Tips Trekking Pole
By Puguh • May 13th, 2008 • Category: Piranti backpacking, Travel Tips
Waktu rinjani circuit kemarin kebetulan dapet pinjaman trekking pole. Awalnya skeptik, tapi setelah mencoba dan membuktikan bahwa trekking pole bisa cukup banyak menahan berat badan, kayaknya asik juga kapan-kapan pinjem lagi. Dan terbukti mengurangi usaha untuk tetap berdiri tegak selama di berjalan naik dan turun.
Kalo boleh berbagi beberapa hal ini patut diperhatikan ketika bermaksud membeli terkking pole;

- Pole harus bisa dipendekin (telescopic) kalo ngak, susah bawanya.
- Mekanisme telescopicnya harus bisa menahan berat badan dan tidak collaps. Secara barang pinjeman, saya gak berani mencoba memindahkan semua berat badan ke pole.
- ujung pole harus terbuat dari material yang keras, sehingga tidak lekas tumpul. Terutama jika banyak dipakai dipermukaan batu ato medan berpasir.
- Ujung trekking pole harus tertanam dengan baik ke tongkat. Mengingat akan ribuan kali ujung trekking pole ini akan tertancap ketanah dan kemudian ditarik lagi.
- “Payung kecil” diujung trekking pole, sangat membantu menghadapi tanah lepas atau lembek supaya ujung trekking pole tidak amblas ketika menahan beban tubuh.
- Suspensi; terus terang gak terlalu melihat nilai tambah suspensi. Katanya kalo turun lebih enak…ah sama aja ah.
- Hand grip, pengangan tangan. Trekking pole pinjeman saya masih memakai yang handgrip yang bentuknya seperti tongkat transmisi mobil manual/joystick. Kekurangan yang paling nyata adalah waktu jalan turun. Ketika membantu mempertahankan keseimbangan di jalan turun, sering telapak tangan harus diletakkan diujung hand grip untuk menyalurkan sebagian berat badan, tapi ketika harus mengangkat stik jemari cenderung harus bekerja lebih keras mengangkat stick walaupun webbing sudah dilingkarkan di pergelangan tangan. Mungkin pernah ada yang coba model hand grip yang seperti pistol? Harusnya lebih enak buat jalan turun..
- Webbing di hand grip, penting banget terutama waktu menanjak, supaya beban tidak semuanya diletakkan ke telapak tangan tapi juga dibagi dengan pergelangan tangan.
Pengalaman kurang mengenakkan dengan trekking pole:
Kemarin sempat terjadi, ketika ujung trekking pole menancap ke tanah dan agak lengket, secara tidak sengaja bagian atas/hand grip trekking pole terpuntir sehingga menyebabkan mekanisme kunci teleskop trekking pole terbuka. Pada langkah berikutnya, ketika trekking pole di beri beban, maka teleskop tiba2 trekking pole memendek (Blesek- bahasa jawanya).
Merek? Gak usah dibahas mereknya ya… Saya penggemar trekking, bukan `penggemar alat trekking’. Yang pasti pake trekking pole itu gaya deh pas difoto…hayah!
Puguh
Tambahan tips dari Ambar
(klik video dibawah ini)
- Untuk ngukur panjang pendeknya disesuaikan sama tinggi badan. Posisi siku ketika memegang pole harus 90derajat di tanah datar terutama ketika naik, tapi untuk turun setting itu bisa dipendekin lagi. Cara packingnya ditaruh di ransel luar dimasukkan dalam loop tali (mirip dengan packing tripod kalau photography). Pada beberapa ransel yang desainnya sophisticated malah dikasih kayak pelindung kaki pole.

