Jalan-jalan ke Tanjung Puting
By Erwin • Feb 4th, 2008 • Category: Ekowisata / EcoTourism, Indonesia, Petualangan
Kami menyewa perahu klotok untuk menjelajahi kawasan TNTP. Perahu bermesin L300 ini perlahan bergerak meninggalkan Kumai, memotong sungai besar dan perlahan-lahan masuk ke Sungai Sekonyer, ‘pintu gerbang’ kawasan TNTP. Perahu klotok yang kami tumpangi terdiri dari 2 lantai dan cukup untuk kapasitas 4 penumpang utama ditambah 3 awak perahu. Dilengkapi dengan kasur tidur, kelambu, dapur untuk masak, dan toilet yang dilengkapi dengan shower untuk mandi.
Sebelum pesawat perlahan-lahan mendarat di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya Kalimantan Tengah, dari balik jendela pesawat saya sempat menyaksikan pemandangan hutan yang sangat lebat. Saya langsung membayangkan perjalanan kami nantinya akan banyak berada di dalam hutan untuk menyaksikan langsung hewan asli Kalimantan itu di habitatnya. Apalagi kalau bukan Orang Utan, yang mulai terancam keberadaannya karena terus di buru dan hutan tempat mereka tinggal terus dibabat.
Tujuan perjalanan kami kali ini adalah ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Setelah mendarat, kami langsung mencari taksi untuk ke penginapan di Palangkaraya. Pemandangan hijau menyegarkan yang saya lihat dari atas pesawat ternyata sangat bertolak belakang dengan kondisi udara di darat. Cuaca kota Palangkaraya sangat panas. Kalau melihat sepanjang jalan, kondisi tanahnya berpasir seperti di pantai di tambah dengan panas dari sinar matahari, cukup untuk membuat badan kegerahan. Karena tanahnya berlahan gambut, jangan harap bisa melihat sawah di Palangkaraya.
Penginapan kami terletak tidak jauh dari pinggir Sungai Rungan. Bentuk bangunannya bergaya country dan terasa sejuk karena atapnya tinggi dan sebagian besar bangunan itu terbuat dari kayu. Sungai Rungan ini membelah dua buah pulau; Pulau Bengamat dan Pulau Kaja. Kedua pulau ini juga menjadi pusat rehabilitasi Orang Utan binaan BOS (Borneo Orang Utan Survival) di Taman Nasional Nyaru Menteng (TNNM). Suasana di penginapan terasa sangat natural karena berbatasan dengan hutan Pulau Bengamat. Suara berbagai jenis hewan hutan terdengar sepanjang hari. Menurut cerita pemilik penginapan, malahan kadang-kadang ada Orang Utan dan Bekantan yang nyasar mencari makan sampai ke dapur.
Hari pertama di Palangkaraya, kami sempatkan untuk jalan-jalan ke TNNM. Tapi ternyata kondisinya tidak sesuai dengan yang kami bayangkan. Untuk melihat Orang Utan di TNNM, tidak ada bedanya dengan melihat di kebun binatang Ragunan. Pengunjung hanya diperbolehkan melihat dari sebuah ruangan Auditorium yang bersebelahan dengan kandang Orang Utan.
Malam hari di penginapan kami isi dengan acara bakar ikan. Semua perlengkapan kami pinjam dari pemilik penginapan. Kami membeli beberapa ekor ikan Patin di pasar dekat sungai setelah pulang dari TNNM. Pasar di sini ternyata buka hanya seminggu sekali, dan kebetulan hari itu adalah hari Sabtu saat ada hari pasar.
Untuk mengobati kekecewaan, besok paginya kami menyewa perahu untuk menyusuri Sungai Rungan. Setiap paginya, Orang Utan di Pulau Kaja dan Pulau Bengamat biasa diberi makan oleh petugas dari BOS, dan aktivitas ini bisa menjadi tontonan yang menarik. Sebelum memasuki kawasan “feeding”, sesuai peraturan, pengunjung wajib melaporkan diri demi keselamatan. Cerita soal keganasan Orang Utan, beberapa kali sudah kami dengar sebelumnya. Sehingga perahu yang kami tumpangi juga selalu di awasi oleh perahu patroli petugas. Dari atas perahu, bisa disaksikan Orang Utan yang lagi diberi makan oleh petugas. Supaya bisa leluasa memotret, perahu diparkir di pinggir sungai seberang pulau. Berada di tepi Sungai Rungan serasa berada di pantai karena warna pasirnya putih bersih seperti pasir di pantai-pantai.
