil dimana disampingnya terdapat antrian taksi-taksi yang men-charge 100 Dirham sekali jalan.

Di bus stop ada 4 orang lain yang menolak untuk naik taksi mahal itu. Tiga pria dan satu wanita. Kami semua menunggu bus seharga 20 DHM untuk membawa kami ke pusat kota Marakesh. Si supir taksi menawarkan 100 DHM untuk berlima. Dan kami sepakat untuk diturunkan di Medina. Si perempuan Amerika menghilang setelah kami sampai di salah satu sudut Medina. Dia sudah punya hotel. Tinggal saya, Collin, Darius, dan Simon yang mencoba untuk mencari hotel murah. Mereka orang UK semua. Kami menemukan hotel Afrique dimana resepsionisnya sangat ramah plus aneh. Tempatnya unik, semua orang asing tinggal disini.
Kami berempat akhirnya memutuskan untuk jalan ke Big Medina Square itu. Disana ada pawang ular yang memeras saya 20 DHM. Awalnya minta 200 DHM. Gila aja, dicium sama ular kok malahan bayar, adanya juga dia yang bayar ke saya. Si pawang menggunakan baju yang masih tradisional.
13:07, Solat Dzuhur di Masjid.
Saya shalat disebuah masjid dekat Djemaa el-Fana, Qessabin Moaque. Sudah agak lama juga tidak shalat di masjid yang super besar seperti ini. Cara wudlu nya juga unik. Ambil ember kecil lalu di-isi dengan air lantas wudlu deh. Ini mungkin bagian dari penghematan air.
Sebelumnya saya membeli beberapa kartu pos seharga 2 DHM! Dan sesuai janji akan saya kirim ke beberapa orang yang satu malam sebelum keberangkatan saya tanya alamatnya. Man, disini semua mundur 30-40 tahun bahkan 50 tahun kebelakang. Romantisme Indiana Jones muncul dan saya sangat sukaa sekali. Saya berjalan sendiri melintasi gang-gang kecil yang ramai dengan pedagang rempah dan daging. Ya ampun, mereka masih sangat seperti.. dahulu. Sebuah suasana yang selalu saya impikan sejak … billion of years ago… ha ha ha.
Lantas saya masuk ke Mouassine Mosque yang terkenal dengan minaret tuanya. Lantas saya ditanya sama pemandu lokal gadungan yang mau narikin duit dari saya
“Speak english?”
Gw jawab aja nggak, terus berlanjut dengan
“Speak french, spanish, japan, etc”
Gw jawab aja Indonesia.
Diem dia. Saat dia bengong, saya kabur ke dalam mesjid. Sempat dihalangi karena ada seorang pria bilang
“Amigos, moslem only”
And i was like..
“I am moslem”
Saya jadi nggak yakin orang manakah saya? Karena mereka menganggap saya jepang, cina, dan sekaligus latin amerika. Hah!
Didalam masjid saya ditemani oleh muadzin yang mengajak keliling. Dia mencoba menjadi pemandu tapi nggak bisa berbicara bahasa inggris. Jadi dia menjelaskans segala sesuatu dengan bahasa arab. Saya mencoba mengingat beberapa hal dari Al-Quran. Yah, paling yang nempel cuman Alhamdulilah, assalamualaikum doang. Karena untuk bahasa sehari-hari sulit juga. Dia mengajak masuk ke dalam minaret tempat dia tidur dan melakukan adzan. Sayangnya nggak boleh naik sampai ke lantai atas. Ujung-ujungnya dia bilang “sedekah”. Well,… speechless..

Mungkin ini hasil eksploitasi wisata+kemiskinan di sini.. well.. Dan sekeluarnya saya dari masjid ini, disambut oleh para pengemis dan pemandu wisata gadungan. Saya sempat dikejar oleh seorang anak kecil yang meminta sesuatu. Tapi saya nggak ngerti karena dia berbahasa perancis. Lantas saya berada di halaman depan mesjid itu. Panas namun berbeda aja..
