Maaf mbak sampeyan salah hotel
By ambar • Nov 27th, 2007 • Category: Article Lainnya, Mancanegara
Setiba di negeri cilik, jeduk2 paspor, nyobain gesek-gesek di changi seperti biasa langsung meluncur mencari penginapan. Saya sudah pesan sebenarnya jadi saya tinggal komando ke tukang taksi. Duapuluh menit kemudian saya dibawa ke sebuah hotel di kawasan Marina. Bayar taksi, dan tas langsung disambar roomboy. Saya bergegas menuju meja conciergie. Saya tertegun. Hmm tempat ini tidak seperti yang saya bayangkan, wangi sekali.
Beberapa orang sliweran dengan setelan suit membuat saya langsung kalah penampilan. Udah pake baju dari Matahari, celana jeans sobek di bagian bawah dan ehm…ransel buntut saya.
“Good afternoon Madame”, seorang gadis muda menyapa saya. Cantik sekali dengan baju hitam yang rapi dengan papan nama emas. Rambutnya disanggul, sehingga kulit putih kekuningan terlihat menyala. Senyumnya mengambang. Senyum yang artificial. Tiba-tiba saya merindukan senyum gadis dari Indonesia.
“Oh thank you, good afternoon.” ah basa basi dikit napa sih. Saya meneruskan. “I have reservation with this number please”, sembari menyodorkan catatan saya.
“And what your name?” katanya dengan sopan karena tidak bisa menemukan nama saya. Sigap saya keluarkan paspor. Jreeeng….nama saya memang agak susah untuk telinga orang di negeri ini.
Dalam hitungan menit-menit berikutnya ia sibuk mengutak-atik komputer di depannya. Memasukkan nomor reservasi, nama saya, nama keluarga (yang sebenarnya tidak ada), nomor paspor. Berulang kali. Matanya mulai gelisah.
Saya lebih tertarik melihat jemarinya yang lincah dan lentik bermain di keyboard. Hmm pastilah dia rajin manicure. Cat warna merah menyala terlihat kontras dengan kulitnya. Saya mengeluh karena tidak pernah berhasil memanjangkan kuku alih-alih mengecatnya.
Mata saya alihkan ke sudut ruangan. Karangan bunga cantik dimana-mana. Ah pantas saja begitu menyegarkan. Saya baru menyadari skala penuh lobby ini. Besar sekali dengan view lingkaran jendela kaca yang menakjubkan. Dari sini saya bahkan bisa merasakan keteduhan pohon-pohon diluar sana.
“Are you working for Morgan Stanley?” tanya si gadis conciergie nan cantik tadi memecah perhatian saya yang jelalatan melihat interior.
Saya tidak begitu jelas pertanyaannya, tapi saya menangkap dua kata terakhir. Lima detik saya seperti orang bingung. Lantas mata saya terpaku pada dua orang dengan menyandang tas hitam bertuliskan sama. Ahya tentu saja. Morgan Stanley sedang ada meeting di hotel ini dan ia mengira saya salah satunya.
“No, I am not” kata saya dengan tegas. Tiga menit, empat menit, lima menit. Saya mulai curiga. Hang on a minute, rasanya saya enggak pernah booking tempat ini. Ingat sedikit dari gambar2nya. Mata saya secara tajam tertumbuk pada daftar room rate tahun 2007. Paling atas adalah yang paling murah. Dan itu jauh diatas harga yang saya bayarkan. Saya mencium hal yang tak beres.
Sang gadis conciergie melihat kembali catatan saya dengan teliti.
“I am sorry Madame. I think you supposed to go to those Hotel, not this one”, katanya dengan senyum yang masih ramah.
Detik berikutnya saya menyadari kesalahan tadi. Insting saya ternyata benar, tapi dasar pengen nyobain yah nekad wae. Ia membantu saya memesan taksi lagi. Saya mengucap terimakasih. Malu? tidak juga. Ambil positifnya. Apalagi saya bisa motret pemandangan ini dari jendela hotel saya (yang benar).
Pelajaran moral :
Di Singapura jangan mengingat nama hotel-nya, tapi ingatlah alamat dan kode pos. Terlalu banyak nama yang mirip di kota ini. Itu sudah cukup membingungkan bagi tukang taksi dan saya tentunya.