- Sistem suspensi (shock breaker) tiap trekking pole beda-beda. Masing-masing merk jargon jualannya ya ini. Kalau mo beli dicoba dulu. Dikasih beban tangan trus dilihat mentul2nya seberapa. Saya dengar desain terbaru bisa ngeset sendiri tingkat mentulnya tadi. He he he….kan itu selera. Ada yang suka kaku ada yang sangat lentur. Ohya, yang tanpa suspensi juga banyak. Yah mirip tongkatnya para sepuh itu atau bahkan diibuat dari kayu dengan lengkung yang dibuat ergonomics (ini saya temui di NZ).
- Trekking pole ide-nya diambil dari ski pole. Termasuk sistem handle-nya. Saya make yang kayak joystick itu, sedang yang kayak pistol kok belum nemu. Tapi memang dimaksudkan begitu agar posisi tangan tetep 90derajat dalam posisi datar sembari memudahkan memindah beban jika naik turun. Saya sendiri ngga nyaman pake webbing pendek, cuma kalau jatuh masih bisa kepegang terus. Sapa tau ndadak make teknik. Kalau kelamaan dipake, tangan jadi kringetan atau panas gesekan.
- Pengalaman mblesek, kemungkinan sistem locking di trekking pole. Ada yang cuma diputer biar kenceng, kalau ngga sengaja muntir yah efeknya kunci itu lepas. Ada yang pake semacam pengait, itu juga bisa lepas dengan mudah kalau medannya batu banyak sodokan. Dari keduanya menurut saya sih sama aja. Belum nemu yang lebih canggih.
- Eh ada kegunaan sampingan untuk trekking pole ini yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk beli. Salah satunya ngebantu kalau nyebrang sungai. Jadi kaki ketiga. Ngasih tangan panjang kalau membantu kawan. Trus bisa penyangga bivouac kalau terpaksa bermalam darurat. And bisa berubah jadi monopod kalau kepepet
photography. - Ngga enaknya make trekking pole adalah ribet. Terutama kalau kudu merayap atau batu2an. Saya sih jarang make kalau naik. Baru dikeluarkan kalau udah muncak mo turun. Ya itu tadi buat membantu mengurangi tekanan di dengkul. Bagi yang belum biasa akan terasa aneh dan ‘wagu’ ketika pertama make. Cenderung menekankan beban kesana. Efeknya siku dan bahu malah sakit. Nah kalau itu jangan disalahkan trekking pole-nya. Tapi gimana make dengan baik dan benar.
Ini sekedar artikel pendek
The Real Pros and Cons of Trekking Poles at http://www.slackpacker.com/trekking-poles.html
Merk? Leki (http://www.leki.com/) itu paling mahal dan mungkin paling advanced dalam teknis. Lainnya juga mayan bagus kok. Punya saya judulnya Trek Mates dan satunya Peter Storm. Belinya juga karena lebih murah dari Leki dan cuman pengen mencoba gimana pengaruh ke dengkul dan mungkin di beban. Mungkin dicuba beberapa trekking baru ketauan.









Mas Puguh, aku sempet nyobain trekking pole yang murah meriah. Kebetulan maen ke Glodok Elektronik belakang Sarinah, di sana ada kumpulan trekking pole dari harga 50 ribu mpe 100 ribuan.Ada yang bentuk kepalanya biasa aja, ada yang kayak pistol plus senter, semuanya pake sitem ‘permentulan’ alias ada pernya. Aku ambil yang murah aja, 50ribuan, soalnya baru coba2.
Dipake trekking ringan 5 kilo di daerah bukit.., kebetulan lahannya licin. Walhasil, baru 10 menit, sendal gunungku jebol. Selanjutnya, bandul yang di ujung bawah kepuntir dan hilang. Malah kebetulan soalnya kalo di medan licin, mending trekking polenya nancap sekalian biar saat kaki melangkah tidak bergeser sehingga menyebabkan badan jatuh.
Akhirnya, sampe juga di tujuanl. Namun, di samping kehilangan bandul yang ga bisa diganti (ada yang jual tapi ulirnya kan rusak kena batu), teleskopiknya juga rusak di bagian tengah sehingga tidak bisa dipendekkan seperti semula.Payah deh, sekarang trekking polenya ku taruh di lokasi aja, sopalnya mau bawa2 ribet sekali, dah lebih panjang dari tripod sehingga nongol2 kalo dibawa. Bentar kalo ke Jakarta mau ngembat yang 100 ribuan, sapa tau lebih kuat dan memang benar sepertinya yang model kepala pistol akan lebih nyaman saat jalanan menurun.
SALAM