Mlaku-mlaku Nyang Raung
By Siti • Jun 10th, 2008 • Category: Gunung / Mountain, Hiking

Mendaki Raung memiliki sensasi tersendiri. Kehijauan hutan dengan batang pohon yang besar salah satunya. Berbahagialah bagi mereka yang pendek. Banyak batang pohon yang merintangi jalan. Anda harus berapa kali ”naik kuda” atau mengerahkan upaya lain untuk melewatinya. Berbahagia pula untuk mereka yang membawa keril tinggi. Anda harus berulangkali menunduk, jongkok atau bahkan merangkak untuk melewati terowongan semak atau batang-batang yang melintang sepanjang jalan. Setidaknya itulah beberapa sensasi yang kami temui dalam pendakian lewat jalur Sumber Wringin 7 - 8 Maret 2008 lalu.
Tidak seperti biasanya, pendakian kali ini sepi peminat. Anak gunung yang biasanya antusias diajak mendaki, rupanya lebih tertarik untuk touring dengan motor ke Bromo dan sekitarnya. Tak apalah, biar sedikit yang penting kerinduan pada gunung bisa terlampiaskan. Begitulah, akhirnya lepas tengah malam bis sudah membawaku ke Probolinggo, meeting point dengan Yuda, teman pendakian kali ini.
Sampai Probolinggo rupanya bis yang akan membawa kami ke Bondowoso sudah tak ada lagi dan harus menunggu hingga pagi. Rute kemudian diubah melalui Situbondo, kebetulan bus ke jalur itu masih ada. Dengan ongkos Rp 12.000,- selepas adzan subuh kami telah menjangkau terminal Situbondo. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan colt ke Wonosari.
Sampai pasar Wonosari, angkot ke Sumber Wringin yang mulai sesak penumpang telah menanti. Untunglah, kami tak perlu lama menunggu. Seperti umumnya transportasi pedesaan, di sinipun angkot baru berangkat kalo penumpangnya sudah sesak. Beberapa bangku kayu (dingklik-Jawa) ditambahkan di lorong bangku resmi untuk menambah kapasitas penumpang. Kami pun berdesak-desakan diantara penumpang, keranjang tape, sayur mayur dan aneka belanjaan lainnya. Berbaur dengan ibu-ibu yang ramai berceloteh dalam bahasa Madura yang sama sekali tak kami pahami.
Sekitar sejam kemudian, kami telah berada di pos pendakian gunung Raung untuk melapor. Keramahan mbak Endang, penjaga pos, menyambut kedatangan kami di pos berupa bangunan kuno berbentuk lingkaran tersebut. Senyumnya makin mengembang saat mengenali salah satu tamunya. Rupanya Yuda sudah beberapa kali berkunjung dan meninggalkan kesan tersendiri di hati wanita berambut pendek itu.

Setelah mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya, dengan penuh semangat mbak Endang mengajak kami melihat hasil renovasi yang telah dilakukan pada posko. Ada lima ruangan yang disulap menjadi penginapan dengan fasilitas sepasang spring bed , tv, ac dan kulkas di masing-masing ruangan. Ongkos sewa Rp 100 ribu semalam dan dapat dipakai secara beramai-ramai. Bagi yang tak berminat untuk menyewa kamar, jangan khawatir, masih ada tiga ruangan di sisi timur yang bisa dipakai secara gratis.
Selepas beramah dengan empunya posko, kami berbelanja spiritus, air dan kebutuhan lain. Di sekitar posko banyak toko kelontong dan bahan pokok yang dikelola warga keturunan. Kembali ke posko, ternyata makan pagi buatan mbak Endang sudah siap tersaji. Tiga pendaki dari Cirebon dan Jakarta yang semalam menginap di posko pun telah bersiap-siap. Kami pun saling berkenalan, mereka adalah Ading, Patrick dan Adi. Kemudian tanpa menunda waktu lagi kami berlima segera menyantap sajian di meja. Masakannya cukup lezat. Terutama sambelnya yang langsung tandas kami serbu. Pantas saja kalau Yuda sebelumnya sempat bilang kalau kangen sambelnya posko. Ternyata, saya yang baru sekali ketemu, juga langsung jatuh cinta pada si sambel hehe.
Petani yang baik hati
Perut kenyang, kami pun bersiap untuk memulai perjalanan. Apalagi para tukang ojek yang akan mengantarkan kami ke Pondok Ojek, batas hutan rute awal pendakian, sudah datang. Begitulah tak lama kemudian lima ojek beriringan menembus jalan desa yang licin berbatu. Untuk menyingkat perjalanan, ojek juga melewati jalan setapak di antara perladangan. Meski jalanan berlumpur dan licin, namun untunglah para tukang ojek ini cukup lihai.
