Seri Larut Dalam Cantiknya Bumi Flobamora : Flores dan Timor Barat (2)
By Alex Anindito • Jun 18th, 2008 • Category: Cerita Perjalanan, Indonesia, Petualangan
Episode : A place that has to believed to be seen
Hari ke dua. Minggu, 18 Mei 2008. Kupang – Ende – Maumere – Moni
Dini hari diawali dengan kepanikan, taxi yang dipesan semalam sampai jam 05.10 belum datang juga. Trans Nusa yang akan membawa kita ke Maumere akan berangkat jam 06.00. Kebetulan, ya kebetulan Ibu Kost Jufe akan diantar ke pasar dengan angkot miliknya dan beliau menawarkan agar kita naik angkotnya saja sepulang mengantarkannya ke pasar.
Marni yang memang janji bertemu dengan kita di Bandar El Tari sudah sampai di bandara dan Tegar minta untuk melakukan cek in atas nama empat orang lain yang akan datang menyusul. ”Aman !”, kata Marni menjawab permintaan Tegar.

Ada satu kebetulan lagi, waktu kita sedang menunggu angkot Ibu Kost datang, Tegar yang mukanya udah longsor sejak tahu taxi tidak bisa datang menjemput baru sadar kalau tiketnya tertinggal di dalam tas yang dititipkan di kamar Jufe. Untung masih di depan kost. He…he…he…
Angkot Ibu Kost datang dan kita langsung menaikkan barang, kita atur strategi agar bisa langsung cek in dengan cepat. Jufe bawa daypack langsung masuk untuk cek in empat orang sementara tasnya akan dibawakan oleh Tegar. Sampai di Bandara ternyata sudah ramai orang mengantri masuk. Terpaksa dengan menyelip kiri kanan cari jalan yang paling pendek untuk bisa masuk. Ternyata pesawat kita baru terbang jam 07.00. Ini jadi sial atau untung ya ?. Kok nggak ada yang ngasih tahu ya kalo ditunda jadi jam 07.00 tahu gitu kita nggak buru-buru tadi pagi. Antara lega dan sebel kita menunggu keberangkatan ditemani terbitnya matahari pagi Kupang.
Di El Tari ini, saya bertemu dengan teman perjalanan keempat. Nona Marni, seorang kawan lama yang saat ini sedang bekerja di Atambua. Kurang dari lima bulan dia di Atambua tapi logat dan cara bicaranya sudah seperti orang Timor. Iya ko Nona Marni. Nona Marni terkenal di Bandara El Tari, dulu dia pernah ditinggal pesawat penerbangan Kupang ke Jogjakarta. Ongkos WC paling mahal yang pernah dia bayar.
Pesawat yang kita naiki Riau Airlines yang bekerjasama dengan Trans Nusa, empat puluh lima menit mengudara dan kamipun mendarat di Ende. Lho kok mendarat di Ende ini kan kota yang akan kita lewati juga di hari ke empat nanti dan untuk mencapai Moni, tujuan perjalanan kita hari ini lebih dekat dari Ende ketimbang dari Maumere. Sempat kepikiran untuk turun di Ende saja tapi karena kita ingin menjejakkan kaki di Maumere kita tetap dengan rencana semula.
Bandara Ende dikepung bukit-bukit dan yang paling menarik, ujung landasan bandara ini adalah tebing menjulang setinggi kurang lebih dua puluh meter. Duhh. Untung tadi pas mendarat nggak ngeliat.

Penumpang dan crew sekarang berjumlah kurang dari lima belas orang, kita bebas milih tempat duduk jadinya. Suara empuk mbak pramugari berkumandang di dalam kabin, ” Selamat pagi para penumpang sekalian, selamat datang di penerbangan Trans Nusa tujuan Kupang”. Tegar dan saya langsung berpandangan. “Balik lagi ke Kupang ?” katanya. He..he..he.. ternyata transit di Maumere sebelum balik ke Kupang. Lima belas menit mengudara dan kita mendarat di Bandara Waitoti. Sambil menunggu bagasi, kita ditawari carter mobil ke Moni. Rp 450.000,- untuk satu mobil Kijang. Setelah tawar menawar yang disesuaikan dengan budget akhirnya sepakat dengan harga Rp 350.000,- dengan syarat mengantar keliling Maumere untuk makan, belanja dan lihat-lihat kota sebelum lanjut ke Moni.
