Melihat 4B di Manado dan Makam Imam Bonjol

Custom Search

By sunaryo • Nov 27th, 2007 • Category: Indonesia, Pantai dan Wisata Laut, Wisata
Bookmark and Share

 Enak juga, sesekali di sela tugas, kita juga bisa menikmati perjalanan. Dalam suatu kesempatan di tahun 2003 kami ke Manado, Sulut. Untuk saat ini kalau kita ke Manado dari Bontang, harus menunggu lama di Balikpapan karena fligt BPN-MND baru terbang sekitar jam 18.00 Wita. Minimal menunggu 6 jam di Bandara Balikpapan, itu kalau kita berangkat siang dari Bontang. Atau bisa 12 jam di Balikpapan bila kita berangkat pagi dari Bontang.
Kebetulan, saat itu cuaca cerah. Flight Batavia Air sangat enak selama 1 jam 15 menit ke Manado. Kami terbang di ketinggian 31.000 kaki (Bila dengan Pelita Bontang-BPN biasa terbang pada ketinggian 8.000 kaki), kecepatan 800 km/jam. Kami terbang melewati kota Palu dan Gorontalo yang terlihat gugusan lampu berkelap-kelip dari kejauhan.

Manado Yang Saya Lihat

Jauh sebelum saya ke Manado, saya sudah mendengar adanya istilah, “banyak lubang di jalan-jalan”. Saya pikir saat itu hanya semacam guyonan saja, tetapi ternyata ada benarnya. Di Manado banyak lubang di jalan-jalan. Kondisi ini masih diperparah dengan adanya angkot warna biru yang ditulisi bus kota. Secara guyonan, sopir kami, Andrew menyebutnya “lalat biru”. Kenapa? Ya seperti lalat, dia merubung calon penumpang hingga membuat jalanan macet. Lalat biru itu kalau jalan tape-nya disetel sangat nyaring. Mobil di Balikpapan kalah nyaring suara tape-nya. Ada mobil lewat saja, di dalam rumah yang di pinggir jalan masih kedengaran. Juga kalau mobil berpapasan. Untung saat ini sudah dilarang, meskipun tidak semua angkot mematuhinya.


Manado sebagai sebuah kota sangat indah. Perpaduan antara nuansa gunung atau bukit dengan pantai. Dari lantai 6 Hotel Ritzy di Jl. P Tendean, pinggir Selat Manado terlihat pemandangan cantik. Danau Tondano, bukit-bukit hijau yang penuh pohon kelapa dan birunya air laut. Ada kapal datang dan pergi. Beberapa bangunan gereja dengan atap mengerucut tinggi, terlihat cantik. Fasilitas Bandaranya mewah, lebih mewah dari Bandara Sepinggan. Turun dari pesawat melewati “leher gajah” seperti di Bandara Soekarno-Hatta. Fasilitas kota lumayan komplet, rumah makan enak-enak rasanya, hampir semua tamu bila bernyanyi karaoke suaranya bagus. Mungkin di Manado menyanyi sudah menjadi bagian dari keseharian.

Di jalan-jalan hampir tidak ada pengemis dan pengamen. Di Manado, mengemis adalah kegiatan yang memalukan. Mereka, bila ingin meminta sesuatu atau sumbangan biasanya dengan menyodorkan barang untuk dibeli. Ada beberapa anak kecil menawarkan kacang goreng. Juga di restoran, saya jumpai beberapa anak muda menawarkan roti yang dijual untuk menarik sumbangan. Hal yang agak aneh saya amati, beberapa mobil umum (taksi atau angkot) kaca spionnya banyak ditaruh di atas dashboard. Ada 5-6 spion dijejernya. Sewaktu saya tanya, sopir kami dengan tertawa menjawab,”Itu untuk melihat ’sesuatu’ kalau penumpang cewek pakai rok pendek….” Ada-ada saja he..he…

Hal lain yang mengherankan saya adalah begitu bebasnya minuman keras dijual. Aneka macam minuman keras terpajang rapi di rak-rak pada beberapa supermarket. Ada banyak rak yang memajangnya, dari minuman keras cap tikus atau topi miring seharga Rp10 ribuan sampai minuman wine merk luar negeri seharga Rp300 ribu sebotol. Bener-bener bebas mengambilnya. Seorang ibu dengan biasa saja membeli bir dan menentengnya, mungkin seperti kita membeli sirup di supermarket.