Bau semriwing tercium kala ojek melintasi hutan pinus dengan batang-batangnya yang tengah disadap. Sungguh menyegarkan dan memukul-mukul kerinduan untuk segera bergumul dengan hutan. Selain pinus, di sepanjang jalan ditemui juga kebun tebu, kopi dan aneka tanaman lain dengan tanaman labu siam di sela-selanya. Labu yang melimpah dari daerah ini dipasarkan hingga Surabaya. Karena tukang ojeknya capek kami sempat dititipkan ke mobil pengangkut labu itu. Duh mohon maaf bagi konsumen yang labunya sempat kami duduki.
Tukang ojekku senang bercerita sehingga perjalanan hampir sejam tak terasa membosankan. Ceritanya seputar pendaki Raung. Ada yang pagi berangkat ke puncak dan sore sudah sampai ke posko. Ada yang nggak jadi ndaki karena ketakutan mendengar nama pondok pendakian Raung yang aneh-aneh seperti pondok Dhemit, Pondok Mayit. Ada turis yang ndaki sambil membawa sepeda, dan masih banyak lagi. Meski berulang kali mengantar pendaki, lelaki asli Jawa Tengah ini mengaku belum pernah dan tak berminat untuk mendaki Raung. Yo wis kami saja Mas yang dolan-dolan ke sana.

Di Pondok ojek kami istirahat sejenak sebelum menyusuri jalan tanah membelah perladangan penduduk yang mempunyai banyak percabangan. Sepanjang jalan genta logam yang tergantung di tas Ading dan beberapa lonceng kecil di tas Adi tak henti-henti memecah kesunyian. Banyak pendaki memanfaatkan genta atau lonceng sebagai panduan lokasi diri atau teman seperjalanan. Tak perlu teriak untuk memantau posisi teman, cukup dengarkan gemerincing bunyi lonceng yang dibawanya. Lumayan menghemat tenaga kan.
Kami berlima larut dalam pikiran masing-masing sambil meraup kesegaran udara. Tahu-tahu kami sudah melewati gubuk dan berada di bibir jurang dengan sungai di bawahnya. Ternyata kami tersesat. Orientasi pun segera dilakukan dan rupanya jalan setapak pun berakhir di situ. Pilihannya hanya kembali atau menyisir sambil mencari jalur yang benar.
Dalam penyisiran, kami bertemu seorang petani. Tanpa diminta lelaki tua itu segera membabat semak memandu kami menemukan jalur pendakian. Bahkan dia sempat meminta kami berhenti dan beberapa saat kemudian kembali setelah berhasil menemukan jalur yang benar. Aduh terima kasih banyak Pak (nggak tahu apa bahasa Madura nya).
Menyusup semak dan meniti batang pohon
Semak belukar yang tinggi menjadi vegetasi yang menghiasi kembalinya kami ke jalur yang benar. Beberapa rekan yang bercelana pendek sempat beberapa kali teriak ketika daun jalitheng atau ingas mendaratkan bisanya. Rasanya panas katanya. Beberapa kali hewan lunak juga sempat tersentuh tangan. Untunglah bukan lintah atau pacet. Tapi siput tanpa cangkang, hewan yang biasa dijumpai di tempat lembab. Geli dan jijik juga sih melihat bentuknya yang sepintas mirip lintah. Hiii..
Dari semak belukar, vegetasi selanjutnya berupa hutan basah yang lembab. Jalur di tempat ini relatif datar dengan sedikit variasi naik turun. Waspadai simpang sesat, daerah percabangan yang dua-duanya cukup jelas dan tak ada papan petunjuk. Ambil arah ke kanan, yang ke kiri akan mengantar Anda ke Gunung Suket.
Tubuh yang penat dan kurang tidur membuat saya dan Yuda mudah terserang kantuk. Tiap kali istirahat, tanpa dapat ditahan mata langsung terpejam dan terjatuh dalam tidur. Lebih dari sepuluh menit kami terlelap tiap kali berhenti. Rekan seperjalanan tak sampai hati untuk membangunkan dan selalu menunggu kami terjaga sendiri. Duh baiknya, makasih banyak ya teman. Maaf telah memperlama perjalanan hehe.