Dan saya bertemu dengan Britney di salah satu sudut Jamaa El-Fana. Dia dengan kacamata besarnya dan topi bundarnya, sedang makan snack kecil. Menatap kerumunan orang yang tampak tidak kepanasan ditengah cahaya matahari pukul 4 sore. Dia mau ikut camel trip katanya. Itulah alasan dia disini. Lalu saya bilang
“Well, kita semua ada di hotel Afrika, kalau kamu mau mampir, silahkan loh”
(gaya ngomong gw ituloh.. hahahaha)
Di hotel saya santai sejenak. Dan mulai membuka sms-sms yang masuk
“Lihat Kak Gita, kadang nggak makan, kerja sampai malam, gaji pun hanya XX persen dari gaji anggun. Investasi untuk masa depan dong”
I hate when people talked about gaji-gaji-gaji. Ini bukan masalah kerja keras, tapi ini lebih ke hal-hal non-teknis seperti…ah males ah..
17:56, Hotel Afrique
Saya jalan ke selatan.. makin riweuh ini tempat, amburadul kelas berat. Saya masuk ke gang-gang kecil, melihat bagaimana semuanya berjalan. Kadang saya capek dan ingin pulang. Ha ha ha.. Well, tempat ini memang jauh lebih parah dari Indonesia. Tiba-tiba saja mobil atau motor menyambar dari belakang. Dan mereka tidak paham sama sekali dengan keteraturan berlalu lintas.
Saya bertemu dengan segerombolan manusia berbaju hijau. Saya kebetulan sedang nyasar diantara gang-gang berdebu mencoba untuk mencari Mellah, jewish quarter disini. Mereka sedang melakukan semacam survey di daerah tersebut tentang seluler provider yang mereka wakili. Sepeti biasa, saya nanya jalan. Hanya satu orang yang bisa berbahasa inggris, itu pun seadanya. Younes namanya. Saya bertanya
“Is it safe for me to walk in this area?”
Mereka balik nanya
“What is safe?”
Dan saya kaget. Shock!
Tapi saya senang karena bisa berinteraksi dengan mereka. Saya bertanya dimana Mellah kepada Younes. Dia menjawab
“belok kiri terus ke kanan”
Beberapa cewek berjilbab yang nggak bisa berbahasa inggris cengengesan dihadapan saya.

19:16 PM, Djemaa El-Fana
Fantastik! Gila! Eksotisme berlebih! Saya disini, duduk dibawah kotak pos kuning sambil menyaksikan matahari tenggelam diantara keramaian orang-orang yang berjualan, melakukan atraksi seni, hingga hanya sekedar lewat saja. Duduk disamping nenek-nenek dengan pembantunya yang juga sedang menikmati sun-set. Gila nih, ini diluar bayangan saya. Di sore hari kota tua Marakesh terlihat sangat indah. Suatu bentuk keramaian yang sulit ditemukan di Eropa mana pun. Saya mengambil gambar berkali-kali. Superb. Mungkin cuman gw doang yang duduk di lantai kayak gini. But, I just don’t care.
21:00PM, Bazzar.
Do I look like japanese or chineese? Karena sekali lagi mereka menyambut saya dalam bahasa jepang. Nenek moyang gw emang dari cina, tapi kita sama sekali nggak mirip.
Anyway, saya naik ke rooftop sebuah restoran yang sempat jadi check point-nya Amazing Race. Dari sini terlihat hiruk piuik manusia! Bener banget kalau dibilang bahwa tempat ini adalah warisan budaya dunia (Unesco declared that!). Tapi ya, mereka agak mata duitan juga, dikit-dikit minta duit. Foto dikit minta duit.
Saya makan di salah satu foodstall. Enak juga kebab nya. Tapi yang bikin kesel adalah si pedagang yang mencoba menipu kembalian. Harusnya 40 DHM, eh dia ngasihnya cuman 20 DHM. Dan saya tanya
“Ini, cuman 20 DHM?”
Terus baru deh sisanya dikasih. Penipu banget nih orang. Dan masih berani minta tip juga! Dan gobloknya saya kasih 5 DHM. Damn!
Selasa, 26 Juni 2007.
8:30 AM, Hotel Afrique.
