Flores – when the dreams come true
By Imas • Apr 25th, 2008 • Category: Budaya / Cultural, Cerita Perjalanan, Indonesia, Petualangan, Wisata
Boleh dibilang, ini adalah perjalanan yang paling sering membuat saya tersenyum.
Ada beberapa alasan sebenarnya. Bertahun-tahun saya memelihara keinginan untuk bisa menginjak tanah Flores, beberapa kali rencana dibuat tapi hasil akhirnya selalu melenceng ke tempat lain. Jadi tak heran, begitu bahagianya saya saat membaca email yang berisi hasil final konfirmasi tiket yang dikirimkan teman seperjalanan saya.
Flores adalah alam dengan segala keunikan dan keindahan disetiap jengkal tanahnya. Dan lagi-lagi saya tak bisa berhenti tersenyum, reaksi spontan saat pandangan mata saya menangkap segala kecantikannya.
Keberuntungan nomor satu
Hari-hari penuh keribetan itu sudah dilewati, saat dimana kami harus membongkar pasang rencana, membolak –balik rute, berburu tiket murah dan menelpon sana sini untuk memastikan jadwal penerbangan perintis yang seringkali tiba-tiba berubah seperti disulap. Sabtu pagi itu kami sudah bisa duduk tenang diatas pesawat yang akan membawa kami ke Kupang, kota yang menjadi transit point sebelum memasuki Ende.
Rute perjalanan kami adalah Jakarta-Kupang-Ende-Riung-Bajawa-Ruteng-Labuan Bajo-Denpasar-Jakarta/Balikpapan. Kami memutuskan untuk men-skip Maumere karena keterbatasan waktu cuti.
Panas menyengat langsung menyambut begitu turun di bandara El Tari, dan saat tiba di ruang kedatangan saya mendengar sebuah percakapan yang riuh dengan bahasa daerah yang sangat familiar dikuping saya. Seketika saya merasa agak disorientasi, melihat sekeliling untuk memastikan kalau saya benar mendarat di kawasan Nusa Tenggara Timur, bukan di Sumatera Barat. Sudah jauh-jauh terbang ke wilayah timur tapi tetap saja bahasa daerah pertama yang saya dengar persis seperti bahasa nenek saya, bahasa padang. Onde mande uda….
Kami memutuskan untuk jalan kaki saja keluar Bandara menuju jalan raya untuk mencari angkutan umum atau ojek. Tapi baru jalan beberapa meter sebuah mobil membunyikan klaksonnya dan menghampiri kami. Seorang bapak bersama putri kecilnya menawarkan kami tumpangan untuk sampai di jalan raya, yang ternyata jauhnya minta ampun. Begitu tiba di jalan raya yang banyak dilalui angkutan umum, pak Gion yang baik hati itu sepertinya tak tega menurunkan kami, dan akhirnya beliau langsung mengantarkan kami kedepan pintu penginapan. Pak Gion adalah keberuntungan awal kami, keberuntungan nomor satu. Makasih banyak pak….
Menginap semalam di Kupang memang tak banyak yang bisa dilakukan. Cukuplah berkeliling kota naik angkutan umum, jalan kaki menyusuri jalanan dan bergabung dengan penduduk lokal menghabiskan sore di tepi laut. Naik angkot disini harus berani budeg, karena mereka memutar musik dengan volume maksimum dan bas berdentum hebat. Tapi syukurlah pilihan lagunya yang masuk top hits semua, bukan lagu ajeb-ajeb.
Selain itu juga bisa selalu ketemu sama artis terkenal. Waktu itu kami sempat satu angkot sama Britney Spears, Mariana Renata dan kelompok Westlife. Tidak dalam fisik nyata pastinya, tapi dalam bentuk poster yang menghiasi interior angkot. Meriah sekali.
