Kepulauan Maluku Utara I : Ternate dan Tidore

Custom Search

By Heru Hendarto • Dec 15th, 2007 • Category: Indonesia, Wisata
Bookmark and Share

Kepulauan Maluku Utara letaknya di sebelah timur Pulau Sulawesi, tersusun dari pulau-pulau besar seperti Halmahera, Taliabu, Mangole, Sanana, Ternate, Tidore, Obi, Bacan, Morotai, Gebe, Makian, Kayoa, Kasiruta, Mandioli dan ratusan pulau kecil yang tersebar mengelilinginya. Alhamdulillah di sela-sela tugas kantor aku diberi cukup waktu sehingga berkesempatan mengunjungi beberapa tempat yang menarik di sini.


Kesempatan pertama adalah mengunjungi Ternate, kota indah yang terletak di kaki Gunung Gamalama (1.715 m). Dan benar!, nama gunung ini digunakan oleh salah satu artis terkenal kita sebagai nama belakangnya. Gunung ini sendiri masih aktif dan pernah meletus jauh di waktu lampau menyebabkan jatuhnya korban penduduk yang banyak. Namun, selain bencana yang ditimbulkannya, gunung ini telah menjadi ikon Kota Ternate, berdiri tegak gagah dikelilingi kabut dan selalu menemani pandangan penduduk kota kemana pun mereka beraktivitas.

Trip kali ini adalah kali ketiga aku berkesempatan mengunjungi Ternate, kota yang selalu membuat hati tenang dan nyaman. Mengapa demikian rekan? Ternate penuh dengan sensasi damai, kota kecil dengan pemandangan indah dan penduduknya yang ramah. Bila rekan – rekan bepergian di Ternate, tidak akan menemukan pengemis di jalanan, atau dipalak preman di pelabuhan dan terminal atau dibohongi tarif angkot dan tukang ojek. Semua penduduk relatif jujur berkata dan siap sedia bantu kita para pendatang, sungguh kota yang sangat menyenangkan. Pernah saat kali kedua datang, karena pesawat yang kutumpangi tidak connect, bagasiku tiba 5 jam lebih awal namun di bagian bagasi bandara kecil Baabullah tetap saja tersimpan rapi dan aman padahal banyak orang bebas hilir-mudik keluar-masuk situ. Apa jadinya kalau ini di Jakarta? Dapat dibayangkan sendiri apa yang terjadi.

Oh ya, maskapai yang melayani penerbangan Jakarta – Ternate adalah Merpati, Express Air dan Lion Air. Biasanya masing-masing transit di Makassar, lalu lanjut ke Ternate atau singgah dulu di Manado (tergantung trip flight dan maskapai). Sekedar mengingatkan, berhubung ini perjalanan panjang 4 jam lebih belum dihitung waktu transit dan pesawat berangkat dari Jakarta pukul 5.30 pagi, pilihan dua maskapai pertama cukup aman mengingat makanan akan cukup tersedia di pesawat sebagai pengganjal perut. Tidak terbayang bila mesti berangkat dari rumah pukul 4.00 dinihari dan tiba di Ternate pukul 13.00 WITA tanpa sarapan sedikitpun!

Tarif pesawat 1,7 juta, dan melonjak sadis menjadi 2,4 juta saat peak season. Dari bandara, tarif taksi borongan adalah 50.000 hingga 80.000 rupiah untuk membawa kita ke hotel yang banyak terdapat di sekitar Swering (tembok beton penahan gempuran laut) Kota Ternate. Lokasi strategis ini memudahkan kita jika hendak akses ke berbagai tempat seperti pasar, warung, bank dan lain-lain. Berhubung waktu terbatas, hari pertama diniatkan main ke Pulau Tidore, pulau yang bersama-sama Ternate terkenal dengan duo Kerajaan Ternate – Tidorenya di masa dahulu, tersohor akan hasil bumi cengkeh dan pala hingga pelosok nusantara bahkan antero dunia (jadi ingat ibu guru Sejarah deh, he he).