Semalam orang-orang itali atau perancis yang nginep di hotel ini bernyanyi-nyanyi secara beregu. Sangat mengganggu. Ada pesan suara di HP. Semalam saya matikan. I bet this is from the office. Semua selalu saja seperti ini. Kalau sedang tidak dibutuhkan datang, kalau sedang dibutuhkan lari. Thats what life for me lately.
Mungkin ini yang disebut sebagai
“Nggak jodoh”
Mungkin segala pertanda ini memang harus dijadikan menjadi kesimpulan yang pasti.
Saya mandi air dingin. Sudah 1 tahun lupa rasanya. Saya merasa hidup dan baru kali ini muka terlihat segar dan sehat. Saat ini nggak akan ada yang bisa menghalangi perjalanan 10 hari ini. Ya, segala keraguan harus segera dilenyapkan. Saya harus bulat bisa berkata Ya atau Tidak. Jangan ragu-ragu. Ini pelajaran yang sangat baik.
10:58 AM, kereta 2nd class to Casablanca.
Saya akan sangat dipecat (I’m so gonna get fired).
Hari ini saya berjalan 1.5 jam dari medina ke stasiun kereta api yang hanya tuhan yang tahu dimana itu semua. Nanya kesana kemari dengan bahasa perancis andalan
“Je Votrez a la gare?”
Sebagian besar orang sini hanya bisa bahasa arab, perancis, atau berber. Awalnya saya mau ke El-Jadida, tapi HEY! Saya capek jalan dan ketika menemukan stasiun kereta api duluan daripada stasiun bus, maka saya memutuskan untuk naik kereta api kemana aja deh. Ada2 pilihan : Safi atau Casablanca. Ya, gw ambil Casablanca.
Saya masih berpikir, siapa yang meninggalkan Voice Mail di HP. Masalahnya saya nggak bisa buka VM itu! Tapi saya sudah siap untuk dipecar, well, gw kan udah mundur duluan juga kan. Kereta api kelas 2 disini lumayan juga. Pake AC yang pas banget, nggak berlebih dinginnya. Seharusnya gw ikut camel trip, tapi gw lagi nggak mood saat itu.
Dari gaya berpakaian orang sini terlihat nilai-nilai liberalisme sudah masuk. Tidak seperti yang saya bayangkan. Even the craziest bitch in Indonesia will never wear those kinda thing cuman untuk naik kereta, kelas 2 pula!
11:37 AM, ditengah padang pasir.
Jalan sendirian kayak gini emang membuat saya banyak mikir. Cieh.. Tapi saya senang bisa kabur dari what-so-called-INTERNET. Sudah 3 hari puasa dari Online world and I really like it. Oops, si pak masinis memeriksa tiket kereta gw. Sumpah naek kereta di Marocco enak bener. Selain lega+dingin harga 84 DHM = 6 pounds = 104 ribu rupiah. Pantes.
Tapi semuanya pas. Pemandangan di luar super panas, didalam dingin. I like it.
Tadi si pak masinis menyuruh kaki saya turun dari bangku. He he he..
Terkadang gw berpikir alasan kerja di SLB adalah karena ingin punya iPod, kamera digital, jalan-jalan dan udah. Karena waktu itu musik, gambar, dan perjalanan adalah bagian dari kehidupan utama gw. Thats it! Ha ha ha.
Total jendral gw ngeluarin 300 pounds untuk 10 hari disini. Di UK habis hanya untuk 3 hari berwisata di Edinburgh. Yey!
Ditengah padang pasir ada jalan kecil dan kebun jeruk. Manis banget jeruk sini. Dari kereta satu-dua rumah terlihat di tengah-tengah padang pasir yang gersang. Gile banget nih. Hebat sekali orang yang tinggal disana. Lantas ada mobil yang melintas di tengah padang pasir. Kebayang banget kalau mobilnya mati dan berhenti disana. Sorangan pula! Terus ada rumah-rumah terbuat dari lumpur yang masih dihuni. Kayak di film Babel. Indah.
12:41 PM, masih di mana entah..