Moni, keheningan di kaki gunung
Dalam proses hitung-menghitung waktu, diputuskan Ende adalah pintu masuk kami ke Flores. Mendarat di bandara Hasan Aroeboesman sempat membuat saya geli sendiri. Ruang kedatangan yang kecil sederhana itu sudah dipenuhi oleh penjemput, tukang ojek dan supir bemo yang menawarkan jasa pada penumpang. Seorang supir bemo dengan rambut dicat merah dan highlight kuning langsung menginterogasi rencana tujuan saya, sementara teman seperjalanan saya berdesakan didepan sebuah meja tua reyot menunggu bagasi sambil khusuk mendengarkan petugas menyebutkan sederet angka. Disini harus bersabar menunggu sambil pasang kuping baik-baik, karena petugas akan berteriak memanggil satu persatu nomor bagasi seluruh penumpang. Aha, selamat datang di Flores dan silahkan lupakan sejenak seluruh standard kenyamanan hidup yang anda punya.
Masih dengan angkot yang modelnya nggak jauh berbeda dengan angkot di Kupang, dari airport langsung menuju terminal Roworeke untuk pindah ke bus kecil yang akan membawa kami ke Moni. Bus kecil itu penuh, dan masih terus dipadatkan lagi dengan berbagai barang. Beberapa kali terdengar suara babi ber-nguiknguik-ria dari arah belakang. Seketika saya teringat pesan seorang kawan sebelum berangkat, ‘have an adventurous trip,imas..’. Dan disinilah kami, duduk terjepit dalam bus kecil yang berjalan terseok-seok bersama dengan tumpukan barang dan sekumpulan hewan ternak.
Hujan deras menyambut saat tiba di desa Koanara, tempat kami menginap sebelum trekking ke Kelimutu. Peter, orang yang kami temui di penginapan mengatakan kalau hujan terus turun beberapa hari belakangan. Mendengar itu kami tentu saja khawatir tak bisa trekking menikmati keindahan Kelimutu seandainya besok pagi hujan dan kabut tebal. Dia mengatakan, semoga nanti malam banyak bintang, yang artinya kemungkinan besar besok pagi akan cerah. Saya hanya bisa tersenyum kecut.
Hujan reda begitu sore menjelang dan kami memutuskan untuk jalan-jalan keliling desa melihat pasar tradisional dan rumah adat. Beberapa anak yang sedang bermain sore itu langsung berpose ekspresif begitu kami mengarahkan kamera pada mereka. Permen dan coklat yang kami bawa pun sukses jadi rebutan.
Seluruh desa gelap gulita malam itu, listrik mati. Ini memang sudah rutin setahun belakangan ini, kata Peter sambil memberikan pada kami beberapa batang lilin. Lengkaplah sudah, terdampar didesa terpencil yang sunyi dan gelap, hujan kembali turun, dan kami belum makan malam. Hening-senyap, tak ada suara apapun selain suara binatang yang kedengarannya aneh sekali. Maka terjadilah dialog konyol yang mengisi kesunyian:
“itu suara apa sih?”
“kodok.”
“ah yang bener lu, kok suaranya lain. Gue belum pernah denger di tempat gue ada kodok bunyinya kayak gitu.”
“ya iyalah. Disini kan kodoknya pake bahasa daerah sini. sedangkan ditempat lu pasti suara kodoknya, Bah! Bah! Bah!”
“hahahaa.. Tapi biasanya kan suara kodok nggak besar-pecah gitu”
“berarti yang biasa lu dengar itu kodoknya masih kecil. Kalo yang ini udah akil baligh, jadi suaranya udah ngebass”
“halah...”
Keberuntungan nomor dua
Tukang ojek yang kami booking datang tepat waktu, pukul 4.15 subuh mereka sudah menjemput ke penginapan. Hal pertama yang kami lakukan begitu keluar pintu penginapan adalah melihat ke atas, dan langit saat itu bertabur bintang. Alhamdulillah, cuaca akan cerah pagi ini.
Hawa dingin dan garis jingga di langit timur menemani perjalanan pagi itu. Setelah trekking ringan akhirnya sampai di tempat tertinggi, tepat saat matahari muncul dari balik dinding kawah.
“kalian beruntung” kata si bapak penjual teh pagi itu.
“sudah beberapa hari sampai kemarin, permukaan danau tak bisa dilihat karena tertutup kabut tebal dan cuaca jelek”, lanjutnya lagi.