Vegetasi semak yang rapat di sepanjang jalur menciptakan variasi dalam pendakian. Jalinan semak menciptakan beberapa terowongan kecil yang memaksa kami untuk menunduk bahkan kadang agak merayap untuk meloloskan diri bersama keril. Duh rasanya badan bertambah capek manakala keril terantuk dahan dan harus lebih menundukkan diri.
Variasi lain berupa batang pohon tumbang yang tersebar di beberapa titik pendakian. Untuk batang yang melintang, cukup dilompati atau dinaiki kalau lebih tinggi atau lebih lebar dari jangkauan kaki. Sedangkan untuk batang pohon yang tumbang menutupi jalur, kami cukup repot dibuatnya. Kadang harus menyisip di jalan sempit yang masih tersisa. Namun lebih sering harus meniti batang pohon tersebut. Perlu kehati-hatian meniti batang berlumut, jangan sampai terpeleset ke lubang yang cukup dalam di kanan kirinya.
Dodol Telur
Mendung yang menemani perjalanan menjadi hujan sebelum kami sampai ke pos pertama di Pondok Sumur. Tak seperti pendakian ke gunung lainnya, pos pertama di Raung cukup jauh dan harus ditempuh selama lebih dari dua jam. Pondok Sumur ditandai dengan kotak kecil dari semen. Jangan bermimpi menemukan sumur atau sumber air di sini. Entahlah apa alasan dibalik penamaannya. Yang pasti jalur pendakian lewat Sumber Wringin tak ada sumber airnya. Kita harus membawa bekal air yang cukup dari bawah.
Selepas Pondok Sumur jalur mulai menanjak meskipun tidak terlalu terjal. Dari sini jarak ke Pondok lainnya relatif lebih dekat dibandingkan jarak dari Pondok ojek ke pondok Sumur. Tak sampai dua jam kemudian, kami telah melepas penat di Pondok Tonyok. Seperti pondok lainnya, Pondok Tonyok hanya ditandai dengan tulisan di lempeng logam yang dipakukan cukup jauh di batang pohon. Heran juga, gimana repotnya mesti memanjat setinggi itu untuk memasangnya.
Dari Pondok Tonyok perjalanan kemudian diakhiri di Pondok Dhemit. Tadinya ditargetkan untuk bermalam di Pondok Angin, namun karena sudah sore dan badan pun sudah capek tenda pun didirikan di Pondok Dhemit. Kami berlima tinggal di tenda yang sama karena ternyata tenda bawaan Yuda framenya lepas. Sesaat setelah tenda berdiri, kami luangkan waktu sejenak mengantar mentari kembali ke peraduannya. Meski hanya nampak semburat merah di cakrawala namun rasanya sungguh indah.
Agenda pertama setelah berganti baju dan menghangatkan diri adalah menikmati santap malam. Nasi dan lontong jatah makan siang yang tadi tak sempat disentuh langsung menjadi sasaran pertama. Secangkir minuman hangat membuat makanan dingin itu terasa lebih nikmat.
Sayang disayang tak ada yang membawa kartu sehingga rutinitas main kartu di gunung harus dilupakan saat itu. Sebagai gantinya kami ngobrol, menikmati snack sambil memasak. Walaupun menjadi ”mbok yem” alias cewek sendiri dalam pendakian ini, saya cukup senang karena tidak didaulat sebagai tukang masak utama. Ading mengambil porsi itu. Dengan piawai pendaki asal Cirebon itu memasak puding dari tepung agar dan roti. Tak ketinggalan dibuat juga dodol telur yang telah dipromosikannya selama perjalanan dan membuat kami penasaran. Jawaban rasa penasaran itu berupa kue keranjang yang diiris tipis kemudian digoreng berbalut telur. Manis manis, gurih ..enak.
Malam makin larut, kami pun segera memejamkan mata agar tak kesiangan untuk menggapai puncak esok hari.
Pohon besar dan hamparan edelweis
Pagi hari menjelang subuh kami mulai melangkah kaki ditemani cerahnya langit. Cahaya senter dan hand phone berkelip-kelip menyinari jalur dengan rerumputan yang masih berbalut embun. Sejam kemudian kami telah rehat di Pondok Angin sambil menunaikan sholat subuh. Pemandangan kota dengan biasan lampu-lampunya nampak jelas dari sini.
Pondok Angin merupakan kawasan perbatasan vegetasi dengan daerah berpasir. Cahaya mulai membuka hari ketika kami tinggalkan kawasan tersebut. Dari sini perjalanan menjadi lebih lama, mengakomodir hasrat untuk narsis dan mengabadikan pemandangan sekitar.