Pak Vincet, sopir kita mengajak makan di …… warung padang. “Pak ada makanan lokal apa ya di sini ?”, tanya Jufe. ”Kalo disini biasanya Singkong atau Ubi ya , paling ini warung Padang”. Hi…hi…hi…. Tawaran Pak Vincet langsung ditolak, beliau menawarkan untuk makan di Pelabuhan Maumere, sekalian bisa lihat kapal katanya. Sebelum sampai pelabuhan kita mampir di Patung Kritus Raja. Di pelabuhan ternyata kita makan di warung Arema, yeee susah bener nyari masakan lokal yak. Pelabuhan masih sepi hanya ada beberapa kapal yang sandar.
Jam 10.00 kita memulai perjalanan ke Moni setelah selesai belanja. Selama perjalanan darat di Flores kita akan menemukan jalan-jalan yang rusak dan sedang diperbaiki. Kadang ada yang longsor, kadang ada yang tertutup longsoran dari tebing, kadang ada yang rusak parah karena hujan. Suguhan pemandangan sudah mulai dirasakan ketika memasuki daerah perbukitan. Jalan berkelok dengan jurang yang dalam menjadi pemandangan rutin. ”Kalo jatuh Natal nanti Tahun Baru baru tiba di dasar”.
Kita sempat beberapa kali berhenti untuk menikmati pemandangan laut lepas dikejauhan dengan bukit-bukit hijau tinggi menjulang di latar depan. Jam 12.50 sampailah kita di Sao Ria, bungalow milik Pemda yang paling dekat dengan jalan masuk ke Danau Kelimutu. Survey kamar dulu akhirnya pilihan jatuh ke bungalow yang paling besar. Sebenarnya bungalow ini untuk dua orang tapi setelah negosiasi akhirnya disetujui diisi lima orang. Kamarnya besar dengan kamar mandi terpanjang yang saya temui, kasurnya spring bed yang kita turunkan bagian atasnya sehingga semuanya kebagian tidur di kasur.
Siang ini kita makan di Restaurant Kelimutu, yang paling dekat dengan Sao Ria, harganya lumayan mahal. Ya bisa jadi karena tempat makan yang lain jauh di Desa Moni letaknya. Pelayanannya lambat tapi seperti tulisan di LP, ”… The slow service gives you time to enjoy the fantastic view”. Pemandangannya memang bagus, karena kita berada di ketinggian kita bisa melihat lembah dengan sawah menguning dan desa dikejauhan dengan batas bukit-bukit hijau di horison.
Sore harinya kita jalan-jalan ke Sumber Air Panas, info semula yang kita dapat Sumber Air Panas ini berdekatan dengan Air Terjun ternyata lokasinya berjauhan jadi kita mandi air panas saja sore ini. Jalan kaki sekitar dua puluh menit sampailah kita ke permandian air panas. Permandian ini terbagi jadi dua bagian yang atas untuk laki-laki yang bawah untuk perempuan. Walaupun ada pipa yang langsung ke kolam di bawah tetapi luberan air dari kolam atas masuk juga ke kolam bawah. Ngobrol-ngobrol dengan pengunjung lain, yang rutin datang ke tempat ini setiap minggu dan tampa buang waktu lagi, kita langsung nyebur. Nggak bisa dibilang nyebur sih karena tinggi airnya hanya selutut tapi nikmat bisa berendam di air hangat. Hilang penat perjalanan tadi di kolam air panas yang berada di tengah rimbunnya pohon di tepi sungai kecil dan sawah berundak yang siap panen.
Home, I can’t say where it is but i know I’m going home.
(Walk On dari album All That You Can’t Leave Behind, U2, 2000).
Biaya :
Angkot ke bandara : Rp 50.000,- (untuk 4 orang)
Tiket Kupang – Maumere (via Ende) : Rp 450.000,-
Airport Tax : Rp 20.000,-
Carter Maumere – Moni : Rp 350.000,- (untuk 5 orang)
Air Panas : bebas biaya
Contact :
Pesan tiket Trans Nusa lewat Stindo Travel, Julianan Damaledo, 0380-831850 / 855678
Sao Ria Bungalow, Moni : Jl. Lintas Ende – Maumere 085239199777, Kantor Ende ; Jl. Soekarno No 04, Telp. 0381-21303, Manager : Donatus Abu.
Bandara El Tari, Kupang : 0380-881395
Bandara Witoti, Maumere : 0382-21077 / 21444 / 21920
Alex Anindito is
Email this author | All posts by Alex Anindito