Lima Be

Ada statemen lain. Kalau ke Manado, belum melihat 4 B rasanya belum komplet. Apa itu? B pertama, bubur Manado yang nama aslinya tinetuan, B kedua Bulevard yaitu jalan sepanjang Jl. Tendean di bibir pantai, kalau malam minggu penuh remaja bergaya. B berikutnya adalah Bunaken, yaitu Taman Laut Pulau Bunaken yang keindahannya terkenal seantero dunia. B berikutnya bibir cewek Manado. Secara guyon, Ediyanto –salah seorang staf Pupuk Kaltim Sarwil Manado – menambahi, B kelima yaitu bangkrut. Ha ha ha.

Sewaktu ke Manado, saya sempatkan menikmati berderet B tersebut. Bubur Manado saya nikmati di hotel. Tiap hari disediakan sarapan pagi bubur Manado. Memang enak makan bubur Manado. Disajikan hangat, penuh sayuran, jagung manis dan non kolesterol. Masih ditambah lauk ikan asinnya. Wah nikmat kalau makan sekali-kali. Kalau sering makan mungkin juga bosen. Bulevard saya nikmati di waktu malam. Makan ikan bakar di sepanjang bulevard sungguh asyik. Macam-macam ikan baik ikan laut maupun tawar dapat dinikmati di sini. Masakannya juga aduhai enaknya. Ikan mujaer bakar membikin perut kenyang. Heran, ikan mujaer di sini, besar dan enak rasanya.

Hampir setiap restoran ada tempat life musiknya. Dan hampir semua tamu di restoran suaranya bagus-bagus. “Orang Bontang ngeper kalau mau nyanyi. Harus belajar karaoke dulu…,” kata Riyanto, karyawan Pupuk Kaltim yang bertugas di Sarwil Manado waktu menemani makan malam di restoran Nelayan. Sayangnya saya belum menikmatinya pada saat malam Minggu, yakni ketika orang bisa melihat remaja model apa saja. Memang di sini pada beberapa tempat publik banyak pemandangan asyiknya.

Minahasa, Danau Tondano

Hari pertama kami langsung ke Kabupaten Minahasa untuk keperluan persiapan Pameran Penas di Stadion Maesa. Dari Manado melalui jalan mendaki ke arah Gunung Lokon berjarak sekitar 40 km. Sepanjang perjalanan pemandangannya sangat indah. Tanahnya subur, dan banyak pepohonan tumbuh. Banyak juga penjual tanaman hias dan bunga di pinggir jalan. Yang dominan adalah pohon kelapa. Mungkin karena itu, di Sulut terkadang menyebutnya sebagai negeri Nyiur Melambai. Di tengah jalan kami melihat Kota Manado dari atas bukit. Kami juga melewati Kabupaten Tomohon, kampung halaman Maya Rumantir. Sebuah daerah yang indah dan terkenal gadis cantiknya. Dari sini terlihat pemandangan Gunung Lokon. Yang dominan adalah bangunan gereja. Di satu jalan ada beberapa bangunan gereja. Gereja di kota ini arsitekturnya sangat indah. Ada juga universitas dan sekolah teologi. Di sekitar sini ada juga yang namanya Bukit Kasih yang ada bangunan masjid, gereja sebagai simbol untuk toleransi agama.

 Kami makan siang ke Restoran Tondano di Jl, Raya Tondano dan makan woku belanga ikan mujaer (dimasak dengan kuah dan dihidangkan sewaktu hangat) dan ikan nike (ikan2 kecil ditumbuk lalu digoreng) di pinggir danau Tondano. Ada juga ikan emas yang besar-besar. Ikan-ikan ini dipelihara pada jaring terapung –semacam keramba- di bawah dan samping restoran. Pemandangan indah terhampar di sekitar danau Tondano dengan bukit-bukit kecil di pinggirnya. Kami pulang menyusuri pinggir danaunya di Remboken sampai gua Jepang.