Cuaca memang sempurna pagi itu, cerah dan tak berkabut. Saya duduk menghadap danau hijau, merasakan terpaan angin dan mendengarkan suara satwa hutan. Menikmati ketenangan pagi ini dan mensyukuri keberuntungan kami.
Tiga danau dengan tiga warna berbeda itu dengan jelas memamerkan warna-warna indahnya, sementara kabut melapisi perbukitan disisi lainnya. Pemandangan indah radius 360 derajat, membuat kami tak mau beru-buru turun meskipun panas matahari sudah mulai menyengat.
Desa tradisional Nggela dan Jopu adalah tujuan berikutnya. Desa Jopu berada diantara Moni dan Nggela, sedangkan Nggela kira-kira 26 km kearah selatan Moni, dekat dengan laut. Nggela cantik sekali, dengan latar belakang laut biru, daerah komunalnya diisi oleh rumah tradisional dan wanita-wanita yang sedang menenun di beranda. Kain hasil tenunan mereka dipajang didepan rumah, yang tentu saja sangat indah. Beberapa dari mereka cukup agresif juga menawarkan kain tenun itu pada kami, dan terus terang saya kepingin sekali. Tapi karena harganya bisa bikin kacau budget perjalanan, akhirnya cukuplah saya hanya memiliki fotonya saja.
Melewati desa Jopu, kami mampir di salah satu rumah. Seorang ibu sedang menenun di halaman rumahnya yang dipenuhi kain tenun yang dipajang seperti jemuran. Beliau bercerita soal proses tenun, pewarnaan dan materialnya. Kembali kami ditawarkan kain tenunnya, tapi kali ini si ibu melepasnya dengan harga yang masih dalam jangkauan kantong kami, walaupun pross tawar menawarnya super alot.
Sesuai rencana perjalanan, kami meninggalkan Moni siang itu menuju Ende dengan model bus yang sama seperti saat datang. Tapi syukurlah kali ini tak ada suara ‘nguik-nguik’ dibelakang.
Moni dan desa Koanara sudah jauh kami tinggalkan, puncak gunung Kelimutu tak terlihat karena tertutup kabut tebal. Saya tersenyum mengingat kembali semua keindahannya, sebelum tertidur dibangku belakang bus yang beguncang hebat menembus lubang jalanan.
Mimpi Manis – kata judul lagu dangdut
Tiba-tiba saja rasanya seperti jatuh terlempar ke dimensi mimpi. Saat itu dalam perjalanan dari Ende menuju Riung, dan saya terbangun karena kepala terbentur kaca jendela. Bis tua penuh sesak itu sedang berjalan pelan diatas jalanan kecil berbatu dan penuh lubang menganga. Diluar jendela terhampar padang savanna yang luas diselingi oleh pohon-pohon aren dan barisan rumah tradisional di beberapa area. Disisi lainnya menjulang bukit-bukit yang kuning mengering dengan kontur unik ditimpa cahaya matahari sore. Lalu beberapa ekor kuda berjalan beriringan tepat di depan bis kami dan kemudian berlari melintas savanna. fiuhhh…seperti inilah moment tentang Flores yang selama ini saya bayangkan.
Kami mungkin adalah penumpang paling ribut dan norak di bis pada saat itu, menunjuk sana-sini lalu berseru penuh decak kagum. Tapi penumpang yang duduk didekat kami rupanya cukup bisa mengerti penyebab kehebohan kami, karena beberapa kali dia membantu memberitahu pemandangan indah yang menunggu didepan, disepanjang jalan ini.
Kami baru saja keluar dari Mbay, sebuah kota kabupaten di utara Flores. Dan pemandangan diantara Mbay dan Riung menurut saya adalah salah satu yang terbaik, karena nuansa khas Flores-nya kuat sekali. Sayang, tak ada foto yang berhasil dibuat karena bis berjalan terus. Tapi saya mungkin tak akan melupakan setiap detailnya, karena memang indahnya minta ampun.