Kalau sedang hilang saya merasa bebas. Entah kenapa. Mungkin selama ini saya terlalu dijebak dengan kondisi yang mengekang dan penuh dengan aturan. Sedikit demi sedikit saya meletup dan mungkin meledak. Panggil saya tidak dewasa (call me immature) atau tidak memikirkan masa depan, but I am not happy that is for sure. Satu tahun ini saya merasa melakukan sesuatu dengan penuh paksaan. Maaf, semuanya tidak cocok. Seperti gunung berapi yang terus ditekan dari dalam, maka pada akhirnya akan meledak juga kan.
Belakangan saya semakin tidak percaya dengan siapapun. Dan saya ingin pergi dari sesuatu yang saya lakukan saat ini. Hey, Ok, I am 23 right now. Tapi, saya ingin pergi dari semua yang menyebalkan selama ini. Ceritanya perjalanan mencari jatidiri nih.. Ha ha ha, baru kali ini saya merasa benar-benar nyasar.
13:28 PM, Mechra Ben Abbou
Kereta berhenti cukup lama.. ada apa ini? Lantas masinis masuk dan menjelaskan sesuatu dalam bahasa arab. Oh Gosh, what is this? I am completely lost. Dan dengan muka bego, saya mencoba menerka. Tapi sulitt! Maka saya nanya ke orang sebelah dan dia ngejelasin pake bahasa perancis. Dan dengan muka hope-less saya keukeuh minta dijelaskan.. Ujung-ujungnya ya bahasa tubuh.. Ada kecelakaan, si mbak-mbak menjelaskan dengan cara
“Pose mengemudi lantas keluar jalur”
Cukup informatif.
Tiba-tiba muncul mbak-mbak seksi di stasiun yang telah ditelantarkan ini. Datang dari mana? Bahkan nggak keliatan ada manusia hidup disini…
16:21 PM, somewhere out there..
Jadi kereta berhenti di Kessat. Man ini baru 3/4 perjalanan, tapi udah 5 jam. Tiga orang menempati bangku yang kosong. Satu wanita muda, satu wanita tua, dan satu anak kecil. Entah apa yang dikatakan masinis kali ini, tapi yang pasti seisi kereta menjadi heboh minta ampun. Kaget juga gw, kayak ada bom dikereta ; aksi mereka menanggapi apa yang dikatakan si masinis. Nah, kebetulan didepan saya ada gadis yang berwajah terpelajar. Maka saya tanya pakai bahasa Inggris. Hasilnya lumayan. Dia bilang kereta ini akan berhenti di Casa Port bukan di Fes. Gw sih emang bakalan berenti di Casablanca, jadi nggak ada masalah untuk saya. Suasana diluar makin nggak karuan, pemadangan super gersang. This is Middle East? Afrika Utara masuk Middle East gak sih?? Nggak ya.. nggak tau deh..
Saya jadi rindu ibu saya kalau melihat ibu yang ada didepan saya.
17:33 PM, Casablanca.
Casa artinya rumah, Blanca artinya putih. Sebenarnya ini dari bahasa Portugis Casabranca, lalu dimasuki oleh orang Spanyol jadi Casablanca. Saya turun di Casa Voyageurs a la gare. Turunnya langsung di rel kereta. Gadis manis yang saya tanya beberapa detik yang lalu tampak bingung menjelaskan dimana kita berada dalam bahasa inggris. Ok, here I am, Casablanca. Kota yang banyak diceritakan di film atau buku atau apalah.
Saya kembali dis-orientasi. Maka pilihan terbaik adalah menelepon ke hotel yang akan saya tempati. Well, dengan 105 dhm bisa dapat kamar. Saya naik taksi 30 dhm menuju tempat ini. Gila ya di Marakseh sampe 100 dhm aja gitu. Casablanca sangat semrawut, sama kayak daerah kota di Jakarta. Ruko-ruko tinggi menyebar kumuh. Dan saya sampai di hotel yang saya gambarkan sebagai, another ruko.. *sigh*
Lalu saya bertanya kepada diri saya
“I bet my career for this?”
Dan saya kembali bertanya kepada diri saya
“Karir yang mana??”
Ha ha ha..
20:38 PM, Hotel Negociates.