Pulau Tidore luasnya kurang lebih 180 km2 dan dapat dijangkau dari Pelabuhan Bastiong Ternate. Menuju Bastiong, pelabuhan sekaligus pasar serta terminal, dapat ditempuh dari kota dengan naik taksi (istilah angkot di sana) bertarif 2.000 rupiah JDSJ (jauh dekat sama saja). Perjalanan ke Tidore ditempuh selama 10 menit menggunakan speed dua mesin kapasitas 40 pk dengan 12 penumpang. Ada juga tersedia speed yang lebih besar kapasitas 20 penumpang dengan tarif yang sama yaitu 6.000 rupiah per orang. Bila hendak menyeberang membawa sepeda motor, dapat menggunakan jasa perahu kayu bermesin dengan kapasitas lebih besar dengan beaya 15.000 rupiah berikut pengendara. Speed meluncur menyeberangi selat dangkal dan tiba di Pelabuhan Rum, pelabuhan penyeberangan resmi Tidore.

Pemandangan di penyeberangan sangat indah; Gunung Gamalama, Gunung Kiematubu (1.730 m) dan Pulau Maitara (570 m) berdiri dengan indahnya seolah-olah berbaris mencuat dari laut. Oya, Pulau Maitara dan Gunung Kiematubu diabadikan pemerintah Indonesia bersama-sama dengan Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura dalam lembaran uang seribu perak. Dari Pelabuhan Rum, aku menuju Kota Soasiu menumpang angkot 7.500 rupiah dan berturut-turut melewati Desa Ome, Bobo, Toloa, Toguha selama 40 menit dan tibalah di terminal sekaligus Pasar Sarimala.

Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh menakjubkan, di sebelah kanan Pulau Halmahera yang hijau membentang panjang dan di sebelah kiri Gunung Kiematubu yang selalu mengikuti sepanjang jalan. Laut biru dan ombak memecah di bebatuan di antara pepohonan melambai-lambai sepanjang jalan, sungguh pulau yang menawan! Kota Soasiu sendiri adalah kota kecil ibukota Tidore Kepulauan dengan penduduk kira-kira 100 ribu jiwa, dibatasi dengan pantai pasir putih di bagian timur dan kaki Gunung Kiematubu di bagian barat. Kota kecil yang rapi, bersih dan indah; tidak mengherankan bila kota ini mendapat predikat Adipura sebagai kota kecil terbersih.

Yang bisa dilihat di kota ini selain pantainya dan view Gunung Kiematubu adalah hilir-mudik penduduknya menggunakan motor, angkot ataupun bentor – becak bermotor yang menjadi transportasi umum di sini. Bagian depan berbentuk becak dan dimotori belakangnya oleh sepeda motor sehingga lincah cepat meliuk-liuk di jalanan lengang kota. Lihat sana-sini, foto-foto sedikit, tak terasa rasa haus mendera dan singgah ke suatu mini market (satu-satunya di sana?) untuk beli minuman. Kaget sekali saat bayar satu botol minuman mineral merk terkenal seharga 1.500 dan sebuah teh kotak porsi jumbo 2.500 rupiah, tidak jauh beda dengan harga swalayan di Jakarta.

Bahkan air mineral eceran di Jakarta saja berharga 2.000 rupiah, sungguh mencengangkan! Mengapa? Karena beaya hidup di sini lumayan tinggi. Sebagai perbandingan, makan di warung biasa di Jakarta senilai 10.000 sudah istimewa, di sini dengan harga 20.000 rupiah hanya dapat menu nasi, ikan dan teh manis. Demikian pula harga di Warung Padang di Pasar Ternate, yang cukup terasa menguras isi dompet buat kantung pas-pasan seperti aku. Siang hari, mendung mulai menggantung, kulirik barograph di pergelangan tangan dan ternyata benar, tekanan udara turun dengan drastis. Walau belum sempat puas mengelilingi Soasiu aku segera kembali ke Rum menghindari hujan menggunakan angkot yang memang tersedia sampai malam.

Namun hati-hati mengingat speed ke Ternate akan semakin jarang di sore hari hingga pukul 19.00 dan di atas itu akan digunakan tarif sewa one way sebesar 50.000 ke atas dan semakin larut semakin mahal hingga bisa mencapai 100.000 rupiah. Sepanjang perjalanan, menarik sekali melihat pekarangan rumah penduduk dipagari dengan pagar berwarna putih – biru muda dan kuning pucat – hijau daun, seolah-olah penduduk di sini ngefans berat dengan klub Brazil dan Argentina sebagaimana corak bendera mereka banyak yang terpasang di pos-pos kamling dan halte angkutan umum.