Teorinya, bis ke Riung berangkat jam 12 siang dari terminal Ende. Tapi selama dua jam kedepan harus keliling kota dulu menjemput penumpang, dan pak supir juga harus belanja dulu. Belanjaan pak supir biasanya barang-barang titipan penduduk Riung, yang akan diantarkan saat bis kembali memasuki Riung nantinya.
Mengisi pagi di Ende akhirnya kami memutuskan mencari ojek yang bisa membawa kami ke desa Punggajawa, tempat dimana sepanjang garis pantainya dipenuhi batu berwarna. Orang-orang biasa menyebutnya pantai batu biru.
Dari Ende, Riung ditempuh selama 6 jam dengan kondisi jalan berkelok-kelok dengan sopir bis yang ngebut. Kami memasuki Riung sekitar pukul 8 malam, dan supir bis langsung menurunkan kami di depan penginapan. Tak ketinggalan bunyi klaksonnya yang berisik itu, sehingga pemilik penginapan pun akhirnya keluar menyambut kami.
Pagi itu saya menikmati sarapan di beranda sambil bermalas-malasan di amben bambu, mendengarkan suara burung yang ramai berkicau indah. Tak heran, karena pondok tempat saya menginap memang dikelilingi pohon-pohon rindang. Cuaca juga cerah pagi ini, dan rencananya kami akan berperahu mengelilingi pulau-pulau yang tersebar di Taman Laut Riung 17 ini.
Dermaga terletak tak jauh dari penginapan, dan perahu yang dipesan malam sebelumnya sudah menunggu. Pulau kelelawar adalah tujuan pertama kami. Dari jauh sudah kelihatan banyaknya titik hitam diatas sebuah pulau, dan semakin mendekati pulau samar-samar terdengar suara cicitnya. Begitu perahu merapat, ribuan kelelawar beterbangan diatas kepala kami, sampai ada pohon yang berdaun dan beranting kelelawar. hiii..sampai geli sendiri.
Melewati beberapa pulau-pulau kecil, lalu kami tiba dipulau dengan pantai terbaik di Riung 17 ini. Namanya pulau Rutong, dan disekitarnya adalah spot yang bagus untuk snorkeling. Laut tenang, air yang bening berwarna tosca, lalu pantai berpasir putih lembut dengan perbukitan sebagai latarnya. Kami menghabiskan waktu cukup lama menikmati pulau ini, jarang-jarang kan bisa menikmati tempat keren begini. Kapan lagiiii….
Ojek Mania
Selesai berkeliling pulau, selepas tengah hari kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Bajawa, sebuah kota berhawa dingin. Bis dari Riung ke Bajawa hanya sekali sehari, berangkat jam 7 pagi. Kami tak bisa menunggu sampai esok hari, akhirnya kami nekad ber-ojek ria. Dengan kecepatan lumayan ngebut, Riung – Bajawa dapat ditempuh dalam waktu 2,5 jam dengan kondisi jalanan menanjak menyusuri jalan pegunungan. Baru setengah jam perjalanan hujan deras mengguyur kami.
Sempat berhenti sebentar untuk mengamankan barang-barang elektronik, sedangkan pakaian di backpack sejak awal memang sudah dimasukkan dalam kantong plastik. Kami langsung melanjutkan perjalanan menembus hujan deras, angin dan cuaca yang semakin dingin, karena kalau menunggu hujan berhenti mungkin bisa sebulan lagi, karena daerah Bajawa di bulan desember memang identik dengan hujan. Saya menggigil, jari-jari saya putih membeku, basah kuyup karena air menembus jaket dan amat sangat kedinginan. Sebuah pikiran sempat melintas dipikiran saya ‘waduh jangan sampe gue kena hypothermia’.
Bajawa berselimut kabut tebal saat kami tiba dan akhirnya penderitaan saya berakhir. Begitu check in di penginapan saya langsung memesan teh hangat lalu mandi dengan air panas. Sementara hujan deras masih terus turun sepanjang malam.