Memasuki daerah berpasir, nampak sebuah prasasti in memoriam untuk mengenang Dede Hidayat. Kabarnya pemuda tersebut menemui ajal setelah terjatuh saat mengambil foto di kaki kawah. Ajal memang tak kenal usia dan waktu di gunung. Yang bisa kita lakukan mungkin selalu berhati-hati dan waspada membaca tanda alam serta isyarat tubuh. Selain mempersiapkan diri dan peralatan dengan sebaik-baiknya.

Tak seperti pasir Semeru yang mudah gugur, jalur pasir di Raung padat sehingga mudah dilalui. Yang harus diwaspadai adalah ketika melewati jalur sempit dengan celah dalam di kiri kanan jalur. Perlu konsentrasi lebih agar tak terpeleset dan nyemplung ke dalamnya.
Sambil berjalan tak henti-hentinya kami nikmati pemandangan indah yang tersaji pagi itu. Gunung-gunung di sekitar Raung nampak membiru dalam balutan awan tipis. Juga Semeru dengan letupan asapnya yang khas. Hingga akhirnya sampailah kami di kaki kawah, daerah sempit di atas lubang lebar yang mengelilingi kawah.
Dari kaki kawah, hati sedikit tergetar kala pandangan diarahkan ke dalam lubang. Nun di bawah sana terhampar dataran yang cukup luas dengan kawah kecil berasap di sisi kiri. Dinding terjal mengelilingi dataran itu dengan beberapa batuan terlihat menggantung. Ingin rasanya berjalan-jalan menyusuri dataran gersang itu. Namun apa daya rasanya hal itu teramat susah untuk direalisasikan.
Masih beberapa langkah lagi dari bibir kawah untuk menggapai lokasi tertinggi yang masih mungkin dijangkau. Meski sempit, untunglah tempat itu muat untuk kami berlima. Sebenarnya ada lagi tempat yang lebih tinggi beberapa meter di atas lokasi kami. Namun sayang akses kesana longsor hingga kami tak mungkin menggapai tempat dengan beberapa tiang semacam pemancar tersebut.
Puncak sejati Raung dapat digapai dari jalur lain. Walaupun demikian perjalanan ke sana cukup berat. Katanya paling tidak memakan waktu lima hari. Harus menebas semak belukar dan mendaki dengan bantuan tali karmantel. Sungguh menantang, entah kapan kaki kecilku bisa menjejak ke sana.
Sekitar setengah delapan kami tinggalkan kedamaian kaki kawah Raung. Di tugu in memoriam sejenak kami heningkan cipta untuk jiwa yang telah kembali dalam pendakian ke gunung ini. Semoga kedamaian senantiasa menyertai di sisi Nya. Memasuki kawasan hutan kami cukup takjub melihat beberapa pohon dengan ukuran besar yang masih kokoh berdiri. Suatu hal yang mulai langka ditemui pada gunung-gunung di Jawa. Tanpa membuang waktu lagi, kami pun segera mengabadikannya dalam file digital.
Bunga khas gunung, edelweis, juga mudah dijumpai di sini. Banyak yang tumbuh bergerombol membentuk hamparan di beberapa tempat. Sayang saat itu bukan musim berbunga. Kalau musimnya tiba pasti cantik sekali di situ. Kami cukup berpuas hati dengan menghirup dalam-dalam aroma khas yang ditebarkan daunnya. Segar menyejukkan jiwa. Seperti juga aroma rerumputan dan pepohonan di hutan. Tak salah kalau Yuda sempat melontarkan harapan agar suatu ketika tercipta parfum dengan aroma seperti itu.
Masih ada monyet
Sampai tenda kami segera memasak sarapan. Pudding semalam dengan fla susu coklat menjadi makanan pembuka yang lezat. Menu utama bubur sayur, mie goreng, tempe goreng, kerupuk dan kering teri. Secangkir kopi melengkapi sajian pagi itu.
Menjelang tengah hari kami tinggalkan Raung. Nyanyian burung mengiringi langkah kaki menuruni gunung berketinggian 3332 mdpl itu. Di tengah perjalanan kami temui sekawanan monyet yang tengah asyik bercengkrama sambil berayun-ayun di atas pohon. Sungguh hidup suasana hutan saat itu.