**

Hari berikutnya adalah putar-putar Pulau Ternate (140 km2) sendiri, hal yang belum sempat dilakukan sejak kali pertama ke sini. Ada beberapa tempat yang menarik di Kota Ternate, pertama adalah Swering yang sudah disinggung sebelumnya. Yaitu tembok beton sepanjang pinggir pantai yang dibangun untuk menahan gempuran air laut. Di sini bila malam hari sangat ramai orang-orang berjualan makanan, buah-buahan hingga gorengan. Kalau rekan-rekan berkesempatan makan ayam di sini, jangan kaget saja karena ukuran ayam di sini luar biasa! Satu paha ayam dapat memiliki lebar 7 cm! Beneran lho! Begitu pula ukuran dada dan lainnya, pokoknya ayam di sini bule semua deh sampai terasa ngeri makannya. Dan salutnya tempat ini, di waktu dini hari tiba semua sudah bersih dari sisa-sisa bekas jualan dan sampah sehingga cocok sekali sebagai tempat untuk jogging ataupun hanya sekedar nongkrong menikmati matahari terbit dan segarnya angin pagi berhembus oleh penduduknya yang berjumlah 200 ribu jiwa.

Bicara mengenai penduduk, ada percakapan yang lucu di sini. Biasanya untuk menunjukkan arah penduduk menggunakan dua istilah : ke laut dan ke darat. Sedangkan orang-orang di sini kalo berbicara suka menyingkat kata. Misal, ‘bikipa’ itu artinya bikin apa/buat apa, ‘kitorang’ adalah kita orang, dlsb. Jadi kalau kita tanya orang : ‘mau kemana?’ Jangan kaget kalau yang bersangkutan jawab ‘sapi laut’! Maksudnya, saya pergi ke (arah) laut…he he lucu juga makhluk makian Kapten Haddock disebut-sebut di sini. Demikian pula jawaban ‘saya’ yang memiliki arti ‘ya’ (halus) kadang-kadang menyebabkan hal menggelikan seperti ini :

Aku : ‘Ada ikan bakar?’
Nona penjaga warung : ‘Tarada (tidak ada), tadi ada banyak.’
Aku : ‘Iya tadi pagi juga saya lihat banyak. Jadi udah ada yang habisin Ikan sebelumnya?’
Nona penjaga warung : ‘Saya.’
Aku : ‘Lhoooo…, jadi rupanya Mbak yang ngabisin ikan bakar sebanyak itu, lagi laper atau kalap sih Mbak?’
Nona penjaga warung : ‘???’ (sambil bengong he he).

Dalam plan yang sudah kurancang sebelumnya, Pantai Sulamadaha, Keraton Ternate, Danau Tolire, Benteng Oranye dan beberapa benteng tua lain peninggalan Portugis dan adalah tempat yang kurasa wajib dikunjungi. Saat berkesempatan tawar-menawar dengan tukang ojek, mereka bersedia dibooking seharian mengelilingi pulau ke berbagai tempat wisata sepuasnya dengan tarif 75.000 rupiah. Hmmm, harga yang layak juga sepertinya, tapi kutawar lagi karena motornya tidak kupakai seharian dan akhirnya deal di angka 40.000 rupiah untuk short trip Ternate.

Tujuan pertama adalah tempat yang kuidam-idamkan dari dahulu, yaitu lokasi tempat memotret Tidore dan Maitara agar bisa persis seperti yang tersaji di uang seribu rupiah. Langsung saja tukang ojek membawaku ke selatan pulau, ke Desa Seroja, Kelurahan Fitu. Dan memang benar, tempat yang kira-kira berada 1,5 km dari Restoran Florida yang terkenal ini menyajikan view yang persis seperti tergambar di uang seribu. Setelah jeprat-jepret sedikit, motor membawaku kembali ke arah kota, melewati Benteng Kalamata.

Benteng ini terletak di pinggir jalan dan sudah rusak namun sisanya masih terawat dengan baik. Tidak banyak waktu dihabiskan di sini dan aku meluncur ke Keraton Ternate. Keraton ini masih terawat dan berdiri megahnya menghadap ke Pantai Salero. Perlu diketahui bahwa lokasi pertama berdirinya keraton ini adalah di selatan pulau dan sampai sekarang masih ada terlihat bekasnya. Aku tidak sempat mengorek keterangan mengapa keraton tersebut sampai dipindah lokasinya ke posisi sekarang.