Lagi-lagi mengandalkan ojek, kami mengunjungi desa Bena & Luba yang berada di kaki gunung Inerie. Pantas saja waktu kami bertanya pada petugas penginapan apakah ada angkot yang melewati desa itu mereka bilang tidak ada, karena kondisi jalanannya memang tak memungkinkan untuk dilewati mobil. Di beberapa titik terlihat sedang ada perbaikan jalan, jadi seharusnya sih beberapa bulan ke depan akses jalan menuju Bena & Luba sudah bisa dilewati mobil (mendukung program visit Indonesia year mungkin ya…).
Desa Bena itu cantik sekali, dan yang saya rasakan penduduknya juga tidak seagresif Nggela untuk menjual hasil kerajinan mereka. Kami bisa berjalan santai dan tenang mengitari kawasan ini tanpa gangguan apapun, dan mereka menyapa ramah saat kami ajak ngobrol. Jika cuaca sedang cerah, dari desa ini bisa terlihat pulau Sumba. hhhmm… next trip Insyaallah, saya dan teman saya bersepakat.
Ruteng di kabupaten Manggarai adalah kota berikutnya, dan kami berangkat dari Bajawa pukul 7 pagi dengan bis umum yang menjemput langsung kedepan penginapan. Tak jauh beda dengan Bajawa, cuaca di Ruteng juga sangat sejuk dan hujan masih terus turun walaupun gerimis. Beberapa tempat di kabupaten ini yang rencananya akan kami kunjungi terpaksa dibatalkan, karena transportasi andalan yg paling efisien menuju kesana hanya ojek. Tapi rasanya kok tiba-tiba malas berbasah kuyup lagi naik ojek, dan lebih memilih tempat yang bisa diakses dengan angkot saja.
Dari pasar, kami memutuskan naik angkot ke Cara, tempat yang terkenal dengan sawah Lingko yang berbentuk seperti jaring laba-laba. Filosofi pembagian lahan sawah seperti ini katanya menggambarkan kekuatan dan kekerabatan yang erat. Bahkan bentuk rumah adat di kabupaten ini juga sepertinya terinspirasi dari jaring laba-laba. Beberapa orang anak kecil menemani kami naik ke tempat yang agak tinggi agar bisa melihat bentuk jaring sawah itu. Saat teman saya menawari anak-anak itu permen, mereka menjawab “kami mau uang saja”. Aduh dek…
Komodo dan Ikan bakar sambal terasi
Perjalanan dari Ruteng menuju Labuan Bajo ditempuh selama 4 jam, dan seperti biasa view sepanjang jalan indah…apalagi begitu mendekati Labuan Bajo. Hal pertama yang dilakukan begitu tiba adalah langsung menuju kantor perwakilan Transnusa. Tiket yang kami booking lewat telepon saat sebelum berangkat harus diambil, dan atas kebaikan hati staff Transnusa nama kami tetap ada di list manifest walaupun 2 hari menjelang keberangkatan masih belum dibayar. Dan lagi-lagi mereka berbaik hati memberi kami harga termurah, padahal seharusnya kami dikenakan harga tertinggi.
Terus terang urusan tiket keluar dari Labuan Bajo ini adalah hal yang paling membuat kami khawatir. Tak ada booking online, daftar booking seat hanya ditulis dalam buku folio yang sudah lusuh dan penuh coretan serta tip-ex disana sini. Sementara itu booking yang kami lakukan hanyalah lewat telepon dan pembayaran melewati time limit, jadi wajar saja kalau kami sudah bersiap-siap untuk keadaan terburuk mendengar jawaban “maaf, sudah penuh. Bookingan kalian sudah di cancel, jadi kalian harus menunggu penerbangan beberapa hari lagi”. Ah, tapi syukurlah urusan tiket ini lancar. Tak sia-sia saya menghabiskan pulsa menelepon setiap dua hari sekali memonitor status bookingan kami.