Pada hari ketiga, perjalanan ke TNTP barulah dimulai. Kami sudah memiliki tiket bus malam jurusan Palangkaraya-Pangkalan Bun yang dibeli tidak jauh setelah keluar dari Bandara. Bus dijadwalkan akan lewat setelah pukul 5 sore, jadi kami tinggal menunggu saja di jalan keluar dekat penginapan. Perjalanan Palangkaraya-Pangkalan Bun ditempuh sekitar 10 jam, melewati jalan yang hanya pas untuk 2 kendaraan dengan kondisi jalan mulus, kecuali di beberapa titik selepas kota Kasongan, jalanan sedikit rusak.
Sepanjang perjalanan, seorang bapak yang duduk di samping saya bercerita tentang kemewahan yang dimiliki kota Pangkalan Bun, kota asalnya. Tidak mengherankan memang, banyak dijumpai kendaraan build up yang tergolong mewah berseliweran di jalan raya karena banyaknya pengusaha kayu dan kelapa sawit yang sukses. Saya jadi teringat cerita supir taksi yang membawa kami dari Bandara Tjilik Riwut ke Kota Palangkaraya. Si sopir taksi yang asli Banjar itu bercerita bahwa ia dulunya jutawan dan pernah naik haji sampai 5 kali karena pernah sukses jadi pengusaha kayu di Palangkaraya. Tetapi katanya, saat ini untuk mendapatkan kayu tidak semudah dulu.
Pukul 4 subuh, bus yang kami tumpangi sudah sampai di Pangkalan Bun. Begitu turun dari bus, langsung di serbu tukang ojek yang berebut menawarkan jasa. Kami memilih beristirahat dulu sambil orientasi lokasi. Barulah setelah pukul 5 subuh, kami mulai berjalan kaki ke arah Istana Kuning, untuk mencari angkot ke Kumai.
Sampai di Kumai 1 jam kemudian, langsung mencari perahu klotok yang akan kami sewa untuk perjalanan selama di TNTP. Kumai adalah kota pelabuhan. Kapal-kapal besar dari Jawa dan Kalimantan terlihat banyak yang sedang bersandar. Setelah negosiasi harga dengan pemilik klotok, saya mulai berbelanja keperluan logistik di pasar Kumai dengan ditemani oleh anak pemilik klotok yang nantinya akan menjadi juru masak selama dalam perjalanan. Bahan-bahan makanan seperti beras, minyak, air mineral, bumbu dapur, sayur-mayur, buah-buahan, ikan, daging, makanan ringan, dan minuman ringan bakal memenuhi kebutuhan lapar dan dahaga kami selama dalam perjalanan. Tidak lupa juga membeli es batu untuk mengawetkan bahan makanan tersebut. Sementara rekan-rekan lainnya, mengurus perijinan masuk ke TNTP yang kantornya tidak jauh dari pelabuhan.
Sebenarnya ada perahu reguler yang melayani rute dari Kumai ke Desa Tanjung Harapan, desa satu-satunya yang berada di dalam kawasan TNTP yaitu dengan menggunakan Speedboat. Di dalam TNTP juga terdapat Penginapan kelas resort bertarif dollar. Tetapi umumnya wisatawan yang berkunjung ke TNTP lebih memilih untuk menyewa perahu klotok dan bermalam di atas perahu, karena disinilah letak sensasi perjalanannya.
Kami menyewa perahu klotok untuk menjelajahi kawasan TNTP. Perahu bermesin L300 ini perlahan bergerak meninggalkan Kumai, memotong sungai besar dan perlahan-lahan masuk ke Sungai Sekonyer, ‘pintu gerbang’ kawasan TNTP. Perahu klotok yang kami tumpangi terdiri dari 2 lantai dan cukup untuk kapasitas 4 penumpang utama ditambah 3 awak perahu. Dilengkapi dengan kasur tidur, kelambu, dapur untuk masak, dan toilet yang dilengkapi dengan shower untuk mandi. Bentuk perahu klotok untuk wisatawan semua sama, juga fasilitasnya. Tapi ada juga perahu berkapasitas lebih besar untuk kelompok rombongan. Sungai Sekonyer mengalir sangat tenang. Pinggirannya di dominasi pohon Nipah. Sungai ini masih banyak buayanya. Menurut cerita Pak Abu, pemilik perahu klotok, beberapa bulan lalu seorang wisatawan asing tewas di serang buaya. Turis-turis asing yang tidak menyadari bahaya itu lagi asyik mandi di sungai. Seorang penduduk lokal juga dilaporkan tewas di seret buaya ketika sedang mencuci baju di sungai. Sungai Sekonyer, tenang tapi mematikan. Keberadaan buaya di sungai ini tapi tetap tidak membuat takut penduduk setempat. Mereka dengan tenangnya masih melakukan aktifitas mencari ikan atau menambang pasir.
Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Desa Tanjung Harapan. Perahu merapat di dermaga, kami bergegas turun untuk melihat isi desa ini. Beberapa Ibu yang menumpang perahu kami dari Kumai ternyata hendak mengunjungi hajatan perkawinan kerabat mereka. Tanpa bisa menolak, kami menerima ajakan ibu-ibu itu untuk ikut berkunjung. Bersama dua turis asing dan guide mereka, kami menjadi tamu tak diundang dalam pesta pernikahan yang digelar dalam adat Banjar itu. Mau tidak mau, kami ikut menyantap hidangan yang disajikan, tetapi tidak lupa juga meninggalkan ‘angpau’ sebagai tanda hormat kepada tuan rumah.
Kami juga sempat di ajak mampir ke beberapa rumah penduduk yang ternyata banyak di antara mereka berasal dari Jawa. Harga tanah di desa ini masih sangat murah, sehingga mereka lebih memilih tinggal di sini karena punya tanah garapan dibanding tinggal di tanah Jawa. Setelah beberapa jam kami berkeliling dan mampir ke rumah penduduk setempat, kami kembali ke perahu untuk makan siang lagi, sambil menunggu ‘feeding time’ Orang Utan di Camp Tanjung Harapan, di seberang desa.
Di Tanjung Harapan inilah, pertama kali kami bisa menyaksikan dari dekat proses pemberian makan Orang Utan di habitat aslinya. Sebelum mereka benar-benar dilepaskan di alam liar untuk mencari makan sendiri, mereka masih perlu penyesuaian secara bertahap. Proses pemberian makan yang sehari 2 kali merupakan bagian dari penyesuaian itu. Para ranger membawa beberapa keranjang pisang ke tengah hutan sambil berteriak-teriak memanggil Orang Utan untuk diberi makan. Sementara wisatawan bisa menyaksikan kegiatan ini dari jarak yang cukup dekat sambil memotret.
Hari sudah mulai gelap, kami kembali naik perahu klotok dan bergerak menuju ke sebuah danau untuk bermalam. Tetapi rupanya ‘kavling’ strategis dekat danau ini memang menjadi tempat favorit untuk parkir klotok yang bermalam. Karena dari sini kita bisa menyaksikan gerombolan bekantan dan monyet yang bergelantungan di atas pohon. Di sini sudah parkir 2 klotok yang ditumpangi wisatawan asing. Jadi kami memilih agak menjauh supaya lebih tenang dan tidak saling mengganggu. Perahu mulai menepi, tambang diikatkan pada pohon supaya tidak bergerak. Genset mulai dinyalakan oleh Pak Abu. Untuk lampu penerangan dan shower mandi. Kalau memerlukan charge battery kamera, kita bisa manfaatkan genset ini.
Makan malam disiapkan oleh Udin, si juru masak kami. Udin adalah anak Pak Abu. Masakannya sangat lezat. Tidak heran, rata-rata turis yang menggunakan jasanya menyatakan puas atas rasa masakannya. Malam itu sambil menunggu waktu tidur, Pak Abu bercerita soal horor yang dia pernah alami sewaktu membawa turis asing berjalan-jalan di dalam hutan TNTP. Kami mendengarkan dengan antusias dan senang, walaupun suasana sunyi senyap di atas sungai dan suara-suara hewan hutan yang kadang terdengar aneh sangat mendukung suasana. Akhirnya, rasa lelah dan kantuk yang tidak dapat ditahan, membuat kami semua akhirnya terlelap sampai pagi dan terbangun karena suara kicauan burung, suara bekantan dan monyet-monyet di atas pohon-pohon dekat perahu kami, benar-benar pengalaman yang menyenangkan. Kabut pagi yang masih menggantung di atas sungai juga pemandangan yang mempesona.
Setelah sarapan pagi, perahu kami mulai bergerak lagi. Kali ini tujuannya ke Camp Lakey. Pusat penelitian Orang Utan di dalam TNTP ini didirikan pada tahun 1971 oleh Dr. Birute Galdikas, seorang wanita professor berkebangsaan Kanada. Di Camp Lakey juga terdapat sebuah bangunan semacam museum Orang Utan dimana pengunjung bisa mendapatkan berbagai informasi tentang kehidupan Orang Utan.
Ada kejadian yang cukup menegangkan pada waktu itu. Seekor Orang Utan bernama Princess tampak tidak sabar ingin segera mendapatkan jatah makanan. Petugas pembawa makanan terus dikuntit dari belakang. Padahal posisi petugas berada di tengah-tengah rombongan turis asing yang akan menyaksikan proses “Feeding Time”. Princess mengambil jalan pintas, dan tiba-tiba sudah berada ditengah-tengah menghadang petugas. Rombongan menjadi panik.