Yang saya lihat adalah tanahnya subur, penduduknya makmur. Hampir tidak ada rumah jelek. Meskipun sederhana tapi indah. Rumah kayu khas Manado itu cantik. Sepanjang jalan ke Manado pemandangannya indah, ada sawah menghijau, danau meluas, ladang jagung (milu) sangat banyak. Bahkan di kuburan ditanami jagung. Gereja banyak sekali dan sangat artistik. Katanya, orang Manado malu kalau rumah ibadahnya tidak lebih indah dari rumahnya. Herannya, di pinggir jalan kadang ada pungutan sumbangan suka rela untuk membangun gereja. Persis sama dengan yang dilakukan di beberapa jalan di Jawa tetapi untuk sumbangan pembangunan masjid. Ternyata modus operandi seperti itu tidak hanya mewakili untuk pembangunan masjid saja tetapi juga untuk pembangunan rumah ibadah lain.

Banyak juga kereta kuda dengan kuda kelas satu, gagah-gagah. Kusirnya juga tak kalah tampan. Memang, kebanyakan masyarakat setempat badannya gagah, sedangkan yang perempuan juga relatif bersih dan cantik. Sapi, anjing dan beberapa hewan yang saya lihat badannya gemuk-gemuk dan besar. Kami juga lewat di beberapa sumber belerang di sekitar hutan Lahendong, di kiri-kanan jalan sebelum menikmati kacang di Kawangkoan. Sepanjang jalan di Kawangkoan banyak dijual kacang Kawangkoan yang memang menjadi khas daerah tersebut.

Ada beberapa lapangan pacuan kuda yang masih aktif untuk lomba pacuan kuda. Sempat mampir di sentra tempat pembuatan rumah kayu Minahasa secara knock down di Woloan, kira-kira lima kiloan dari Tomohon. Banyak rumah beraneka bentuk ditawarkan di kiri- kanan jalan. Untuk rumah sederhana dengan dua kamar tidur, plus dapur kira-kira 7×8 meter dengan kayu cempaka ditawarkan Rp24 juta. Tapi sewaktu saya tanya ongkos kirim dari Manado ke Bontang berapa? Biayanya sekitar Rp20 jutaan, ya mahal juga akhirnya.

Makam Imam Bonjol

Saya sempatkan pergi ke Makam Tuanku Imam Bonjol di daerah Pineleng. Dari kota Manado, sekitar 9 km ke arah pinggir. Masuk ke arah makam jalannya kecil dan ada pintu gerbang yang menyebutkan tempat makam Imam Bonjol.

Areal makam pada suatu daerah dengan jalan mendaki. Ada taman bunga dan bangunan bergaya Minang. Di satu rumah, ada satu makam bertuliskan nama Imam Bonjol. Di satu dindingnya ada relief Imam Bonjol naik kuda dengan beberapa anak buahnya. Ada seorang perempuan paruh baya tergopoh-gopoh naik ke atas menyongsong saya. Dia menyediakan semacan daun pandan yang diiris, utk mengganti tabur bunga. Dia mengaku anak keturunan keempat dari pengawalnya.

Imam Bonjol diasingkan ke Manado, setelah melawan perintah Belanda. Hanya dengan satu pengawal Imam Bonjol menghabiskan waktunya di tempat pengasingan selama 5 tahun. Saya bayangkan saat itu Iman Bonjol dalam kesendirian di suatu daerah asing bagi budayanya. Imam Bonjol lahir tahun 1772 dan meninggal tahun 1864. Nama mudanya Peto Syarif. Dilahirkan tahun 1772 di Tanjung Bunga, Pasaman, Sumbar. Ia menjadi pejuang melawan Belanda sekitar tahun 1824. Tahun 1837, Imam Bonjol terjebak pengkianatan Belanda dengan selubung perundingan dan ditangkap. Beliau dasingkan ke Cianjur, dipindahkan ke Ambon, lalu ke Manado. Meninggal tahun 1864 dalam usia 92 tahun. Tak menyangka saya akan berada pada dimensi sama dengan seseorang yang saya pelajari kisahnya pada waktu sekolah. Kami satu dimensi dalam tempat, tetapi beda dimensi waktu saja. Saya hanya ingin merasakan élan nafas pada saat itu.