Awalnya kami berharap banyak dengan makanan di Labuan Bajo ini. Terus terang sejak awal masuk ke Flores ini kami tak merasakan nikmatnya rasa makanan yang sesuai dengan lidah. Nasi padang lagi..nasi padang lagi…
Saya sudah membayangkan nikmatnya ikan segar yang dibakar dengan cara tradisional dengan sambal ulek yang segar. Maka kami pun berjalan kaki berusaha mencari tempat makan yang menyajikan menu seafood. Tapi nggak ketemu, karena menu seafood yang dihidangkan sudah disesuaikan dengan lidah bule yang memang mendominasi kawasan ini. Saya sedang tidak ingin tuna grilled dengan barbeque sauce atau apapun sejenisnya. Saya lagi sakaw ikan bakar dengan bumbu tradisional lengkap dengan sambal ulek terasi, lalap sayuran dan terong goreng.titik.
Teman seperjalanan saya lebih parah lagi, selain sakaw ikan bakar juga sakaw teh botol dingin. Tapi dimana-mana yang banyak dijual itu bir dingin, dan saat kami menemukan satu toko yang menjual teh botol, yang ada bukan teh botol dingin tapi teh botol beku karena dimasukkan dalam freezer.
Dua hari di Labuan Bajo, akhirnya malam terakhir sebelum pulang kami menemukannya. wuiihh…rasanya seperti dapat undian. Warung Madura yang letaknya disebelah kantor pos itu menjual ikan bakar persis seperti yang kami inginkan. Setelah hampir 2 minggu perjalanan, itulah makanan ternikmat yang saya rasakan di Flores ini.
Di Labuan Bajo ini kami mencharter perahu untuk membawa kami ke pulau Rinca. Cuaca cukup bagus walaupun langit agak mendung sedikit, dan laut tenang. Tiket masuk Taman Nasional Komodo yang mahalnya minta ampun (kalau dibandingkan dengan TN lain di indonesia) itu sebenarnya sudah sekalian juga untuk masuk ke pulau Komodo. Tapi jaraknya yang lebih jauh sehingga harus bermalam, membuat kami memutuskan hanya sampai Rinca saja karena penerbangan kami keluar dari Flores adalah keesokan paginya.
Perahu merapat di dermaga Loh Buaya lalu dilanjutkan berjalan kaki menuju pos TN. Lalu melakukan registrasi dan membayar Dana Kontribusi Konservasi berikut berbagai jenis enterance fee yang menurut saya mahal sekali untuk ukuran TN di Indonesia. Ah ya, sepertinya saya harus baca ulang lagi informasi penggunaan dana konservasi yang diberikan salah seorang staff Putri Naga Komodo yang pernah diposting di milis komunitas ini beberapa waktu lalu. Supaya nggak su’udzon.hehehe..
Sebenarnya ada untungnya juga cuaca agak mendung saat trekking di pulau Rinca ini. Kalau saja saat itu matahari sedang terik dan kami berjalan melintasi savanna, wah..saya pasti sudah kering crispy. Sepasang komodo sudah terlihat di halaman sekitar pos TN. Senangnya…akhirnya saya bisa mendatangi langsung satu-satunya tempat ditemukannya habitat komodo di dunia ini. Seorang guide yang menemani kami trekking beberapa kali menunjukkan tulang-tulang kerbau korban keganasan si predator itu.
Sepanjang perjalanan saya deg-degan juga sambil menyiagakan mata dan telinga, khawatir kalau tiba-tiba ada komodo diantara semak jalan setapak yang kami lewati. Sepanjang jalur trekking 5 km itu beberapa ekor komodo terlihat ‘ngadem dibawah pohon, kerbau liar sedang merumput, rusa berkeliaran bebas, monyet diantara pepohonan, burung-burung terbang melintasi savanna dan pemandangan pulau Rinca yang begitu indah.
Badai (belum) pasti berlalu
Rencana awalnya, setelah dari pulau Rinca kami akan mampir ke beberapa pulau lagi sebelum kembali ke Labuan Bajo. Tapi cuaca sedang tidak berpihak, angin kencang, hujan deras dan gelombang mulai tinggi. Kapal kami pun mulai oleng mengikuti ayunan gelombang yang sepertinya makin menggila. Kalau saja kulit muka saya tidak sedang gosong terpanggang panas matahari flores mungkin saat itu warnanya sudah pucat pasi. Teman saya sepertinya menangkap ekspresi takut saya, dan langsung meminta bapak pengemudi perahu memutar haluan langsung kembali ke Labuan Bajo.