This city is one big mess. Saya berjalan sendirian keluar dari hotel. Belakangan saya mulai sadar bahwa daerah tempat saya tinggal adalah lokasi tempat bar-bar dan keramaian ala hiburan malam berada. Ok, selagi jalan, banyak orang yang memanggil kalo nggak London (T-shirt gw) atau konichiwa (Masih ya..). Man gw serem banget.
Casablanca itu kotor banget, dengan bangunan tua yang tidak terawat. Semua orang berjalan dengan muka yang mengerikan. Mereka nggak punya Mall. Dan saya lapar. Maka saya masuk ke sebuah cafe, saya pesen Pizza. Lantas dia bilang
“Not today”
Such an answer.
Lalu saya kembali ke hotel dan nanya ke orang hotel
“McDonald, jalan terus belok kiri”
Maka saya jalan terus dan belok kiri. TAPI MANA?? Kelaparan! Saya kepingin beli makanan berat, bukan snack. Lantas ada mbak-mbak bawa kantong McD dan gw nanya
“Excuse me… excuse me…”
Didepan muka dia.
Namun nggak ditanggepin. Sial banget.
Lalu lintas disini amburadulisme kelas berat. Nggak ada ketertiban sama sekali. Kecewa.
Orang arab itu ternyata sangat loud dan kasar. Kalau ngomong pasti heboh. Disalah satu cafe perempuan berantem sampai membuat satu jalanan heboh. Oh ya jangan sampai ketipu dengan orang-orang yang sok kenal ama kita. Saya sudah 2 kali digituin. Yang terakhir, kakek-kakek bilang
“Do you remember me?”
Gw jawab
“OF COURSE NOT!”
Dan saya lari.
Rabu, 27 Juni 2007.
00:01 AM, McDonald pantai.
So I met Said and Mustafa.
Said adalah orang yang saya kenal melalui CouchSurfing. Dan kita janjian untuk ketemu di hotel tempat saya menginap. Said adalah pengusaha di sini. Mustafa? Nggak paham deh, dia nggak bisa bahasa inggris.
Jadi Said mengajak jalan-jalan ke pantai tempat orang Maroko berleha-leha. Ternyata orang Maroko menghabiskan 60% gajihnya untuk makan-makan.. Wew.. pantesan gendang semua.. Sepanjang jalan menuju sana, kita melewati kawasan prostitusi. Perempuan-perempuan arab berpakaian seksi berjejer di pinggir jalan yang terang. Wew, not as I expected. Dan itulah kenapa Marakesh punya kasino, mereka sangat liberal belakangan. Katanya sih, hubungan dekat dengan Perancis sejak dahulu membuat nilai-nilai liberalisme itu tertanam kuat. Saya nanya ke Said,
“Ternyata Maroko cukup liberal ya?”
Dia jawab
“Well, semuanya berubah kurang lebih sejak 12 tahun yang lalu”
Said bilang dia benci McD, tapi dia ngajak kita kesana. Selagi Said memesan minuman, saya ditinggal berdua dengan Mustafa. Gw mencoba berkomunikasi. Gw tanya pake bahasa inggris, tentunya adalah sesuatu yang bodoh, karena dia nggak bisa bahasa inggris. Dan jawabnya cuman “Si..Si”. Akhirnya saya mencoba bahasa arab dari lonely planet dengan pertanyaan2 mendasar seperti
“Apa kabar”, “Siapa namamu” (???), “hingga umur kamu berapa”. Dia tampak kurang merespon, maka saya diem. Lantas ke-awkward-an terjadi selama 15 menit. Mustafa sudah seperti cacing kepanasan, mengganti posisi duduk berkali-kali, berdiri, jongkok (nggak deng hahaha), dan memandang ke arah yang tidak jelas. Saya jadi agak serba salah juga.
9:09 AM, Hotel Des Negociates.
Jadi saya memutuskan untuk menelepon Orange Service Center di UK. Tentang bagaimana caranya agar saya bisa mendengarkan Voice Mail. Setelah penjelasan singkat saya mendapatkan bahwa dengan menekan 123 semuanya beres.