Seorang pejuang yang melawan penjajah, lalu diasingkan di suatu tempat terpencil seperti ini. Diisolasi dari keluarga, kaum kerabatnya, dan anak buahnya. Di suatu tempat yang sangat berbeda budayanya. Betapa dia merasa kesepian.

Kami juga berkunjung ke tempat sholat beliau di tengah sungai, jauhnya sekitar 300 meter jalan setapak, menurun ke arah lembah. Ada batu datar menghadap kiblat di tengah sungai Malalayang yang bersumber dari Gunung Lokon. Batu tersebut sekarang diberi atap seperti bangunan rumah terbuka. Ada air mengucur di sebelahnya, bisa untuk wudhu. Airnya bening. Saya sholat sunat di situ. Ada juga orang yang datang menyapa dan tersedia tempat infak. Saya sudah tahu maksudnya.


Di Makam Tuanku Imam Bonjol, Pineleng, Menado

Bangunan itu sederhana
Dengan bentuk atap berjenjang
pada pintu gerbang

Dan sepi menggigitnya
Seperti menjelang kepergian sang tuan

Jauh dari tanah kelahiran
Kau dikuburkan
Si juru kunci tergopoh menyambut
Mulutnya penuh buih bercerita
Tangannya menunjuk kotak sumbangan suka rela

Ah tuanku
Kau perangi Belanda dengan gagah
Seperti termuat dalam buku sejarah

Sungai kecil mengalir
Di rumah istirahat, dipinggir
Aku hampiri tempat sembahyang
Ada wajah membayang

Tuanku
Hanya waktu
Yang membedakan antara kau dan aku

Pelabuhan Bitung


Kami pergi ke Pelabuhan Bitung untuk melihat pelabuan. Kab. Bitung jaraknya sekitar 50 km dari Manado arah tenggara. Di sini merupakan jendela pelabuhan Sulut ke arah Timur. Kami menempuhnya sekitar satu jam perjalanan darat melewati Makam Miranda Maramis, di Airmandidi dan lereng Gunung Klabat yang banyak sekali pohon kelapanya dan tinggi-tinggi.

Bitung termasuk pelabuhan ramai. Banyak kapal lalu lalang. Ada pulau di seberangnya yang terlihat indah. Ada bangunan yang menonjol dengan 2 tower besar sebagai pabrik semen. Ada banyak sekali perusahaan pengalengan ikan di sepanjang pantai pelabuhan. Gudang-gudang dengan bangunan besar. Salah satu gudang pupuk perusahaan kami juga ada. Juga pabrik coca cola. Banyak terlihat karyawati pabrik.

Taman laut Bunaken

Sudah sampai Manado, tanggung saya harus sampai juga ke Pulau Bunaken yang terkenal. Dari Hotel Ritzy di Jl Tendean saya melihat pulau Menado Tua di sebelah Bunaken. Saya tahu Pulau Bunaken sejak kecil sewaktu main permainan Monopoli Nasional. Setelah itu makin saya kenal karena keindahan batu karang dan keanekaragaman jenis ikannya. Di Bunaken konon ada lebih dari 2000 spesies ikan. Ada beberapa jenis ikan langka seperti ikan ghost pipe, ikan katak, kuda laut pygmy, coelacanths, dugong, orcas dan sperm whales. Juga batu karangnya yang terkenal bagus. Pulau tersebut juga ditempati penduduk sekitar 30.000 orang dalam 22 desa. Mata pencaharian penduduk kebanyakan petani dan nelayan.

Kami naik perahu tempel carteran berukuran sedang. Mungkin perahu ini muat 20-an orang. Sayang juga kalau hanya dinikmati empat orang saja dan empat orang pengemudi dan anak buah kapal. Kami sewa seharga Rp350.000 jalan pergi-pulang. Harga itu juga tak pasti. Terkadang bisa lebih murah atau lebih mahal. Di Dermaga banyak calo yang menawarkan. Sebenarnya kalau mau pergi sendiri, ada harga yang lebih murah, dengan naik semacam angkot lautnya. Dari Manado berangkat jam 08.00 dengan tiket Rp4.000 per orang. Nanti pulangnya naik kapal itu juga sekitar jam 14.00 dengan tarif yang sama.