Hujan badai masih terus menghantam tak berhenti, bahkan sampai keesokan paginya. Kami sempat bingung juga bagaimana caranya keluar dari penginapan menuju airport ditengah amuk badai seperti ini dan jalanan pun sepi sekali pagi itu. Tapi untunglah tak lama kemudian angkot kosong lewat dan bersedia mengantar kami sampai ke airport.
Tepat seperti dugaan kami, petugas Transnusa mengumumkan kalau pesawat yang akan membawa kami ke Denpasar tidak bisa mendarat di Labuan Bajo karena buruknya cuaca dan kami akan dipindahkan ke pesawat Merpati atau IAT yang akan berangkat lewat tengah hari. Berarti kami harus menunggu selama 6 jam di bandara kecil ini tanpa bisa kemana-mana karena tak ada angkutan keluar dari bandara dan hujan sangat deras.
Iseng-iseng saya dan teman saya berandai-andai, jika ternyata sampai sore badai ini belum reda berarti kami tak bisa keluar dari Labua Bajo hari ini, sedangkan keesokan harinya adalah hari Natal dan pesawat tidak beroperasi. Artinya kami harus menunggu 2 hari lagi. Untungnya sejak awal kami memang sengaja menyiapkan spare waktu beberapa hari sebelum jadwal penerbangan pulang Denpasar-Jakarta/Balikpapan, jaga-jaga seandainya ada masalah dengan jadwal penerbangan Labuan bajo-Denpasar seperti saat ini.
Menjelang siang hujan reda walaupun masih berawan, dan kami diminta check in ulang karena akan pindah ke pesawat IAT. Saat check-in bukan hanya bagasi saja yang ditimbang, namun penumpang juga diminta naik ke atas timbangan berikut barang bawaannya.
“Miss Masniari Nasution, silahkan..” kata petugas.
“60 kilo” petugas di dekat timbangan berteriak pada rekannya yang bertugas mencatat (sstt..tapi itu berat saya berikut daypack yang menempel di punggung loh yaaa
)
Menyaksikan acara timbang menimbang itu, penumpang yang mayoritas bule pun menunjukkan raut geli dan tersenyum lebar.
Seorang kawan pernah wanti-wanti pada saya agar jangan lupa meminta seat dekat jendela sebelah kiri pada penerbangan LBajo-Denpasar karena pemandangan dibawahnya indah sekali. Kami diberi seat nomor 4A & 4B yang terletak di sisi sebelah kiri, dan memang benar pemandangan kawasan TN Komodo dari ketinggian berikut pulau-pulau kecil disekelilingnya indah sekali.
Di penerbangan ini juga saya mengalami landing pesawat termulus yang pernah saya rasakan. Saya tak sadar kalau pesawat sudah mendarat di airport Ngurah Rai karena tidak ada guncangan sedikitpun. Saya tersadar saat teman saya berkata, “wuih…landingnya mulus banget”.
Kami masih punya waktu 3 hari di Bali sebelum jadwal kembali pulang dan ternyata cuaca di Bali lebih ganas dari yang kami alami di Flores, hujan badai nyaris tak ada jeda. Cuaca buruk ternyata memang sedang melanda hampir seluruh kawasan Indonesia menjelang akhir tahun. Tapi untungnya cuaca seperti ini kami alami saat perjalanan nyaris berakhir. Ini lagi-lagi keberuntungan yang kesekian kalinya.
Inflight magazine yang disediakan airlines yang membawa saya pulang ke Balikpapan menyuguhkan artikel tentang pulau Komodo dan beberapa tempat di Flores. Saya tersenyum sendiri membacanya sambil berucap dalam hati “yes, I’ve been there”. Sementara diluar sana matahari bersinar cerah diatas pulau Kalimantan. I’m home, with another dream to realize and also insyaalah will become true.
[catatan perjalanan 15 – 27 Desember 2007]
Photos:
Flores – when the dreams come true (1)
Flores – when the dreams come true (2)