Di perjalanan menuju keraton aku melewati Benteng Oranye yang terkenal, tetapi karena mengejar waktu, benteng tersebut terpaksa dilewatkan dahulu. Tujuanku keempat adalah Benteng Toluko (Toloko) yang dipugar tahun 1995 dan selesai diresmikan tahun 1997. Hingga saat ini masih sangat terawat dengan rapi dan indah. Dari atas benteng dapat kita saksikan panorama Kota Ternate dan sekitarnya, sungguh pemandangan yang mengagumkan. Benteng ini dirawat sepasang suami-istri separuh baya dan saat mengisi buku tamu yang disediakan si Ibu, terbaca nama beberapa turis dan institusi dari WWF, Save Our Children dan LSM asing lain. Apa boleh buat, tidak mau kalah, aku tulis juga nama indobackpacker di situ, he he he.

Setelah Toluko, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Pantai Sulamadaha, pantai yang cukup terkenal di Ternate. Di perjalanan sempat melewati Batu Angus, yaitu lokasi dimana banyak bebatuan yang tampak berwarna hitam. Hal ini disebabkan daerah tersebut tersusun atas batuan lava skoria sehingga menghasilkan kenampakan fisik yang legam. Di Batu Angus ini pernah terjadi pertempuran hebat dengan pasukan Jepang dan di daerah ini juga terdapat makam perwiranya.

Perjalanan kembali dilanjutkan dan kira-kira 10 menit tiba di pantai Sulamadaha, pantai denga pemandangan yang tersaji begitu apik. Teluk kecil berbatu-batu tersusun rapi dan seolah-olah membingkai Pulau Hiri yang berada tepat di sampingnya. Pepohonan teduh dan perdu-perdu memberi nuansa sejuk di sekelilingnya. Lokasi ini cocok buat yang suka menyendiri ataupun sekedar ingin melepaskan diri dari ramainya suasana kota. Pantai ini memiliki arti, Sulamadaha, dengan arti madaha di dalam dan Sula dari Kepulauan Sula. Penduduk asli daerah ini sebenarnya sebagian besar adalah pendatang dari Kepulauan Sula di selatan Maluku Utara dan posisinya yang agak masuk ke dalam sehingga diberilah nama tersebut.

Tujuan terakhir adalah Danau Tolire, danau hijau yang selalu menggoda dari jendela pesawat setiap hendak mendarat di Bandara Baabullah. Sesampai di sana, sepi sekali dan hanya ada sepasang muda-mudi yang bercengkerama. Danau Tolire dahulu dipercaya memiliki legenda yaitu asal-muasalnya adalah kampung yang tenggelam. Dan hingga saat ini juga dipercaya gua di tebingnya terdapat buaya-buaya dan bisa disaksikan oleh siapa saja hanya memang kebenarannya diragukan mengingat hingga saat ini belum ada dokumentasi yang jelas akan cerita ini.

Penduduk setempat juga berkata bahwa siapapun yang melempar batu dari pinggir danau pasti tidak akan bisa ke tengah dan batunya akan jatuh dekat dari tempat melempar. Setelah kuperhatikan, hal tersebut memang benar, namun bukan karena mistik ataupun yang lainnya. Diameter danau ini cukup panjang, kira-kira mencapai 1 kilometer dan batuan penyusun sekeliling danau adalah batuan ultramafic hasil bekuan clan magma ferromagnesian yang mengandung banyak besi. Hal yang wajar mengingat jauhnya tengah danau dan kuatnya gravitasi di sini sehingga batu yang dilemparkan tidak akan bisa jauh melayang ke tengah.

Setelah puas di danau, diputuskan untuk kembali ke kota. Tukang ojek menawarkan untuk kembali dengan arah jalan yang berbeda yaitu meneruskan memutari pulau dengan berlawanan jarum jam mengingat jarak tempuh ke kota dari Danau Tolire sama saja, arah apapun yang ditempuh. Kuterima saja tawaran menarik tersebut dan walaupun saat pulang diguyur gerimis tetap saja kujalani dengan senang karena sempat melewati beberapa pantai indah, Danau Laguna dan Benteng Kastela. Nomer telepon Fuad, tukang ojek tersebut kusimpan karena memang nanti bila ada kesempatan kembali dan cuaca lebih cerah aku berkeinginan mengulangi trip ini dengan mengunjungi lebih banyak tempat dalam waktu yang lebih lama.

Bersambung ke Kepulauan Maluku Utara II : Sofifi – Weda – Gebe …..

Tagged as: , , , ,

Heru Hendarto is
Email this author | All posts by Heru Hendarto

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.