“Saya Nicky, recruiter dari Indonesia. Kalau ada waktu, bisa ngobrol sebentar?”
Ternyata itu toh VM yang masuk. Bukan dari Chris, Candra, Anna, Yerga, atau Benny. Maka saya sedikit lega dan akan menghubungi dia ASAP. Sedikit tenang dan perjalanan berlanjut.
19:00 PM, La Pour.
Busted! They found me!! Callin menelepon gw ketika sedang asik di Masjid Hassan II. Dia mau gw melakukan test besok! Ahhh… Dia nanya
“Kamu dimana?”
Saya jawab
“Di Maroko”
Hahahaha, perfect truth..
Akhirnya ketahuan lah, saya pergi dari Aberdeen. Chris pun menelepon saya. Dia marah, saya merasa bersalah. But, HEY! BUkankah apa yang saya lakukan saat ini adalah untuk membuat hidup jiwa saya yang mati? Selama perjalanan saya merasa hidup.. Am I crazy? Gw pertaruhkan karir saya untuk ini?? YA!
Ternyata sekali pemberontak tetaplah pemberontak.
Saya bertemu dengan Alida dan beberapa tim pameran benda-benda kerajinan Indonesia di sini. Suatu pertemuan yang sangat aneh. Aneh banget gak sih, kok kayaknya semuanya itu sudah diatur. Kehidupan gw tuh sangatlah penuh dengan skenario yang lucu. Dan saya bertemu dengan semua orang disini, berbicara dengan bahasa indonesia. Ketemu Bang Nur yang ternyata temennya Mas Bastami (orang saya kenal di MP, dia tinggal di Rabat). Saya merasa senang dan relax. Perasaan yang sudah hilang selama 1 tahun lamanya. Besok saya kembali ke Aberdeen via Casablanca. Waduh, kenapa gw harus balik ke Aberdeen? Karena saya akan bilang,
“Oh, ok, thats it.. I am quit!”
Mungkin ini adalah pilihan yang salah. Tapi gw tahu bahwa, sekali keras butuh penanganan yang khusus. Dan saya akan melakukan hal ini untuk ke tiga kalinya.

20:00 PM, Stand Acheh, La Pour.
Si Bang Nur ngaji dan suara adzan di Masjid Hassan II membuat saya kepingin nangis. Saya rindu dengan semua ini. Saya kembali merasa sepi. Namun sepi ini berbeda. Bukan sepi yang kosong, tapi sepi yang mendamaikan. Saya merasa ingin lebih religius. Kelakuan gw emang seperti berandalan yang susah diatur, tapi saya juga tidak mau diam ketika diperlakukan secara tidak fair. Saya katakan tidak untuk semua yang terjadi selama ini. Dan mari kita lawan ini semua.
28 Juni 2007, Kamis.
07:30 AM, Casa Voyageurs a la gare.
Keretanya jam 8.07 ke Aeroport Mohamed V. Bakal balik ke Aberdeen jam 10.15 AM, sampai jam 5.30 sore. Dan saya akan langsung menelepon C.P dari kantor. Satu hal yang membuat saya lega saat ini adalah
“I am SO ALIVE”
Sesuatu yang tidak pernah saya rasakan dan katakan selama beberapa bulan belakangan. Saya suka mendobrak semua kepalsuan ini dan satu pelajaran terbaik adalah
“You can not make everbody happy”
Benar juga kata Alida. Kadang-kadang harus egois dan harus bisa mengorbankan perasaan orang lain demi perasaan pribadi. Dan saya kini, duduk di stasiun kereta api yang sejuk. Negeri dimana semya cerita dalam hidup terjadi dan dimana supir taksi just too crazy to believe. Saya sudah yakin. Ya mungkin dengan cara seperti ini, semuanya menjadi labih menarik. Well, muka gw menjadi agak berjerawat nih. Menandakan memang jarang cuci muka. Ha ha ha.. Kemana saya akan pergi setelah ini? Nggak tau..
Semalam saya bertemu dengan Said, untuk terakhir kalinya. Pendapat dia tentang pekerjaan dan masalah yang saya lalui
“Ya, gimana ya.. mendingan kamu melakukan sesuatu yang membuat kamu nyaman, itu lebih penting dari pada makan ati”
Bagian makan ati tentunya hanya perumpamaan dari gw.