“Go back, go back…!”teriak Guide yang membawa rombongan turis itu. Rombongan pecah menjadi dua bagian. Sebagian terus melanjutkan perjalanan bersama petugas, sebagian lagi mundur. Kami yang masuk hutan tanpa guide, berusaha berlindung diantara rombongan turis tadi. Tapi sukurlah, keadaan akhirnya bisa terkendali. Begitulah Orang Utan, kalau sudah punya keinginan, siapapun akan sulit untuk menghalau. Beberapa kali pengunjung taman nasional juga dibuat panik oleh ulah Princess. Tiba-tiba saja dia meminta paksa botol minuman yang dibawa salah seorang turis. Si Turis berusaha bertahan, gak mau ngasih. “Give it !” perintah guidenya.
Orang Utan tampak tenang dan jinak, karena mereka masih setengah liar yang secara perlahan akan dibiarkan hidup secara mandiri. Banyak cerita soal ulah orang utan ini. Pernah orang utan merebut tas yang dibawa turis dan menyebarkan seluruh isinya dari atas pohon. Perahu yang sedang ditambatkan di dermaga, tali-talinya juga pernah dilepas oleh orang utan dan mendayung perahunya sampai jauh dari dermaga. Ini pula yang menyebabkan perahu klotok tidak ada lagi yang bersandar di dermaga pada malam hari. Sehingga untuk bermalam, semua klotok bersandar di sekitar danau yang jauh dari dermaga.
Uniknya, orang utan di TN Tanjung Puting semua diberi nama. Ahmad, Thomas, Samson, Tom, Kosasih dan masih banyak nama lagi. “Ibu Profesor memberi nama berdasarkan nama-nama pengunjung yang ada di buku tamu, atau nama donatur,” kata seorang petugas yang menemani kami saat trekking. Ibu Profesor yang dimaksud adalah Prof. Birute.
Orang Utan tidak suka hidup berkelompok. Anak orang utan masih tetap berada disamping ibunya antara usia 6-7 tahun, setelah itu mereka hidup mandiri. Sementara orang utan jantan dewasa, berusaha menjadi penguasa melalui pertarungan-pertarungan. Adalah Tom, orang utan jantan yang saat ini menjadi penguasa di TN Tanjung Puting. Ia mengambil alih kekuasaan dari tangan Kosasih setelah memenangkan perkelahian.
Selesai dari Camp Lakey, hari mulai gelap dan perahu kami kembali ke area sekitar danau untuk bermalam lagi. Secara bergantian kami mandi dilanjutkan dengan makan malam. Malam ini udara terasa lebih sejuk karena turun hujan.
Rute terakhir kami setelah dari Camp Lakey adalah Camp Pondok Tangui. Sewaktu kami ke sini, hanya ada satu Orang Utan yang muncul meskipun ranger yang memberi makan sudah menyiapkan beberapa keranjang pisang. Sewaktu kami akan kembali ke Kumai, dalam perjalanan dengan perahu kami sempat melihat 2 orang utan liar yang sedang bermain-main di pinggir sungai. Dua orang utan itu tampak ketakutan melihat perahu kami, dan pelan-pelan mereka menjauh dari pinggir sungai.
Mengamati kehidupan satwa di TN Tanjung Puting jelas berbeda dengan di kebun binatang. Menyusuri Sungai Sekonyer dengan perahu klotok dan bermalam di atas perahu. Menikmati suasana yang tenang di tengah hutan belantara, udaranya segar dan jauh dari polusi, membuat saya lupa waktu, lupa hari dan ternyata kami sudah harus kembali ke peradaban setelah menghabiskan waktu 3 hari 2 malam di Tanjung Puting.
Tips Melihat Orang Utan;
1. Sebagai pengunjung, jangan memberi makan orang utan yang ada di dalam Taman Nasional, karena bisa membuat mereka manja dan malas untuk cari makan sendiri.
2. Orang utan tampak kelihatan tenang dan jinak. Ini yang membuat pengunjung lengah, hindari menyentuh atau berada terlalu dekat jangkauannya. Cengkraman tangannya mampu mematahkan tulang manusia.
3. Hindari memakai perhiasan, membawa tas yang berisi barang berharga, dan membawa makanan karena bisa dirampas oleh orang utan. Sebaiknya dititipkan ke petugas atau ditinggal di perahu.
4. Usahakan didampingi oleh Ranger/Petugas pada saat trekking atau menyaksikan proses “Feeding Time”




Salam kenal, kebetulan saya juga ada rencana untuk ke Tanjung Puting (belum tau pastinya kapan sih) dengan itinerary yang kurang lebih sama. Mohon dibantu mengenai sewa klotok (contact personnya), kl blh sekalian biaya sewa dan biaya2 lain yg dibutuhkan eg. admission di TNTP, Camp Leakey & Camp Pondok Tangui. Kalo ada info penting yang boleh juga saya tahu. Thanks in advance ya….
sama niy bisa di info ga biayanya kesana soalnya penegn banget ney untuk thn depan