 Hanya sekitar 45 menit kami menempuh perjalanan dari Manado ke Bunaken. Kalau ombak besar sedikit terkadang tak direkomendasikan untuk berangkat. Perpaduan angin laut dan biru langit beradu dengan kecipak airnya kami nikmati di sepanjang perjalanan. Cuaca sangat cerah. Terlihat juga beberapa kapal lain yang lalu lalang. Dari kejauhan terlihat perumahan penduduk di Pulau Bunaken dengan penduduk berjumlah lebih dari 30 ribu orang, yang terlihat jelas adanya gereja dan masjid di situ.

Di lain arah kelihatan jelas Pulau Manado Tua yang berbentuk seperti gundukan tanah cembung. Kami merapat di Bunaken. Ada semacam taman bermainnya lengkap dengan penjual makanan dan souvenir kerajinan dan kaos. Kami bayar tiket masuk sebesar Rp2.500. per orang (untuk turis asing membayar Rp50.000). Seperti daerah wisata lainnya, banyak orang jualan souvenir khas. Herannya sampai jauh ke Bunaken kok yang jual kaos menawarkan barangnya dengan bahasa jawa kromo halus. Seolah tahu kami orang Jawa ha..ha… Orang Jawa di mana-mana ada.

Pulau di sini hampir sama dengan pulau-pulau lainnya. Pasir putih, kecipak ombak tak terlalu besar, lalu hewan laut kecil-kecil seperti kerang, pong-pongan banyak di situ. Ada 22 rumah penginapan di pinggir pulau itu, penginapan sederhana dengan ornamen kayu. Tarifnya semalam, sekitar Rp125 ribu per orang include makan 3 x sehari. Banyak juga yang menginap di sini, lalu bermain dengan keluarganya di pinggir laut. Banyak turis Jepang atau Eropa dengan peralatan selamnya. Yang berbeda di sini tentunya taman lautnya. Di kejauhan banyak kapal yang membawa penumpang menikmati pemandangan taman lautnya. Kami sewa katamaran (speedboat dengan kaca di bawahnya) untuk berkeliling ke taman laut dengan tarif sekitar Rp100 ribu sekali jalan sekitar 30 menit. Kami berkeliling melihat-lihat keindahan laut. Memang banyak ragam ikan-ikan hiasnya, tapi taman batu karangnya kayaknya banyak yang mati.

Memang paling enak menikmatinya dengan menyelam atau snorkeling. Kalau dengan melihat melalui kaca kurang terasa keindahannya. Bagaimana mau menikmati celah karang emas bila hanya dengan melihat dari kaca? Juga keanekaragaman lainnya. Kabarnya di sini ada lebih 2.000 an spesies ikan hias, 58 jenis bunga karang. Ada tempat taman batu karang yang indah dan cocok utk snorkeling, yaitu di antara P Bunaken dan Manado Tua. Kami menikmatinya saja seadanya. Yang jelas sudah kami nikmati B4nya Manado. (*Sunaryo Broto)

Tagged as: , , , ,

sunaryo is
Email this author | All posts by sunaryo

Bookmark and Share

3 Responses »

  1. nice story pak,
    aku juga baru saja pulang dr manado 2weeks ago (may 2008 aku kesana)..memang manado nice place. aku masi kepengen kesana lagi :) . aku akan ceritakan pengalamanku dsana almost 8days ya….

  2. saat baca ttg imam bonjol itu aku jd terharu.apalg baca puisi itu.menyentuh bgt.
    gmn rasanya diasingkan ya?betapa busuknya penjajahan itu, HAM yg paling terdalam pun hrs rela dikorbankan.

  3. kebetulan saya ingin ke menado mohon info dong kalimat ini :

    “Ada 22 rumah penginapan di pinggir pulau itu, penginapan sederhana dengan ornamen kayu. Tarifnya semalam, sekitar Rp125 ribu per orang include makan 3 x sehari”

    nama penginapannya apa ya ? dan lokasi dimana mohon infomasinya dong thank you

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.