Saya sih tentunya setuju. Ketika dia nganterin ke kantor pos jam 12 malam, kita sempat terjebak di pertarungan jalanan antara supir taksi edun dengan orang yang naik sepeda. Ngerem mendadak taksinya dan si sepeda nabrak itu taksi. Protes lah si sepeda. Akhirnya berantem fisik banget. Heboh lagi tuh jalan. Ha ha ha, dasar orang panas.

07:58 AM, Casa Voyageurs.
Gw lari ke atas kereta. Sumpah, gw pikir itu keret gw, padahal udah jalan itu kereta. Penjaga stasiun membunyikan pluit nya. Dan dia berbicara sesuatu dari jauh. Tapi ketika dia meleng saya melompat ke atas kereta yang berjalan. Saya baru sadar bahwa jam kereta ini berbeda dengan yang ada di karcis. Oh gosh, gw ada didalam kereta yang salah. Dan kereta ini berjalan dengan cukup cepat. Saya nggak bisa lompat keluar.
Muncullah si penjaga kereta. Dia ngebentak dan bilang “No..No..”
Dia menyuruh saya ikut dengannya. Gw takut banget dia bakal menyerahkan saya ke polisi atau apapun itu. Langit berawan. Saya nggak paham dengan apa yang dia bilang, tapi kereta mulai berjalan ke arah stasiun lagi dan mulai berhenti. Sepanjang jalan mengikuti si bapak, saya melihat kekotoran yang luar biasa didalam kereta. Seperti berantakan namun superb! Dan disalah satu pintu keluar saya diserahkan kepada beberapa orang arab yang menyeramkan dan gw pikir,
“Mati gw”
Ternyata mereka mencoba mengatakan
“Kamu salah naik kereta.. Kereta kamu akan tiba di stasiun 10 menit lagi”
Dan saya lari menuju stasiun kereta. Mereka nyorakin saya dan berkata
“Go Go Go”
Capek.. Gw lari sampai stasiun dan menutup muka dengan sweeter karena agak malu.. Ha ha ha..
08:09 AM, Kereta.
Gw didalam kereta yang isinya backpackers..
10:49 AM, British Airways.
My legs are hurting me and my eyes just too tired. Ngantuk, dalam 3 jam saya akan sampai di Heatrow lagi. Selamat tinggal Maroko. Satu hal yang menyebalkan adalah saya masih mengantungi 900 dhm. Di pos pemeriksaan barang si petugas bertanya
“Money??”
Terus gw bilang
“Ya”
Trus dia nambahin lagi
“Where?”
Dia meminta dengan paksa. Gw bingung banget. Dia minta saya buka tas kecil saya. Tentunya gw nggak ngasih liat dompet saya. Tapi saya kasih lihat bagian yg kosonga aja. Dan dia dengan bodohnya membiarkan saya lewat.
Mari kita selesaikan semuanya. So I can be free.. ayo bisa….
16:04 PM, Heatrow
Antrian brengsek ini membuat saya telat naik pesawat ke Aberdeen. Cuman 2 menit saja telatnya. Orang kulit hitam yang menjaga imigrasi sok sekali. Dia bilang,
“Emangnya kamu baru pertama kali ke Aberdeen??”
Ini adalah jawaban dari pertanyaan.
“Apakah kalau saya mau ke Aberdeen harus lewat sini?”
Semuanya menjadi satu bentuk kekesalan yang baru. Ah gw dinegeri brengsek ini. Orang2 menyanjung negara ini, tapi pada kenyataannya? takut ada ribuan miskol dan Sms yang masuk.
16:41 PM Heathrow.
Gw lagi sangat gembira! Akhirnya besok saya akan mengambil keputusan. Man, untuk ke 3 kali nya.. dan well, kali ini posisi gw sangat pas.. ha ha ha.. i just dont care.. somehow.. Langit mendung.. seperti biasa.. tapi saya kali ini tidak semendung itu.. Saya malahan cerah.. yipe!!




nice story