Belum sejam berjalan, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Segera saja kami berlindung di terowongan yang terbentuk dari jalinan semak. Setelah hujan mereda perjalanan kembali dilanjutkan. Sampai perladangan penduduk kami kontak para tukang ojek untuk menjemput. Dan tak lama kemudian sampailah kami di Pondok Motor. Baru saja sejenak beristirahat hujan deras kembali datang. Daripada kedinginan menunggu ojek, akhirnya kami lanjutkan perjalanan dengan harapan menemukan tempat berteduh atau para tukang ojek kami. Kami konsisten menyusuri jalanan berbatu dengan asumsi para tukang ojek tak mungkin lewat jalan tembus dengan kondisi hujan sederas ini.
Hampir sejam berjalan, tempat berteduh dan tukang ojek tak jua ketemu. Kalau terus berjalan kaki perkiraan kami mungkin magrib baru sampai ke pos pendakian. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar teriakan disertai suara mesin motor. Rupanya para tukang ojek telah sampai ke Pondok Ojek dan kebingungan mencari kami. Ternyata mereka tetap lewat jalan pintas karena hujan tak begitu deras di bawah. Ya sudah kami pun segera melanjutkan sisa perjalanan dengan ojek.
Setengah jam kemudian sampailah kami di posko pendakian. Segelas kopi jahe yang disajikan mbak Endang cukup membantu menghalau rasa dingin akibat baju yang basah. Kami harus bersabar sejenak mengantri untuk mandi dan berganti baju karena kamar mandinya hanya satu.

Dan berakhirlah cerita pendakian kali ini. Terima kasih untuk semua rekan yang telah membuat pendakian ini menjadi menyenangkan. Yuda atas kesabarannya, Ading atas masakan lezatnya, Adi atas perannya sebagai tukang sampah, Patrick atas tendanya yang nyaman. (*)
Catatan Ringkasan perjalanan
Jumat, 8 Maret 2008
00.10 - 02.00 Perjalanan Surabaya - Probolinggo
02.35 - 04.30 Perjalanan bis Probolinggo - Situbondo
04.45 - 06.00 Naik colt ke Wonosari
06.05 - 06.55 Naik colt ke Sumber Wringin
Melapor, belanja sayur, makan pagi & persiapan
08.25 - 09.15 Ngojek ke Pondok ojek
09.30 - 14.00 Treking Pondok Ojek - Pondok Sumur
14.15 - 16.00 Treking Pondok Sumur - Pondok Tonyok
16.10 - 16.40 Treking Pondok Tonyok - Pondok Dhemit
Ngecamp
Sabtu, 9 Maret 2008
03.30 - 04.40 Treking Pondok Dhemit - Pondok Angin
05.00 - 05.40 Treking Pondok Angin - In memoriam Deden H
05.40 - 06.30 Treking in memoriam - kaki kawah
Sepanjang jalan berkali-kali berhenti untuk narsis & motret pemandangan
Dari kaki kawah puncak tinggal sedikit lagi tinggal naik beberapa langkah ke posisi tertinggi di tempat itu.
07.30 - 08.00 Turun dari kaki kawah - in memoriam
08.30 - 08.45 Perjalanan in memoriam - Pondok Angin
08.50 - 09.50 Perjalanan Pondok Angin - Pondok Dhemit
Masak, makan pagi & packing
11.53 - 12.10 Perjalanan Pondok Dhemit - Pondok Tonyok
12.20 - 13.06 Perjalanan Pondok Tonyok - Pondok Sumur
Di perjalanan hujan deras mengguyur dan beberapa saat berlindung di bawah bivak alam (terowongan semak)
14.25 - 14.55 Perjalanan Pondok Sumur - Simpang Sesat (pertigaan jalur Raung & Gunung Suket)
14.55 - 15.45 Perjalanan Simpang Sesat - ladang penduduk
15.45 - 16.05 Perjalanan ladang penduduk - Pondok Motor
Sholat & menunggu ojek. Belum lama istrirahat turun hujan, akhirnya jalan menuju Pos PHKA.
17.00 - 17.30 Ketemu ojek & ngojek sampai Pos PHKA
Rincian transportasi
Menginap di Pos PHKA
Bis Surabaya - Probolinggo Rp 14.000,-
Bis Probolingoo - Situbondo Rp 12.000,-
Colt Situbondo - Wonosari Rp 5.000,-
Colt Wonosari - Sumber Wringin Rp 5.000,-
Ojek ke Pondok ojek PP Rp 40.000,
Photo lengkapnya di Album Raung 2008 http://simasa.multiply.com/photos/album/68/Raung_2008
Siti is
Email this author | All posts by Siti



